
Wisnu teridam di ruang kerja milik papanya. Ia merenungi perkataan yang tadi ia lontarkan pada istrinya. Ada sedikit sesal yang ia rasakan, tetapi ia tepis, ia ingin tidak peduli akan hal itu.
Wisnu pun mencoba mengalihkan fokusnya kepada pekerjaannya, ia meraih tab miliknya yang ada di atas meja kerja milik papanya. Mencoba fokus akan beberapa dokumen penting yang dikirimkan oleh Dave di emailnya. Akan tetapi, baru saja beberapa menit berlangsung, ia sudah kehilangan fokusnya, ia tetap kukuh dan terus berusaha untuk bisa fokus. Akan tetapi, ia terus saja gagal.
“Aish!” Wisnu mengacak rambutnya merasa frustrasi.
“Kenapa sih kepalaku ini!” Ia berdecak kesal, lalu melempar tabnya ke atas sofa yang di dudukinya.
“Argh! Tenanglah Wisnu, kau hanya berbicara seperti itu. Tidak mungkin kan sampai menyakiti hatinya. Lupakan, dia pasti baik-baik saja,” ucapnya pada diri sendiri.
Ia pun pergi ke balkon untuk mencari suasana sekaligus menenangkan dirinya. Selagi memandang apa yang bisa dilihatnya. Tiba-tiba ponsel yang ada di saku celananya berdering, ikut menggetarkan kulit betisnya.
Ia segera merogoh sakunyanya. Sebuah nama tak terduga tertera di layar ponselnya. Dilihatnya panggilan masuk dari Aurel.
“Aurel?” Wisnu mengerutkan keningnya. “Ada apa dia meneleponku?” gumamnya. Kini ibu jarinya berhasil menggulir ikon berwarna hijau yang muncul di ponselnya.
“Hallo,” ucap Wisnu begitu benda pipih yang dipegangnya menempel ke dekat daun telinganya.
“Wisnu,” suara Aurel di balik ponsel.
“Ya, ada apa, Aurel?” tanya Wisnu.
“Oh ya, Nu. Aku boleh minta bantuan gak sama kamu?”
“Bantuan apa?”
“Aku ‘kan mau fitting gaun, tapi pacarku enggak bisa nganter. Kalau kamu yang anter aku gimana?”
Wisnu terdiam sejenak sebelum menjawab. Sebenarnya, ia masih enggan untuk bertemu dengan Aurel, tetapi mendengar permintaannya yang seperti itu, rasanya ia pun tak bisa menolak.
“Kapan?”
“Lusa,” jawab Aurel di sebrang sana. “Gimana? Bisa gak? Please … bantuin aku ya,” sura Aurel terdengar merengek memohon padanya.
Wisnu masih terdiam, setelah seperkian detik akhirnya ia mengambil keputusan. “Baiklah, lusa aku akan mengantarmu.”
“Seriusan, Nu? Yeay, makasih ya Wisnu … kamu memang sahabat yang selalu bisa diandalkan.”
Wisnu menyunggingkan sebelah sudut bibirnya. "Haha? Sahabat yang bisa diandalkan?" batinnya.
Setelah itu Taka dan Aurel pun sama-sama mengakhiri percakapan mereka, dan telepon pun di tutup.
***
Jam sudah menunjukan pukul 13.00 siang. Matahari tengah berada di puncak panasnya. Dari pagi hingga siang ini, Wisnu hanya bermalas-malasan di ruang kerja papanya. Sembari pikirannya yang beberapa kali teringat akan Grey.
Ia memandang layar ponselnya melihat pesan dari papanya yang masuk sejak tiga jam lalu. Ia mengembuskan nafasnya pelan. Lalu terbangun dari tidurnya.
“Hm … kalau bukan karena papa, aku tidak mungkin mengajak dia pergi bersama,” gumamnya. Lalu ia pun berlalu pergi menuju kamarnya.
__ADS_1
Di sana ada Grey yang tengah terbaring di atas sofa dekat jendela kamar.
“Apa dia tidur?” gumam Wisnu saat ia mencoba masuk, menghampiri Grey di sofa.
“Hei!” Wisnu memanggilnya, tetapi tidak ada sahutan dari Grey.
