Noda Pengantin

Noda Pengantin
Dipanggil Keruangan


__ADS_3

“Kamu kenal dia, Grey?” tanya Shasha heran.


Yura langsung menoleh ke arah Shasha, melayangkan tatapan kosong, lalu menggelengkan kepalanya pelan. “Hah?” ia membeliakkan kedua matanya, kebingungan.


Saat terjebak di situasi seperti ini, ingin sekali rasanya, Grey mebelah diri dan membenamkan tubuhnya ke dasar bumi, agar tak melihat lelaki yang ada di hadapannya saat ini.


“A-aku mau ke ruanganku dulu Sha, emh aku melupakan sesuatu,” ucap Grey langsung berlalu meninggalkan kerumunan orang-orang di sana. Shasha menatapnya heran.


“Kenapa dia terlihat gugup begitu ya?” gumam Shasha merasa curiga.


Baru saja Grey hendak masuk ke dalam lift, tiba-tiba suara seseorang menghentikan langkahnya.


“Hey, tunggu!”


Seketika langkah Grey terhenti, ia mematut di tempatnya, memejamkan mata sekuat mungkin mendengar panggilan suara seseorang yang membuat jantung Grey semkain berdebar kencang tidak karuan.


Kini semua mata jadi tertuju ke arah Grey. Grey pun perlahan menoleh ke belakang, memasang wajah kakunya yang semakin terlihat tidak nyaman.


“Hey tunggu, bukankah kau seorang karyawan biasa? Kenapa mau naik lift khusus atasan?” tanya satpam yang memanggil Grey barusan.


Grey sedikit bisa bernafas lega saat tahu kalau orang yang menegurnya barusan adalah Pak Satpam, bukan Aryo si general manager baru itu.


"Silakan, kalau kamu mau pergi, naik saja lift khusus pegawai saja, Mbak," ucap satpam tersebut cukup sopan.


Grey sejenak mengedarkan pandangannya ke arah para pegawai yang tengah menatapnya dengan aneh. Ia meringis, lalu tersenyum kaku kepada Pak Satpam yang berdiri di depannya.


"Hehe, i-iya, Pak. Maaf, saya kurang fokus," ucap Grey gugup, langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam.


"Ya Allah, Grey ... apa sih yang ada di pikiran kamu, sampai gagal fokus begini. Kan kamu sendiri yang jadi malu dilihatin banyak orang," batin Grey merutuki dirinya sendiri.


"Tunggu!" Tiba-tiba suara yang terdengar tidak asing itu terdengar mememik di telinga Grey.


Aryo, si GM baru itu tiba-tiba sudah berdiri di dekat Grey dan Pak Satpam.


Grey masih menundukkan pandangannya, enggan melihat Aryo. "Ya Allah ... ngapain sih dia malah ngedeket ke sini," gumamnya dalam hati.


"Apa peraturan di kantor ini memang seperti ini? Melarang pegawai untuk menggunakan lift darurat?" tanya Aryo kepada Pak Satpam.


Pak Satpam yang berdiri di samping Aryo, pun mengangguk mengiyakan. "Betul, Tuan. Karena lift ini hanya dikhususkan untuk para pejabat tinggi seperti Anda dan dewan direktur," ucap satpam tersebut.


"Hm, begitu ya. Lalu, kalau lift khusus karyawan rusak bagaimana solusinya?"


"Bisa naik tangga yang di sana, Tuan." Tunjuk Pak Satpam ke arah anak tangga yang ada di ujung lorong.


"Kalau begitu, mulai hari ini, mau itu pegawai biasa atau yang memiliki jabatan tinggi, mereka berhak untuk menggunakan lift darurat ini. Jika lift darurat kosong dan bisa digunakan, kenapa tidak. Bukankah begitu Pak? Kita harus sebisa mungkin memanfaatkan yang ada?" tanya Aryo kepada Pak Satpam.


Satpam tersebut kebingungan, ia pun hanya bisa mengangguk mengiyakan. Lalu setelah itu, Aryo pun mengumumkan kepada para pegawai lainnya, jika dalam keadaan genting lift darurat tersebut boleh digunakan oleh siapapun.

__ADS_1


Dan para pegawai pun tampak senang mendengarnya. Di mata mereka, Aryo adalah bos yang diimpikan semua orang. Baik, tampan, berwibawa dan dermawan. Ditambah, Aryo sangat begitu perhatian kepada para pegawainya.


"Ya ampun, udah ganteng, baik hati, tidak sombong, perhatian lagi. Duh... jadi pengen deh jadikan Pak Gm sebagai suami aku."


"Iya, enggak apa-apa deh aku jadi istri keduanya juga, yang penting hatinya cuma buat aku."


