
"Ayo, Grey aku antar kamu ke rumah sakit," ucap Aryo saat Grey baru keluar dari kamar mandi.
"Tidak usah, Aryo, aku tidak apa-apa. Dari kemarin juga dokter sudah bilang, kalau aku hanya kecapekan saja," imbuhnya.
"T-tapi, Grey kamu muntah-muntah begini loh," ucapnya.
"Udah lah, Aryo kamu pulang saja, aku mau kembali ke kamarku." Grey menoleh ke arah Bi Iyam.
"Bi, antar aku ke atas yuk, Bi," pintanya dengan ekspresi wajah yang semakin lesu.
Bi Iyam mengangguk siap. "Baik, Non, sebentar Bibi ambil buah potongnya sekalian ya, biar Non Grey nanti di atas bisa nyemil," ucap Bi Iyam buru-buru pergi membuka kulkas.
Aryo menatap curiga ke arah Grey, sementara Grey wanita itu tampak selalu mengalihkan pandangannya dari tatap mata Aryo.
"Apa ini pertanda hamil, Grey?" tanya Aryo pelan.
Grey yang mendengarnya ia begitu terkejut. "Apa yang kamu katakan, Aryo?! Jangan mengada-ngada, dokter saja tidak bilang kalau aku hamil kok!" serunya.
"T-tapi, tadi kamu muntah, Grey."
"Yang hamil tidak semuanya muntah, dan orang muntah pun belum tentu itu pertanda hamil!" balasnya, dengan mimmik wajah yang berubah cemberut.
Bi Iyam kembali, Grey segera menghentikan percakapannya dengan Aryo, lalu tanpa berkata apa-apa lagi, Grey dan Bi Iyam pun pergi meniti anak tangga menuju kamar Grey.
***
Setelah kejadian kemarin, hari ini Grey memaksakan dirinya untuk masuk kerja, karena kata Shahsa, di kantor berita mengenai Grey semakin memanas. Orang-orang jadi mengecap Grey asisten yang tidak kompeten, makan gaji buta, tidak bekerja seminggu pun tidak mendapatkan surat peringatan. Da itu lah yang menjadi kecemburuan sosial bari para karyawan lainnya.
Meski kondisi tubuh Grey belum sepenuhnya membaik, tapi Grey juga sangat merasa bosan karena sudah seminggu ia tidak kerja. Dan hari ini pun dirinya memaksakan diri untuk pergi bekerja.
"Keadaan kamu udah beneran lebih baik, Grey?" tanya Cakra saat mereka semua tengah sarapan pagi.
Grey mengangguk pelan, sambil tersenyum. "InsyaAllah, Pa, sudah membaik," jawabnya.
"Syukurlah."
"Wisnu, hari ini kamu antarakan istrimu ke kantornya, jangan sampai terjadi sesuatu kepada menantu Papa ini."
"Loh, tapi 'kan ada mang Ujang," ucap Wisnu yang memang malas jika harus mengantar Grey bekerja, karena jujur saja, arah kantor Grey dan kantor milik Wisnu itu berlawanan arah dan jaraknya pun cukup jauh.
"Iya, Pa, tidak apa-apa, nanti aku dianter Pak Ujang aja," ucap Grey. "Lagi pula, Mas Wisnu beberapa hari ini kan lagi sibuk dengan pekerjaannya, Pa," lanjut Grey.
"Iya, aku juga pagi ini ada rapat dengan beberapa pegawaiku, kalau aku mengantarkan Grey ke kantornya dulu, aku bisa telat, Pa."
"Kamu ini, ngeles saja! Ya sudah, kali ini Papa memaklumimu, tapi lain kali kamu harus juga mengantarkan Grey ke tempat kerjanya!" seru Cakra langsung menyuapkan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya.
"Iya, iya!"
"Papa ini, selalu saja membuat aku kerepotan!" batin Wisnu tidak suka di suruh-suruh seperti ini.
***
Dan seperti biasa, saat Grey memasuki area lantai tempat dirinya bekerja, beberapa pegawai lainnya selalu saja mencibirnya, menggunjingnya bahkan ada yang langsung menunjukkan sikap ketidaksukaannya padanya.
Grey hanya bisa pasrah, ia tidak berdaya karena ia ingin resign pun tidak diizinkan, ingin menolak tawaran kerja pun sama juga tidak dipedulikan oleh Aryo. Karena sifat Aryo memanglah sifat seorang ambisius, egois dan keras kepala. Apa yang diincarnya harus menjadi kenyataannya.
Hari pertamanya bekerja sebagai asisten pribadi Aryo, Grey hanya disuruh untuk mengecek beberapa informasi soal perusahaan yang akan bekerja sama dengannya. Cukup ringan dan tidak terlalu memakan banyak pikiran, karena Anton tadi sudah menyerahkan beberapa kriteria yang diinginkan oleh Aryo.
Sementara itu, Anton dan Aryo pagi ini mereka tengah disibukkan dengan rapat bersama client penting mereka dari Jepang. Jadi hingga adzan dzuhur berkumandang, Grey sama sekali tidak berpapas muka dengan Aryo.
"Grey, ke coffe shop yuk," ajak Shasha yang tiba-tiba muncul di balik pintu ruangan kerja milik Anton.
__ADS_1
"Shasha!" pekik Grey begitu senang. Ia langsung berjalan cepat menghampiri Shasha.
"Ayo, mumpung Pak Aryo masih sibuk, kita pergi dulu ke coffe shop," ucap Shasha.
"Ayo!"
Kini mereka berdua pun sudah berada di coffe shop sambil menikmati secangkir creame latte. Kopi latte kesukaan mereka berdua. Tidak lupa juga, sepotong redvelvel yang begitu empuk dan enak.
"Iya, Grey, makanya aku aduin itu ke kamu, ya bukan apa-apa sih, cuma aku udah gedek aja denger komentar orang-orang di lantai kita, sering gunjingin kamu."
Grey mengangguk paham. "Hm, iya, tapi mereka semua pantas kok untuk menggunjingkan aku, ya karena pada dasarnya semenjak pengangaktan jabatanku itu, aku belum pernah melaksakan tugasku sih."
Shasha menccebikkan bibirnya. Lalu memegang lengan Grey dengan pelan. "Maafin aku ya, Grey, usulan dari aku malah bikin nama kamu digunjingin orang-orang."
"Sudah enggak apa-apa, Sha, ini bukan semata-mata karena aku nurutin perkataanmu, tapi karena emang aku juga lagi sakit, makanya enggak bisa kerja," jawabnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.15 siang. Setelah selesai melaksanakan solat dzuhur, tiba-tiba kepala Grey terasa pening kembali.
Pandangannya menjadi buram, dengan rasa sakit yang tiba-tiba berdenyut di kepalanya.
"Grey, lo gak apa-apa?" tanya Shasha panik saat Grey hampir terjatuh.
Grey langsung memegang bahu Shasha, mencoba bertahan agar tubuhnya tidak oleng.
Ia menggeleng pelan, lalu berkata. "Duh, kayaknya vertigoku kambuh deh," ucapnya sambil mendesis merasakan sakit.
"Ya udah, Grey sekarang kita balik ke kantor dulu ya, abis itu bair aku yang izin ke Sekretaris Anton biar kamu diperbolehkan pulang," ucap Shasha, Grey hanya bisa mengangguk pasrah.
Setelah diperbolehkan oleh Aryo, lelaki itu tampaknya jadi ikutan khawatir akan keadaan Grey.
"Aku antar kamu pulang ya," ucap Aryo buru-buru mengambil kunci mobilnya.
"Tidak usah, aku bisa naik taksi saja, atau aku akan menyuruh pak Ujang untuk menjemputku."
“Gak perlu Aryo! … Lagi pula aku mau pergi ke rumah tanteku dulu,” ucapnya.
“Ya udah, kalau gitu aku antar kamu ke rumah tantemu ya.”
Grey jadi mendengus kesal. Ia menoleh melayangkan tatapan tidak suka ke arah Aryo. “Bisa gak sih, gak usah maksa!” serunya begitu kesal.
Sebelah tangan Aryo kini menarik lengan Grey, memegangnya pelan. “Oke, oke, tapi izinkan Anton yang mengantarmu. Kau tahu ‘kan, aku paling tidak tenang kalau tahu kamu sakit,” ucap Aryo penuh khawatir.
Grey pun dapat melihat dengan jelas kekhawatiran di kedua netra atasannya itu. Akan tetapi, jelas sekarang Grey tidak menyukai kepedulian Aryo padanya. Sebisa mungkin ia harus bisa menepis sisa-sisa perasaannya pada Aryo. Ia tidak ingin Aryo memperlakukannya sebagaimana perlakuannya saat mereka masih pacaran dulu.
“Please.” Aryo memohon dengan begitu tulus.
Jujur saja, sedikit-sedikit, Grey masih menyimpan rasa kasihan dan tak tega pada mantannya itu. Ia pun mengembuskan nafasnya pasrah. “Baiklah, hanya kali ini saja!” jawabnya pelan.
Aryo langsung tersenyum sumringah, lalu ia pun pergi ke mejanya, mengambil telepon genggam yang ada di atas meja, dan menghubungi Anton yang tengah berada di ruangan khususnya.
