Noda Pengantin

Noda Pengantin
Kedatangan Aryo ke Rumah


__ADS_3

Semenjak kejadian perayaan pesta waktu itu, Grey sudah beberapa hari tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Karena sebenarnya ia memang sakit. Hanya saja, sakitnya ini lebih di dramatisir agar Aryo lebih percaya padanya. Dan dua hari yang lalu pun, Aryo sempat menjenguk Grey ke rumah papa Cakra, untuk memastikan keadaannya.


Dan Aryo pun percaya saat ia datang, Grey tampak sangat pucat dan lesu. Sehingga lelaki itu semakin yakin bahwa Grey memang benar-benar sakit dan bukan mengada-ada.


Hari ke hari pun, berlalu begitu saja, hubungan Wisnu dan Grey lumayan semakin membaik, meski masih sering terjadi perdebatan dan adu argument di antara keduanya, akan tetapi hal tersebut lah, yang membuat keduanya menjadi lebih dekat.


Dan pagi ini, keadaan di dalam rumah tampak begitu sepi, hanya ada Bi Iyam dan tukang kebun yang berada di rumah. Grey benar-benar merasa begitu bosan, karena kegiatannya beberapa hari ini hanya diam di kamar, membaca, atau mungkin sesekali menonton film. Meski pada hari pertama dan kedua semua itu terasa menyenangkan, namun lama kelamaan, semua jadi membosankan.


Selagi diam di dapur, tepat di atas kursi di meja makan, Grey mamandangi sup rumput laut yang masih mengepulkan uap di dalam mangkuk yang ada di depannya itu. Matanya memang memandang ke arah sup tersebut. Namun pikirannya tengah berkelana ke sana kemari memikirkan soal nasib dirinya.


"T-tapi, kemarin pas dokter itu ngecek keadaanku, dia enggak bilang kalau ini pertanda hamil. Tapi, kok haidku masih belum datang juga ya," gumam Grey dalam hati, terus berkutat dalam diamnya.


“Apa aku harus memberi tahu tanteku soal ini ya?” gumamnya dalam hati.


"Hai, Grey, how are you?” tanya Aryo yang tiba-tiba sudah muncul di depannya. Membuat Grey mengerjap, dan terkejut dari lamunannya.


"Loh! Aryo?! ... Ngapain kamu di sini?" tanya Grey gugup dan takut.


Aryo yang menenteng sebuah paper bag di tangannya, paper bag itu langsung ia simpan di atas meja makan, menyodorkannnya kepada Grey.


"Menjenguk asistenku lah, memang perlu alasan apa lagi selain itu?" ucap Aryo tersenyum, lalu mendaraatkan tubuhnya di atas kursi kosong yang ada di dekat Grey.


Grey masih terdiam dalam keheranannya.


"Apakah kamu ke sini dengan sekretaris Anton?" tanya Grey menengok ke belakang Aryo.


"Ya enggak lah! Gila aja kalau apa-apa aku ngajak dia," imbuhnya. Aryo pun langsung mengeluarkan dua kotak mentai rice dari paper bag itu.


Lalu memberikan satu kotak mentai rice itu kepada Grey. "Ini, kita makan bareng yuk," ucap Aryo.


Grey kembali menautkan kedua alisnya. "Hah? Enggak ah, aku mau makan sup rumput laut buatan Bi Iyam aja," tolaknya.


"Loh, tapi aku bawain kamu ini special loh, kamu kan lagi sakit harus makan yang banyak, supnya di makan, mentainya juga di makan."

__ADS_1


"Enggak ah! Kamu makan sendiri aja, lagian aku enggak pernah nyuruh kamu buat bawa-bawa makanan seperti ini ya," ucap Grey.


Grey pun berdiri dari duduknya, hendak pergi meninggalkan Aryo di sana. Karena jujur saja, berdua bersama lelaki yang masih sangat dibencinya itu, ia begitu ilfil, bahkan ingin selalu menghindar.


"Kamu mau ke mana, Grey?" tanya Aryo, ikut berdiri.


"Ke belakang, nyamperin Bi Iyam! Udah ah, kamu jangan ikut-ikut aku mulu, sana pergi kerja! Jadi general manager kok pemalas," cerca Grey kepada Aryo.


Grey pun pergi begitu saja meninggalkan Aryo sendirian di meja makan. Sementara itu, kini Grey berjalan menghampiri Bi Iyam yang tengah sibuk menjemur baju di halaman belakang.