"Heh! Kalian ini! Bangun woy jangan ngimpi!" seru Shasha kepada dua orang teman kerjanya yang berdiri di sampingnya.


"Ih... Shasha, biarin tahu, kita kan cuma ngehayal siapa tahu jadi kenyataan, haha iya enggak?"


"Ho'oh, lagian Pak Gm pasti masih single, belum punya siapa-siapa di hatinya. Ah aku mau daftar jadi yang pertama ah."


Shasha hanya bisa geleng-geleng kepala, mendengar celotehan dari  kedua teman sekantornya itu.


Sementara Grey, wanita berkerudung hitam itu masih mematut di tempatnya. "Apa sih Aryo, cari muka banget sama karyawan," gumam Grey dalam hati, seolah tidak suka dengan sikap Aryo yang sangat kentara di depannya itu.


Aryo langsung melangkah mendekati Grey, diikuti oleh sekretarisnya dari belakang. “Sudah, tidak apa-apa. Ayo masuk bersama,” ajak Aryo seraya melemparkan senyuman manisnya ke arah Grey.


Grey langsung mendongak. Ada gemuruh kesal di hatinya, ingin rasanya ia menghilang di hadapan Aryo detik ini juga, ia begitu jengah melihat sikap Aryo yang sok baik kepadanya.


Grey melemparkan senyuman tipisnya. “Tidak, terima kasih, Pak,” jawabnya sedikit dengan nada penekanan.


“Bagaimana bisa dia jadi GM di sini,” gumam Grey dalam hati. “Apa dia sengaja menjadi GM di sini karena ada maksud dan tujuan lain? Apa dia berniat akan menindasku di sini juga?” batinnya, pikiran Grey semakin melanglang buana kemana-mana.


“Anggreya Mikayla ....” Aryo membaca kartu nama yang menggantung di leher Grey.  “Hm, nama yang bagus, nanti ke ruangan saya ya!” ucapnya menyeringai penuh maksud.


Semua pegawai tercengang mendengarnya. Bahkan sebagian berbisik-bisik, membicarakan akan kesalahan Grey barusan yang membuatnya sampai dipanggil ke ruang kerja. Dan dari sikap Aryo barusan, para pegawai dapat menyimpulkan, bahwa GM baru mereka itu, bukanlah GM yang biasa saja. Meski tadi Aryo terlihat sangat baik dan dermawan, ternyata sikapnya sekarang menunjukkan bahwa dia adalah GM yang tegas, bahkan tak main-main dalam soal pekerjaan.


"Wah ... paket komplit nih, udah baik, ganteng, dermawan, tidak sombong, tegas lagi sama pegawai. Ah... emak, aku pengen suami yang begini," ucap seorang pegawai yang berdiri di dekat Shasha.


"Hadeh... capek deh!" Shasha menepuk jidatnya, sambil mendelik.


**


Sedangkan itu, di AF Group, Wisnu baru saja memarkirkan mobilnya di basement. Setelah itu, ia bergegas pergi menuju lobby. Sebagian pegawai memberikan senyuman serta sapaan hangat kepada Wisnu, berharap sikap Wisnu akan ramah seperti hari kemarin, tapi ternyata, sikap dingin dan angkuh di diri Wisnu kembali kumat sepertinya. Bahkan tidak ada satu pun sapaan orang yang dibalas oleh Wisnu.


Wajah Wisnu terlihat begitu sengit, arogan, bahkan tak ada sedikit senyuman yang terkembang di wajahnya, tampak sangat murung. Wisnu masih merasa begitu kesal akan perdebatan antara dirinya dengan papanya tadi pagi.


“Pagi, Tuan Wisnu,” ucap Devan sekretarisnya, begitu melihat Tuannya keluar dari lift, berjalan melewatinya.


Dan masih sama, Wisnu tak membalas sapaan dari Devan, ia fokus berjalan lurus sambil meringsutkan wajahnya. Meski begitu, Devan sudah tidak heran lagi dengan sikap bosnya tersebut, ia pun berjalan membuntuti Wisnu dari belakang.


Dan saat Wisnu masuk ke ruangannya, ia langsung melepaskan jas yang melekat di tubuhnya, membantingnya dengan kasar ke sembarang arah, hingga jas yang ditaksir, berharga 25 juta itu, jatuh melumuk di atas lantai begitu saja.


Devan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, melihat sikap bosnya yang pagi-pagi seperti ini sudah uring-uringan. Ia langsung memungut jas tersebut, lalu menggantungkannya di tempat yang sudah disediakan di gantungan khusus yang tersedia di ruangan itu.


“Devan!” panggil Wisnu tidak santai.

