
Suara ketukan pintu ruang kerja terdengar di telinga Aryo. Lelaki itu tersenyum menyeringai, lalu menyuruh Anton, untuk membukakan pintu.
“Silakan masuk, Nona,” ucap Anton begitu ia membuka pintu, dan mempersilakan Grey untuk segera masuk.
Grey mengangguk, ia pun masuk ke dalam ruang kerja Aryo. Lalu menghentikan langkahnya begitu ia sampai, tepat satu meter di depan meja kerja milik lelaki yang berstatus sebagai atasannya itu.
Aryo memutar kursi kerjanya, dengan gaya duduknya yang santai ala-ala bos, ia menyeringai ke arah Grey, menatapnay dengan tatapan penuh kesenangan.
“Kamu datang juga ternyata,” ucap Aryo lalu segera membenarkan duduknya, tegap.
“Mohon maaf, ada apa ya, Bapak memanggil saya kemari?” tanya Grey to the point.
Sebelum menjawab, Aryo memetik jarinya hingga menimbulkan suara ‘klik’, yang artinya ia memberi kode kepada Anton untuk menyampaikan suratnya.
Anton yang tengah berdiri di dekat pintu, ia dengan sigap langsung berjalan mendekati Grey, lalu mengeluarkan selembar amplop putih dari dalam saku jasnya.
“Ini, Nona. Silakan dibaca terlebih dahulu,” ucap Anton memberikan amplop tersebut dengan penuh rasa sopan kepada Anggreya.
Sebelum mengambil, Grey terlebih dahulu melirik sinis ke arah Aryo, Aryo membalasan tatapan sinis itu dengan senyuman, lalu mengucapkan kata “ambil saja.” Namun, tanpa suara, hanya Gerakan bibir saja yang terlihat.
Dengan ragu, Grey akhrinya mengambil amplop putih tersebut dari tangan Anton. Lalu ia segera membukanya.
Tampak kedua matanya yang bergulir, mengikuti arah bacaan yang ada di dalam surat tersebut. Kedua matanya membulat sempurna, ketika netranya berhasil membaca inti dari pesan yang ingin Aryo sampaikan padanya.
“Astaghfirullah Aryo! Apa maksud semua ini?!” seru Grey, sesaat setelah ia membaca semua isi yang ada di dalam surat tersebut.
Menyadari ada tatapan mengejutkan dari Anton, Grey langsung menunduk malu, ia merasa tidak enak, karena lagi-lagi dirinya bersikap tidak sopan kepada atasannya di depan Anton.
Aryo yang mengerti, langsung menyuruh Anton untuk keluar dari ruangannya, dan Anton yang polos pun mengangguk mengiyakan perintah bosnya.
Dirasa sudah aman, Grey kembali melayangkan tatapan tajamnya ke arah Aryo.
“Aryo! Kamu ini gila ya?! Seenaknya saja menaikan jabatanku di sini!” serunya begitu kesal.
“Loh, memangnya kenapa? Sekarang ‘kan, perusahaan ada dalam kendaliku,” kilahnya.
Grey menggeleng pelan tidak habis pikir. “Cukup Aryo! Jangan bermain-main dengan pekerjaan. Menaikan dan menurunkan jabatan seorang pegawai itu harus ada tahapannya tidak seperti ini!"
Aryo tersenyum kecut, ia berdiri, lalu berjalan pelan mengelilingi Grey.
“Greya… Grey… kamu memang tidak pernah berubah ya. Kau tetap Anggreya yang keras kepala dan peduli,” ucap Aryo, yang kini berdiri tepat di depan Grey.
“Oh ya, kira-kira … sifatmu yang asli seperti ini, kamu tunjukin gak sama suamimu itu hah?” sambung Aryo, yang tiba-tiba membahas masalah pribadi.
__ADS_1
Grey langsung melayangkan tatapan elangnya kea rah Aryo, wanita ini begitu geram akan mulut lelaki yang ada di depannya. Ingin rasanya ia mencakar mulut tak beradab itu, tetapi ia tahu, tindakannya hanya akan mempersulit keadaan, dan ia tidak mau hal itu terjadi.
“Mohon maaf Pak Aryo yang terhormat, dengan segala kerendahan hati, saya menolak untuk menerima kenaikan jabatan ini. Saya merasa, saya tidak pantas, dan masih banyak pegawai lain yang lebih berpotensi dan unggul untuk menjadi asisten pribadi, Bapak,” ucapnya serius, begitu formal.
Lagi dan lagi, Aryo menyeringai, sedikit terkejut mendengar ucapan menohok dari wanita yang disukainya itu. “Dan, mohon maaf Nona Anggreya Mikayla ... saya tidak bisa menerima penolakan. Semua yang saya rencanakan, dan semua keputusan yang sudah saya ambil, tidak bisa diganggu gugat! Jadi, Anda sebagai pegawai saya, Anda harus mematuhinya!” tegas Aryo, membuat Grey semakin geram ingin mencabik, memukul dan mencakar mulut lelaki yang berdiri di depannya.
"Dia benar-benar keterlaluan!” batin Grey menahan emosi yang bergejolak di dada.
Grey membuang nafasnya begitu kasar. Lelah rasanya jika ia harus berdebat panjang dengan Aryo, karena ia juga tahu Aryo adalah orang yang kukuh akan keinginannya. Ia tak ingin waktunya dihabiskan percuma begitu saja hanya demi melayani adu argument dengan lelaki tak tahu diri itu. Dan tanpa sepatah kata apa pun, Grey akhirnya melangkah pergi meninggalkan ruang kerja Aryo.
Dengan akhir keputusan yang masih menggantung. Lalu, sebelum Grey benar-benar keluar melewati pintu, Aryo terlebih dahulu meneriakinya.
