
“Mas,” panggil Grey yang kini sudah berdiri satu meter di belakang Wisnu.
“Mas, kamu kenapa? … Emh, apa kamu lagi ada masalah?” tanya Grey memberanikan diri, berharap suaminya akan bercerita atau berkeluh kesah padanya.
“Stop mencari perhatianku!” tegasnya begitu dingin. “Gak usah deh sok peduli sama aku. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah tertarik padamu!” serunya masih membelakangi Grey. Membuat kedua kening Grey mengkerut hebat.
‘Ih geer banget sih dia jadi orang,” batin Grey sambil mendelik sebal.
“Mohon maaf nih ya, aku nanya kayak gini ‘kan sebagai tanda aku ngehargain suamiku sendiri. Ya kalau ada masalah, aku pasti tanya lah, masa aku diemin gitu aja. Barangkali masalahnya ada di aku, atau seenggaknya aku bisa bantu kamu selesaikan masalahnya,” ucap Grey, yang kini sudah berganti posisi berdiri di samping Wisnu.
Wisnu berbalik dengan tatapannya yang cukup tajam dan menikam. Membuat nyali Grey langsung menciut dan ia ketakutan.
“Iya! Kau biang masalahnya! Kau yang membuat aku terkena masalah ini. Kalau saja aku tidak menikah denganmu, aku pasti ….” Sentakan Wisnu terhenti saat ia merasakan sesuatu yang mengganggu hatinya.
Binar manik mata milik Grey membuat Wisnu tidak tega melanjutkan ucapannya. Mata wanita itu selalu terlihat berbinar penuh ketulusan. Ia membenci Grey untuk saat ini, tapi ia juga tidak bisa berkata kasar seenaknya kepada istrinya itu.
“Argh!” Wisnu mengacak rambutnya membelakangi Grey. Lalu, ia pun pergi berlalu meninggalkan Grey begitu saja.
Grey beberapa kali memanggil suaminya tersebut, akan tetapi Wisnu tak memedulikannya dan gebrakan pintu yang tertutup kencang terdengar di kedua telingan Grey, membuat dirinya sedikit tersentak mendengarnya.
“Aneh? Ada apa dengan mas Wisnu?”gumamnya dalam hati. Ia kembali berpikir atas apa yang baru saja suaminya katakan padanya.
“Aku biang masalahnya?” Ia menunjukkan telunjuknya pada dadanya sendiri. “Kenapa harus aku yang jadi biang masalah dia,” pikirnya sambil mengedarkan pandangan ke luar sana. Dan berpikir keras untuk mencoba mengerti masalah apa yang suaminya itu hadapi.
***
Hari pun semakin berlalu, acara pertunangan Aurel sebentar lagi akan segera digelar. Wisnu sudah pusing memikirkan bagaimana caranya untuk menggagalkan acara pertunangan sahabatnya itu.
“Apa harus aku merelakannya?” gumam Wisnu dengan isi pikiran dan perasaannya yang kacau. Ia mengacak rambutnya dengan kasar, lalu berkacak pinggang berjalan kekanan dan ke kiri berulang kali.
Devan yang melihatnya, ia mengernyit heran, ia tidak tahu apa yang tengah terjadi pas bosnya tersebut, akan tetapi, kalau di lihat dari kaca matanya, sepertinya Tuannya itu tengah dirundung masalah serius.
“Tuan, apa Anda baik-baik saja?” tanya Devan memberanikan diri.
__ADS_1
Wisnu terhenti, lalu memandang Devan dengan tatapan yang sulit dijelaskan, kilatan cahaya matanya membuat Devan sedikit menunduk takut.
“Dev, apa kau tahu tempat menyewa perempuan?” tanya Wisnu, membuat Devan mengerungkan dahinya begitu bingung.
“Ma-maskud, Tuan, wanita panggilan?” tanyanya agar tidak salah paham. Wisnu mengangguk dengan tatapan sinisnya.
“A-ada, Tuan,” jawab Devan gugup.
“Kalau begitu, beri aku satu wanita yang pandai bersilat lidah,” titah Wisnu, dengan serius.
“Ba-baik, Tuan. T-tapi untuk kapan?” tanya Devan.
“Malam ini. Secepatnya malam ini kau harus mendapatkannya,” ucap Wisnu, dengan pandangannya yang lurus entah menatap apa, tetapi seolah ada rencana yang ingin ia lakukan.
Devan pun pergi ke luar ruangan, untuk segera menghubungi mucikari yang bisa memberikan anak buahnya mala mini. Meski agak ragu, dan merasa tidak enak hati, tapi tetap Devan harus menjalankan tugas dari tuannya tersebut.
“Kau tidak boleh menjadi milik orang lain, Aurel. Tunggu aku beberapa bulan lagi, setelah aku melepaskan dia, aku pasti akan memilikimu Aurel,” ucapnya dengan tekad yang menggebu-gebu.
