Noda Pengantin

Noda Pengantin
Babak Belur


__ADS_3

“Loh, Kak Aryo!” pekik Viona, begitu Aryo muncul dari pintu dapur. Saat itu, Viona tengah mengambil lemon ice dari dalam kulkas. Ia sangat terkejut karena mendapati wajah Aryo dalam keadaan babak belur.


“Sttt....” Aryo menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Ia memberi kode kepada Viona, agar adik tirinya itu tidak berisik.


Viona langsung melipatkan kedua bibirnya rapat-rapat. Kemudian mendekat, sambil berbisik, “Itu wajah Kak Aryo kenapa?” tanyanya, menampilkan ekspresi cemas.


Aryo menggelengkan kepalanya pelan. “Nanti Kakak ceritain,” jawabnya begitu pelan. Lalu ia pun masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dapur.


Sementara itu, Grey baru saja turun dari mobil, setelah Aryo menghilang dari pandangannya. Ia masih begitu merasa kesal, mendengar penuturan Aryo yang bilang, kalau dia tidak akan menganggap Grey sebagai iparnya, melainkan tetap sebagai wanitanya. Bahkan sampai mengatakan kalau ia tidak akan bertahan lama dengan Wisnu.


“Astagfirullah, kenapa dia batu banget sih! Ya Allah ... kenapa bisa-bisanya dia berpikiran seperti itu!” gerutunya, sambil berjalan menaiki anak tangga, menuju teras rumah.


Grey pun masuk ke dalam rumah. Di ruang TV sana, ada papa Cakra, mama Shindy dan ibu Dewi, mereka bertiga terlihat sedang beristirahat, bersandar di bahu kursi besar yang cukup panjang.


Wisnu tidak terlihat keberadaannya, entah di mana dia berada. Begitu Grey berjalan melewati ruang tamu, terlihat sekelebat orang yang tak sengaja tertangkap oleh ekor matanya. Grey pun menoleh, dan ternyata itu adalah seorang wanita paruh baya yang tengah membersihkan meja tekas di sudut ruang tamu.


Wanita paruh baya, yang bekerja sebagai pelayan rumah itu, dia melebarkan senyumannya saat mendapati Grey  yang tengah melihat ke arahnya. Grey pun membalas senyuman wanita itu sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan, lalu kembali melangkahkan kakinya menuju ruang TV.


Namun, sebelum sampai di ruang TV, Viona tiba-tiba muncul dari arah dapur, membawa sebotol minuman yang tadi ia ambil dari kulkas. Mereka bahkan, hampir bertabrakan, tapi terlebih dahulu Grey mampu mengerem langkahnya.


“Jalan liat-liat dong!” seru Viona pelan, sambil memasang wajah juteknya.


“Maaf,” ucap Grey dengan pelan.


“Bu Dewi,” ujar Viona memanggil Dewi, kemudian mendudukan tubuhnya di samping Dewi, yang sudah ia anggap sebagai ibu keduanya.


“Apa Vio?” tanya Dewi begitu lemah lembut.


“Barusan Kak Aryo ada di dapur loh, wajahnya babak belur!” lapornya. Padahal sudah jelas, tadi Aryo melarangnya untuk buka suuara soal wajah babak belur itu.


“Apa?! ... Babak belur?” tanya Dewi menautkan kedua alisnya.


Grey mendekat ke arah mereka. Tapi, tiba-tiba, semua orang melayangkan pandangan ke arahnya, menatapnya dengan aneh.


Grey merasa bingung. Lalu ia menoleh ke kanan, untuk memastikan pandangan mereka, tetapi tak ada siapa-siapa. Lalu, saat Grey menoleh ke kiri, ternyata di belakangnya sudah ada Aryo yang berdiri begitu dekat jaraknya dengan Grey.


“Aryo!” Cakra langsung terbangun dari duduknya, diikuti oleh Dewi yang cukup syok melihat kondisi wajah anak tunggalnya tersebut.


Sedangkan Shindy, ia hanya mendelik sebal melihatnya. “Hah, sudah tidak aneh. Menghilang, lalu memabawa masalah,” gumamnya pelan, tak terdengar oleh siapa-siapa kecuali oleh telinganya sendiri.


Grey menggeserkan tubuhnya menjauhi Aryo. Aryo mematung sambil menunduk.


