
Menjelang siang, suasana di ballroom hotel terlihat semakin ramai. Keluarga, kerabat dan sebagian tamu undangan terlihat berseliweran di gedung mewah itu. Apalagi, setelah akad pernikahan dilaksanakan, mereka semua ikut berbahagia dengan kabar pernikahan putra sulung dari keluarga Aronsky.
Tapi, tidak semua orang berbahagia ada sebagian para gadis, yang merasa sakit hati mendengarnya. Atau bisa dibilang, hari patah hati bagi para gadis kalangan atas yang menyukai Wisnu. Karena tak sedikit dari wanita-wanita kelas atas, yang mengharapkan bisa menikah dengan putra sulung dari keluarga ternama Aronsky, pewaris pertama dari keluarga Aronsky yang terkenal sangatlah tampan dan kaya raya.
Namun, berita mengenai pernikahan Wisnu ini, tidak diperbolehkan untuk dipublikasi, apalagi disebar luaskan di media sosial. Cukup para tamu undangan saja yang tahu akan semua hal ini.
Setelah selesai dengan berbagai macam upacara adat dan sesi penyampaian pesan. Waktu beranjak semakin siang, kini para tamu undangan mulai berdatangan, naik ke atas panggung pelaminan hanya untuk sekedar bersalaman, berfoto dan memberikan ucapan serta doa pernikahan untuk kedua mempelai.
“Hey, lebarkan senyummu! Apa kau ingin membuat orang-orang di sini mengira, kalau kau tidak bahagia menikah denganku?” bisik Wisnu penuh penekanan.
Sejenak Grey mengerutkan kedua alisnya, mendengar ucapan Wisnu yang terlalu menusuk di telinganya. Seketika itu pula Grey langsung menarik bibirnya lebar-lebar dari telinga ke telinga. Seraya menebarkan binar mata kebahagiaan yang palsu, kepada para tamu undangan yang tengah menyalaminya.
“Bukannya dia, yang sejak tadi tak pernah terlihat senyum sedikit pun,” gerutu Grey dalam hati.
Kedua mata Grey tak henti-hentinya mengamati para tamu yang berada di dalam gedung luas ini. Ada yang sedang asyik mengobrol, ada yang sedang foto-foto, ada juga yang tengah menikmati hidangan. Namun, tiba-tiba netranya, secara tidak sengaja menangkap sesosok lelaki yang benar-benar mengejutkan baginya.
“Aryo?” gumamnya, saat melihat seorang lelaki bersetelan jas maroon, tengah melangkah mendekati pelaminannya.
Namun, di pertengahan jalan, dia melihat Tante Dewi menghampiri Aryo. Mereka terlihat mengobrol sejenak, bahkan Tante Dewi juga terlihat tengah membenarkan dasi dan jas yang melekat di tubuh Aryo.
“Kenapa dia bisa ada di sini?” gumam Grey pelan, begitu gugup ketakutan.
Grey yang penasaran, ia pun langsung bertanya kepada Wisnu--lelaki yang sudah sah menjadi suaminya.
“Oh ya, kalau boleh tahu lelaki yang sedang mengobrol dengan Tante Dewi itu siapa?” tanyanya pelan, dengan hati yang sudah berdebar.
__ADS_1
Kedua sudut mata Wisnu melirik sinis ke arah Grey, yang tiba-tiba bertanya seperti itu padanya. Sebenarnya, ia enggan untuk menjawabnya, tapi tak ada salahnya juga jika Grey, yang kini sudah sah menjadi istrinya itu, ingin lebih mengetahui anggota keluarganya.
“Anaknya,” jawab Wisnu begitu dingin.
Grey langsung membulatkan kedua bola matanya, ia tehenyak, benar-benar tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “A-anaknya?” tanyanya lagi, untuk meyakinkan.
Wisnu menoleh heran. “Iya, kenapa?!” tanya Wisnu tak ada ramah-ramahnya.
Grey menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban. Ia terdiam, tak bergeming sedikit pun. Mulutnya terkatup rapat, ia benar-benar begitu tak menyangka, kalau Aryo adalah anak dari Tante Dewi.
“Bagaimana bisa dia anggota keluarga ini?” batinnya, masih begitu tak percaya akan semuanya.
“Ja-jadi ... di-dia adik tirimu?” tanyanya lagi untuk meyakinkan.
