Noda Pengantin

Noda Pengantin
Siapa Wanita Itu?


__ADS_3

“Anggreya?!” pekik Wisnu.


“Mas Wisnu.” Grey memandangnya terkejut.


“Kamu lagi apa di—” ucapan Wisnu terhenti saat Aryo menoleh padanya.


“Loh, Aryo?” ucap Wisnu tidak kalah terkejut melihat keberadaan adik tirinya berada di sana.


“Wisnu?” pekik Aryo ikut terkejut saat tahu kalau saudaranya ada di restoran ini.


“Mas, kok kamu bisa ada di sini?” tanya Grey heran.


“Iya, kamu kemari sama siapa?” tanya Aryo sedikit canggung. Sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru restoran.


“Hah, a-aku ….”


Tiba-tiba Aurel muncul di belakang Wisnu.


“Hai, Aryo!” sapa Aurel tidak menyangka. Karena wanita itu sudah lama tidak bertemu dengan Aryo.


Aryo terheran-heran melihat keberadaan Aurel di sana, ia menautkan kedua alisnya.


“Aurel!” pekik Aryo membalas sapaan Aurel. “Kau kapan pulang ke Indonesia?” tanyanya tidak percaya.


Aurel melayangkan senyuman manisnya pada Aryo. “Udah ada seminggu di sini, Yo. Kamu apa kabar?” tanya Aurel.


“Oh, baik … baik,” jawab Aryo dengan senang hati.

__ADS_1


Aurel mengalihkan pandangannya ke arah Grey, yang sedari tadi diam membisu menatap heran ke arahnya.


“Oh ya, dia siapa? Pacarmu?” tanya Aurel tersenyum ke arah Grey lalu ke mengalihkan tatapannya ke Aryo.


“Hah? Oh, bukan … dia asisten aku, ini kebetulan lagi makan siang aja bareng sekretaris aku juga,” jawab Aryo agar Wisnu tidak mencurigainya.


“Oh begitu ya. Ya udah kapan-kapan kita kumpul bareng ya, sekarang aku mau pulang dulu,” ucap Aurel pada Aryo.


“Oh ya, Nu, kita pulang sekarang aja yuk,” ajaknya pada Wisnu.


Grey yang mendengarnya langsung membeliakan matanya merasa tidak percaya, bahwa suami yang ada di hadapannya bahkan tidak memperkenalkan dirinya sebagai istrinya.


Wisnu mengangguk seraya sekilas melirik sinis ke arah Grey. Sedangkan Grey menatapnya dengan tatapan sendu, seolah bertanya-tanya, kenapa suaminya itu bisa sedekat itu dengan wanita yang tidak di kenalnya itu, bahkan sampai mengajaknya pulang bersama.


“Ngapain sih aku harus ketemu dia segala,” gumam Wisnu dalam hati berjalan menuju mobilnya.


“Kenapa? Kau terkejut ya melihat dia pergi dengan wanita lain?” tanya Aryo menyeringai.


Grey tak menjawab, tatapannya kosong, seolah tengah memikirkan sesuatu, Namun, diamnnya Grey seolah menjadi jawaban bahwa ia sedang tidak baik-baik saja saat ini.


“Non Grey kenapa? Kok kayak galau gitu?” tanya Anton yang ikut penasaran saat melihat ekspresi Grey yang berubah drastis tidak seperti tadi.


Grey mengerjap, lalu menoleh ke arah Anton. “Emh, nggak apa-apa,” jawabnya tersenyum hambar.


Seandainya dan jika bisa, ingin rasanya Grey mengejar Wisnu, menariknya agar tidak pergi bersama wanita itu. Ia tahu, Wisnu memang masih belum bisa menerimanya, akan tetapi ia juga tidak terima saat tahu suaminya jalan dengan wanita lain, bahkan sampai mengantarkan ke rumahnya. Karena Grey juga tahu, tidak ada pertemanan yang netral antara pria dan wanita setelah menikah.


"Astagfirullah, Grey, enggak boleh suudzon sama suamimu. Barangkali wanita itu posisinya seperti aku dan Aryo, hanya sebatas rekan kerja atasan dan bawahan," batinnya menyangkal pikirannya agar tidak berpikiran yang tidak-tidak.

__ADS_1


***


Makan siang kali ini, semuanya ada dalam keheningan, suara yang ada hanya bersumber dari orang-orang yang ada di sekitar, pun hanya suara sendok dan garpu yang beradu di atas piring yang terdengar di telinga ke tiganya.


Aryo sesekali menatap Grey merasa kesal. Entah kenapa, tetapi jujur saja, melihat Grey yang galau karena Wisnu, ia jadi cemburu.


“Udah jelas dia gak mengharapkannya, masih aja di galauin,” batin Aryo. Tanpa sadar, ia pun sama halnya seperti itu pada Grey.


***


Malam harinya, setelah makan malam bersama keluarga, kini Grey dan Wisnu kembali ke kamar mereka. Sejak pulang kerja tadi, di dalam hati Grey terasa ada yang mengganjal, ingin rasanya ia bertanya siapa wanita tadi. Dan apa saja yang dilakukan oleh suaminya tersebut dengan wanita tadi dan apa hubungannya dengan Wisnu.


“Mas,” panggil Grey memberanikan diri.


“Hm,” balas Wisnu dengan malas, ia masih fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.


Meski ragu, tapi akhirnya Grey membaranikan dirinya. “Emh, Mas, a-aku mau tanya sesuatu boleh?” ungkapnya pelan, dengan hati-hati.


Wisnu langsung menoelh sinis padanya.


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Dua bab aja ya hari ini, authornya pusing euy keleyengan udah malam, takut ngaco nulisnya haha


__ADS_2