
“Om.” Grey sedikit tersentak melihat kehadiran Omnya.
Rama menaikkan sebelah alisnya, kedua maniknya menatap tajam ke arah Grey. Seolah tengah mencurigai keponakannya tersebut.
“Kau kenapa, Grey?” tanya Rama dengan suaranya yang begitu nge-bass.
“Hah? ... T-tidak apa-apa, Om,” jawabnya gugup.
Rama mengalihkan pandangannya ke belakang Grey, matanya melihat ke arah pecahan ponsel yang berserakan di sana, mengotori lantai marmer berwarna cream itu.
“Apa kau memecahkan handphonemu, Grey?” tanya Rama, sesaat setelah ia kembali mengarahkan pandanganya kepada Grey.
Grey sedikit ketakutan untuk mengakuinya, akan tetapi ia juga tidak bisa berbohong, ia mengangguk pelan sekaligus menundukkan kepalanya dalam-dalam, bersiap menerima amarah dari omnya.
Rama menghela. Ia melipatkan kedua tangannya di dada. “Ya sudah, ayo cepat ikut Om. Keluarga Aronsky sudah datang kemari untuk menemui kita,” ajak Rama.
Grey langsung mendongak menatap Om-nya dengan binugng. “Loh, bukannya satu jam lagi ya?”
“Tidak, mereka sudah sampai barusan. Ayo cepat, tutup pintu kamarmu,” perintahnya. Grey pun mengangguk dan segera menutup pintu kamarnya, lalu pergi bersama Omnya, menuju ruangan di mana keluarga Aronsky berada.
***
Anggreya dan Rama dipersilakan masuk oleh seorang pelayan hotel yang berjaga di area pintu masuk ruangan privat. Begitu memasuki ruangan tersebut, lagi-lagi kedua mata Grey disuguhi pemandangan yang begitu indah dan serba mewah.
Terlihat di tengah-tengah ruangan ini, ada sofa besar berwarna coklat, yang mengelilingi meja kaca berbentuk bulat berukuran dua meter. Benar-benar serba besar dan glamour. Bahkan suasananya terasa seperti ada di dalam kastil-kastil mewah ala Eropa.
Seorang lelaki paruh baya, yang terlihat begitu gagah dan berwibawa, dia berdiri dari duduknya, sambil mengembangkan senyuman ramahnya kepada Grey. “Wah, calon mantu Papa udah datang. Kemarilah, kami semua sudah menunggumu,” ucap Cakra, sambil membenarkan jas berwarna abu-abu yang melekat di tubuhnya.
Grey tersenyum manis seraya mengangguk sopan, saat mendapat sambutan hangat dari calon mertuanya, yang bisa dibilang sangatlah baik.
Grey dan Rama pun menghampiri mereka, Bi Sarah juga sudah duduk di sana dengan mereka sejak tadi. Grey menyalami Cakra dan Shindy calon mertuanya dengan takzim, tak lupa ia juga berjabat tangan dengan Wisnu—calon suaminya—dan menyalami Viona adik kandung Wisnu.
Lalu, di salah satu kursi sana, ada juga seorang wanita yang mungkin usianya lebih tua beberapa tahun dari Shindy, dia adalah Dewi, istri pertama dari Cakra, yang dulu sempat bercerai, tetapi rujuk kembali.
Setelah mendaratkan tubuhnya di samping Sarah, datanglah para pelayan dari arah pintu masuk, mereka ada empat orang, masing-masing membawa meja troley dengan berbagai macam makanan di atasnya, lalu menyuguhkannya di atas meja dengan begitu rapi. Setelah selesai, para pelayan itu pun keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
“Gimana, udah siap untuk hari besok?” tanya Cakra kepada Grey.
Grey yang tampak malu-malu, ia mengangguk, sambil tersenyum tipis. “Iya Om, insyaAllah siap, tapi masih deg-degan,” jawabnya pelan sambil nyengir.
Cakra terkekeh mendengarnya. “Haha, wajar tidak apa-apa. Tenang saja, besok acaranya pasti berjalan lancar dan meriah,” ucap Cakra, menatapnya penuh kehangatan.
“Kalau Wisnu, jangan ditanya lagi, dia mah sekarang juga udah siap. Ya Nu, ya?” tanya Cakra ke arah Wisnu yang duduk di sampingnya.
Wisnu yang sedari tadi hanya sibuk menggulir layar handphonenya, ia hanya menjawab dengan dingin. “Hm.”
Tampak dingin dan seperti enggan untuk berbicara, bahkan ketidak nyamanan terlihat jelas di wajahnya yang sedang gelisah itu.