“Anton, cepat ke ruanganku,” ucapnya langsung kembali menyimpan telepon genggam itu di tempatnya.
Tidak berapa lama, Anton pun datang memasuki ruangannya.
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” tanya Anton begitu sopan.
“Oh ya, tolong antarkan Grey pulang ke rumah tantenya ya,” pinta Aryo.
“Sekarang, Tuan?”
“Gak, besok! … Ya sekarang lah, Anton.”
__ADS_1
Anton sedikit bingung, karena sebenarnya ada beberapa pekerjaan dan jadwal meeting yang harus ia atur sore ini.
“T-tapi, meeting Anda dengan klien dari Jepang itu bagaimana, tadi 'kan belum beres?”
Aryo teringat akan meetingnya tersebut. “Tidak apa, aku bisa berangkat sendiri. Lima belas menit lagi ‘kan meetingnya?” tanya Aryo, Anton mengangguk mengiyakan.
“Ya sudah, kalau begitu sekarang kamu antar Grey pulang. Dia sedang sakit,” ucap Aryo penuh perhatian.
“Oke siap, Tuan,” balas Anton.
“Mari, Nona,” Anton mempersilakan Grey untuk berjalan ke luar terlebih dahulu.
***
Anton menginjakan rem mobil dengan pelan. Dan perlahan mobil yang ditumpanginya terhenti tepat di depan sebuah rumah cukup besar milik omnya Grey.
“Makasih, Tuan Anton, sudah mengantarkan saya sampai rumah. Maaf merepotkan,” ucap Grey yang kini berdiri di luar sesaat setelah dirinya keluar dari dalam mobil.
“Sama-sama, Nona. Sudah tugasku untuk mengantarkan Anda dengan selamat sampai tujuan,” jawabnya begitu formal.
Setelah itu, Anton kembali melajukan mobilnya meninggalkan halaman rumah omnya Grey, dan Grey pun masuk ke dalam rumah omnya.
“Grey,” pekik Sarah saat ia membuka pintu rumah hendak keluar, dan sudah mendapati Grey yang tengah berjalan menaiki teras rumah.
“Tante.” Grey mendekat seraya mengembangkan senyuman manisnya pada tantenya tersebut.
“Kamu sendirian ke sini?” tanya Sarah, Grey mengangguk mengiyakan.
Lalu Sarah pun mengajak Grey untuk masuk ke dalam rumah. Sarah yang tadinya hendak pergi ke rumah tetanggannya, ia harus mengurungkannya, karena tidak enak jika meningglakan Grey begitu saja.
“Kau kenapa? Wajahmu terlihat pucat seperti itu?” tanya Sarah dengan heran.
Grey tersenyum hambar, dan bingung harus menjawab apa. “Emh … a-aku sedang tidak enak badan, Tan,” jawabnya.
“Tidak enak badan kenapa?” tanyanya menyelidiki.
“Emh, mungkin karena masuk angin,” jawabnya beralasan, padahal sebenarnya hatinya kini sedang tidak tenang. Ia takut, kalau ia menceritakan semuanya tantenya, itu akan marah.
Tiba-tiba, Sarah pergi meningglakan Grey begitu saja. Wanita kepala tiga itu pergi ke dapurnya untuk mengambil sesuatu. Lalu kembali menghampiri Grey, seraya menyodorkan satu piring nasi lengkap dengan lauk pauk yang masih hangat.
Rendang sapi yang masih mengepul panas, terlihat uapnya naik mengudara. Grey yang melihat sekaligus mencium aromanya, ia kembali merasakan mual, akan tetapi ia tahan sebisa mungkin. Namun, ternyata ia tidak bisa.
“Hoek!” Ia pun berlari ke kamar mandi yang ada di dapur. Ia kembali memuntahkan sedikit ludah di atas westafel.
“Ya ampun, apa sih ini. Masa iya aku beneran hamil,” gumam Grey dalam hati.
Setelah selesai membasuh mulutnya ia pun keluar dari kamar mandi. Dan betapa terkejutnya Grey saat mendapati tantenya yang sudah berdiri di ambang pintu. Mungkin Sarah menunggunya di luar kamar mandi sejak Grey masuk tadi.
“Tante,” ucapnya gugup dan takut.
“Berapa lama kamu telat?” tanya Sarah tidak santai, dengan tatapannya yang tajam menikam.
Dug, deg, dug, deg. Perasaan Grey jadi tidak menentu. Kedua matanya hanya bisa membulat sempurna, saat tantenya mengajukan pertanyaan mengejutkan seperti itu.
“Hah … a-aku.”
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....