“Ya ampun Nak, apa yang terjadi? Kenapa wajahmu penuh memar seperti ini?” tanya Dewi, memegang lembut wajah Aryo dengan iba.


“Aryo! Apa kamu berkelahi lagi?!” seru Cakra, yang selalu emosi jika mendapati anaknya tersebut dalam keadaan hancur, babak belur seperti itu.

__ADS_1


“Tidak, Pa, a-aku tidak berkelahi. Aku hanya—” Aryo menghentikan ucapannya, ia sejenak melirik ke arah Grey. Seolah memberikan suatu kode padanya.


“Hanya apa, ayo katakan?!” Cakra mengeraskan suaranya.


Lalu, tiba-tiba. “Ada apa ini?” tanya Wisnu, yang baru datang entah sudah dari mana.


Wisnu mendekat ke arah Aryo, ia cukup terperanjat saat mendapati wajah Aryo yang penuh memar berwarna biru tua keunguan.


“Aryo! Apa yang terjadi padamu?” tanya Wisnu begitu heran.


“Tidak apa-apa Nu, hanya terkena serangan saja,” jawabnya tersenyum simpul.


“Serangan?" Wisnu menautkan kedua alisnya. "Siapa yang menyerangmu?” tanyanya, semakin penasaran.


“Katakan Aryo! Siapa yang berani menyerangmu hah?” Cakra tak bisa tinggal diam. Karena, sejak dulu, setiap ada orang yang berani melukai anak atau anggota keluarganya, Cakra tak akan segan untuk memberikan balasan kepada orang tersebut. Bahkan jika orang tersebut kabur, ia akan mengerahkan para bodyguardnya untuk menangkap sang pelaku.


Aryo masih terdiam tak menjawab. Sesekali ia kembali melayangkan tatapannya ke arah Grey. Membuat Grey semakin tidak enak hati.


“Kenapa dia terus melirikku seperti itu?” batin Grey, ia sejenak berpikir dan teringat akan murka omnya dua hari yang lalu. “Apa jangan-jangan omku yang menyerang Aryo dan memukulnya sampai dia babak belur seperti itu?” batin Grey.


“Bukankah Aryo dan om sejak kemarin sore, mereka tidak ada di hotel? Tapi, bagaimana bisa?” batinnya lagi terus menduga-duga.


“Aryo, Papa bertanya padamu, siapa yang menyerang kamu? Atau kau jadi seperti ini karena kau yang memulainya terlebih dahulu dan mencari gara-gara dengan pelaku?” tanya Wisnu, sambil berpikir menduga-duga.


“Lelaki tua? Bagaimana bisa lelaki tua menyerangmu sampai kamu babak belur seperti itu?” tanya Cakra merasa tidak percaya.


“Benar, kok Pa, yang nyerang aku bapak-bapak tua, tapi orangnya gak tua-tua banget sih,” sambungnya.


“Terus?” seloroh Viona, si gadis kecil yang kepo.


Lagi dan lagi, Aryo melirik sinis ke arah Grey. “Dia orang mabuk. Pria tua itu marah-marah padaku, dia bilang kalau aku sudah menghamili keponakannya. Lalu dia memukulku tanpa ampun, sampai-sampai wajahku jadi babak belur begini,” ujarnya berbohong. Dan lagi-lagi, ekor matanya melirik ke arah Grey, sambil sedikit menyeringai.


“Apa?! Jadi, yang memukul dia itu benar omku,” batin Grey, merasa begitu panik.


“Dasar! Orang mabuk memang suka menimbulkan masalah! Papa akan mengerahkan para bodyguard untuk mencari orang itu!” tegas Cakra yang tak terima.


