
Sepanjang perjalanan Grey terus saja terbatuk-batuk, karena entah sebara banyak air yang ia hirup lewat hidungnya.
Aryo begitu panik, ia menyuruh Wisnu untuk mempercepat laju kendaraannya, sementara Viona yang duduk bersama Grey, wanita itu berusaha untuk menenangkan Grey.
“Kak Grey, minum dulu, Kak,” ucap Viona. Namun langsung dilarang oleh Aryo.
“Jangan! Dia akan makin tersedak kalau minum,” seru Aryo.
Viona mengkerutkan kedua alisnya merasa sedikit heran. Aryo yang sadar dengan mimik wajah yang ditampilkan adik tirinya itu, ia langssung memberikan penjelasannya.
“Aku tahu karena temanku pernah mengalaminya, jadi jangan beri dia minum,” jelas Aryo.
Kini mobil pun menepi di depan UGD sebuah rumah sakit swasta yang tidak jauh dari jarak tempat pesta tadi. Wisnu segera memangku Grey dan menidurkan Grey di atas brankar yang tersedia di depan lobby UDG.
Keadaan UGD malam itu cukup ramai, lalu salah satu dokter pun menghampiri Aryo dan Wisnu yang di luar tengah mendorong brankar yang digunakan Grey.
Dua perawat lelaki pun ikut membantu mendorong brankar itu memasuki ruang UDG. Lalu membawa Grey ke sebuah sudut kosong untuk di periksa.
Dokter yang berjaga, langsung memeriksa keadaan Grey. Sementara Aryo, lelaki itu langsung menjelaskan kronologinya. Kenapa Grey bisa sampai tercebur, ia juga menjelaskan kalau Grey sebelumnya meminum minuman rasa strawberry.
“Dok, dia juga sedang hamil, tolong periksa kandungannya juga ya, Dok,” ucap Aryo begitu khawatirnya.
“Hamil?”
“Iya, Dok, masih semester pertama,” ucap Aryo.
Dokter pun langsung meminta perawat untuk membawakan baju ganti untuk pasien, karena takutnya pasien kedinginan dan terkena hypotermia. Selagi menunggu baju ganti tersedia, Dokter telebih dahulu memposisikan kepala Grey dengan benar. Lalu melakukan beberapa pemeriksaan, seperti memeriksa pernapasan, denyut nadi, tekanan darah, dan kerja jantung pasien.
Setelah beberapa saat, perawat pun kembali membawakan satu set pakaian untuk Grey.
“Kamu adiknya?” tanya Dokter kepada Viona, Viona mengangguk.
__ADS_1
“Kalau begitu, tolong bantu kami untuk mengganti pakaian pasien,” ucap Dokter perempuan tersebut. Viona pun mengangguk mengiyakan.
Lalu tirai pun di tutup rapat, dan Dokter itu pun mulai melucuti pakaian Grey, dibantu dengan Viona agar prosesnya cepat selesai.
Dan setelah itu, Grey pun kembali dibaringkan sambil dipakaian alat bantu pernafasan. Karena kemungkinan saat ini Grey tengah terkena Dry drowning, akibat saluran pernapasan yang refleks menyempit ketika tubuh berada di dalam air sehingga oksigen tidak dapat masuk ke dalam paru. Dan hal itu membuat Grey kesulitan untuk bernafas.
Mungkin masalah tenggelam atau tercebur ini bisa dibilang sepela, akan tetapi, melihat efek yang ditimbulkannya benar-benar di luar dugaan. Efek ini ditimbulkan karena rasa panik dan cemas berlebih saat pasien tenggelam, termasuk yang terjadi pada Grey tadi. Karena dirinya memang tidak bisa berenang, ia begitu panik saat dirinya tercebur, sehingga ia harus mengalami efek ini.
Setelah tirai kembali di buka, Dokter pun meminta perawat untuk membawa Grey ke ruang ICU.