***
Wisnu sore tadi tidak pulang ke rumah, ia sudah menghubungi mamanya agar tidak menunggu kepulangannya. Dan tepat pada pukul 21.00 malam ini, Wisnu masih berdiam di area parkir sebuah hotel.
Ia tengah mengintai seseorang yang tak lain ialah, Gabriel—calon tunangan Aurel. Wisnu ingin menjabak lelaki bernama Gabriel itu karena ia merasa, Gabriel bukanlah pria yang pantas untuk Aurel.
Jelas Wisnu merasa bukan Gabriel yang pantan untuk sahabatnya itu, karena hanya dirinya lah yang merasa pantas untuk mendampingi Aurel sebagai kekasihnya.
“Haha, kena juga kau Gabriel,” gumam Wisnu begitu puas, saat ia melihat mobil Gabriel sudah datang, dan parkir tak jauh di depan mobil Wisnu.
Wisnu masih tetap mengintai Gabriel yang kini tengah merangkul seorang wanita. Wanita bayaran yang dipanggil Dave tadi siang demi memenuhi keinginan Wisnu.
Wisnu langsung mengeluarkan ponsel miliknya. Dari dalam mobil ia diam-diam mengambil potret Gabril dan wanita bayaran itu yang tengah saling merangkul satu sama.
Wisnu menyeringai, ia pun keluar dari dalam mobilnya untuk menguntit Gabriel dengan wanita itu. Ia juga memerintahkan beberapa pekerja hotel untuk menyiapkan kamar hotel bagi Gabriel dan wanita itu.
__ADS_1
Kini Gabriel sudah memasuki kamar hotel. Ia berbincang manja dengan wanita yang sudah menggodanya di caffe tadi, yang membawanya untuk one stag nigt dengannya.
Gabriel tidak tahu, kalau di kamar tersebut sudah di pasang kamera di beberapa sudut kamar yang tak terlihat oleh mata. Gabriel mulai memeluk wanita tersebut, dia mulai mengatakan kata-kata romantic, mulai dari memuji kecantikannya, bodynya, serta rambutnya, semuanya Gabriel puji.
“Apa kau selalu secepat ini dengan wanita lain?” tanya wanita panggilan itu.
“Tidak, Sayang. Aku jarang melakukan hal seperti ini pada wanita lain. Tetapi, kalau denganmu entah kenapa, kau begitu menarik perhatianku,” ucap Gabriel dengan tatapannya yang penuh nafsu. Dan pada akhirnya tautan bibir pun terjadi di antara keduanya, tampak begitu memanas.
Wisnu yang memantau lewat kamera yang ia simpan, ia menyeringai saat melihat adegan tersebut di layar tab-nya.
“Kau benar-benar lalaki kurang ajar. Tidak pantas Aurelku bersanding denganmu, brengs*k!” gumamnya.
Setelah beberapa menit, akhirnya Wisnu menutup layar tabnya. Ia sudah merasa cukup puas dengan semua itu. Rekaman itu cukup untuk membuktikan kepada Aurel, bahwa Gabriel bukanlah orang yang baik.
Ia pun segera pulang ke rumah. Mengendarai mobilnya sendirian. Di sepanjang jalan, ia memikirkan rencana selanjutnya. Apakah ia harus mempermalukan Gabriel di acara pertunangannya nanti, atau ia harus memberi tahu Aurel dari sekarang. Ia bingung antara dua hal yang ada dalam rencananya itu.
Wisnu keluar dari mobilnya. Ia sudah sampai, lalu berjalan menuju teras rumah. Dan seperti yang sudah pernah terjadi. Sebelum Wisnu mengetuk pintu, GRey sudah terlebih dahulu membukanya, dan menyambut kedatangan Wisnu, meski Wisnu pulangnya sudah semalam ini.
“Mas, kamu udah pulang,” ucap Grey mengembangkan senyumnya.
“Kau bisa lihat ‘kan? Kalau aku sudah ada di sini, ya aku sudah pulang!” serunya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Grey sendirian.
Grey langsung mencebikan bibirnya. Ia merasa begitu kesal, karena sudah beberapa hari ini, Wisnu selalu bersikap dingin dan kasar padanya. Seolah Wisnu yang baru pertama ia kenal, kembali ada di jiwa Wisnu yang sekarang ini.
Grey mengembuskan nafasnya, lalu menutup pintu rumah dan menguncinya. “Sabar Grey … tenanglah, sebentar lagi,” gumamnya dalam hati, seraya memejamkan matanya pasrah.
Akan tetapi, saat ia hendak meniti anak tangga, tiba-tiba ia menemukan selembar foto cetak. Ia mengkerutkan kedua alisnya, menilik foto tersebut. Foto, orang yang sedang berciuman.
“Foto siapa ini?” gumamnya heran dan penasaran.
.
.
__ADS_1
Bersambung...
Terima kasih buat teman-teman yang masih mengikuti cerita ini sampai sini. Semoga sehat selalu dan lancar rezekinya ya.