Noda Pengantin

Noda Pengantin
Menjalankan Amanah


__ADS_3

“Aurel?” gumam Wisnu saat melihat nomor yang tertera di ponselnya.


Ponsel yang di pegangnya itu terus berdering. Panggilan dari Aurel terus timbul di layar ponsel Wisnu.


“Kenapa enggak di angkat, Kak?” tanya Viona yang sejak tadi memerhatikan Wisnu.


Wisnu langsung mematikan ponselnya, ia tidak mungkin mengangkat panggilan telepon dari Aurel di saat keadaan seperti ini.


“Emh, enggak penting,” jawab Wisnu pelan.


Lalu tidak lama, dokter pun keluar. Cakra dan Shindy langsung menanyakan keadaan Grey di dalam sana.


“Alhamdulillah, bayinya tidak apa-apa, hanya saja pasien saat ini harus istirahat dulu karena ada sedikit kendala di bagian pernafasannya, tapi Bapak dan Ibu tenang saja, semuanya sudah saya atasi. Pasien harus dibiarkan sendiri dulu, nanti setelah tiga jam, Ibu dan Bapak baru boleh masuk ke dalam,” tutur Dokter menjelaskan.


Cakra akhirya bisa bernafas lega, saat tahu kalau menantunya itu baik-baik saja.


“Baiklah, terima kasih, Dok.”


Dokter tersenyum, lalu pamit meninggalkan mereka semua.


Setelah keadaan beberapa menit hening, kini Cakra mendekat ke arah Wisnu yang tengah melihat Grey lewat jendela.


“Wisnu! Ikut Papa sekarang!” titahnya begitu tegas.


Deg, perasaan Wisnu sudah tidak enak. Pasti Papanya itu akan membahas soal kejadian Grey tadi dan akan menceramahinya. Tapi, mau tidak mau Wisnu pun akhirnya menurut dan mengikuti langkah kaki Papanya yang mengajaknya pergi keluar.


Sementara itu, Viona baru saja menelepon Aryo dan mengabarinya kalau Kakak iparnya itu sudah baik-baik saja.


“Ah ... alhamdulillah, untung saja bayinya tidak kenapa-napa,” ucap Aryo begitu lega.


“Bagaimana? Apa Grey sudah sadar?” tanya Dewi yang penasaran.


Aryo yang baru saja menghentikan mobilnya tepat di depan halaman rumahnya, ia menoleh ke arah Dewi, lalu mengangguk pelan.


“Iya, Grey sudah sadar tapi dia butuh istirahat, keadaan bayinya juga baik-baik saja,” jawab Aryo.


Dewi pun ikut senang mendengarnya. “Syukurlah ... kalau begitu, besok kita ke sana lagi untuk menjenguk Grey.”


“Kenapa tidak sekarang, Bu?”


“Loh, katamu Grey butuh waktu istirahat. Ya udah biarkan Grey istirahat dengan tenang dulu, besok pagi baru kita jenguk dia lagi.”


Aryo tersenyum membenarkan ucapan Ibunya itu. Lalu mereka pun keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam rumah.


***


Mentari pagi sudah memancarkan sinar hangatnya di ufuk Timur. Aryo yang baru saja selesai mandi, ia bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit menemui Grey.


“Bu!” panggil Aryo saat menuruni anak tangga berjalan menuju dapur.


“Iya, apa?” sahut Dewi yang ada di dapur tengah menyiapkan makanan.


“Bu, Ibu mau berangkat bareng?” tanya Aryo.


“Emh, maaf enggak jadi, Yo. Barusan papamu nelepon, katanya mau pulang ke sini, jadi nanti biar Ibu nyusul bareng papamu aja ya,” ucap Dewi, berbalik menghadap Aryo.


Aryo ber-oh panjang sambil mengangguk.


“Oh ya, Ibu sudah siapin sarapan buat kamu, terus nanti jangan lupa bawa bekal ini ... buat Wisnu sama Grey.”


Dewi menyodorkan sepiring nasi goreng kepada Aryo. Aryo pun menerimanya, lalu dia duduk di atas kursi meja makan.


“Ibu enggak sarapan bareng aku?” tanyanya lagi.


“Enggak, nanti nunggu papamu datang.”


“Oh ....”


Dewi pun mengambil satu tote bag, lalu memasukan dua box makan ke dalam tote bag tersebut dan menyimpannya di atas meja makan, di dekat Aryo.


“Ini, ya. Yang isi nasi goreng buat Wisnu, yang isi bubur buat Grey,” ucap Dewi.


“Ini buburnya bukan bubur seafood ‘kan?” tanya Aryo.


“Bukan, ini bubur ayam pakai ati ampela. Memangnya kenapa gitu?” tanya Dewi.

__ADS_1


“Enggak, soalnya Grey alegri seafood.”


Dewi mengerutkan dahinya, merasa ada yang aneh dengan ucapan anaknya itu.


“Kamu tahu Grey—”


“Ah, itu soalnya dia pernah cerita saat ada acara kantor traktir makan seafood,” ucap Aryo berbohong. Padahal ia barusan bilang begitu karena keceplosan.


“Oh... begitu ya.”


Aryo terkekeh kecil sambil menyuapkan kembali nasi goreng ke dalam mulutnya.


***


“Ya sudah, Papa pulang dulu! Ingat, pesan Papa semalam!” tegas Cakra saat ia hendak meninggalkan Wisnu.


Wisnu mengangguk pelan dengan wajah yang lesu. “Iya, Pak.”


“Awas, kalau sampai ada hal lain lagi terjadi kepada Grey dan calon cucu, Papa! Kamu akan tanggung akibatnya!” seru Cakra, membuat Wisnu hanya bisa diam dan memanggutkan kepalanya saja.


Setelahnya Cakra pun pulang, sementara Shindy dan Viona mereka semalam sudah pulang terlebih dahulu, karena Viona juga harus masuk sekolah. Jadi, semalam yang menjada Grey adalah Wisnu dan Cakra.


Wisnu kembali membuang nafasnya begitu berat, lalu menoleh ke arah jendela, melihat Grey di dalam ruangan sana yang masih terbaring lemah.


Ia jadi ingat akan perkataan papanya semalam yang membahas soal Grey dan juga dirinya. Cakra juga mengutarakan kekesalannya karena sikap Wisnu kepada Grey terlihat jauh sangat dingin, bahkan jauh dari kata harmonis. Maka dari itu, semalam Cakra menasehati Wisnu agar putra sulungnya itu bisa berbuat lebih baik kepada Grey, dan meminta Wisnu untuk menerima Grey di dalam hidupnya.


Wisnu pun masuk ke dalam ruangan. Grey yang masih terbaring lemah di atas brankar, ia menoleh ke arah Wisnu yang tengah berjalan padanya.


“Papa udah pulang, Mas?” tanya Grey dengan suaranya yang terdengar serak.


Wisnu mengangguk. “Hm.”


Hening.


“Kamu mau makan sekarang?” tanya Wisnu kepada Grey.


Grey menggeleng pelan. “Belum mau, nanti aja.”


“Kalau aku tinggal sebentar keluar enggak apa-apa? Aku mau nyari makanan buat kamu nanti.”


Grey tersenyum. “Iya enggak apa-apa.”


Grey kembali mengangguk. Lalu setelahnya Wisnu pun keluar dari ruangan tersebut.


___


Setelah selesai memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, Aryo segera keluar dari mobilnya. Tidak lupa ia menenteng tote bag yang di dalamnya berisi makanan untuk Wisnu dan Grey.


Ting.


Suara lift terbuka, kini Aryo sudah sampai di lantai, di mana Grey di rawat. Lalu berjalan keruangan itu untuk menemui Grey.


Sebelum masuk ia melihat ke dalam ruangan lewat jendela kecil yang ada di tengah pintu, tapi sepertinya tidak ada siapa-siapa di sana selain Grey seorang yang tengah terbaring di atas brankar.


Aryo mengetuk pintu. “Assalamu’alaikum.”


Grey membuka matanya, lalu menoleh ke arah pintu. “Wa’alaikumussalam,” sahut Grey dengan suaranya yang lemah.


Perlahan pintu pun terbuka, dan ternyata Aryo lah yang datang.


Aryo masuk, lalu menyimpan tote bag berisi box makanan itu di atas nakas.


“Kamu sendirian, Grey? Wisnu ke mana?” tanya Aryo yang sudah berdiri di dekat Grey.


“Mas Wisnu lagi keluar cari makan.”


“Terus kamu ditinggal sendirian gitu aja?” tanya Aryo dengan heran.


“Ya enggak apa-apa.”


