Noda Pengantin

Noda Pengantin
Mengadu


__ADS_3

"Kalian?!" Suara Viona yang setengah sadar itu mengejutkan Aryo dan Grey, gadis belia itu terlihat tengah berjalan dari arah bawah tangga sana. Viona berjalan setengah sempoyongan dengan matanya yang setengah melek.


"Kalian lagi ngapain malam-malam begini di dapur?" tanya Viona, menggaruk kepalanya sambil terus menguap.


“Oh... aku tahu, kalian pasti haus kan karna gak ada air di kamar. Kebiasaan Bi Iyam nih gak ngecek persediaan air,” gerutunya dengan suaranya yang terdengar parau, mengantuk berat. Ia terus berjalan, hingga sampai di depan dispenser.


Viona mengucek kedua matanya, lalu menatap Grey dan Aryo yang mematung dengan jarak yang cukup dekat dan memasang wajah tegang mereka.


Viona menyipitkan kedua matanya, agar ia bisa lebih jelas melihat siapa sosok yang ada di depannya.


“Loh, Kok Aryo yang di sini, aku kira kak Wisnu ....” Kemudian melirik ke arah Grey. “Tapi, benar itu kamu 'kan, Kak Grey?”


Anggreya mengangguk gugup, memeluk botol air dan apel yang ada di tangannya.


“Kalian sedang apa malam-malam di sini?” tanya Viona begitu heran, memasang wajah penuh curiga. Membuat perasaan Grey gundah tidak karuan.


“Seperti yang kau lihat saja,” jawab Aryo dengan santainya.


Lalu, Viona pun melihat ke arah botol minum dan sebuah apel yang ada di tangan Yura. “Oh... ngambil minum ya, ku kira tadi kak Wisnu sama kamu, eh tahunya kamu sama Kak Aryo,” ucapnya tersenyum sinis.


Grey kembali mengiyakan sambil mengangguk tersenyum kaku.


“Huh, Bi Iyam ini memang benar-benar ya! Kebiasaan gak ngecek air minum di kamar,” ujar Viona melangkah melewati mereka berdua untuk mengambil botol minum.


Grey sejenak menoleh ke arah Viona, lalu melirik Aryo sekilas, sebelum akhirnya, dia pergi meninggalkan Viona dan Aryo yang masih diam di dapur.


"Astaghfirullah, alhamdulillah, untung aja Viona enggak dengar percakapan aku sama Aryo, kalau sampai dia dengar, bisa-bisa dia bocorin semuanya sama Mas Wisnu," gumam Grey begitu ia memasuki kamarnya, dan memandang Wisnu yang masih lelap dalam tidurnya.


***


Mentari pagi sudah tampil di ufuk timur, menampilkan cahaya indahnya di pagi ini. Anggreya baru saja selesai berbenah diri. Bersiap untuk menjalani harinya yang seperti biasa, kerja, kerja dan kerja.


Sebelum meninggalkan kamar, Grey terlebih dahulu menyiapkan pakaian untuk Wisnu. Meski Wisnu selalu melarang Grey melakukannya, tapi menurutnya ini adalah salah satu bakti dirinya sebagai seorang istri kepada suami. Lagi pula, bukankah semua yang dijalani dalam pernikahan adalah sebuah ibadah. Jadi tentunya, Grey tidak ingin melewatkan kesempatannya untuk melakukan ibadah dalam pernikahannya ini, meski ibadah sesungguhnya antara suami dan istri di antara mereka belum terjadi.

__ADS_1


Ia menyimpan setelan jas berwarna maroon, serta kemeja putih dan dasi bercorak salur maroon-hitam, di atas kasur.


“Baiklah, sudah selesai, aku akan berangkat sekarang,” ucapnya, mengambil tas sling bag berwarna hitam yang biasa ia gunakan untuk kerja. Lalu melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 07.20 pagi. Grey segera keluar dari kamar, dengan cepat meniti anak tangga menuju lantai bawah.


“Pagi, Om,” ucap Grey ketika ia berpapasan dengan Cakra.


“Kamu ini, apa lupa saya siapa?” Tiba-tiba Cakra bertanya seperti itu, membuat Grey sejenak mengernyit bingung, lalu ia paham akan ucapannya yang salah, barusan.


“Eh iya maaf, selamat pagi, Pa,” ulangnya tersenyum malu.


“Nah, gitu dong. Kan sekarang saya sudah menjadi orang tua kamu,” ucap Cakra tersenyum lebar. Grey mengangguk sopan.


“Oh ya, Wisnu kemana?”


“Oh, Mas Wisnu masih mandi, Pa.”


“Terus, kamu ini udah mau berangkat?” Grey mengiyakan, seraya menganggukkan kepalanya begitu sopan.


Cakra berdecak kesal sambil berkacak pinggang. “Waduh, bagaimana dia ini. Ngebiarin istrinya berangkat sendirian,” ucap Cakra menggeleng heran.


Dan hal tersebut, membuat Grey harus berganti kendaraan, menggunakan taksi untuk ke kantornya.


“Tidak apa-apa, Pa, lagi pula, arah kantor aku dan mas Wisnu, ‘kan, berbeda. Ini juga, aku lagi buru-buru, Pa, jadi mau naik taksi saja,” ucapnya.


Cakra menghela pasrah. “Tidak usah, kamu berangkat pakai sopir saja. Biar Papa yang panggilkan,” perintah Cakra. Karena ia tidak mau, kalau menantunya harus naik kendaraan umum, padahal di keluarganya sendiri, ia mempunyai dua sopir pribadi yang selalu siap siaga mengantar kemana pun majikannya pergi.


“T-tapi, Pa.” Grey merasa tidak enak hati, ingin rasanya ia menolak perintah dari papa mertuanya itu, tapi jika menolak, ia akan semakin merasa tidak enak hati.


“Pak Ujang!"


"Pak Ujang!" teriak Cakra memanggil sopir pribadinya.


Pak Ujang pun datang dari pintu depan. "Ada apa, Tuan?" tanya Pak Ujang dengan sopan, sambil sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ini, antarkan menantu saya ke kantornya, kalau perlu nanti pulannya dijemput Pak Ujang lagi ya,” ujar Cakra kepada Pak Ujang.


“Siap, Tuan,” jawab Pak Ujang begitu bersemangat.


“Mari, silakan, Nona.” Grey pun teraksa harus menuruti perintah mertuanya. Mereka bertiga pun bergegas keluar menuju terasa.


Pak Ujang langsung membukakan pintu mobil belakang. Sedikit membungkukkan badannya, seraya mengayunkan sebelah tangannya, memperlakukan Grey layaknya seorang ratu.


Grey sejenak menoleh ke arah mertuanya, lalu tersenyum dan mengulurkan tangannya, hendak menyalaminya secara takzim.


“Hati-hati ya, semoga lancar kerjanya,” ucap Cakra tersenyum ramah.


Grey mengangguk lalu segera masuk ke dalam mobil. Dan Pak Ujang pun segera menancapkan pedal gas, melajukan mobilnya menjauhi halaman rumah utama keluraga Aronsky.


Sementara Wisnu, lelaki itu baru saja menuruni anak tangga, seraya membenarkan jas yang baru saja ia lekatkan pada tubuhnya. Lalu menghampiri Cakra dan Shindy yang ada di meja makan, tengah sarapan bersama.


“Pagi, Pa, Ma,” sapa Wisnu langsung mendudukan tubuhnya di salah satu kursi yang tersedia di sana. Tidak lama kemudian, disusul juga oleh Viona--adik bungsunya, yang  ikut memberi sapaan kepada mereka semua.


“Pagi juga,” jawab Cakra dan Shindy membalas sapaan Wisnu dan Viona.


“Istri kakak kemana? Kok gak kelihatan?” celetuk Viona, sambil celingukkan, yang tiba-tiba menanyakan keberadaan Grey.


“Udah berangkat kerja,” jawab Wisnu begitu simple.


Viona langsung mengambil roti yang ada di tengah meja, mengolesinya dengan selai strawberry keseukannya. Sambil mengingat kejadian semalam saaat dirinya bertemu dengan Aryo dan Grey di dapur.


"Oh ya, semalam air abis, kak Aryo sama kak Grey juga semalam berduaan di dapur, buat ngambil air," celetuknya tiba-tiba.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2