
“Mas, kamu udah pulang?” tanya Grey menebarkan senyuman manisnya, saat Wisnu berjalan menghampirinya.
“Hm,” jawabnya langsung melewati Grey begitu saja.
Tiba-tiba rasa sesak dan kecewa menyeruak di dada Grey saat ini. Lelaki yang kemarin malam tidur dan mencumbunya dengan sebegitu manjanya, hari ini sikapnya benar-benar berubah, jauh lebih dingin dan cuek dari sebelumnya.
“Ya Allah, apa Mas Wisnu benar-benar menyesal telah melakukannya denganku? Atau mungkin dia merasa jijik dan ingin menghindariku?” batin Grey merasa tidak enak hati.
Hingga pada akhirnya, pikirannya kini terus bergelut dengan semua dugaan dan perkiaraan yang seemakin lama semakin membuat kepalanya terasa pusing, pun hatinya yang terasa kalut.
Ia mengembuskan nafasnya dengan kasar. Saat memasuki kamar, dirinya tidak berani untuk tidur di ranjang yang sama dengan suaminya. Ia merasa, kalau Wisnu kini tengah membencinya dan dengan sadar diri, Grey memilih untuk kembali membaringkan tubuhnya di atas sofa, di mana tempat itu adalah tempat ia biasa mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Wisnu baru saja keluar dari kamar mandi. Ia melirik ke arah Grey yang tengah berbaring di atas sofa dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya hingga leher.
Wisnu menunduk sendu, ia masih bingung harus berkata apa kepada Grey. Yang pasti saat ini, ada rasa iba yang menyelimuti hatinya tatkala melihat gadis itu meringkuk sendirian di atas sofa, di sudut kamar sana.
“Grey, bangunlah!” titah Wisnu saat ia mendekati lemari, berharap Grey bangun dari tidurnya.
Grey sedikit terkejut saat mendengar suara Wisnu, ia langsung terbangun dan duduk dengan kaki yang menjuntai ke lantai.
Grey tersenyum kaku. “Mas, ka—”
“Tidur di ranjang, jangan di situ,” ucap Wisnu begitu dingin seraya menutupkan lemari pakaiannya.
Grey masih tercengang mendengar perintah dari suaminya, ada rasa senang yang tiba-tiba dirasakan olehnya. Kedua sudut bibirnya mengencang, menampilkan lengkungan indah yang terbesit di wajah cantiknya.
Ia pun menuruti perintah Wisnu, lalu bangkit dan berjalan pelan, berpindah posisi duduk di tepi ranjang. Masih dengan senyumannya yang tidak menyurut, karena kini ia sedang merasakan kesenangan tersendiri di hatinya.
Setelah selesai mengenakan kaos oblong miliknya, Wisnu tiba-tiba melenggangkan kakinya hendak meninggalkan kamar. Grey yang melihatnya buru-buru menegurnya.
“Mas, ka-kamu mau ke mana?” tanya Grey penasaran, langsung berdiri dari duduknya.
Wisnu menghentikan langkahnya, ia sejenak terdiam kaku sebelum menjawab pertanyaan istrinya yang berdiri di belakang sana.
“Aku masih harus menyelesaikan pekerjaanku. Kau tidur lah lebih dulu, dan jangan menungguku,” ucap Wisnu, lalu menutupkan pintu kamar dan pergi menuju ruang kerja ayahnya.
"Kerja? Jam segini?" batinnya, bengong.
Mendengar perkataan itu Grey merasa kalau ucapan tersebut hanyalah tameng, dari alasan tersembunyi kalau suaminya tidak ingin sekamar dengannya. Dan kini, cairan bening tiba-tiba memupuk di pelupuk matanya, sebisa mungkin ia menahannya, ia tidak boleh menangis hanya karena salah prasangka.
"Baiklah, k-kalau begitu aku tidur duluan," jawab Grey, Wisnu pun berlalu meninggalkan kamar.
__ADS_1
Grey menghela panjang, merasakan sesak yang kian menyeruak di hatinya, saat bayangan punggung suaminya itu sudah menghilang dari matanya. Entah kenapa, setelah mendapat perlakuan seperti ini dari Wisnu, Grey begitu sedih, padahal ia tak menyukai atau mencintai Wisnu, tetapi hatinya seolah teriris melihat sikap Wisnu yang selalu menghindarinya seharian ini.
***
Esok harinya, Grey terbangun dari tidurnya. Kedua matanya menangkap kekosongan di samping kanan dan kirinya. Ia kembali mendesah pelan, merasa sedih karena ternyata Wisnu tidak tidur bersamanya.
Buru-buru ia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dan kebetulan hari ini ia libur kerja, jadi akan banyak waktu untuk dirinya menghabiskan waktu di rumah, dan berharapnya ia bisa menghabskan waktu liburnya ini bersama Wisnu--suaminya.