“Ingat Grey! Kau sudah sah menjadi asistenku!”
Grey langsung membanting pintu dengan keras begitu ia mendengarnya, ia memukul sebelah kepalanya yang terasa mau pecah.
“Terserah! Sekuat apa pun aku menolak, dia pasti kukuh dengan semua rencananya,” gumamnya, melangkah pergi menjauhi ruangan itu.
***
Sementara itu di perusahaan AF Group. Siang itu, Wisnu tengah bersiap untuk pergi meninggalkan kantornya.
“Dev, siang ini aku akan pergi ke Sagara. Kau tolong kondisikan kantor ya,” ucap Wisnu begitu semangat.
“Oh, tidak perlu, saya bisa berangkat sendiri. Kalau begitu, saya pamit ya,” ucap Wisnu kemudian pergi meninggalkan ruang kerjanya begitu saja.
Sepanjang berjalan di area koridor kantor, wajah Wisnu tampak berseri-seri, ia sudah tidak sabar menantikan moment indah pertemuan antara dirinya dengan Aurel.
Dan sesampainya di basement, ia langsung pergi menuju mobilnya, lalu masuk dan segera menancap pedal gasnya, keluar dari area kantor.
“Bagaimana ya kabar dia sekarang?” gumamnya saat masih fokus menyetir, membelah jalanan Jakarta di siang hari.
“Ah, aku benar-benar sangat merindukannya,” ucapnya sambil tersenyum mesem, membayangkan pertemuan membahagiakan yang selama ini dinantikannya.
Wisnu membelokkan terlebih dahulu mobilnya ke sebuah toko bunga yang ada di pinggir jalan raya. Setelah selesai memarkirkan mobilnya, ia keluar lalu segera masuk ke dalam toko bunga yang cukup besar itu.
Seorang pelayan bertopi coklat, menyapa Wisnu dengan begitu ramahnya.
“Silakan, Tuan. Ada yang bisa dibantu?” tanya pelayan wanita tersebut.
“Oh iya … ini.” Wisnu mengeluarkan satu lembar kertas pesanan bunga miliknya kepada pelayan tersebut.
“Oh, mau mengamil pesanan ya. Baiklah, tunggu sebentar ya, Tuan.” Pelayan itu pun bergegas pergi seraya membawa kertas pesanan yang diberikan Wisnu barusan.
__ADS_1
Kedua netra Wisnu masih fokus mengitari seluruh ruangan yang penuh dengan bunga tersebut. Lalu, tak lama kemudian, datanglah seorang pelayan lelaki yang memakai seragam berwarna coklat sama seperti pelayan wanita yang tadi.
Pelayan lelaki itu membawa satu buket bunga yang sangat indah, berisi berbagai macam bunga, mulai dari bunga tulip warna warni, pun mawar putih, kuning dan merah, serta dedaunan hijau dan tambahan bunga-bunga kecil lainnya yang semakin menambah kesan indah dan mewah pada buket bunga tersebut.
“Permisi, ini untuk pesanan atas nama Tuan Devan dari perusahaan AF Group,” ucap pelayan yang membawa buket bunga tersebut.
“Oh iya, itu pesanan punya saya.”
“Baiklah, biar saya bantu angkut ke mobilnya, Tuan,” tawar pelayan tersebut.
Wisnu dan pelayan itu pun bergegas pergi menuju mobil. Lalu setelah buket bunga yang cukup besar itu di simpan di jok belakang. Wisnu memberikan beberapa lembar uang kepada pelayan tersebut sebagai uang tip.
“Terima kasih, Tuan,” ucap pelayan tersebut begitu sopan. Wisnu tersenyum sumringah, lalu ia pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Sagara.
Setelah menempuh perjalanan yang menghabiskan waktu kurang lebih tiga puluh menit, akhirnya Wisnu sampai juga di Sagara, sebuah restoran yang menyajikan private room serta pemandangan yang indah nan nyaman.
Ia kembali membuka ponselnya berulang kali, menunggu pesan dari orang yang dinantikannya. Selagi menunggu, satu pelayan restoran datang menghampiri meja Wisnu, lalu menyajikan minuman dan makanan yang dipesan Wisnu sebelumnya.
“Terima kasih,” ucap Wisnu saat pelayan itu selesai menata makanan dan minuman di mejanya. Pelayan itu pun mengangguk, lalu pergi meninggalkan Wisnu sendirian.
Sudah hampir lima belas menit ia menunggu, akhirnya sebuah notif pesan pun terdengar dari ponselnya, ternyata satu pesan masuk datang dari Aurel.
(Aku sudah sampai, kamu di mana?”) – Aurel.
Wisnu langsung tersenyum lebar membaca pesan tersebut, dan ia pun langsung membalas pesan tersebut secepat mungkin, memberi tahu dimana dirinya berada.
Dan tiba-tiba, seorang wanita muncul di balik tembok yang menjadi pembatas ruangan di sana.
“Aurel,” pekik Wisnu begitu ia melihat sesosok wanita cantik, berparas manis dengan dress selutut berwarna peach yang dikenakannya.
“Wisnu,” balas Aurel, yang masih mematung, dengan senyuman canggung yang terlukis di wajahnya.
Dunia seolah berhenti, selama beberapa detik, Wisnu tercengang tidak mengedipkan matanya, penampilan Aurel di depan sana, terlalu mempesona, sehingga rasanya terlalu sayang jika ia mengedip dan melewatkan pemandangan indah yang ada di depannya itu walau hanya sedetik.
“Hei! Wisnu, are you okay?” tanya Aurel yang sudah berdiri di hadapan Wisnu, membuat Wisnu menegrjap dan terlepas dari lamunannya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Lanjutin lagi enggak nih?