
Sebelum Grey menyelesaikan ucapannya, terlebih dahulu Wisnu membungkam mulut istrinya itu dengan bibirnya. Membuat Grey langsung diam membisu tak berkutik sedikit pun.
Wisnu semakin medekap erat tubuh Grey ke dalam pelukannya. Grey masih tetap menahan nafas, ia tidak ingin membalas ciuman Wisnu, sebisa mungkin ia menahan dirinya agar ia tidak terlena dengan sentuhan suaminya. Dan yang pasti Grey ingin menolak perkataan suaminya tadi, yang bilang kalau ia menyukai sentuhannya.
“Bernafas, bodoh!” seru Wisnu di sela-sela ciuman mereka.
Wisnu kemudian melepaskan ciumannya dengan pelan. Dan perlahan mereka berdua masing-masing membuka matanya.
“Mas, a-aku tadi hanya ber—”
“Jangan salahkan aku Grey. Kau yang memancingku terlebih dahulu, dan sekarang kau harus menerima akibatnya, kau harus menerima hukuman dariku!” seru Wisnu pelan namun penuh penekanan.
Wisnu langsung menggiring tubuh Grey dan menjatuhkannya di atas kasur empuk itu, membuat kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di sana langsung hancur tidak beraturan. Grey sebenarnya merasa takut saat melihat tatapan Wisnu yang penuh damba padanya.
“Mas, tapi aku ‘kan—”
Lagi-lagi, ucapan Grey terhenti karena ulah Wisnu. Sepertinya lelaki itu tidak semata-mata menghukum Grey karena sudah memancing birahinya. Akan tetapi, memang Wisnu sendiri yang merasa candu dengan tubuh Grey.
Wisnu mulai melepaskan kerudung yang membalut kepala Grey, lalu melemparkannya ke sembarang arah. Kini ia mulai mengendus leher Grey, menghisapnya dan memberikan banyak tanda kiss mark di sana. Kini tangannya sudah bergeriliya manja, menelisik masuk ke dalam kaus yang digunakan Grey. Ia menjamah apa yang bisa ia mainkan oleh tangannya. Bermain di puncak gunung, lalu turun ke bawah, menemui lembah yang ternyata sudah basah.
Cahaya bulan di luar sana, menelisik masuk ke dalam ruangan dengan tirai jendela yang tersingkap oleh angin. Udara malam yang begitu dingin menusuk di pori-pori tubuh, seolah tak berpengaruh bagi dua insan yang kini tengah asyik bermain di atas ranjang sana.
__ADS_1
Dinding kamar pun hanya bisa menjadi saksi bisu atas pergulatan sepasang suami istri yang tengah menikmati puncak syurga dunia. Keduanya saling membalas sentuhan mereka masing-masing, saling memanjakan, meski hati menolak untuk mengakui kenyamanannya.
Dan di saat rembulan tenggelam ditelan oleh gelapnya awan, ada sebuah erangan dan decahan kencang yang terdengar beriringan. Kini, keduanya sudah saling melepaskan kenikmatannya, sampai pada puncak yang membuat mereka candu untuk kembali melakukannya. Dan pada akhirnya, kamar itu pun kembali terasa sunyi, karena dua insan itu, kini telah tekapar kelelahan setelah bergulat kurang lebih 80 menit lamanya.
***
Jam sudah menunjukan pukul enam pagi. Karena kelelahan atas aktvitas semalam, Grey baru terbangun dari tidurnya. Ia terduduk lemas dan melihat Wisnu yang masih terlelap di sampingnya.
Ia menyibakan rambutnya yang acak-acakan itu kebelakang. Ia mengusap wajahnya dengan kasar, lagi-lagi ia tidak bisa mengendalikan benteng pertahannya. Dan kembali harus merasakan sesuatu yang kemungkinan suatu hari nanti akan membuat dirinya merindukan sentuhan itu lagi.
“Kenapa harus terjadi lagi sih? Bagaimana bisa aku mengakuinya, kalau sebenarnya aku menyukai semua sentuhannya?” batinnya merasa malu. Lalu buru-buru Grey pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya untuk mandi junub.
Kini giliran Wisnu yang bangun, karena mendengar suara kucuran air dari dalam kamar mandi sana. Ia menggeliatkan tubuhnya, merentangkan otot-otot kekarnya yang sudah ia pakai semalaman untuk memuaskan Grey.
“Sial! Bisa-bisanya aku gak bisa nahan diri dari dia lagi, argh!” Wisnu mengacak rambutnya dengan kesal. Lalu ia pun memunguti celananya yang berserakan di sisi ranjang dan memakainya.
Tiba-tiba, bel kamar berbunyi. “Huh, memalukan. Mana dekorasi honeymoonnya acak-acakan lagi,” gumamnya. Wisnu berpikir kalau orang yang memencet bel kamarnya adalah petugas kebersihkan hotel ini.
Dengan dada yang masih bertelanjang, hanya memakai bokser, Wisnu melangkah malas untuk membukakan pintu.
Akan tetapi, sesuatu yang mengejutkan terjadi. Saat ia berhasil membuka pintu, ternyata orang yang mengetuk pintu tadi bukanlah petugas kebersihan, melainkan orang tuanya sendiri yaitu papa Cakra dan mama Shindy.
__ADS_1
“Papa, Mama!” pekiknya terkejut.
Shindy dan Cakra tak kalah terkejutnya saat melihat penampilan anak sulungnya yang masih acak-acakan, bahkan mereka pun terkejut saat melihat Wisnu yang hanya menggunakan bokser pendek di atas lutut.
Tetapi, ulasan senyuman penuh kepuasan terlukis di wajah pria setengah baya itu. Cakra seolah senang melihat Wisnu seperti itu. Tentunya Cakra mengerti sekali atas situasi apa yang sudah anaknya lewati.
“Wisnu, kamu … baru bangun?” tanya Shindy menatap heran.
“Hehe, i-iya, Ma,” jawab Wisnu malu.
“Cie… anak Papa ternyata udah gede ya. Tidak sia-sia Papa pilih kamar ini untuk kamu dan Grey. Kalau begitu Papa tunggu kamu di coffe shop ya, kalian siap-siap aja dulu … santai enggak usah buru-buru,” ucap Cakra pada Wisnu seolah ada maksud tersendiri di balik tatapan matanya.
Wisnu mengangguk malu seraya menggaruk pundaknya yang tidak gatal. Lalu saat Cakra dan Shindy pergi, buru-buru Wisnu menutup pintu kamarnya rapat-rapat.
“Memalukan! Bisa-bisanya aku tampil begini di depan papa sama mama,” sesalnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Aduh, Bang Wisnu malu-maluin banget ya hihi.