Dres panjang berwarna navy, bercorak bunga putih kecil-kecil ia balutkan ke tubuhnya yang semampai itu. Polesan makeup sederhana ikut merias wajahnya agar terlihat lebih fresh dan enak dipandang. Tidak lupa, phasmina berwarna senada yang membalut kepalanya dengan sempurna.
Ia keluar dari kamarnya, semerbak wangi parfum yang digunakannya kini menguar kuat mengikuti kemana langkahnya pergi.
Grey memutar gagang pintu ruang kerja ayah mertuanya, yang katanya semalam digunakan oleh suaminya untuk menyelesaikan pekerjaannya yang belum tuntas.
Perlahan Grey membuka pintunya. Ia mengintip keadaan di dalam sana. Kepalanya menyembul di balik pintu yang terbuka sedikit itu.
Terlihat di sofa merah yang panjang di sudut ruangan sana, Wisnu masih terlelap dalam tidurnya. Grey tersenyum hambar melihat suaminya. Ia pun kembali menutupkan pintu itu secara perlahan tanpa menimbulkan suara apa pun.
Grey turun ke bawah, pergi ke dapur dan mendapati Bi Iyam yang tengah sibuk membuat makanan untuk sarapan pagi ini.
“Bi, ada yang bisa saya bantu?” tanya Grey mengejutkan Bi Iyam.
“Eh, Non Grey … nggak apa-apa, nggak usah biar Bibi aja yang masak,” imbuh Bi Iyam yang tengah sibuk mengaduk semur ayam di atas wajan.
Akhirnya Grey mendapat ide, supaya dirinya bisa membantu Bi Iyam agar dirinya tidak tenggelam dalam diam.
“Oh ya, Bi. Bibi tahu gak makanan atau masakan kesukaan mas Wisnu?” tanya Grey dengan antusias.
“Oh, tuan Wisnu biasanya suka banget sama spageti Bolognese, yang ditambahin sama daging beef panggang,” jawab Bi Iyam memberi tahu.
“Benarkah?” tanya Grey memastikan. Yang dibalas anggukkan penuh semangat oleh Bi Iyam.
“Emh, apa bahan-bahannya tersedia, Bi?” tanya Grey.
“Ada … itu di kulkas, sebentar biar Bibi ambilkan,” ucap Bi Iyam, tetapi dengan cepat Grey menahan lengan Bi Iyam.
“Nggak usah, Bi, biar saya aja yang ambil, Bibi lanjutin masakan Bibi aja,” ucapnya langsung pergi menuju kulkas.
Dibukanya kulkas besar empat pintu itu, ia membuka pintu bawah sebelah kanan. Dilihatnya berbagai macam bahan makanan yang sangat banyak memenuhi setiap ruang kosong di dalam kulkas, hingga tak menyisakan space lain selain hanya untuk bisa diambil.
Grey menemukan bahan-bahannya, ia pun segera mengambilnya. Lalu beranjak mendekati meja kompor.
__ADS_1
___
Drrrttt … drrtt … drrttt ….
Dering ponsel yang bergetar keras di atas meja kayu yang ada di samping kursi, membuat Wisnu harus membuka kedua matanya yang masih terasa berat dan mengantuk.
Ia merentangkan tangannya, meraih ponselnya yang masih membunyikan suara bising itu. Akan tetapi, tangannya ternyata tak sampai di meja kayu itu. Ia pun dengan malas harus bangun dan beranjak pergi meraih ponselnya.
Dilihatnya sebuah panggilan masuk dari nomor papanya. Ia pun segera menekan ikon berwarna hijau yang menyala-nyala di layar handphonenya.
“Hallo, Pa,” ucap Wisnu saat ia menempelkan benda pipih itu ke dekat daun telinganya.
“Hallo Wisnu, Papa butuh bantuanmu,” ucap Cakra di sebrang sana.
“Bantuan? … Bantuan apa, Pa?”
“Hari ini kamu libur kerja ‘kan?”
“Iya.”
“Kalau begitu, nanti siang kamu sama Grey tolong datang ke alamat yang Papa kirim ya.”
“Apa? Sama Grey?”
“Iya, pokoknya nanti sebelum jam empat sore kalian harus sudah ada di lokasi, ini urgent banget pokoknya. Papa share lokasinya dulu ya.”
“T-tapi, Pa.”
Tut … tut … tut.
Suara panggilan pun terputus sebelum Wisnu menjawab pemintaan papanya tersebut.
Wisnu berdecak kesal. “Ck, ngapain sih papa nyuruh aku pergi sama dia! Argh, bikin ribet aja!” gerutunya kesal, menggaruk kepalanya yang tidak gatal itu dengan kasar.
“Argh! Sialan, semua ini gara-gara malam itu! Seharusnya aku bisa menahan diri darinya, argh!” amuknya pada dirinya sendiri merasa sangat kesal.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung