
Malam yang mengejutkan itu diakhiri oleh perdebatan yang tiada akhir antara Grey dan Wisnu. Grey merasa tidak enak hati, karen ai amasih ingat tragedi naas yang dilakukan Aryo padanya, ia tidak tahu anak siapa yang dikandungnya ini. Sementara Wisnu, ia tidak tenang karena ia merasa dirinya belum siap untuk menjadi ayah. Jangankan menjadi ayah, menjadi suami Grey dalam jangka waktu lama saja ia masih tidak memikirkannya.
Pikirannya semakin kalut, masalah seolah tiada henti menghampirinya. Belum selesai masalah hatinya kepada Aurel, rencananya pun harus gagal, lalu setelah itu, malam tadi Wisnu harus mendapati kabar kalau istri yang tak diharapkannya itu ternyata positif hamil.
Grey mengambil tas kerjanya. Lalu turun meniti anak tangga menuju ruang makan, akan tetapi ada suasana berbeda kali ini. Di sana ada Tante Dewi dan Aryo.
Semua mata tertuju padanya, apalagi Aryo, lelaki itu melebarkan senyumannya ke arah Grey seolah punya maksud lain.
“Tante Dewi,” sapa Grey tersenyum, lalu menyalaminya begitu sopan.
“Alhamdulillah, maasyaallah, tante senang sekali dengar kabar kamu semalam, kalau kamu positif hamil,” ucap Dewi sambil mengusap pelan bahu Grey.
“I-iya, Tan,” jawabnya mengangguk malu, kemudian duduk di samping Wisnu, di mana dirinya biasa duduk di sana.
“Oh ya, Tante juga baru tahu, ternyata kamu kerja di perusahaan yang sama dengan Aryo ya. Kata Aryo, kamu jadi asistennya.”
Grey melirik ke arah Wisnu dan Aryo secara bergantian. Wisnu seolah tidak peduli padanya, dia terlalu sibuk melahap sarapannya. Sementara Aryo, kedua mata elang lelaki itu kini tengah tertuju pada Grey.
“Iya, Tante. Saya kerja jadi asistennya Pak Aryo, tapi baru beberapa hari,” ucapnya.
“Syukurlah kalau kamu jadi asistennya Aryo,” seloroh Cakra.
“Aryo, kamu harus jaga Grey di kantor kamu ya, jangan sampai kakak iparmu ini terlalu kecapekan. Abisnya Grey di suruh berhenti kerja gak mau, katanya masih punya tanggung jawab di kantormu,” ucap Cakra kepada Aryo.
Aryo tersenyum, lalu menghentikan lahapan makannya. “Iya, Pa. Tenang aja, pasti aku jagain kok,” jawabnya menyeringai ke arah Grey.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan bersama. Kini yang sekolah berangkat ke sekolah, yang kerja juga berangkat kerja. Dan Grey, pagi ini ia harus pergi bersama Aryo.
“Aryo Sayang, kamu pakai mobilnya hati-hati ya, jangan terlalu kencang, apalagi bawa orang hamil,” ucap Dewi, memperingati, lalu ia memeprsilakan Grey untuk masuk ke dalam mobil.
“Oke Mama, siap.” Aryo pun mencium terlebih dahulu kening mamanya tersebut. Lalu setelah itu ia masuk ke dalam mobil yang sama dengan Grey.
Jika dilihat seperti itu, sebenarnya Aryo termasuk tipikal lelaki idaman wanita, perhatian, penyayang, penurut dan tentunya selalu menjadikan wanita yang ia cinta sebagai ratu dalam hidupnya. Hanya saja, sayangnya ia terlalu posesif dan termasuk orang yang ambisius terutama dalam hal cinta. Bahkan menjadikan cintanya sebagai obsesi, sama halnya dengan yang terjadi antara dirinya dengan Grey saat ini.
Setelah kurang lebih 15 menit, tenggelam di dalam pikirannya masing-masing. Selagi menunggu jalanan lancar kembali, Aryo akhirnya memecah keheningan di antara keduanya.
“Berapa usia kandungannya?” tanya Aryo. Yang dibalas lirikan tidak suka oleh Grey.
Aryo menyeringai melihat respon sinis dari wanita yang duduk di sebelahnya itu. Kini sebelah tangannya sibuk menyetir, dan sebelah tangannya lagi sibuk memegang dan mengusap-usap dagunya, sambil mengulum lidah.
“Yang dikandung itu, pasti anak kita ‘kan?” tanya Aryo asal ceplos. Membuat Grey langsung menoleh tajam sambil meringsutkan wajahnya.
Aryo terkekeh sejenak. “Benarkah? Kau yakin, kalau benih yang tertanam di rahimmu itu bukan milikku?” tanya Aryo seolah meremehkan.
“Tentu saja aku yakin. Yang sering, akan kalah dengan yang hanya sekali merusak,” balasnya. Simple namun begitu memiliki arti yang dalam, sekaligus cukup menusuk di hati Aryo.
"Sialan! Beraninya si Grey ini berbicara seperti itu padaku!" batinnya. Sedikit ada gejolak emosi dan cemburu yang bercampur aduk di hati Aryo saat wanita yang di sampingnya itu mengatakan kalau yang sering akan kalah dengan yang sekali merusak.
Perkataan itu benar-benar menyentil perasaan Aryo.
“Haha terserah, yang pasti yang jarang melakukannya, bibitnya lebih unggul dari pada yang sering melakukannya!” jawab Aryo membuat Grey merasa begitu jijik mendengarnya.
__ADS_1
“Dari pada kau berbicara tidak sopan seperti ini, lebih baik kau turununkan aku di sini, sekarang juga Aryo!”
Aryo tidak memedulikan keinginan Grey. “Jangan minta yang aneh-aneh Grey ... Aku tidak akan membiarkanmu serta calon anakku menderita. Tenang saja, aku akan selalu menjagamu kok,” balas Aryo, semakin membuat Grey merasa ilfil dan risih dibuatnya.
Grey tidak menanggapinya lagi, karena ia tahu, berdebat dengan Aryo memang tidak akan ada ujungnya, bahkan jika sampai berdebat tujuh hari tujuh malam pun lelaki itu pasti akan selalu bisa menjawabnya.
Dan sesampainya di kantor, semua mata memandang ke arah Grey. Para pegawai yang meliahat Grey turun dari mobil Aryo, makin menambah imagenya menjadi buruk.
Orang-orang itu, pasti sudah berburuk sangka pada Grey, dan gosip hangat yang akhir-akhir ini menyebar di kantor Aline Grup pasti akan semakin ramai.
“Lihatlah, sekarang makin terlihat ‘kan kalau dia sepertinya sudah menjadi simpanannya Pak Aryo,” ucap salah seorang wanita kepada temannya, saat mereka melintas di samping Grey.
"Astaghfirullah ya Allah ...." Grey menarik nafasnya dalam-dalam.
Grey yang mendengarnya ia sebenarnya cukup sedih akan gosip tentang dirinya dengan Aryo yang semakin membuncah dan menyebar ke mana-mana, akan tetapi ia tidak mau ambil pusing, karena hal itu hanya akan menambah beban pikirannya sendiri. Jadi biarlah orang-orang berkata apa saja tentangnya, karena yang tidak suka, akan tetap membenci meski ia membela diri.
Bersambung...
.
.
.
Jangan lupa buat kalian yang suka dengan cerita ini ramaikan kolom komentarnya di bawah ya. Terima kasih.
__ADS_1
Jangan lupa bantu like, dan vote juga. Dan buat kalian yang mau tahu info seputar novel yang aku buat kalian bisa cek di ig @dela.delia25