
Suasana coffe shop pagi ini cukup ramai. Wisnu, Grey, Cakra dan Shindy mereka tengah duduk melingkari meja makan berbentuk bulat. Sembari melahap sarapan mereka dan sesekali mereka saling mengobrol.
“Kayaknya, bentar lagi Papa bakalan punya cucu nih, iya gak, Ma?” tanya Cakra pada Shindy, dengan tatapannya yang sekilas melirik menggoda ke arah Wisnu.
“Hm, iya, Pak,” balas Shindy tersenyum simpul.
Sebenarnya Shindy masih merasa tidak rela, jika keturunan anak sulungnya itu harus lahir dari Grey. Akan tetapi, ia pun tidak bisa memaksa atau mengubah keadaan untuk menuruti keinginannya. Namun, untuk saat ini, ia masih bergulat dengan hatinya agar bisa menerima Grey sebagai menantu pertamanya sekaligus istri dari anak sulungnya.
“Papa apaan sih!” gerutu Wisnu merasa tidak nyaman.
Cakra tak menanggapi ucapan Wisnu, ia mengambil satu sendok tumis udang, lalu menyimpannya di atas piring milik Wisnu.
“Kamu harus perbannyak makan protein, apalagi udang. Ini bagus buat stamina kamu,” ucap Cakra, berkata sebagai lelaki pada anaknya.
“Gak perlu makan udang juga, stamina Mas Wisnu udah bagus kok, Pa,” timpal Grey dengan polosnya, yang langsung mendapat tatapan mengejutkan dari Wisnu.
“Grey, kamu!” Wisnu memelototkan matanya.
"Kenapa, Mas?" tanyanya, seolah tidak merasa bersalah, saking polosnya ia tidak tahu arah pembicaraan antara suami dengan mertuanya.
"Ck!" Wisnu berdecak kesal, sekaligus sedikit malu.
“Ahahahaha, benar juga ya. Anak Papa ini, 'kan rajin olahraga,” balas Cakra tertawa kencang mendengar penuturan dari menantunya tersebut.
Shindy yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya dengan heran, ia pun kembali melahap makanannya.
***
Setelah pulang dari pertemuan antar kolega kerja yang diadakan oleh salah satu temannya Cakra. Malam ini mereka baru sampai di rumah, begitu pun dengan Viona yang baru pulang dari study tournya.
“Kalian pergi gak ngasih tau aku ih,” gerutu Viona saat mereka baru pulang.
“Acaranya juga dadakan,” balas Wisnu yang melewatinya begtu saja.
Viona melirik sinis ke arah Grey. “Anggota baru di ajak, tapi anak sendiri gak diajak,” celetuknya.
Cakra menggelengkan kepalanya pelan, mendengarkan pnuturan kurang sopan dari anaknya itu.
“Kan kamu study tour, masa iya Papa harus nelepon kamu dan nyuruh kamu pulang biar bisa ikut sama kita. Udah, sana masuk kamar! Udah malam juga, waktunya istirahat!” seru Cakra kemudian berlalu menuju kamarnya.
Viona mencebikkan bibirnya, ngambek. "Ih! Papa mah gitu!"
***
Kini, hari yang ditunggu-tunggu oleh Aurel pun akhirnya tiba, ia dengan Wisnu tengah pergi bersama ke sebuah butik untuk mencari gaun. Suasana di butik tersebut cukup sepi, karena memang butik ini hanya didatangi oleh beberapa customer saja setiap harinya, dan biasanya menggunakan jadwal khusus. Contohnya seperti Aurel dan Wisnu sekarang ini, yang sudah jauh-jauh hari memebri kabar kepada perancang gaun kalau mereka akan datang ke butiknya.
__ADS_1
“Emangnya kamu nyari gaun buat apa sih?” tanya Wisnu penasaran.
“Ada deh ….” Aurel masih sibuk menilik salah satu gaun yang ada di depannya. “Nanti juga kamu tahu kok,” lanjutnya.
“Oh ya, Nona kalau Nona mau model terbaru, ada sih, hanya saja masih fitingan, belum selesai,” sela seorang pelayan.
Aurel menoleh, memebliakkan matanya sejenak. “Hm, boleh deh, tapi saya lihat dulu ya?” tanya Aurel.
“Boleh, mari ikut dengan saya,” ajak pelayan tersebut. Aurel pun izin meninggalkan Wisnu di ruangan ber-AC tersebut sendirian, dan Wisnu pun mengizinkannya.
Ia melihat-lihat ke sekeliling, menilik salah satu jas berwarna putih yang terpajang di salah satu patung yang ada di sana.
“Hm, andai saja posisinya berbeda, mungkin jika aku melihat jas ini, aku akan merasa sangat senang,” batinnya.
Tiba-tiba saat ia berpikir seperti itu, sepintas bayangan wajah Grey tergambar di benaknya, membuatnya mengkerutkan kening.
“Astaghfirullah, ngapain aku kepikiran dia sih,” gumamnya,menepis bayangn istri di pikirannya.
Tak lama kemudian, Aurel datang kembali. Namun tampilannya kini berbeda, dia mengenakan gaun berwarna merah cabai. Gaun bermodel duyung itu, menampilkan bagaimana indahnya lekuk tubuh Aurel. Dengan gaya sabrina yang menampilkan betapa mulusnya bahu dan atas dada Aurel, Wisnu dibuat takjub melihatnya.