Lagi, Wisnu menoleh ke arah Grey, masih dengan mimik wajahnya yang terlihat kesal. “Hm, kenapa? Apa kau mengenalnya?”
Wisnu langsung menautkan kedua alisnya, begitu heran melihat ekspresi panik dari wajah Grey. “Kau kenapa, bicara sampai segugup itu?” tanyanya penasaran.
Lagi-lagi Grey hanya bisa menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. “Bagaimana bisa Aryo adalah anggota keluarga ini? Kenapa aku baru mengetahuinya?” batin Grey, tiba-tiba ia melemaskan tubuhnya dan duduk begitu saja dia atas kursi pelaminan yang ada di belakangnya.
Hingga pada akhirnya, momen yang paling tak ingin Grey hadapi, akhirnya mau tidak mau, harus ia hadapi juga. Aryo mulai mendekat, menaiki panggung pelaminan dengan sorot matanya yang sejak tadi mengarah kepada Grey.
“Tenanglah Grey ... tenanglah, bersikaplah seperti kamu tidak mengenalnya,” batinnya, mencoba menenangkan hati dan pikiran. Meski sebenarnya, emosi dan rasa benci tengah berkumpul dan membara menjadi satu, di dalam pikiran dan sanubarinya.
“Selamat ya Nu, semoga keluarga kalian diberkati,” ucap Aryo begitu menyalami tangan Wisnu.
__ADS_1
"Hm, thanks ya,” jawab Wisnu masih dengan ekspresi wajahnya yang teramat dingin.
Lalu, Aryo menggeser langkahnya berhadapan dengan Grey. Kedua mata mereka saling bertautan tajam. Dari tatapan Aryo, lelaki itu seolah mengisyaratkan kepada Grey, apa yang baru saja mereka lalui dua hari lalu. Sedangkan dari tatapan Grey, terlihat hanya ada rasa benci yang ia tunjukkan untuk Aryo.
“Selamat ya, kenalkan aku Aryo, adiknya Wisnu,” ucapnya memperkenalkan diri, seolah mereka baru pertama kali bertemu. Lalu menyodorkan sebelah tangannya untuk berjabat tangan.
Grey tidak langsung menjabat tangan Aryo. Dirinya masih begitu kesal dan merasa sangat jijik jika harus menyentuh Aryo, walau itu hanya seujung kukunya saja. Namun, lirikan tajam dari Wisnu, membuat Grey mau tidak mau harus membalas jabat tangan dari Aryo, lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
"Grey," ucapnya, sambil menyentuh ujung jari Aryo dan hanya dalam hitungan kurang dari tiga detik, Grey langsung menarik kembali tangannya dari sentuhannya dengan tangan Aryo.
Aryo menyeringai. “Semoga keluarga kalian diberkati, dan semoga secepatnya mendapat momongan ya,” ucapnya penuh maksud, seolah mengingatkan Grey akan pesan singkat yang dikirimkannya kemarin pagi.
Grey benar-benar sudah tidak tahan. Andaikan saja ini bukan di pelaminan, ingin rasanya Grey melayangkan tamparan keras di pipi lelaki yang kini masih berdiri di hadapannya itu. Bahkan kalau bisa, ingin rasanya Grey menenggelamkan Aryo ke dasar bumi agar ia tak perlu melihatnya lagi.
Grey memutar kedua bola matanya dengan sebal, lalu menunduk membuang pandangannya, menandakan bahwa ia benar-benar tak ingin melihat wajah Aryo. Aryo yang paham dengan hal itu, ia pun beranjak pergi dan turun dari panggung pelaminan tersebut.
Aryo menyeringai penuh maksud, seolah puas dengan apa yang dilakukannya. “Baiklah, permainan kita akan segera dimulai Grey," gumamnya mengulum lidah. "Aku bener-benar sudah tidak sabar, ingin mendengar kabar kehamilanmu. Dan lihatlah kedepannya. Aku berjanji tidak akan pernah melepaskanmu dari hidupku Grey! Meski tantangannya, aku harus bersaing dengan saudaraku sendiri, aku akan tetap menajdikanmu wanitaku selamanya, Grey!” gumamnya penuh tekad.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1
Hai readers tersayang, mohon kritik dan sarannya ya, sekaligus ramaikan juga kolom komentarnya, biar author makin semangat up ceritanya. Terima kasih.