Noda Pengantin

Noda Pengantin
Sentuhan Hangat


__ADS_3

Suara lantunan ayat suci Al-Qur'an terdengar dari kamar. Begitu merdu dan syahdu, meski beberapa kali terdengar jeda dan cekatan di tengah-tengah lantunannya. Anggreya tengah fokus mengaji ayat-ayat indah dari Allah. Meski sebenarnya ia masih dalam proses belajar, tapi pengucapan tajwidnya hampir sempurna.


Setelah selesai mengaji, Grey pun turun ke lantai bawah untuk mengambil ai minum, karena lagi dan lagi persediaan air di kamarnya habis tidak terkontrol.


Grey menengok ke arah jam dinding yang ada di dapur. “Tumben banget udah jam segini, Mas Wisnu belum pulang," gumamnya saat melihat jam waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 malam.


Masih memakai mukenanya, Grey duduk di sofa di ruang TV. Ia sengaja berdiam diri di sana, agar saat Wisnu pulang nanti, ketukan pintunya bisa terdengar.


Berulang kali Anggreya menguap, menahan rasa kantuk yang sudah menghampirinya sejak beberapa menit yang. Namun, sebisa mungkin Grey menahannya, demi menunggu kepulangan suaminya.


Hingga jam pun semakin berlalu, Grey sudah tidak tahan lagi. Ia pun memutuskan untuk pergi ke kamarnya kembali. Namun, baru saja ia mematikan TV, tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya.


“Dia pulang jam segini?” gumam Grey.


Buru-buru ia pergi membukakan pintu, dan benar saja, saat Grey membuka pintu sudah ada Wisnu yang berdiri dengan pakaiannya yang terlihat sedikit acak-acakan tidak seperti biasanya.


“Mas Wisnu,” ucap Grey, sedikit terkejut.


Kedua mata Wisnu tampak teler. "Awa!" seru Wisnu yang memang setengah sadar itu, ia tak membalas sapaan Grey, ia langsung masuk dan melewati Grey  begitu saja.


"Astagfirullah, Mas Wisnu mabuk ya?" pekik Grey saat bau anggur menguar kuat begitu suami melewatinya.


Wisnu mengabaikannya, ia terus saja berjalan lalu menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Grey menggelengkan kepalanya merasa heran. Kenapa bisa suaminya sampai mabuk-mabukan seperti itu.


Setelah mengunci pintu rumah, dan mematikan lampu ruang TV, Grey segera menyusul Wisnu ke kamar. Lagi-lagi Grey hanya bisa menggelengkan kepalannya saat melihat Wisnu yang sudah berbaring di atas tempat tidur masih mengenakan pakaian formal, serta sepatunya yang belum ia lepas.


Pelan Grey pun mendudukan tubuhnya di tepi ranjang, ia melepaskan terlebih dahulu sepatu dan kaus kaki yang masih melekat di kedua kaki suaminya. Lalu, ia membantu Wisnu untuk bangun, lalu melepaskan jas berwarna navy yang masih melekat di tubuh suaminya itu.


Grey sedikit meringis, saat ia mencium aroma anggur yang menguar hebat di kedua lubang hidungnya. Wanita itu sedikit merasa pusing begitu mencium aroma yang jarang sekali ia temui itu.


"Mas, Mas Wisnu lebih baik mandi dulu, badan Mas Wisnu bau," ucap Grey.


“Aurel, kenapa kau tega padaku,” racau Wisnu begitu pelan, dengan suaranya yang tidak terdengar jelas, lelaki itu masih memejamkan matanya, dengan mimik wajah yang terlihat gelisah.


"A-uhre...l," racaunya lagi, membuat kening Grey mengerut saat ia tidak sengaja mengerti dengan racauan suaminya.

__ADS_1


"Aurel? Siapa Aurel?" gumam Grey dalam hati.


"Mas, Mas Wisnu, sadarlah," ucap Grey mencoba menyadarkan suaminya.


Grey berdiri dari duduknya. Namun, saat ia hendak melangkah pergi, tiba-tiba ….


Wisnu menari tangan Grey, lalu . “Hoek.” Wisnu terbangun dan muntah tepat di samping Grey, membuat sebelah kaki Grey terkena muntahan suaminya.


“Ya ampun, Mas Wisnu!” pekik Grey merasa jijik saat cairan berwarna putih ke kuning-kuningan itu mengenai bawah gamisnya dan menembus hingga ke betisnnya.


“Hoek.” Wisnu kembali memuntahkan cairan yang terasa mengaduk di perutnya. Lelaki itu pun terbangun dan duduk membungkuk, lalu mengelap mulut dengan punggung tangannya.


Grey hanya bisa mendesah pasrah. Sudah malam seperti ini, tidak mungkin ia meminta bantuan bi Iyam untuk membersihkan kotoran tersebut, dan dengan terpaksa Grey pun akhirnya memilih untuk pergi terlebih dahulu ke kamar mandi untuk membasuh kaki sekaligus mengganti pakaiannya yang terkena muntahan suaminya. Setelah itu ia pergi ke dapur untuk membawa peralatan kebersihan.


"Ya Allah, hari ini kok rasanya orang-orang disekelilingku ngeselin terus ya. Pagi-pagi diajak ribut sama Aryo, pulang kerja kejebak macet, mana dimarahin lagi sama sukang ojeknya, terus sekarang, suami pulang-ulang malah mabuk dan muntah," keluhnya pelan, sambil berjalan membawa alat-alat kebersihan ke kamarnya.


Namun, sesampainya ia di kamar, Grey tak mendapati Wisnu di tempat tidurnya, akan tetapi terdengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi sana. Sepertinya, Wisnu yang ada di kamar mandi, mungkin dia sedang membersihkan tubuhnya juga.