Mulut Wisnu menganga sedikit, ia benar-benar terpana melihat kecantikan Aurel yang meningkat 100% dari sebelumnya.
“Nu, gimana menurutmu? Gaunnya bagus gak?” tanya Aurel mengembangkan senyuman manisnya.
“Benarkah?” tanya Aurel begitu senang. Wisnu menganggukkan kepalanya pelan. Namun, lagi-lagi bayangan wajah Grey tiba-tiba muncul di benaknya.
Wajah cantik Aurel tiba-tiba berganti jadi wajah Grey. Ia langsung mengerjap, lalu memalingkan wajahnya.
“Nu … Wisnu! Kok malah buang muka sih? Gaunnya gak cocok di aku ya?” tanya Aurel mencebikan bibirnya melihat ekspresi Wisnu.
Wisnu kembali menoleh ke arah Aurel yang kini. Ia mencoba memastikan bahwa penglihatannya tidak bermasalah, ia mengerjapkan matanya menatap wajah Aurel, dan saat ini memang terlihat yang ada di depannya adalah wajahnya Aurel.
“Bagus kok, cocok, kamu makin cantik pakai gaun itu,” jawab Wisnu mengulaskan senyuman tulusnya.
“Are you seriously?”
“Yup.” Anggukannya meyakinkan Aurel.
Aurel memutar badannya menghadap pelayan yang ada di belakangnya. “Mbak, jadinya yang ini aja deh, yang masih fitingan tadi gak dulu,” ucapnya dengan semangat.
“Baik, Nona. Kalau begitu mari kita kemas dulu,” ucap pelayan tersebut. Lalu mereka berdua pun berlalu pergi meninggalkan Wisnu.
Wisnu berdecak kesal. Ia mengusap wajahnya dengan ekspresi wajah penuh heran. “Kenapa sih, kok bisa-bisanya bayangan dia muncul di depanku!” rutuknya.
"Sepertinya aku kurang minum, jadi gagal fokus, sampe-sampe liat wajah Aure berubah jadi wajah dia," batinnnya.
__ADS_1
Ia pun terdiam dengan berbagai macam pemikiran yang kini tengah menghantuinya. Ia takut kalau dirinya terus-terusan seperti ini, apa yang diucapkan Grey waktu itu bisa jadi kenyataan.
“Aku tidak boleh memikirkannya. Aku tidak boleh membuka hati untuknya … iya! Jangan sampai semua itu terjadi. Jangan!” gumamnya penuh tekad.
***
Sementara itu, mulai hari ini Grey sudah meresmikan dirinya untuk resign dari kantor yanga da dalam naungan Aryo. Wanita itu sudah membulatkan tekadnya, kalau ia tidak akan bekerja atau berada dalam lingkup di mana ada Aryo di sana.
Namun, desas desus antara General Managar dan Grey pun kembali meramaikan dunia pergosipan di kantor. Apalagi wanita-wanita yang menyukai Aryo, mereka tidak terima saat tahu kalau Grey yang kemarin di angkat jadi asisten pribadi Aryo.
Semua orang semakin memandang rendah kepada Grey, saat wanita itu hendak pergi ke ruang milik sekretaris Anton untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.
"Loh, Non Grey mau mengundurkan diri?" Anton terkejut saat ia menerima surat tersebut.
"Iya, aku mau mengundurkan diri. Tolong sampaikan surat ini kepada Pak Aryo, ya," pinta Grey.
"T-tapi, Nona Grey, bagaimana dengan client kita di hari lalu. Bukankah semua itu Nona Grey yang mengerjakannya?" tanya Anton.
Grey tersenyum tipis. "Tenang saja, aku sudah serahin pekerjaan itu kebagian designer di sini. Lagi pula, semua rekapan pekerjaan punyaku sudah aku selesaikan semuanya. Ya, memang awalnya aku ingin menunggu proyek sekarang selesai dulu, tapi sepertinya aku sudah tidak bisa bertahan di sini lagi. Tolong ya, Tuan Anton, pokoknya surat ini harus sampai dan disetujui," ucap Grey kukuh.
"T-tapi, Non. Bagaimana kalau misalkan Tuan Aryo tidak mau melepaskan Nona Grey dari sini?"
"Tidak apa-apa, yang penting saya sudah mengundurkan diri. Dia terima keputusanku atau tidak itu terserahnya," jawabnya sesimple itu.
"Tapi, Nona Grey sebenarnya s-saya ingin me-mengatakan ...." Ucapan Anton menggantung, karena ada sedikit ragu di hatinya saat ia ingin mengungkapkan yang sebenarnya.
Grey masih menunggu ucapakan selanjutnya dari mulut Anton, tapi lelaki itu masih tampak diam membisu terliahat gugup.
"Kenapa? Ada apa Tuan Anton? Kenapa tidak dilanjutkan ucapannya?" tanya Grey.
"Se-sebenarnya, hari ini kantor akan mengadakan pesta peresmian Anda, karena Anda sudah resmi di angkat jadi asisten Tuan Aryo," ucap Anton, membuat Grey begitu terkejut mendengarnya.
"Apa?! Pesta?!" Grey tidak habis pikir, bisa-bisanya Aryo akan mengadakan acara pesta yang sebenarnya sangat tidak akan berguna.
"Ya, Pesta. Kau senang 'kan mendapat kejutan dariku?" suara Aryo yang tiba-tiba muncul di belakang Grey.
Grey langsung berbalik, menatap sinis ke arah lelaki yang tengah melebarkan senyuman manisnya itu.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1