"Saya bantu ya, Bi."


"Eh, jangan, Non Grey 'kan lagi kurang sehat, biar saja aja. lagian saya enggak biasa kalau ada yang ngerecokin kerjaan saya," sergah Bi Iyam dengan sopan.


"Hehe, iya Bi. T-tapi saya begini cuma sebagai alasan aja, di dapur ada si Aryo, saya enggak mau ketemu sama dia," bisik Grey kepada Bi Iyam.


"Hah? Tuan Aryo?" Grey mengangguk mengiyakan.


"Oh... tentu, boleh, Non, boleh," jawabya semangat.


Namun, apa yang diharapkan oleh Grey tidak sesuai ekspetasinya, setelah hampir satu jam ia berada di luar bersama Bi Iyam, ternyata lelaki itu masih mematut di tempatnya, tidak pula beranjak pergi dari sana.


"Astaghfirullah, kok dia masih di sini sih!" gerutu Grey dalam hati.


"Non, sup yang tadi kok enggak di makan?" tanya Bi Iyam, saat ia menyapa Aryo basa-basi.


"Ah iya aku lupa, Bi, ya sudah akan saya makan ya, Bi. Tapi Bibi temanin saya ya di meja makan," pinta Grey.


"T-tapi, Non ..."


"Please, Bi temenin ya, saya enggak enak kalau cuma berdua sama adik ipar," ucap Grey sekilas melihat ke arah Aryo.


Aryo mengulum lidahnya, menyeringai sinis saat wanita yang dicintainya itu lagi-lagi mengakuinya hanya sebagai adik iparnya.

__ADS_1


"Sialan! Dia memang tidak pernah berubah, tetap kukuh dengan keputusan pertamanya," ucap Arryo dalam hati, sedikit merasa kesal.


Grey pun menyendokkan sup rumput laut yang mulai hangat itu. Ia mneyeruputnya dengan begitu semangat. Namun, tiba-tiba ....


"Hoek!" Grey membungkam mulutnya lalu lari ke kamar mandi dan memuntahkan cairan berwarna kuning muda dari dalam mulutnya.


Aryo yang baru pertama kali melihat Grey muntah seperti itu, tiba-tiba ia terpikirakan sesuatu.


“Hoek? Bukankah itu pertanda .... Tidak mungkin ‘kan, kalau Grey beneran hamil?” batinnya merasa senang. Karena ia selalu beranggapan, jikalau Grey sampaii hamil, maka anak yang dikandungnya pasti anaknya. Akan tetapi, ia tidak bisa menduganya begitu saja, ia harus memastikannya terlebih dahulu.


“Aku harus mengecek kalender haid di ponselnya,” gumamnya, karena Aryo juga tahu, Anggreya mempunyai masalah dengan menstruasinya, sejak dulu Grey selalu menuliskan tanggal haidnya di aplikasi yang ada di ponselnya.


“Iya, aku harus memastikan semuanya. Dan kalau saja anak itu benar-benar anakku aku ….” Aryo tidak bisa menahan kegembiraannya.


Ia menarik tangannya yang dikelpalkan dari atas ke bawah. “Yes!” ucapnya membuat Bi Iyam yang melihatnya secara tiba-tiba, dia sangat kebingungan.


“Tuan Aryo, Anda kenapa, Tuan?” tanya Bi Iyam sedikit panik.


Aryo kemudian memegang kedua bahu Bi Iyam, lalu berkata. “Akhirnya impian saya akan jadi kenyataan, Bi!” ucapnya penuh semangat.


Bi Iyam yang tidak mengerti, soal apa yang lelaki itu ucapkan padanya, ia hanya mengernyit heran, kebingungan melihat bosnya yang mendadak bersikap aneh, seolah sedang mendapatkan lotre.


"Apa yang menjadi kenyataan, Tuan?"


"Pokoknya harapan dan impian saya sebentar lagi akan terwujud, Bi." Aryo semakin kegirangan sendiri.


Sementara Grey, wanita itu masih sibuk memuntahkan ludahnya di kamar mandi.


"Ah, Tuan Aryo ini, Bibi enggak mengerti. Ya sudah, Bibi mau bantu Non Grey di dalam dulu," ucapnya langsung masuk ke kamar mandi, menemani Grey di sana.


"Aku harus membawanya ke dokter kandungan," gumamnya dalam hati.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2