Setelah selesai membersihkan cairan kotor di lantai, Grey kembali ke dapur untuk menyimpan alat-alat yang dibawanya itu. Lalu saat ia kembali ke kamarnya, ternyata Wisnu tengah mengganti pakaiannya.


“Astagfirullah, Mas Wisnu kok bisa-bisanya sih telanjang kayak begitu di kamar,” gumam Grey begitu deg-degan tidak karuan, saat sepintas bayangan Wisnu yang hanya mengenakan bokser pendeknya terbayang di pikirannya.


Grey kembali mengintip, dan ternyata lelaki itu kini tengah duduk di tepi ranjang, sudah memakai kaus oblong berwarna putih, serta boxer hitam bercorak loreng abu yang dikenakannya.


Grey pun perlahan masuk, lalu melimpir ke sofa yang biasa ia gunakan untuk tempat tidurnya. Grey segera membaringkan tubuhnya. Ia mencoba untuk tertidur, akan tetapi aroma kuat dari cairan yang Wisnu muntahkan tadi, masih tercium di kedua lubang hidungnya.


“Apa separah ini ya baunya. Perasaan tadi aku udah cuci kakiku pakek sabun, kok masih kecium baunya sih,” gumam Grey.


“Apa aku mandi aja gitu ya?” batinnya.


Setelah beberapa menit mencoba tak menghiraukan bau anggur tersebut, akhirnya Grey pun menyerah. Ia  dengan terpaksa harus pergi ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya, demi menghilangkan bau anggur yang masih menguar kuat di kakinya.


Wisnu yang setengah sadar itu, ia terbangun saat tahu kalau Grey tengah mandi. Ia menautkan kedua alisnya, seolah ada sesuatu yang memberatkan pikirannya, lalu ia pun melangkah pergi keluar meninggalkan kamar.


“Hm, segar juga ya mandi jam segini,” ucap Grey begitu ia selesai mandi.


Setelah mengeringkan badannya menggunakan handuk, Grey hendak mengambil kembali gamisnya yang baru beberapa menit di pakainya. Namun, begitu ia hendak memakainya, ****** ***** dan BH-nya tidak sengaja terjatuh ke lantai kamar mandi, membuat Grey mencebik kesal karena pakaian dalamnya itu jadi basah.

__ADS_1


"Yah!" desahnya kesal.


Ia memandang gamis yang tersimpan di sisi westafel. "Tidak mungkin 'kan aku pakai gamis tanpa memakai dalaman," pikirnya dalam hati.


"Mana, di luar ada Mas Wisnu lagi," gerutunya. Karena hingga saat ini, Grey belum pernah berpenampilan terbuka di depan Wisnu, bahkan untuk melepas jilbabnya di depan Wisnu pun ia tidak pernah.


Grey pun terpaksa mengambil kimono putih yang menggantung di dekat westafel. Lalu membalutkannya ke tubuhnya yang polos dan basah itu. Setelah itu, ia pun keluar perlahan. Memastikan keadaan di dalam kamar, kedua mata Grey tampak celingukkan, ia terheran-heran karena lagi dan lagi, suaminya menghilang dari kamarnya.


“Kesempatan emas nih, Mas Wisnu lagi menghilang?” gumam Grey, lalu melangkah pergi buru-buru menuju lemari pakaian.


Saat tengah fokus memilih pakaian, tiba-tiba Grey dikejutkan saat ada satu tangan yang melewat di samping bahunya. Dan saat Grey berbalik, ia semakin terkejut, karena kini kedua matanya langsung disuguhi oleh dada bidang yang sedikit berbulu milik Wisnu, yang tepat ada di hadapannya.


Wisnu memengungkung Grey di sisi lemari. Kedua matanya memandang Grey dengan begitu dalam, dengan sorot kedua netra mereka mereka yang saling bertautan.


Dug, deg, dug, deg. Degup jantung Grey semakin berdebar tidak karuan. Dirinya dibuat gugup dengan jarak tubuh mereka yang begitu dekat.


“Ma-Mas Wisnu, k-kamu sedang apa?” tanya Grey begitu gugup, mendongak menatap wajah Wisnu dengan gugup gemetaran.


Jujur saja, Grey benar-benar terpesona dengan ketampanan suaminya yang di atas rata-rata. Kulit wajah yang bersih, bulu mata yang lebat, hidung bangir pun bibirnya yang sedikit bergelombang berwarna kemerahan.


Wisnu masih terdiam, dengan sorot matanya yang semakin lama semakin menatap dalam manik milik Grey.


“Kau cantik hari ini,” ucap Wisnu pelan, seraya mendekatkan wajahnya dengan wajah Grey, hingga kini jarak wajah di antara mereka hanya menyisakan jarak 5 cm saja.


Nafas diantara keduanya pun terasa saling bersahutan. Perlahan Wisnu menundukkan wajahnya semakin mendekat, mendekat dan terus mendekat secara perlahan, membuat Grey harus menahan nafasnya dengan kuat.  Dan degup jantung Grey pun dibuat semakin berdebar tak karuan.


Grey tidak tahan, ia tidak bisa menahan nafas selama itu. “Mas, ka-kamu emh ….” Tiba-tiba, bibir Wisnu terlebih dahulu membungkam mulut Grey , membuat Grey langsung membulatkan kedua matanya, begitu ia merasakan suatu sentuhan lembut nan hangat yang menempel di di bibirnya. Sentuhan yang semakin membuat jantungnya berdetak dengan kencang tak beraturan.


.


.


.


Bersambung...


Waduh waduh waduhhhh

__ADS_1


__ADS_2