Noda Pengantin

Noda Pengantin
Tidak Bertanggung Jawab


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Grey tengah terdiam di kamar rawatnya. Wanita itu tampaknya sedikit mencemaskan suaminya. Karena sejak tadi pagi suaminya tidak kembali lagi.


“Kayaknya Mas Wisnu lagi ada kerjaan mendadak deh,” gumamnya dalam hati, lalu kembali membaringkan punggungnya di atas bantal.


Grey seharian ini sendirian, tidak ada yang menemani. Padahal tadi pagi suaminya baru saja bilang kalau dia tidak akan meninggalkan Grey. Namun, pada kenyataannya Wisnu menghilang begitu saja tanpa memberitahu Grey kemana dia pergi.


__


“Anton, apa pesanan yang saya bilang tadi pagi sudah sampai?” tanya Aryo kepada sekretarisnya.


“Sudah, Pak. Sudah saya simpan juga di mobil, ini kuncinya.” Anton memberikan kunci mobil itu kepada Aryo.


“Baguslah, kalau begitu, untuk jadwal meeting di caffe Foresta, kamu sendiri aja ya, saya harus menemui wanita saya dulu,” ucap Aryo.


“Nona Grey maskud Pak Aryo?” tanya Anton yang kepo.


Aryo tidak menjawab, lelaki itu hanya memberikan senyuman saja, seolah memberi kode mengiyakan.


“Semoga Nona Greynya cepat sembuh ya, Pak.”


“Kau ini, kata siapa aku akan menjenguk Grey.”


“Lah tadi kata, Pak Aryo mau ngejenguk wa—”


“Ah... sudah, sudah, saya tidak ada waktu. Saya pergi dulu ya.” Aryo pun bergegas pergi meninggalkan ruangan kerjanya.


___


Senyuman di wajah Aryo sejak tadi terlihat terus mengembang, tidak menyurut sedikit pun. Sambil menyetir membelah jalanan Jakarta yang saat ini tengah dilanda hujan gerimis. Lelaki itu beberapa kali tampak terkekeh kecil sendirian, memikirkan sesuatu.


Karena di sepanjang perjalanan dari kantor menuju rumah sakit, ada beberapa tempat yang dulunya menjadi kenangan mereka berdua.


Bahkan bayang-bayang saat dirinya ngedate pertama dengan Grey pun masih dia ingat.


Berjalan di bawah rintik hujan, lalu melimpir ke sebuah angkringan untuk makan sop iga serta sate kesukaan Grey. Bahkan Aryo masih ingat, saat pulang dari angkringan tersebut Grey yang terkena hujan di motor, sampai bersin-bersih bahkan pas turun dari motor tidak sengaja, wanita itu bersin sambil kentut.


Dan moment itu masih diingat olehnya hingga saat ini. Bahkan hingga detik ini, Aryo benar-benar sangat merindukan moment-moment indah bersama Grey. Moment di mana mereka berdua sedang saling jatuh cinta dan saling bahagia.


Namun, mengingat saat ini Grey sudah menjadi istri dari saudaranya, Aryo kembali menarik nafas, menyesali semua yang sudah terlewat begitu saja dari kehidupannya. Terutama menyesali karena sudah kehilangan Grey dari hidupnya.


Tidak terasa, mobil yang dikendarainya kini sudah sampai di basement rumah sakit. Aryo segera turun dari mobil, tidak lupa mengambil dua paper bag yang ada di jok belakang.  Lalu ia pun segera masuk ke dalam lift untuk menuju lantai, di mana Grey dirawat.


Aryo berjalan melewati lorong, lalu ia berhenti tepat di depan pintu rawat inap milik Grey. Namun, dengan adab kesopanan, tentunya sebelum masuk ia mengetuk pintu sambil mengucapkan salam terlebih dahulu.


“Assalamu’alaikum, Grey.”


Grey yang tengah tidur ayam, ia langsung duduk bangun lalu menyahuti salam tersebut. “Wa’alaikumussalam.”

__ADS_1


Pintu ruangan terbuka, terlihat ada Aryo yang berdiri di sana.


“Aryo,” gumam Grey  menautkan kedua alisnya dengan heran.


“Boleh aku masuk?” tanya Aryo, masih memegang gagang pintu. Grey mengangguk mengiyakan, lalu lelaki itu pun masuk ke dalam.


Aryo menyimpan dua paper bag di atas nakas. Lalu mengeluarkan satu kotak makan dari salah satu paper bag tersebut.


“Kamu pasti belum makan lagi ‘kan, Grey?”


Grey masih terdiam tidak menjawab. Wanita itu masih fokus melihat hal apa yang sedang dilakukan Aryo di sampingnya.


“Oh ya, Wisnu ke mana?” tanya Aryo, lalu duduk di atas kursi yang ada di dekat brankar.


“Enggak tahu, mungkin ada kerjaan mendadak.”


