
Hari ini adalah hari perayaan pesta pengangkatan Grey yang naik jabatan jadi asisten Aryo. Semua karyawan Aline Group yang satu divisi dengan Grey, diajak untuk berpesta di sebuah villa yang sebelumnya sudah di beritahukan oleh sekretaris Anton di hari pengumuman.
Sepulang bekerja, mereka semua langsung pergi menuju villa yang dimaksud. Semua orang tampaknya begitu senang, karena saat mereka datang ke villa itu, segala macam makanan sudah disuguhkan di meja panjang yang tersedia di taman belakang villa dan juga di ruang tengah.
"Hey, ayo kita karaoke!" seru seorang pegawai lelaki berkacamata yang memakai kemeja kotak-kotak, dia berseru dengan sebegitu semangatnya.
"Yuk lah, karaoke!" timpal dua orang lain yang berlari menghampiri lelaki berkacamata itu.
Kini di villa yang cukup luas dan megah itu, semua orang berbaur, ada yang sibuk menikmati makanan di meja, ada yang sibuk mengobrol di kursi, ada yang sibuk berkaraoke, lalu di bagian luar di taman belakang ada juga beberapa orang yang asyik berbincang di pinggir kolam renang dan sebagian lainnya sibuk dengan handphonenya.
Namun, di antara mereka semua yang tengah sibuk dengan kesenangannya masing-masing, sepertinya orang yang paling di cari tidak ada di sana. Grey belum hadir di sana. Sementara Aryo dan Anton baru saja menyusul para karyawannya itu di villa.
"Wah, Pak Gm kita ini memang baik banget ya. Baru aja beberapa minggu menjabat di kantor ini, sudah bisa bawa kita-kita hiburan happy-happy begini," ucap seorang pegawai lelaki yang memuji Aryo tepat di depan mukanya.
"Saya senang dengan pekerja seperti kalian, tetap loyalitas dan tidak kaku. Kalau kinerja kalian kedepannya semakin bagus, kapan-kapan saya pasti akan ajak kalian berpesta lagi," ucap Aryo dengan begitu bangga.
Beberapa pegawai yang ada di sekitar Aryo itu langsung saling berbisik, menerima aura positif yang diberikan oleh GM baru mereka. Tampaknya hampir semua pegawai suka dengan Aryo. Apalagi Aryo sangat jauh dengan GM sebelumnya yang kaku dan tidak bisa mengapresiasi kinerja para pegawai.
Aryo izin terlebih dahulu untuk pergi ke sebuah spot yang jauh dari para pegawainya. Hanya Anton saja yang mengikutinya dari belakang sejak tadi.
"Anton, menurutmu Grey kemana ya? Kok sampai sekarang enggak di balas-balas pesanku," ucap Aryo.
"Apa sudah ditelepon Tuan, Nona Grey nya?" tanya Anton.
"Sudah, tapi tetap saja, tidak aktif."
Aryo berdecak kesal, sambil mengusap dagu. "Padahal aku bikin acara ini memang untuknya. Tapi malah dia yang enggak hadir di sini," keluh Aryo.
"Oh, mungkin Nona Grey lagi sama temennya yang namanya Shasha itu."
Aryo baru kepikiran. "Ah iya, betul. Pasti mereka lagi bareng-bareng. Kalau begitu cepat, kamu telepon nomor wanita itu!"
"Siap, Tuan."
Sementara itu, Grey kini tengah berada di sebuah coffe shop bersama Shasha. Grey dan Shasha sengaja tidak ikut berpesta dengan teman-teman kerjanya di villa itu. Karena sudah dipastikan Grey tidak ingin gosip antara dirinya dengan Aryo semakin meluas dan menjadi-jadi. Apalagi kalau sampai dia datang ke sana.
“Apa aku harus memberi tahu tanteku ya soal ini?” tanyanya kepada Shasha.
"Hem, bisa aja sih. Tapi, emang kamu yakin, tantemu itu akan ngedukung kamu kalau kamu keluar dari pekerjaan ini?"
"Aku juga enggak tahu, Sha. Tapi jujur, aku udah eggak mau kerja di perusahaan ini lagi. Aku enggak mau orang-orang mengamsumsikan aku sebagai wanita penggoda." Grey tampak sangat sedih.
"Ya udah, gini aja deh, pokoknya besok lo jangan masuk kerja! Udah libur aja, diem di rumah, kasih alasan lain kek, kayak sakit atau apa gitu!"
"Tapi, Sha, masalahnya, dia pasti akan datang ke rumah."
"Eh iya juga ya. Duh, ribet banget sih hidupmu Grey!"
"Makanya, Sha. Aku bingung banget ini, kayaknya masalah hidup aku enggak kelar-kelar deh!" rengeknya.
Selagi berbincang, kini seorang pelayang kafe datang membawakan pesanan milik mereka.
__ADS_1
"Selamat menikmati," ucap pelayanan tersebut sesaat setelah makanan disajikan di atas meja.
"Terima kasih, Mbak," ucap Shasha dengan ramah, lalu pelayan itu pun pamit kembali utuk melanjutkan pekerjaanya.
Namun, ada yang berbeda dengan ekspresi Grey saat sepiring mangkuk rice bowl plus telur milik Shasha itu ada di mejanya.
"Hoek!" Grye menutup hidunya, saat bau aneh itu melintas di hidungnya.
“Grey, lu kenapa? Lagi sakit ya?” tanya Shasha penasaran, karena sejak tadi Grey terlihat sedikit pucat dan lesu.
“Hm, iya kayaknya aku masuk angin nih, Sha. Pusing banget ya ampun,” jawabnya masih dengan ekspresi wajahnya yang tampak pening.
“Hoek!” Grey kembali merasakan mual di perutnya, dan ia pun segera berlari menuju kamar mandi, di dalam kamar mandi Grey hanya bisa memuntahkan ludahnya saja. Tubuhnya sedikit bergetar, ia segera membasuh mulutnya, lalu mengeringkannya menggunakan tisu.
Di dalam pantulan cermin, ia melihat wajahnya yang tampak pias. Bibirnya terlihat pink pucat, bahkan di dahinya pun terdapat beberapa bulir keringat dingin.
“Sepertinya ada yang tidak beres denganku,” gumamnya dalam hati. Kini pikirannya tertuju pada satu kalimat yaitu. ‘Hamil.’
“Tidak! … Jangan sampai aku hamil secepat ini,” gumam Grey dalam hati.
Ia pun kembali berpikir, sepertinya dirinya harus kembali menemui om dan tantenya. Ia tidak ingin rencananya gagal begitu saja, dan akan membuat kekacauan di keluarga Aronsky. Terlebih kemungkinan jika seandainya ia hamil anaknya Aryo itu akan sangat bahaya baginya.
“Ya Allah, jangan sampai aku hamil anaknya Aryo, aku tidak ingin ancaman om dan tanteku jadi kenyataan, adan aku tidak ingin rumah tanggaku bersama mas Wisnu hancur, semoga saja ini beneran masuk angin, bukan pertanda hamil," batinnya.
Kini Grey kembali mendudukan tubuhnya di atas kursi, berhadapan dengan Shasha.
“Grey, kamu yakin cuma masuk angin?” tanya Shasha penasaran.
Shasha masih menatapnya penuh curiga, wanita itu terus memandangi Grey, meniliknya dengan pelan. “Grey, kayaknya kamu bukan masuk angin deh,” tebak Shasha. Membuat kedua alis Grey langsung menaut dengan keningnya yang berkerung.
“Maksud kamu?” tanya Grey bingung.
“Maaf nih ya, kalau aku lancang. Tapi … coba deh cek kedokter, takutnya kamu tipes, Grey atau apa gitu. Soalnya wajah kamu pucet banget."
Grey sedikit bernafas lega, saat sahabatnya itu hanya menebaknya sakit tipes, bukan hamil.
Grey mengangguk. "Emh iya, nanti aku ke dokter deh," jawabnya tersenyum hambar.
Dan di saat mereka hendak menyantap makanannya, tiba-tiba sebuah nada dering dari ponsel terdengar. ternyata itu dari ponsel milik Shasha.
Shasha menautkan kedua alisnya melihat nomor baru yang tertera di ponselnya.
"Siapa ini?" gumamnya langsung menggulir tombol hijau di layar ponselnya, lalu menempelkan benda pipih itu ke dekat telinganya.
"Hallo?" ucap Shasha.
"Hallo, Nona Shasha, ini saya Anton," suara Anton di balik ponsel.
"Anton? Anton siapa?"
"Saya, Anton sekeretarisnya Pak Aryo."
__ADS_1
"Ah... ya ya ya, aku ingat. Ada apa?" tanya Shasha.
"Begini, apa Nona Grey tengah berada bersama Anda?"
"Kenapa memangnya?" tanya Shasha melirik ke arah Grey sejenak, membuat Grey langsung bertanya akan siapa penelepon itu. Shasha langsung meloudspear teleponnya.
"Hah? Gimana?" Grey memebri tanda agar Shasha tidak memberi tahu keberadaannya.
"Nona Grey ada bersama Anda tidak?"
"Hah, hallo hallo, Tuan Anton ...."
"Nona Shasha, terdengar tidak?" suara Anton terdengar masih berusaha untuk menanyakan soal Grey. Tapi Shasha sengaja seperti tidak ada signal.
"Hallo, hallo, loh kok enggak ada suaranya ya. Apa mungkin signal disini jelek ya."
"Hallo."
"Tuan Anton jika Anda mendengar ini, saya lagi ada di rumah nenek saya. Di sini susah signal, tadi sa--"
Tut ... tut ... tut
Shasha sengaja mematikan ponselnya di tengah-tengah obrolannya agar semakin terlihat bahwa dia tidak puay signal.
Grey tersenyum melihat kelkuan sahabatnay itu.
"Udah ayo makan, dia pasti sekarang lagi bingung nyari-nyari kamu," ucap Shasha. Grey pun mengangguk tersenyum.
"Makasih banyak ya, Sha. Kamu memang selalu jadi penolongku," ucap Grey.
"Iya, santai aja lagi, sepatu belle lagi ada keluaran terbaru loh," ucapnya melebarkan senyumnya.
Grey yang sudah tahu sifat sahabatnya itu, ia hanya terkekeh. "Oke, oke, tenang aja, nanti aku belikan buat kamu," ungkapnya sambil tertawa.
.
.
.
Bersambung....
jangan lupa bantu ramaikan kolom komentarnya ya gaes. Terima kasih.
Eh iya, sambil nunggu cerita ini kalian bisa baca karyaku yg lain.
Pernikahan di Atas Kertas (Romance - Religi) Udah End
Menikahi Pria Misterius (Romance 21+) Dikit lagi End
Follow juga ig aku @dela.delia25 terima kasih.
__ADS_1