“Jangan Pa! Jangan! Lagi pula, badanku kan baik-baik saja, hanya wajahku yang bermasalah. Tidak perlu Papa cari orangnya,” ujar Aryo. Yang sebenarnya ia ketakutan, jika sampai Rama tertangkap oleh papanya, pasti masalah ia bersama Grey juga akan ikut terbongkar.


```


Epilog


Siang kemarin, setelah menghadiri pesta pernikahan Wisnu dan Grey, sore harinya Aryo bersama teman-temannya pergi ke sebuah club yang tak jauh dari hotel tempat diadakannya pesta pernikahan Grey digelar.


Sebenarnya, sejak kejadian sore itu, saat ia dengan sengaja merenggut kesucian Grey, Aryo benar-benar merasa frustrasi, karena lelaki yang dinikahi oleh Grey adalah kakak tirinya sendiri.

__ADS_1


Ia juga sedikit menyesal, karena selama berpacaran dengan Grey, ia tak pernah mengungkapkan identitas dirinya yang sebenarnya, karena alasan ingin mencari pacar yang benar-benar tulus dan sayang padanya.


Hingga sudah begitu lama menjalin hubungan asmara bersama Grey, Aryo semakin yakin kalau Grey memang tipikal wanita yang gak matre, dan penyayang. Hingga saat Aryo mengetahui kebenaran, bahwa Grey akan menikah dengan saudara seayahnya. Ia benar-benar frustrasi bahkan terasa hampir gila.


Maka dari itu, saat ia pulang dari acara pernikahan Grey dan Wisnu, ia memutuskan untuk pergi ke club, berniat untuk minum-minum agar pikirannya yang selalu terpaut dengan Grey, sedikit akan teralihkan.


Namun, sayang, ia tak berani karena ia takut kalau sampai dirinya mabuk berat, ia takut akan meracau dan mengatakan kebenaran perihal apa yang dialaminya bersama Grey di hotel dua hari lalu.


Akan tetapi, nasib sial tiba-tiba menimpanya. Setelah Aryo memutuskan untuk kembali ke hotel, demi mengikuti acara pesta bujang yang diadakan oleh Wisnu. Sesaat setelah ia keluar dari club tersebut, ia sedang berjalan menghampiri mobilnya di lahan parkir.


Tiba-tiba, dari arah belakang ada orang yang menarik kerah baju belakangnya. Lalu, bugh! Bugh! Bugh!


Tiga pukulan hebat mendarat di wajah Aryo. Membuat tubuh Aryo langsung terjembab ke sisi mobil, lalu tersungkur di depan mobilnya.


“Dasar anak brengsek! Beraninya kau merenggut kesucian keponakanku hah?!” Sorot dari mata lelaki yang dikenalnya itu, tampak memerah seperti bola api panas yang membara.


“Om Rama,” ucap Aryo sangat terkejut, ia hanya mampu melihat wajah lelaki yang berusia 40 tahun itu dengan sebelah matanya, karena satu matanya lagi sudah bonyok dan sakit akibat terkena pukulan dahsyat dari tangan Rama.


Rama menarik kerah baju Aryo, menyeretnya sedikit naik ke atas, dan Plak!  Rama langsung menamparnya tanpa segan.


“Jangan pernah kau sebut namaku lagi! Aku tidak sudi mendengar suaramu menyebut namaku!” seru Rama begitu emosi.


“Dan ingat! Jangan sekali-kali kau mengusik hidup Grey lagi! Kalau sampai kau berani mengusik hidupnya atau bahkan menghancurkan hubungannya dengan Wisnu, saya tidak akan segan membunuhmu!” tegasnya penuh emosi. Tangannya semakin erat, meremas kerah baju Aryo, lalu dengan kasar ia mendorongnya, menghempaskan tubuh Aryo, membuat Aryo tersungkur di atas aspal, di sisi mobilnya.


“Camkan itu!” seru Rama sambil menunjuk tegas, wajah Aryo.


Ibu jari milik Aryo mengusap darah yang mengalir dari sudut bibirnya, ia berdecak kesal saat melihat darah segar itu ada di tangannya.


"Aish! Sialaan! Dasar lelaki tua mata duitan!" umpat Aryo begitu emosi, lalu ia pun berusaha bangun dengan berpegangan ke sisi mobilnya.


Masih dengan dadanya yang naik kembang kempis karena menahan emosi, Aryo menilik tajam kepergian Rama yang semakin menjauh dari pandangannya.


"Kau yang memulai permasalahan ini, om tua. Dan aku, akan memastikan rencanamu untuk memperalat Grey di keluarga Aronsky, semua akan gagal!" gumamnya.


Karena sedikitnya, Aryo sangat tahu, kalau tujuan Rama menikahkan Grey dengan Wisnu adalah selain untuk melunai hutang-hutangnya, Grey pasti akan diperalat menjadi ATM berjalan bagi mereka. Dan Aryo tidak akan membiarkan wanita yang dicintainya hidup seperti itu.


.


.


.


Bersambung....


Waduh, Bang Aryo modal nekat.

__ADS_1


__ADS_2