“Loh, emangnya dia enggak ngasih tahu kamu kalau dia mau pergi ke mana?” tanya Aryo, heran.


Grey menggeleng pelan. “Tadi mas Wisnu ngangkat telepon ke luar, tapi sampai sekarang enggak balik lagi.”


Aryo semakin menautkan kedua alisnya. “Brengsek! Istrinya lagi sakit main ditinggal aja,” batinnya sangat kesal.


Aryo menarik nafasnya dengan panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Ia pun mendongak menatap Grey sambil menebarkan senyuman teduhnya. “Ya sudah, kamu sekarang makan dulu ya. Ini aku bawain nasi mentai bukan kamu.”


Grey tidak langsung menjawab, wanita itu masih terdiam membisu, seolah tengah memikirkan sesuatu.


“Kamu enggak usah mikirin suamimu, dia pergi mungkin karena ada kerjaan yang harus diurus. Nanti aku akan coba telepon dia ya,” ucap Aryo. Grey pun mengangguk.


Dan dengan wajah juteknya, Grey langsung menarik kotak mentai tersebut. “Aku aja!”


“Ya udah, abisin! Aku mau menelepon Wisnu dulu di luar,” ucap Aryo, Grey hanya mengangguk sambil menyuap nasi mentai tersebut.


___


Aryo mendudukan tubuhnya di atas kursi tunggu, lelaki  itu tampaknya sangat emosi. Jari jempolnya terus mengusap-usap layar ponsel miliknya, mencari nomor kontak saudara tirinya itu. Lalu setelah berhasil menemukannya ia langsung menelepon nomor Wisnu.


“Sial! Kemana dia ini!” umpat Aryo saat Wisnu tidak kunjung mengangkat panggilannya.


Ia pun mencobanya lagi, tapi masih sama tidak diangkat. Bahkan sampai yang ketiga kalinya pun Wisnu masih tidak mengangkat panggilannya.


“Brengsek!” umpat Aryo begitu pelan tapi sangat kesal.


Dan saat ia hendak kembali ke ruangan Grey, tiba-tiba ponselnya berdering. Ternyata Wisnu meneleponnya.


“Hallo, Nu.”


“Ya, ada apa, Yo?”

__ADS_1


“Kamu di mana, kenapa ninggalin Grey sendirian di rumah sakit hah?” tanya Aryo tidak santai.


Hening, dalam beberapa detik tidak ada jawaban.


“Nu!”


“Ya, a-aku—”


“Wisnu, mommy mau ketemu kamu.” Dari dalam ponsel terdengar suara seorang wanita yang sangat familir di telinga Aryo.


Lalu, suara kerasak-kerusuk pun terdengar, menghalangi suara wanita tersebut yang sepertinya tengah berbicara dengan Wisnu.


Lalu setelah beberapa menit, suara Wisnu kembali terdengar.


“Yo ... Aryo,” panggil Wisnu di balik ponsel.


“Lo sama Aurel, Nu?” tanya Aryo.


“Hah? Gini, Yo, tadi pagi itu bo—”


Tut ... tut ... tut ....


“Brengsek! Si Wisnu ini benar-benar ya!” Aryo langsung mematikan ponselnya lalu menggenggamnya dengan erat karena begitu kesal kepada saudara tirinya itu, yang tega meninnggalkan Grey sendirian dan malah pergi bertemu dengan Aurel.


“Dasar! Istrinya lagi sakit malah ketemu sama dia!”


Bugh! Aryo meninju tembok dengan cukup keras menggunakan kepalan tangannya.


Lalu setelahnya, Aryo pun kembali masuk ke dalam ruangan tersebut.


“Gimana? Mas Wisnu emang pergi ke kantornya ya?” tanya Grey.


Aryo terpaksa harus berbohong.. Ia mengangguk sambil tersenyum hambar. “Hm, dia bilang nggak tahu kapan pulangnya. Kamu enggak usah khawatirin dia,” ucap Aryo.


Grey yang tengah mengunyah makanannya, ia hanya mengangguk pelan, mencoba mengertikan kesibukan suaminya.


.


.


.


Bersambung....


Hai semuanya, apa kabar? Semoga kalian sehat-sehat ya.


maaf ya baru bisa update lagi. Di sini juga Dela mau ngabarin ke kalian, kalau novel ini enggak bisa update tiap hari, karena akhir-akhir ini Dela sering kena insomnia dan tentunya sangat ngeganggu buat kesehatan Dela. Jadinya mulai bulan ini Dela mau istirahat dulu dari nulis, dan mungkin nulis pun cuma bisa seminggu 1-2x aja.

__ADS_1


Yang masih mau nungguin ceritanya makasih banyak ya, kalau misal kalian mau nunggu tamat dulu juga enggak apa-apa, hak baca tetap ada pada kalian kok.


Oh ya, mohon maaf lahir batin ya, selamat berhari raya idul fitri :)


__ADS_2