
“Jangan! Jangan memanggil dokter kemari!” Semua orang menatapnya heran.
“Loh, kenapa?” Cakra menatap tajam.
“Nanti saja, Pa. Biar aku yang ajak dia ke dokter,” jawab Wisnu sedikit gugup.
“Kau ini bagaimana sih, Wisnu. Sudah tahu istrimu sakit, jangan ajak dia pergi ke dokter, lebih baik dokternya yang dipanggil ke mari. Sekarang Papa mau mastiin kalau menantu papa ini beneran hamil atau enggak,” bantah Cakra, lalu memberi kode kepada Shindy untuk segera menelepon dokter.
"Tidak, bagaimana ini? Bagaimana kalau dia beneran hamil?" batin Wisnu bimbang.
Dan kini, Grey sudah duduk terbaring dengan kaki yang diselonjorkan di atas kasur. Semua keluarga merasa bimbang akan hasilnya nanti. Dokter pun masuk menemui Grey di kamarnya.
Sebenarnya Grey juga begitu takut, ia takut kalau dirinya beneran hamil. Akan tetapi, ia juga tidak mungkin menolak untuk diperikasa apalagi saat dokternya sudah tiba.
“Jadi, keluhan apa saja yang dirasakan oleh, Nyonya beberapa hari ini?” tanya Dokter wanita setengah baya itu. Seraya sibuk memasang alat tensi darah di lengan Grey.
“Sudah dua minggu lebih saya sering merasakan mual kalau mencium bau makanan tertentu, Dok, dan sering pipis sekaligus nafsu makan saya beberapa hari ini semakin berkurang,” jawabnya.
“Oh, baiklah.” Lalu dokter pun melanjutkan tahap pemeriksaannya.
Sementara itu, di lantai bawah, tepat di ruang keluarga, Wisnu, Shindy, Cakra serta Viona tengah duduk berkumpul untuk menunggu hasil pemeriksaan dokter.
Cakra tidak henti-hentinya terus bercerita, membayangkan bagaimana dirinya kalau sudah menjadi kakek nanti.
“Mama juga gak nyangka, kalau istirmu itu akan hamil secepat ini, Mama bentar lagi bakalan jadi nenek muda dong,” ucap Shindy tersenyum malu.
Wisnu masih diam, tenggelam dalam pikirannya. Bahkan ia tak menjawab ucapan dari orang tuanya, ia hanya membalasnya dengan senyuman hambar.
__ADS_1
Viona yang sedari tadi memerhatikan, ia pun akhirnya membuka suara. “Kak Wisnu kenapa? Kok kayak bimbang gak seneng gitu sih wajahnya?” celetuk Viona mengira-ngira.
Wisnu yang mendengar pertanyaan itu, ia sedikit merasa sensi. “Maksudmu apa ngomong kayak gitu sama Kakak hah?” tanya Wisnu dengan ketus.
Viona langsung mendengus, sambil mencebikkan bibirnya. “Biasa aja kali, Kak. Aku ‘kan cuma nanya, kali aja Kakak nerves atau apa gitu,” kilah Viona sedikit takut.
“Eh... udah-udah, jangan begitu,” ucap Shindy melerai.
Kemudian, Dokter pun terlihat turun meniti anak tangga. Viona yang melihat dokter tersebut, reflek ia langsung berujar memberi tahu semua orang.
“Itu Pak Dokternya udah turun,” pekik Viona, membuat Wisnu, Shindy dan Cakra langsung menoleh ke belakang, di mana Pak Dokter tengah berjalan ke arah mereka.
Mereka semua pun berdiri, lalu duduk kembali saat Pak Dokter juga duduk.
“Bagaimana, Dok? Apa menantu saya beneran hamil?” tanya Cakra penasaran.
Dokter setengah baya yang bernama Susi itu, tersenyum. “Iya, selamat ya, Pak Cakra, sebentar lagi Anda akan segera punya cucu,” ucap Dokter Susi memberi tahu.
“Kandungannya baru memasuki lima minggu, dan dimohon untuk lebih memperhatikan Nyonya Grey, karena di usia trisemester pertama rawan terjadi abortus. Jangan sampai kecapekan juga,” uap sang Dokter.
“Baiklah, siap-siap, terima kasih,” ucap Cakra, dengan senyumannya yang sejak tadi tidak pernah menyurut. Lelaki yang hendak menginjak usia 50 tahun itu terlihat begitu bahagia. Karena tidak lama lagi dirinya akan menimang seorang cucu, dan tentunya gelarnya akan bertambah, selain menjadi seorang papa kini ia akan menjadi seorang kakek.
“Ini, saya berikan resep obat sekaligus vitamin untuk Nyonya Greyya.” Dokter memberikan selembar kertas resep obat kepada Cakra, Cakra menerimanya dengan senang hati.
“Baiklah kalau begitu, saya pamit. Semoga sekeluarga semuanya sehat-sehat ya.”
“Iya, Dok. Makasih ya, Dok.” Cakra memeberikan resep obat itu kepada Wisnu. Lalu ia pun bergegas pergi untuk mengantar Dokter Susi ke depan rumah.
__ADS_1
“Cie... yang bentar lagi mau jadi ayah, pasti seneng banget ya?” goda Viona. Entah itu bernada pujian atau ledekan untuk Kakaknya.
“Diam kau anak kecil!” seru Wisnu pelan, tapi penuh penekanan.
“Kemarikan obatnya, biar aku yang belikan,” ucap Viona merebut resep obat itu dari tangan WIsnu. Meski Viona tampak cuek dan suka bicara tanpa disaring, tetapi dia juga termasuk orang yang peduli akan sekitar.
Viona pun segera mengirimkan resep dari dari dokter memalui aplikasi khusus untuk memesan obat.
Sementara itu, Wisnu kini memasuki ruang kamarnya. Di sana tampak Grey yang tengah duduk berselonjor di tepi tempat tidur, sambil meminum segelas air.
Wajah Wisnu tak terlihat senang sama sekali. Dia menatap tajam ke arah Grey, dengan gerak langkahnya yang tidak santai. Lalu duduk di samping Grey begitu saja.
“Mas,” ucap Grey sedikit takut melihat ekspresi yang ditunjukkan suaminya itu.
“Mana tespeknya?” tanya Wisnu tidak santai.
Grey yang ketakutan, ia pun menunjuk ke sisi nakas yang ada di dekatnya. Di sana tergeletak alat tespek yang sudah digunakan Grey tadi.
Wisnu langsung mengambilnya dengan cepat, lalu ia pun menilik dua garis merah yang tertera di benda tipis itu. Ia mengerutkan kedua alisnya. Karena salah satu garis merah itu tidak terlalu jelas, masih terlihat cukup samar.
“Apa yang kau katakan dengan dokter itu hah?” tanya Wisnu membuat Grey kebingungan.
“Apa?” tanya Grey tidak mengerti.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung