
“Ma-mantanku, Mas,” jawabnya pelan. Seketika Wisnu menjauhkan tangannya dari tubuh Grey, kedua matanya terlihat semakin memerah, menahan luapan emosi yang bergejolak di dalam hatinya.
"Apa kau sebegitu murahnya, Grey? Merelakan kehormatanmu untuk mantan pacarmu?" tanya Wisnu, tidak habis pikir.
Grey menggeleng, jelas sekali suaminya itu sudah salah paham padanya. “Tidak, Mas, itu terjadi karena dia memperkosak..” Grey mecoba menjelaskan semuanya.
Namun, sepertinya Wisnu terlebih dahulu merasa jijik. Lelaki itu pun pergi meninggalkan tempat tidurnya dan beranjak masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya kembali.
Sementara Grey, kini ia hanya bisa menangis, melihat sikap Wisnu yang benar-benar langsung berubah. “Apa dia benar-benar membenciku? Ya Allah, apa yang harus aku lakukan, kenapa semuanya jadi seperti ini?” lirihny sambil terisak.
Tak berapa lama, Wisnu pun kembali. Sudah memakai celana training panjang dan kaos putih. Lelaki itu mematung di ambang pintu kamar mandi. Menatap Grey dengan tatapan penuh kebencian. Ia begitu teramat sangat kecewa, karena istrinya sudah tidak perawan lagi.
Malam pertama sebagai pengantin yang seharusnya berjalan hangat, romantis dan membahagiakan itu, seketika menjadi malam paling menyakitkan dan menyedihkan.
Grey mendongak. “Mas, kamu mau kemana, Mas?” tanya Grey saat melihat Wisnu hendak membuka pintu kamar hotel itu, seakan meninggalkannya.
Wisnu terdiam sebelum ia memutar gagang pintu kamar. “Besok, aku akan mengurus surat perceraiakan kita, aku tidak mau memiliki istri yang sudah ternodai oleh mantannya sendiri,” ucapnya tegas tanpa menoleh sedikit pun.
Deg! Jantung Grey seakan copot dari tempatnya, ia benar-benar tidak menyangka kalau suaminya itu akan menceraikannya secepat itu.
“Apa Mas, cerai?" tanya Grey, tanpa dijawab oleh Wisnu.
Melihat diamnya Wisnu, Grey semakin tidak enak hati. "Tidak Mas, aku tidak mau kita bercerai.” Grey langsung berlari menghampiri Wisnu, masih dengan tubuhnya yang berbalutkan selimut tebal.
Wisnu menoleh saat merasakan pergerakan dari istrinya itu. “Berhenti!" sentak Wisnu, "Jangan mendekatiku! Aku tidak ingin, perempuan kotor sepertimu menyentuhku!”
Grey langsung terdiam dan mematung di tempatnya. “T-tapi, Mas.”
Wisnu menyeringai sinis. “Aku menikahimu karena aku pikir kau gadis polos yang baik, tapi ternyata, dugaanku salah. Aku tidak menyangka, dibalik kesopanan dan hijab yang selalu kau gunakan, ternyata dirimu sama saja seperti kupu-kupu malam di luar sana!"
Cacian dan makian yang dilontarkan dari mulut Wisnu, seolah menusuk keras, menancap di hati Grey.
"Dan mulai detik ini, aku resmi menceraikanmu, Anggreya Mikayla!” tegasnya kemudian berlalu meninggalkan kamar.
Gelegar kata cerai itu, terasa bagai petir yang menyambar di siang bolong. Grey benar-benar tak menyangka, kalau statusnya dari seorang istri, hanya dalam hitungan jam, langsung berganti menjadi janda.
__ADS_1
“Tidak Mas, aku tidak mau menjadi janda!” teriaknya, tak terima.
Grey menarik lengan Wisnu, menahannya agar lelaki itu tidak keluar dari kamar pengantinnya. "Aku mohon, Mas, tetaplah di sini sampai besok pagi, aku mohon, jangan keluar dari kamar ini."
"Tidak sudi, aku satu kamar dengan wanita kotor sepertimu!" Wisnu menepiskan tangan Grey dengan kencang,lalu membuka pintu dan ia pun pergi begitu saja dari kamar pengantinnya. Membuat Grey yang masih bersimpuh di atas lantai, semakin mengeraskan tangisannya begitu frustrasi.
“Tidak! Ini tidak mungkin!” teriaknya.
“Grey!”
“Tidak!.”
“Greya!”
“Hey, bangunlah!” seru Sarah, membangunkan Grey dari tidurnya.