Ia semakin mendekat, lalu kembali mencoba membangunkan Grey. Tetapi tetap tidak ada sahutan dari Grey. Dengan terpaksa, ia menyentuh tubuh Grey menggerkan bahunya agar wanita itu terbangun.
Dan benar saja, saat Wisnu menggerak-gerakan bahu istrinya, Grey pun terbangun dari tidurnya. Ia terlihat sedikit terkajut saat tahu kalau suaminya yang membangunkannya.
“Emh Mas, ada apa membangunkanku?” tanya Grey menyipitkan matanya yang masih mengantuk, lalu langsung berganti posisi menjadi duduk.
“Bersiaplah, aku mau membawamu ke luar,” ucap Wisnu dengan dingin.
Grey hanya bengong, sepertinya nyawanya belum terkumpul semua. “Hah? Keluar ke mana?” tanyanya.
“Jangan banyak tanya! Kau ingin ikut atau tidak?!” serunya membuat Greyterdiam. Lalu menuruti perkatan Wisnu untuk segera bersiap-siap.
***
Jalanan Jakarta siang ini cukuplah padat, mobil Mercy berwarna hitam tampak melaju kencang membelah jalanan BSD Tangerang.
Di sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan di antara Wisnu dan Grey. Keduanya saling diam membisu, sibuk dengan pikirannya masing-masing.
Grey sejak tadi fokus mengedarkan pandangannya ke samping jendela mobil, ia menatap apa yang bisa dilihatnya. Sungguh ia benar-benar merasa tidak nyaman berada di situasi seperti ini. Bayangannya kembali mengingatkan dirinya dengan Wisnu malam kemarin, tetapi sekelebat ucapan Wisnu seolah kembali terngiang di telinganya.
Ingin rasanya ia mengungkapkan semua keganjalan yang ada di hatinya. Akan tetapi, apalah daya ia tak bisa seberani itu kepada suaminya.
“Jangan banyak bertanya! Yang pasti aku tidak akan membawamu ke neraka,” ucapnya begitu sadis, membuat Grey semakin kesal dibuatnya.
“Astaghfirullah, biasa aja kali, Mas! Lagi pula aku hanya bertanya kemana tujuan kita pergi! Bukan tujuan kita mati!” serunya langsung mendelik sebal membuang wajah.
Wisnu langsung menoleh ke arah Grey. Lelaki itu sedikit terkejut saat mendengar jawaban menohok dari istrinya.
Ternyata seorang Anggreya Mikayla yang selama ini dikenalnya, mampu berkata sinis juga padanya. Karena selama ini, Wisnu hanya menganggap Grey wanita pendiam yang lemah dan tidak asyik, tetapi setelah mendengar penuturan ketus dari istrinya tersebut, Wisnu sedikit sadar, bahwa Grey memiliki sifat lain yang belum ia ketahui.
Bagaimana bisa ia mengetahui sifat istrinya, komunikasi di antara keduanya saja jarang. Jelas tidak akan mudah bagi Wisnu untuk mengenal Grey dalam waktu singkat.
Kini Wisnu menghentikan mobilnya di sebuah lahan parkir di sebuah hotel bintang lima yang ada di Kawasan BSD Tangerang.
“Loh, kok kita ke hotel?” tanya Grey begitu heran.
Wisnu hanya diam, tidak ingin menjawabnya. Lalu ia pun menyuruh Grey untuk segera turun dari mobil.
“Memangnya kau berharap aku membawamu ke mana hah?!” tanya Wisnu, memutar kunci mobil mematikan mesinnya.
“Ya Allah, Mas, bisa enggak sih, ngomong agak lembutan dikit gitu, masa sama istri ngomongnya kayak orang lagi darah tinggi!”
“Siapa yang darah tinggi! Darahku normal!” jawab Wisnu, membuat Grey hanya bisa menggelengkan kepalanya, terheran-hrean.
__ADS_1
"Kalau enggak darah tinggi, ya ngomongnya juga pasti lembut."
"Sudah ah, cepat turun sana!" cetus Wisnu tidak ingin memperpanjang obrolan.
"Iya, iya! Sabar ...." Grey mendelik kesal, lalu ia pun segera keluar dari mobil.
Wisnu semakin tak menyangka, ternyata istrinya tersebut seberani itu padanya. Ia tersenyum kecut sambil mengulum lidah, melirik sinis ke arah Grey yang kini tengah berada di luar mobil.
“Dasar, cabe!’ gumamnya menggeleng pelan, lalu ia pun segera keluar dari dalam mobil.
Kini mereka berdua sudah memasuki gedung hotel. Wisnu menelepon terlebih dahulu papanya untuk menanyakan ruangan yang katanya sudah di booking oleh papanya untuk mereka berdua.
Setelah tahu, Wisnu kembali reservasi ulang kepada recepsionist hotel. Dan setelah selesai, salah satu pelayan lelaki mengantarkan mereka ke kamarnya.
“Silakan Tuan dan Nyonya, kamarnya sudah bisa ditempati. Semoga bisa beristirahat dengan nyaman,” ujar pegawai tersebut, lalu pergi meninggalkan mereka.
Grey mengerutkan kedua alisnya, saat ia memasuki kamar tersebut, kedua matanya dibuat tercengang saat mendapati kamar yang akan mereka tempati sudah dihias sebegitu indahnya, seperti kamar pengantin mereka waktu itu.
“Mas, k-kamu membawaku kemari untuk ….” Perkataan Grey menganggantung, ia merasa malu untuk melanjutkan pertanyaannya.
Sedangkan Wisnu, lelaki itu mendengus kesal, karena ia tidak tahu kalau kamar yang akan mereka tempati merupakan kamar untuk orang yang hendak honeymoon.
“Kau kira ini untuk apa hah?! Aku membawamu ke mari karena di suruh papa. Kalau bukan karena papa aku juga ogah!” cetusnya langsung berjalan mendekati sofa yang ada di sudut ruang sana.
Grey mengangguk paham, ia juga tahu, semua ini pasti karena akal-akalan papa mertuanya. Sesuai dengan apa yang baru saja suaminya bilang. Tetapi, entah kenapa jiwa jail dalam dirinya seolah tergugah.
Grey tersenyum mesem. “Emh… serius ini karena papa? Kalau alasannya, karena kamu yang mau, gak apa-apa kok, aku saja,” ucap Grey bercanda.
Namun, candaan Grey justru ditanggapi serius oleh Wisnu. Wisnu tidak menyukai perkataan yang baru saja istriya itu lontarkan padanya.
“Jangan mikir macam-macam ya! Lagi pula siapa yang mau ngajak kamu honeymoon!” serunya tidak terima.
“Emh… masa sih?! Bukannya malam itu kamu yang agresif ya," ucap Grey keceplosan, langsung ia menutup bibirnya sambil memejam dan mengumpati dirinya dalam hati.
"Ya Allah, Grey, kenapa malah mancing-mancing bahas itu sih!" batinnya merutuki diri sendiri.
Taka yang teringat akan hal tersebut, ia seolah jijik dengan pemikirannya sendiri. “Jangan sembarangan bicara ya kamu! Lagi pula malam itu ….” Ucapan Wisnu menggantung tak dilanjutkan.
"Ya ampun, kenapa juga dia malah ngomong begitu! Aku 'kan jadi bingung harus beralasan apa!" batin Wisnu, sedikit kesal.
Grey yang terlanjur sudah masuk dalam topik tersebut, ia pun melanjutkan pembicaraanya, sekaligus ingin memancing agar ia tahu alasan sebenarnya kenapa suaminya bisa sampai seperti itu padanya.
“Malam itu kenapa, Mas? Apa karna kamu mabuk, kamu ingin menjadikan itu sebagai alasan?”
“Nah itu, kau tahu sendiri ‘kan, kalau malam itu aku menyentuhmu karena aku mabuk,” kilahnya tidak ingin mengakui kebenarannya.
“Serius karena mabuk? Lalu … kalau beneran mabuk, kenapa pas aku tolak kamu marah? Terus, kenapa juga kamu bilang kalau kamu sadar?” tanyanya memancing, membuat Wisnu semakin gelagapan bingung untuk menjawabnya.
Karena jujur saja, sebenarnya waktu malam panas itu terjadi, Wisnu sepenuhnya sadar, dan ia juga sadar saat Grey menolaknya berulang kali, namun tetap ia paksa. Hingga hal yang ia sesali sekarang pun terjadi sudah.
__ADS_1
Bersambung....
Jangan lupa dukungan komen dan giftnya ya gengs hehe... terima kasih.