
“Jawab aku, Anggreya!” sentaknya semakin emosi.
Dengan kesal, Yura pun terpaksa menjawabnya. “Iya! Mas Wisnu yang melakukannya, suamiku yang sah yang melakukan semua ini. Dan sepertinya hal ini tidak perlu kamu ketahui lebih dalam lagi, Aryo!”
Aryo mengulum lidahnya tersenyum sinis. Enggan rasanya ia untuk percaya, kalau Wisnu bisa melakukan hal seperti itu kepada Grey, meski pada kenyataannya itu memang dilakukan oleh Wisnu. Karena yang Aryo tahu, Wisnu tidak pernah mencintai Grey, bahkan Aryo juga tahu kalau sebenarnya Wisnu terpaksa menikahi Grey.
“Oh … aku tahu, kau pasti menggodanya ‘kan?” tanya Aryo merendahkan.
Grey langsung menautkan kedua alisnya, ukup terkejut mendengarnya. “Apa kau bilang? Aku yang menggodanya?!” Grey mengepalkan tangannya, kesal.
“Aku tahu siapa Wisnu. Tidak mungkin dia melakukannya jika bukan kau yang menggodanya lebih dulu,” ucap aryo seraya berjalan mengelilingi Grey secara pelan.
Grey semakin mengeratkan kepalan tangannya, gejolak emosinya semakin kuat mendidih di dadanya.
“Terserah kau berpikir apa. Yang jelas aku tidak menggodanya, dia yang lebih dulu menginginkannya,” jelas Grey.
Kini langkah kaki Aryo terhenti, tepat di depan Grey. Lelaki itu sedikit mencondongkan wajahnya ke arah Grey, kedua matanya sedikit menyipit, menatap Grey dengan tatapan yang sulit dijelaskan.
“Dia yang menginginkannya, benarkah? Ahahaha.” Tiba-tiba Aryo terbahak keras. “Kau pikir aku akan mempercayaimu? Ternyata, wanitaku ini selain pandai bersandiwara, kau juga pandai menggoda ya,” ucap Aryo merendahkan Grey.
“Cukup, Aryo! Aku tidak ingin berdebat denganmu lagi!”
“Terserah kau mau beranggapan apa tentangku, yang jelas aku tidak pernah menggodanya!” tegas Grey sebelum ia melangkah pergi meninggalkan ruangan.
Dan brak! …. Grey membanting pintu itu dan menutupnya dengan sangat keras. Wanita itu semakin mempercepat langkahnya menjauh dari ruang kerja Aryo.
"Dasar, lelaki kurang ajar. Aku benar-benar harus resign dari sini, aku tidak bisa jika terlalu berlama-lama ada di sini," gumamnya. "Mentalku bisa hancur karean kebodohan dia."
Selagi berjalan melewati ruangan kerja divisi lain. Ternyata, mata orang-orang kini terngah berpusat pada Grey. Para karyawan lain yang melihat kejadian tersebut, mereka langsung saling berbisik satu sama lain menggunjingkan Grey.
Grey semakin merasa tidak betah berada di kantor ini, ia pun melangkah pergi memasuki lift. Dan ternyata, kupingnya kembali terasa panas, saat dua orang pegawai wanita yang ada di belakangnya, terdengar berbisik mengomentari perdebatan Aryo dan Grey yang cukup keras dan terdengar ke luar.
__ADS_1
“Ternyata benar ya, wanita kalau gak karena mantra ya, pasti dia menggoda. Pantas saja GM baru kita ini mengangkatnya sebagai asisten pribadi,” ucap salah seorang wanita yang berada di belakang Grey kepada teman yang ada di sampingnya.
Bisikan dari wanita tersebut, membuat Grey merasa tidak nyaman, ia langsung membenarkan kerudungnya yang memang tampak sedikit acak-acakan.
“Hm, mungkin karena dapat jatah kali ya, haha,” balas salah satu wanita kepada temannya tadi. Mereka berdua pun saling terkekeh garing, sambil menatap sini kepada Grey yang berdiri membelakangi mereka.
