Noda Pengantin

Noda Pengantin
Ambil Hatinya


__ADS_3

"Kenapa diam saja?! Cepat jawab! Bagaimana hubunganmu dengan Wisnu? Kami perlu mengetahuinya, Grey!" imbuh Sarah sedikit memaksa.


Grey menarik nafas panjang.


Baiklah


"Begini, Tante ... Om." Grey memandang keduanya secara bergantian.


"Sebenarnya, a-aku dan Mas Wisnu ...."


"Kamu dan Wisnu apa, Grey?" tanya Sarah semakin tidak sabar.


Grey mengembuskan nafasnya berat. Lalu menggeleng pelan. “Aku dan mas Wisnu tidak baik-baik saja, Tan,” jawabnya. Sarah dan Rama kembali membeliakkan kedua mata mereka, begitu mendengar jawaban dari Grey.


“Kenapa bisa sampai begitu? Apa dia tahu soal kamu dan Aryo?” tanya Sarah.


Yura kembali menggeleng. “Tidak, Tante, mas Wisnu tidak tahu soal itu, hanya saja ...." Perkataan Grey kembali terhenti.


"Kau ini berbicara sedikit-sedikit! Cepat katakan semuanya!" seru Sarah.


"Hanya saja, mas Wisnu memang tidak menyukaiku," lanjutnya."Aku tahu, pernikahan kami memang karena sebuah paksaan, tapi ... mas Wisnu benar-benar tidak menginginkan kehadiranku di hidupnya, Tan."


Karena sebenarnya, selain Wisnu, Grey pun terpaksa dengan pernikahan ini.

__ADS_1


"Jadi, kalau seperti itu ... tandanya, kalian belum pernah berhubungan?" tanya Sarah semakin mengintrogasi Grey.


Grey mengangguk, mengiyakan.


“Gawat! Kalau kau tak berhubungan dengannya dan kau malah hamil anaknya Aryo kita semua bisa celaka, Grey!” Sarah terlihat tengah berpikir keras. Ia mecoba mencari cara agar semua hal ini bisa teratasi.


Grey pun ikut tercenung mendengar perkataan sang Tante. Tiba-tiba rasa takut merasuki pikirannya, membuat hatinya merasa tidak tenang.


"Benar apa yang dikatakan Tanteku, bagaimana kalau ternyata aku hamil anaknya Aryo?" batinnya.


“Tenanglah Grey, Om tidak akan tinggal diam dengan semua ini. Kami akan mencari cara untuk mengatasi masalah ini,” ujar Rama.


Seolah mendapat ide bagus, Sarah langsung terbangun dari duduknya, lalu tersenyum melirik ke arah Grey.


“Grey, Tante mendapat ide bagus untukmu,” ucapnya penuh semangat. “Hal paling mudah agar kamu tidak mengandung anaknya Aryo, mulai sekarang, kamu harus sering memakan buah nanas, terutama nanas muda, kamu harus memakannya sampai jadwal haidmu datang.”


Rama membenarkan. “Iya, dia alergi nanas, kalau alerginya sampai kambuh, kita sendiri yang repot!” timpal Rama.


“Terus gimana dong? Masa iya, kita harus menggugurkannya kalau tahu anak yang dikandungnya itu anaknya si Aryo yang brengsek itu!” cetus Sarah yang semberono dalam berbicara.


Rama langsung meringsutkan wajahnya. “Jaga ucapanmu! Jangan sampai itu terjadi!” seru Rama yang entah kenapa, kalau membahas soal anak, ia begitu sensitif.


Sarah langsung kembali duduk setelah mendengar seruan keras dari suaminya. Dengan bibirnya yang mengerucut sebal.

__ADS_1


"Ya terus gimana?! Apa solusinya!" tanya Sarah tidak santai.


Rama sejenak terdiam, tenggelam dalam pikirannya. Sekian detik kemudian, ia mengarahkan padangannya kepada Grey.


“Cara satu-satunya, kita hanya perlu menunggu jadwal menstruasimu Grey, kalau kau haid bulan ini, maka semuanya aman. Akan tetapi, kalau kau bulan ini tidak haid. Maka, kita semua terancam masalah,” ujar Rama.


Grey mengangguk mengerti. Ia kembali berpikir, kalau sampai semua yang tidak diinginikannya terjadi, nanti ia bisa apa? Apalagi kalau Wisnu tak mencintainya.


Tamatlah riwayatmu, Grey.


“Dan yang perlu kamu lakukan sekarang adalah, kamu harus bisa mengambil hati Wisnu. Kamu harus bisa membuat dia jatuh cinta padamu,” lanjut Rama. “Karena, hanya dengan cara itu kamu bisa bertahan di keluarga Aronsky,” tegas Rama penuh penekanan.


"Kau paham, Grey?" tanya Rama.


Grey yang tengah tenggelam dalam lamunannya, ia tersadar. "I-iya, Om, insyaAllah aku paham," jawabnya sedikit ragu.


"Baguslah kalau begitu, Om harap, kamu tidak akan mengecewakan kami. Dan Om harap, secepatnya kamu bisa mengambil hati suamimu itu."


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Lanjut lagi gak nih? Ramaikan kolom komentarnya dulu dong...


__ADS_2