Cakra sedikit merasa tidak enak, melihat sikap anak sulungnya yang cuek dan jutek seperti itu. Bahkan seperti enggan untuk membuka suara.
Keadaan cukup canggung, sampai pada akhirnya Dewi membuka suara, agar lebih mencairkan suasana.
“Oh ya Grey, apa kamu sudah bekerja?” tanya Dewi dengan begitu ramahnya, menampilkan senyuman manis miliknya.
“Alhamdulillah, sudah, Tante,” jawabnya malu-malu.
“Saya kerja di perusahaan Aline Group, Tante.”
“Wah, sama kayak anak Tante dong, anak Tante juga nanti, masuk kerja di situ, itu 'kan masih perusahaan Papa Cakra, nanti anak Tante yang megangnya.”
"Hm, Alhamdulillah kalau begitu, Tante," jawab Grey yang gugup karena belum bisa menyesuaikan diri.
Tiba-tiba, yang duduk tak jauh dari Dewi ikut menimbrung dalam obrolan. “Kemana dia? Kenapa enggak ikut kemari?” tanya Shindy, sedikit melirik ke arah Dewi dengan tatapannya yang sedikit sinis.
“Ada acara sama teman-temannya, maklum sudah empat bulan enggak ketemu, jadi dia gak bisa ikut kemari,” jawabnya dengan lembut.
“Oh ....” Shindy membulatkan bibirnya, dengan gestur tubuhnya yang sok cantik.
"Baguslah kalau anakmu sudah mau bekerja. Tidak sia-sia, dia dikirim ke London," sambung Shindy. Dewi hanya tersenyum simpul tak menanggapi.
"London? Empat bulan?" batin Grey, ia jadi teringat dengan Aryo, yang dikabarkan pergi ke London, dua hari setelah mereka putus.
__ADS_1
Namun, dengan cepat Grey menepis ingatannya tersebut. "Tidak mungkin 'kan, anaknya Tante Dewi itu, Aryo. Lagi pula, mana ada keluarga Aronsky yang kelakuannya bejad kayak si Aryo," batin Grey.
Sementara itu, Wisnu yang sedari tadi fokus memainkan handphonenya, ia sesekali melirik ke arah Grey, meski lirikannya hanya lirikkan kilat.
"Hanya karena dia berhijab, keluargaku malah memilih wanita kampungan ini menjadi calon istriku!" batin Wisnu, melirik sekilas ke arah Grey.
Suasana diantara mereka pun terlihat semakin hangat, segala obrolan mulai dibahas, mulai dari obrolan pernikahan pengalaman pernikahan dan obrolan mengenai cerita Wisnu zaman dulu pun sampai di bahas. Dan pembahasan seperti ini, benar-benar membuat Wisnu merasa bosan berada di antara mereka, terlebih ia sangat muak melihat Grey yang bisa secepat itu akrab dengan keluarganya.
Tiba-tiba, di saat mereka tengah ramai berbincang, saling menyahut satu sama lain. Wisnu, si lelaki es batu itu berdiri dari duduknya, lalu menoleh ke arah papanya.
“Pa, aku ke toilet dulu ya,” ucapnya cepat. Bahkan, saat Cakra belum sempat mengiyakan, anak bujangnya itu keburu pergi meninggalkan mereka. Membuat Cakra hanya bisa menggelengkan kepala, merasa heran dengan sikap anak sulungnya tersebut.
Dan sesampainya di toilet, Wisnu memandangi dirinya di depan kaca westafel. Mengembuskan nafasnya dengan kasar, lalu kembali melihat ke layar ponselnya yang menampilkan foto dari seorang wanita cantik.
“Kau di mana? ... Pulanglah, aku benar-benar merindukanmu,” lirihnya pelan, seraya memejamkan mata dengan kuat, mengingat moment indah antara dirinya dengan wanita tersebut. Bahkan putaran kenangan itu, tiba-tiba kembali terbayang di benaknya.
“Huh! Kalau bukan karena perusahaan papa yang akan dipindah tangankan kepada adik tiriku, aku tidak akan pernah sudi menikahi gadis kampungan seperti dia, argh!” Wisnu mengacak rambutnya, dengan sebelah tangannya, merasa frustrasi, karena besok ia harus menikahi wanita yang sama sekali tak pernah diharapkannya.
.
.
.
Bersambung....
Sambil menunggu cerita ini, kalian bisa baca juga karyaku yang lainnya.
Menikahi Pria Misterius (On Going) sudah up sampai Bab 142
Pernikahan di Atas Kertas (Tamat) total 157 Bab
Love's Mr. Arrogant (On Going) baru up 54 Bab
Atau kalian juga bisa follow ig author @dela.delia25 untuk mendapat info novel yang author buat. Terima kasih.
__ADS_1