Kedua mata Grey langsung terbuka, ia terperanjat dengan nafasnya yang tersengal-sengal, masih terbawa emosi dari mimpi. Bahkan sebelah sudut matanya, tampak meneteskan air mata, saking menyakitkannya apa yang dirasakan di dalam mimpinya.
“Kamu kenapa, Grey? Teriak-teriak kayak orang kesurupan. Bangun, solat subuh dulu!” seru Tante Sarah, yang kini beranjak pergi ke meja rias.
Hening ....
“Grey, apa kau masih merasakan sakit?” tanya Sarah, seraya fokus mengaplikasikan lipstik merah di bibirnya.
Grey sejenak termenung tak langsung paham. Dan saat ia sadar akan hal yang di maksudkan oleh tantenya, ia pun menjawab, “I-iya, Tan, masih sakit,” jawabnya pelan, saat ia sadar ada sesuatu yang terasa perih di tubuh bagian bawahnya.
“Hm, ya sudah, nanti Tante akan menyuruh om kamu untuk membeli obat pereda nyeri. Sekarang kau bersiaplah, jam 8 nanti, keluarga Aronsku akan kemari menemui kita.”
Setelah selesai merias diri, Sarah pun berlalu keluar dari kamar tersebut. Pergi, untuk menemui suaminya yang berada di kamar lain.
Sementara itu, Grey masih termenung di atas tempat tidurnya. Lagi-lagi, pikirannya terfokus akan mimpinya. “Astagfirullah, kenapa mimpinya bisa terasa nyata banget Ya Allah," lirihnya pelan.
"Ya Allah ... tolong aku, jangan sampai mimpi itu menjadi kenyataan di malam pengantinku besok. Engkau maha mengatahui segalanya ya Allah, engkau tahu aku pun tidak menginginkan semua hal itu terjadi, semua di luar kuasaku ya Allah ....”
***
__ADS_1
Setelah selesai sarapan pagi, Anggreya segera meminum obat pereda nyeri, yang diberikan omnya sepuluh menit yang lalu. Ia pun bergegas menyiapkan diri dan penampilannya untuk bertemu dengan keluarga Aronsky, dan calon suaminya Wisnu.
Dress berwarna lilac yang panjang hingga menutup mata kaki, melekat di tubuh semampainya. Phasmina syar'i berwarna senada dengan pakaiannya, juga melekat di kepalanya. Grey tampak begitu anggun, tidak lupa ia juga mengaplikasikan sedikit riasan di wajah polosnya. Membuat wajahnya semakin tampak fresh dan cantik.
Kini ia sudah siap. Sebelum beranjak pergi meninggalkan kamarnya, Grey terlebih dahulu membuka ponselnya. Kedua mata Grey langsung membeliak, ketika melihat notif pesan masuk dari orang yang dikenal, sekaligus dibencinya saat ini.
(One message – Aryo)
Meski hatinya masih bergemuruh, menahan amarah atas peristiwa semalam. Jempol tangannya terpaksa harus menggulir layar handphone, demi melihat isi pesan dari Aryo, lelaki kurang ajar yang sangat dibencinya.
(Pagi Sayang, maaf semalam aku menyakitimu. Tapi tolong, jaga benihku di rahimmu ya. Love you—Aryo)
"Astagfirullah!"
Seketika luapan emosi itu kembali memuncak di dada Grey. Tangannya mengepal erat handphone yang dipegangnya.
“Dasar lelaki kurang ajar, lelaki biadab! Berani-beraninya dia mengirim pesan seperti ini padaku setelah apa yang dia lakukan padaku kemarin!” Wajah Grey tampak memerah dengan kedua bola mata yang mulai digenangi air mata.
“Argh! ... Ya Allah, aku harus bagaimana?!” Grey berteriak dengan kencang, dan prak!
Wanita itu melemparkan ponsel miliknya ke lantai, kini pecahan dari ponselnya itu sudah berceceran di atas lantai marmer yang dipijaknya. Ia benar-benar merasa begitu frustrasi atas apa yang menimpa dirinya. Terlebih, semakin frustrasi saat menyadari, kalau kini, di dalam rahimnya ada cikal bakal yang mungkin, tak lama lagi bisa tumbuh menjadi janin.
“Aku tidak bisa membiarkan semua ini. Aku tidak bisa!” sungutnya, dengan suara bergetar menahan emosi, seperti orang kerasukan.
Anggreya melangkahkan kaki panjangnya untuk keluar dari kamar. Akan tetapi, begitu ia membuka pintu, tiba-tiba, omnya sudah berdiri tepat di depannya memasang wajah penuh tanda tanya.
“Om Rama," ucapnya, terkejut.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa ramaikan kolom komentar dan bantu like serta vote juga ya mentemen. Terima kasih.