__ADS_1


Devan yang baru selesai menggantungkan jas milik Wisnu, ia langsung menoleh dan berjalan pelan mendekati bosnya yang tengah berkacak pinggang di dekat jendela balkon itu. Memandang lurus ke luar jendela.


“Iya, Tuan, ada apa?” tanyanya.


“Kapan jadwal aku untuk pergi melihat proyek di luar kota?” tanya Wisnu masih dengan nada bicaranya yang tidak ada ramah-ramahnya sedikit pun.


Devan dengan cepat membuka tabletnya, untuk melihat jadwal pekerjaannya. “Oh, lusa, Tuan.”


“Kalau begitu, kita berangkat siang ini. Beri tahu orang proyek, kalau hari ini aku akan ke sana,” perintahnya.


“T-tapi Tuan, bukankah—” Belum sempat Devan menyelesaikan ucapannya, Wisnu terlebih dahulu menoleh padanya, lalu melayangkan tatapan tajam yang begitu menusuk.


“Apa hah? Apa kau akan membantah perintahku?!” seru Wisnu, terlihat begitu emosi.


Devan langsung menunduk ketakutan, ia menggeleng sopan seraya berkata, “T-tidak Tuan. Saya hanya ingin mengingatkan, kalau siang ini Anda mempunyai janji untuk bertemu dengan kliennya tuan Cakra,” ucap Devan begitu gugup.


Wisnu tersenyum kecut, mendengar nama papanya. “Batalkan saja! Lagi pula itu klien papaku, bukan klienku,” ucapnya seolah tak peduli.


Devan terkejut bukan main. “Dibatalkan, Tuan?” Devan mengulanginya.


“Iya! Kenapa hah?” tanya Wisnu, menatap sinis.


“Tidak, Tuan. Kalau begitu, saya akan mengatur jadwalnya terlebih dahulu, Tuan,” ucap Devan buru-buru mengotak-atik tabletnya.


“Hm. Baguslah, begitu! Tidak perlu banyak protes!” Wisnu berjalan menuju kursi kerjanya, lalu mendudukan tubuhnya di atas kursi putar tersebut dengan perasaan yang masih terasa kacau.


Devan pun berpamitan untuk keluar dari ruang kerja bosnya tersebut.


Di luar sana, seorang wanita berparas cantik yang bernama Anggela, atau dikenal sebagai sekretaris kedua Wisnu, tengah menantikan keluarnya Devan dari ruangan tersebut.


“Dev. Devan ….” Panggil Anggela begitu pelan. Seraya melambaikan tangannya, menyuruh Devan untuk menghampirinya.


Devan tersenyum ke arahnya, lalu ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi kerjanya, yang bersebelahan dengan Anggela.


“Dev, Tuan Wisnu kenapa? Hari ini kayaknya moodnya lagi gak bagus banget ya?” tanya Aggela, si Miss Kepo.


“Ya … seperti biasalah, udah gak aneh,” jawab Devan, seraya membuka kembali tabletnya.


Devan yang sudah mengabdi selama 7 tahun sebagai sekretaris pribadi Wisnu. Sudah tidak aneh melihat sikap Wisnu yang sering berubah-ubah. Bahkan, sudah dianggap biasa ketika Wisnu tengah badmood seperti itu, ia pasti akan menjadi salah satu korban semprotannya. Termasuk pagi ini, Wisnu benar-benar begitu sensi. Sedangkan Anggela, ia baru mengabdi selama kurang lebih 2 tahun sebagai sekretaris kedua Wisnu. Lebih tepatnya sebagai wakil sekretaris Devan.


“PMS-nya datang lagi kali yak,” ucap Anggela bercanda, namun pelan.


“Hus! Gak boleh gitu, kalau sampai terdengar Tuan Wisnu, bisa-bisa ... mati kamu!” tegur Devan seraya terkekeh kecil.


“Ih amit-amit!” cibir Anggela. “Tapi, ya aneh aja gitu. Kemarin si bos kelihatan ceria banget, malah sampe sapa-sapa ramah ke karyawan. Eh … tiba-tiba hari ini, udah berubah drastis aja sikapnya, malah jauh menakutkan dari sebelum-sebelumnya,” ujar Anggela, yang masih penasaran dengan sikap Wisnu, yang kerap kali berubah-ubah tak karuan, tapi lebih sering ia melihat Wisnu bersikap arogan dan dingin, disbanding bersikap ramah.


“Ya udah, mungkin Tuan Wisnu lagi banyak masalah, makanya dia jadi begitu,” jawab Devan, yang tengah fokus membuat surat pembatalan meeting kepada klien papa Cakra. "Udah gak usah dihirauin, fokus sama kerjaan kamu aja," lanjut Devan pada Anggela.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2