Wisnu dan Aryo yang tahu hal itu, mereka semakin panik. “Apa tenggelam bisa sebahaya ini?” tanya Wisnu kepada Aryo.
“Kau ini bagaimana sih! Kalau Dokter sudah bawa pasien ke ruang ICU ya berarti ada hal serius yang terjadi kepada pasien, termasuk kepada Grey saat ini!” seru Aryo sedikit kesal.
Lalu mereka pun beralih menuju ruang ICU. Namun saat sampai di ruang ICU mereka di tahan dan tidak diperbolehkan masuk, mereka di suruh menunggu di luar, karena Dokter saat ini akan melakukan USG sekaligus melakukan RJP kepada Grey serta memberikan tambahan oksigen untuk Grey.
“Ya Allah, semoga Grey dan bayinya baik-baik saja, Ya Allah,” lirih Aryo pelan yang kini tengah duduk di kursi tunggu bersama Wisnu.
“Kenapa Kak Aryo sampai sebegitunya sih ngekhwatirin Kak Grey? Sementara Kak Wisnu yang suaminya aja malah pelanga-pelongo,” batin Viona melihat sekilas ke arah Wisnu yang tengah duduk dengan gugup.
“Hm, sangat aneh!” lanjutnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, Cakra, Shindy dan Dewi datang menghampiri mereka semua.
“Di mana Grey?” tanya Cakra begitu panik.
“Grey ada di dalam, Pa,” jawab Aryo dan Wisnu bersamaan.
“Ya Allah, Aryo, kamu belum ganti baju, Nak?” tanya Dewi yang melihat Aryo masih mengenakan kemejanya yang masih terlihat basah.
“Ayo, kamu ganti dulu baju, kita pulang, nanti kalau kamu kedinginan kamu bisa sakit, Yo,” tegur Dewi.
__ADS_1
Shindy ikut membenarkan perkataan Dewi. “Iya, Aryo, kamu lebih baik pulang dulu, ganti pakaianmu itu,” ucap Shindy.
“T-tapi, Bu, keadaan Grey ‘kan—”
“Sudah enggak apa-apa, nanti kita bisa ke sini lagi. Grey juga kan ada Wisnu,” jawab Dewi.
“Iya, Kak Aryo. Aku aja kasihan liat Kak Aryo kedinginan begitu, lebih baik Kak Aryo pulang aja. Nanti kalau Dokter udah keluar, aku pasti ngabarin keadaan Kak Grey kok,” ucap Viona.
Aryo sebenarnya ingin tetap berada di rumah sakit menemani Grey sampai tahu bagaimana keadaannya. Namun, perintah keluarganya membuat Aryo tidak punya pilihan lain selain mengikuti perkataan Ibunya untuk pulang terlebih dahulu dan mengganti pakaiannya.
Karena jujur saja, Aryo pun sama kedinginan. Bahkan jari-jari tangannya sudah mengkeriput, mungkin telapak kakinya pun sama jika sepatunya dibuka.
Aryo pun pamit kepada Cakra dan Wisnu, lalu ia pun pulang bersama ibunya menggunakan mobil yang dibawa Cakra sebelumnya.
___
“Ya Allah ... tolong menantu dan calon cucuku ya Allah. Semoga keadaan Grey dan janinnya baik-baik saja, jangan sampai hal buruk mengenai menantu dan calon cucuku ya Allah,” gumam Cakra dalam hati, terus berdoa untuk keselamatan menantunya yang masih berada di ruang ICU tengah ditindak oleh Dokter.
Sebuah dering ponsel pun terdengar memekik di telinga mereka. Viona, Cakra dan Shindy langsung mengalihkan perhatian mereka kepada Wisnu yang tengah mengeluarkan ponselnya dari dalam sakunya yang terus saja membunyikan nada dering.
Wisnu mengerutkan kedua dahinya saat melihat siapa orang yang meneleponnya.
“Aurel,” gumamnya dalam hati.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1