“Ya ampun, si Wisnu ini bagaimana sih. Orang sakit malah di tinggal begini,” gerutu Aryo sedikit kesal.


“Udah makan?” tanya Aryo, Grey menggeleng pelan tanpa menjawab.


“Ya ampun, Grey! Ini udah jam berapa, masa kamu belum makan juga. Udah ayo kamu makan dulu!” rutuknya lalu mengeluarkan box makanan dari tas yang dibawanya.

__ADS_1


“Aku belum mau makan, Aryo!” balas Grey dengan suaranya yang lemah.


“Enggak ah! Ayo harus makan, ini udah jam 7 masih belum makan, juga nanti perut kamu bisa sakit, Grey!”


Aryo menaikkan posisi kepala Grey dengan membenarkan brankarnya. Dan kini Grey pun duduk terbaring 45 derajat.


“Aryo ... aku belum mau makan!” Grey masih menolak, saat Aryo sudah membuka box makanan yang berisi bubur itu.


“Grey, makan aja sedikit. Ini bubur buatan Ibuku loh, dia yang pesen sama aku biar kamu makan bubur ini.”


“Tapi aku belum mau ....”


“Sedikit aja ya?! Sebagai tanda kalau aku sudah mengerjakan amanah dari ibuku.”


“Tapi, Aryo ....” Grey yang wajahnya tampak pucat itu, masih kekeh tidak mau makan.


“Grey!” Aryo menatapnya serius.


Grey mencebikkan bibirnya, karena ia memang belum mau makan. Bahkan berselera makan saja tidak.


“Ini amanah ibuku, Grey,” ucap Aryo mencoba membujuknya dengan lembut.


“Sesuap ya?”


Akhirnya Grey pun menganggukkan kepalanya dengan terpaksa. Membuat Aryo yang melihatnya langsung tersenyum sumringah. Dan ia pun terlebih dahulu memberikan minum kepada Grey.


“Bismillah, aaa....”


“Aryo! Aku bukan anak kecil!” gerutu Grey dengan manja.


Aryo terkekeh dibuatnya. “Iya, iya, ya udah nih ....” Aryo menyuapkan satu sendok bubur kedalam mulut Grey.


Grey melahapnya dengan malas. Tapi setelah, menicip-icip, ternyata rasanya mampu membangkitkan selera makannya.


“Gimana enak ‘kan?” tanya Aryo.


Grey hanya terdiam tidak menjawab, masih mencoba menelam makanan yang ada di mulutnya.


“Ini, lagi.” Aryo kembali menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulut Grey.


Grey kembali melahapnya, karena jujur saja, entah kenapa bubur yang ia makan saat ini terasa sangat lezat di lidahnya.


“Udah ah,” ucap Grey saat Aryo hendak kembali menyuapinya.


“Eh, baru dikit loh ini. Ayo sekali lagi,” ucap Aryo.


“Enggak, maksud aku, udah! Biar aku aja yang makan sendiri, enggak mau disuapi sama kamu!”


Aryo terkekeh mendengarnya. “Lah, memangnya kenapa? Kamu ‘kan lagi sakit Grey.”


“Aku cuma sakit biasa, Aryo! Bukan lumpuh.”


Aryo mengeraskan tawanya mendengar jawaban Grey. “Ya udah, ini. Makan yang banyak ya, biar kamunya cepat sehat, kasian tuh dede bayinya kelaparan,” ucap Aryo begitu menggemaskan.


Grey tidak menjawabnya, ia hanya memasang wajah juteknya lalu mengambil alih box makanan itu.


Sementara itu, sejak lima menit yang lalu ada seseorang di balik pintu yang memerhatikan mereka berdua di dalam.


“Assalamu’alaikum.”


.


.


.


Bersambung....


Maaf ya, baru up lagi. Kemarin authornya terserang oe-oe akibat asam lambung wkwkw.


Oh ya jangan lupa ramaikan kolom komentarnya juga ya.


Sekalian promo novel author yang udah tamat ah, siapa tahu kalian mau baca hehe.


Menikahi Pria Misterius (End) Cerita Dewasa ada unsur 21+ nya

__ADS_1


Pernikahan di Atas Kertas (End) Cerita Dewasa tapi Islami


Silakan yang mau baca, atau kalian juga bisa follow akun ig aku @dela.delia25 terima kasih.


__ADS_2