Noda Pengantin

Noda Pengantin
Kau Wanitaku


__ADS_3

“Turun sendiri,” ujar Wisnu, saat Grey hendak melepas seat belt miliknya. Lalu ia pun keluar dari mobil, dan meninggalkan Grey sendirian.


Grey mengerucutkan bibirnya, merasa sedikit kesal melihat sikap Wisnu yang benar-benar tak memedulikannya. Matanya masih tertuju ke arah Wisnu, yang tengah berjalan menaiki teras rumahnya yang begitu luas, menyusul Viona, Papa Cakra, Mama Shindy dan Bu Dewi yang terlihat sudah masuk ke dalam rumah.


Setelah melepaskan seat belt miliknya, Grey pun merapikan terlebih dahulu bajunya. Dan saat ia hendak membuka pintu mobil, tiba-tiba seseorang dari luar sudah berdiri dan membukakan pintu mobil untuk Grey.


"Hallo, Sayang."


Grey terkejut melihatnya, kedua matanya fokus menilik tajam wajah Aryo yang ada di hadapannya.


Sebelah sudut bibir milik Aryo, tampak menyungging. “Kenapa? ... Apa kau terkejut?” tanya Aryo, tersenyum simpul sambil mengulum lidah membuat tonjolan di sebelah pipinya.


Grey meringsutkan wajahnya. Ia sedikit heran melihat perubahan kentara yang ada di wajah Aryo.


“Ada apa dengannya? Kenapa wajahnya penuh memar seperti itu?” batin Grey, saat melihat wajah Aryo yang babak belur, seperti habis berkelahi.


“Menajauhkan, aku ingin keluar!” tegas Grey, masih terdiam di kursi mobil, merasa enggan jika harus keluar di saat seperti ini.


Aryo tidak memedulikan perintah Grey barusan. Ia malah menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada orang yang melihatnya.


“Bagaimana malam pertamamu?” tanya Aryo pelan, sambil menyeringai sinis.

__ADS_1


Grey menautkan kedua alisnya, merasa tidak nyaman dengan pertanyaan yang baru saja mantan kekasihnya itu ucapkan. Kembali Grey melayangkan tatapan tajamnya ke arah Aryo. Ia menarik nafas panjang, lalu mengembuskannya kasar.


“Sopankah kau berbicara seperti itu pada Kakak iparmu ini hah?!” seru Grey, begitu serius.


Aryo kembali menyeringai, bibirnya tampak tengah tersenyum sinis. “Haha ... Kakak Ipar?” Seketika ia mendongakkan wajahnya ke atas, lalu terbahak keras, meledek perkataan Grey.


Setelahnya, ia merundukkan tubuhnya mendekati Grey yang masih duduk di kursinya, dengan sebelah tangan Aryo yang bertumpu di atas pintu kaca mobil.


“Dengarkan aku, Grey!” tegasnya, menatap Anggreya dengan begitu serius.


“Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menganggapmu sebagai Kakak Iparku! Dan yang perlu kau tahu, sekarang, besok atau pun nanti, kau akan tetap menjadi wanitaku, Grey! Tetap menjadi wanitaku!" tegasnya. "Ingat itu!” ucapnya penuh penekanan.


Lalu, Fiki kembali membenarkan posisinya, ia berdiri tegap, mengulum lidah sambil menengok ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada anggota keluarga yang melihat mereka.


Dan saat Aryo hendak angkat kaki dari sana, tiba-tiba suara Grey menghentikan langkahnya.


"Dengarkan aku, Aryo!"


"Sampai kapan pun, aku akan tetap menjadi Kakak iparmu, selamanya Aryo, selamanya! dan berhentilah menganggapku sebagai wanitamu, karena kenyataannya sekarang, aku adalah istri dari saudara tirimu!" tegas Grey.


Kedua tangan Aryo mengepal erat, ia begitu emosi dan tidak terima saat Grey mengatakan hal tersebut, meski itu adalah kebenarannya.

__ADS_1


Aryo yang tidak ingin terpancing oleh perkataan Grey, ia sebisa mungkin menahan emosinya, meski kini di dalam hatinya, amarahnya itu tengah mengepul menjadi satu di dadanya.


"Apa kau sepercaya itu bisa bertahan menjadi istri dari saudaraku?" Aryo menatapnya rendah. "Oh, sepertinya kau lupa ya, bahwa dalam pernikahan ada yang namanya perceraian. Dan aku, akan memastikan kalau kau akan bercerai dengannya, Grey!"


Grey dibuat terpaku, ia tercenung mendengar satu kata yang memang sangat memungkinkan baginya, 'perceraian'. Satu kata yang kedepannya akan sangat ditakuti oleh Grey.


"Kau kira, kau siapa, Grey. Bukannya seharusnya kau tahu, resiko menjalin hubungan dengan orang yang tidak mencintaimu kedepannya akan seperti apa. Aku akan memastikan, bahwa kau tidak akan bertahan lama dengan Wisnu. Dan aku akan mengambilmu kembali dalam hidupku, Grey," gumam Aryo dalam hati. Sedetik kemudian, ia pun berlalu begitu saja meninggalkan Grey sendirian di sana.


"Astagfirullah, ya Allah ...." Kini tangan-tangan Grey tampak gemetar, akibat dari mentalnya yang baru saja diserang oleh perkataan menohok dari Aryo.


Grey terus beristighfar, mencoba menenangkan diri, dan menjauhkan pikirannya dari sebuah kata yang kini masih menempel lengket di benaknya, yaitu kata 'Perceraian'.


Grey mengusap wajahnya pelan. "Tidak, Grey, kamu harus yakin, kamu harus yakin kalau perceraian tidak akan pernah terjadi di hidupmu," batinnya, menyemangati diri sendiri. "Ya, aku harus yakin, aku harus yakin kalau Mas Wisnu tidak akan menceraikanku, dan rumah tanggaku dengannya pasti akan bertahan lama," batinnya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2