Ting ….
Saat lift terbuka, buru-buru Grey melangkahkan kakinya keluar dari lift. Ia bergegas pergi meninggalkan gedung tinggi bertingkat itu.
Dan saat ia hendak mencegat taksi di pinggir jalan, ia baru ingat kalau tas kerjanya tertinggal di meja kerjanya.
"Ya Allah... kenapa harus begini sih?!" lirihnya merasa capek dengan diri sendiri.
Lalu, ia mengeluarkan benda pipih yang ada di saku rok kerjanya. Ia pun segera menelepon Shasha untuk meminta bantuan membawakan tasnya ke bawah.
“Sha, please bantuin aku dong,” ucap Grey begitu teleponnya tersambung.
“Bantu apa?” suara Shasha di balik telepon.
“Oke, aku on the way.” Grey pun mematikan teleponnya. Dan dengan terpaksa, Grey harus membalikan badannya, kembali ke lobby kantor.
Di lobby, ia menunggu di dekat pintu kedatangan. Tak lama kemudian, Shasha datang dari lift sana.
“Nih tas, lo.” Shasha memberikan tas hitam berbentuk kotak berlogo Gucci itu kepada Grey.
Grey pun mengambil alih tas tersebut dari tangan Shasha. “Oke, thank’s ya.”
“Emng lo mau ke mana? Ini kan masih jam kerja?” tanya Shasha begitu heran dan sedikit curiga.
“Emh … ada kepentingan mendadak, jadi buru-buru harus pulang, Sha,” kilahnya berbohong.
__ADS_1
“Oh, serius lo?” tanya Shasha untuk meyakinkan, Grey mengangguk penuh percaya diri, lalu ia pun pamit untuk segera pergi.
Sejenak Shasha menatap punggung Grey yang sudah menjauh dari pandangannya. Ia kembali berpikir, merasa ada satu hal yang tengah Grey sembunyikan darinya.
"Kayaknya, dia belum sepenuhnya jujur sama aku," batin Shasha, merasa curiga.
Grey tengah berjalan santai menuju jalan raya. Ia pun menunggu taksi melewat di jalanan tersebut, tetapi sudah 10 menit ia berdiri di atas trotoar, di bawah terik matahari yang kian memanas, namun dirinya masih belum mendapatkan taksi juga.
“Ya Allah, astagfirullah, apa lagi sih ini, kok tumben-tumbenan taksi jam segini enggak ada yang lewat,” keluhnya semakin kesal.
Tiba-tiba, sebuah mobil mercy berwarna dark grey yang mengkilap, menampilkan kesan mewah berhenti tepat di depan Grey.
Lalu, kaca mobil pun terbuka, dan menampilkan sesosok lelaki berparas hitam manis di dalam sana. Ya, siapa lagi kalau bukan sekretaris Anton. Lelaki manis idaman perempuan.
“Nona, bisakah Anda masuk,” ucap Anton dari dalam mobil sana.
Grey terheran-heran. “Ngapain dia nyuruh aku masuk ke mobilnya,” gumamnya dalam hati, mengkerutkan kedua alisnya merasa heran.
“Maaf, ada apa ya? Kok nyuruh saya masuk?” tanya Grey yang masih berdiri di sisi trotoar.
Anton pun akhirnya keluar dari mobil, lalu berjalan ke depan mobil menghampiri Grey.
Tanpa basa-basi, lelaki itu tiba-tiba membuka pintu mobil dan mempersilakan Grey untuk masuk, layaknya layanan kepada seorang Tuan Puteri.
“Silakan, Nona,” ucapnya sedikit membungkuk, membuat Grey merasa tidak nyaman.
“Maaf, tapi kenapa Anda menyuruh saya untuk masuk? Memangnya ada urusan apa? Apa Pak Aryo yang menyuruh?” tanya Grey.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung