
Sore itu, Grey mendatangi rumah tantenya, di sana terlihat sepi tidak ada orang. Grey berteriak beberapa kali, tapi tidak ada sahutan. Lalu dirinya pun menelepon tantenya.
“Assalamu'alaikum, Tan,” ucap Grey begitu sambungan teleponnya terhubung.
“Wa'alaikumussalam, iya, ada apa, Grey?” suara Tante Sarah di balik ponsel.
“Tante ada di mana? Aku sudah menunggu tante di depan rumah tante sejak tadi.”
“Mau apa kau datang ke rumah? Tante sedang ada di restoran dengan om kamu.”
“A-anu, Tan, sebenarnya ... a-aku ada yang ingin dibicarakan dengan Tante soal kehamilanku,” ucapnya ragu, karena ia baru berani berbicara setelah kurang lebih dua minggu setelah kabar kalau dirinya dinyatakan hamil.
“Apa?! Jadi kau beneran hamil?” suara Sarah terdengar memekik seolah shock.
z
“Aku ingin berbicara langsung dengan, om dan Tante.”
“Ya sudah, tunggulah! Tante dan om akan segera pulang.”
Tut, tut, tut ....
Sambungan telepon pun terputus. Grey mendudukan dulu tubuhnya di atas kursi santai yang ada di teras. Ia juga mengirimkan pesan whatsapp kepada wISNU, memberi tahu suaminya, kalau dirinya akan pulang malam.
Akan tetapi, ia teirngat akan Viona yang sering marah-marah kalau dirinya pulang telat. Lalu Grey pun menghubungi Viona lewat DM instagramnya.
Grey:
Viona, aku izin akan pulang malam. Aku sengaja menghubungimu, karena takut Mas Wisnu tidak pulang cepat juga. Tolong sampaikan kepapa papa dan mama juga ya, aku ada di rumah tanteku.
Begitu lah pesan yang Grey kirimkan pada adik iparnya itu. Ia pun mengotak-atik handphonenya. Masih bergulir di halaman instagram. Tiba-tiba sebuah akun gosip membawakan berita tentang seorang wanita yang gagal bertunangan.
Grey mengkerutkan keningnya. “Loh, bukannya perempuan ini yang waktu itu pergi bersama mas Wisnu ya?” gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Grey juga melihat siaran video tersebut, di mana sang pria ditampar keras oleh ayahnya. Tapi, sejenak mata Grey terfokuskan akan sebuah sosok lelaki, yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Loh, itu kan mas Wisnu,” ucapnya pelan.
Ia pun kembali berpikir, bahwa beberapa hari yang lalu saat Aryo pernah mengajaknya untuk keluar malam-malam itu ternyata mereka mau menghadiri acara pertunangan gadis ini.
“Oh... jadi malam itu dia ingin menghadiri acara temannya ini. Tapi kenapa pas aku tanya dia malah gak menjawabnya ya? Beda dengan Aryo yang bukan siapa-siapanya aku, tapi malah dia yang ngajak aku,” gumamnya pelan.
Sebenarnya jika Wisnu dibandingkan dengan Aryo, Grey memang jauh lebih nyaman dengan Aryo mantan kekasihnya tersebut, tetapi itu dulu. Tidak dengan sekarang, karena Grey juga sudah tahu dirinya sudah menjadi hak siapa. Dan tentunya Grey sudah membuang jauh-jauh rasa nyamannya itu dari Aryo. Dan masih berusaha mencoba untuk bisa nyaman bersama suaminya yang sangat dingin ini.
Grey mengerjap, saat pikirannya jadi teringat kepada Aryo, bahkan sampai membandingkan suaminya dengan mantananya tersebut.
“Astaghfirullah ... Ya Allah maaf, ngapain juga aku bandingin dia dengan mas Wisnu,” gumamnya pelan.
***
“Apa?! Kamu hamil?!” pekik Sarah begitu terkejut saat Grey memberi tahukan semuanya.
Grey yang duduk di samping Sarah, ia hanya mengangguk mengiyakan, dengan perasaan yang berdebar tidak karuan, takut kalau tante dan omnya akan marah.
Rama juga sama, ia hanya bisa diam terkejut saat tahu kalau keponakannya itu hamil.
“Sudahlah, tidak apa-apa. Selagi masalah Grey dengan Aryo tidak diketahui oleh siapapun, semuanya pasti aman. Lagi pula, anak yang dikandung Grey bisa jadi anak Wisnu juga ‘kan?” ucap Rama dengan serius.
Sarah terdiam, membenarkan ucapan dari suaminya. Lalu ia pun kembali menoleh ke arah Grey. “Baiklah, untuk saat ini semuanya aman, yang pasti. Kau harus menutup rapat tragedi waktu itu, jangan sampai ada kebocoran atau ada orang yang tahu masalah itu selain kita bertiga. Kau paham, Grey?!” tanya Sarah begitu serius, yang dijawab anggukkan mengerti oleh Grey.
***
Waktu berlalu begitu saja, tidak terasa kini usia kandungan Grey sudah menginjak 12 minggu. Semenjak tahu Grey hamil, sikap Wisnu kepada Grey seolah berubah, pria itu memperlakukan istrinya itu jauh lebih dingin, bahkan kerap tak menjawab pertanyaan Grey, bahkan jika Grey mengajak mengobrol pun, Wisnu selalu mengabaikannya.
Akan tetapi, dibalik sikap dingin Wisnu, ada lelaki yang lebih peduli dan perhatian padanya. Siapa lagi kalau bukan Aryo—mantan sekaligus adik iparnya.
Dan tepat pagi ini, Aryo datang membawakan surabi hangat untuk Grey. Akan tetapi ada sesuatu yang berbeda saat ini. Jika pada biasanya Grey selalu menolak pemberian darinya secara mentah-mentah, entah kenapa tiba-tiba hari ini Grey langsung menerimanya begitu saja, bahkan sampai mengucapkan terima kasih pada Aryo.
__ADS_1
“Kamu jangan berpikiran aneh-aneh, aku menerimanya karena dari semalam aku menginginkan ini. Terima kasih,” ucapnya judes tapi malah membuat Aryo senang bahkan langsung tersenyum lebar saat mendengarnya.
“Wah bisa pas gitu ya. Oke sama-sama, kalau kamu ingin sesuatu bilang sama aku aja, nanti aku belikan kok,” tawarnya.
“Hm, makasih.” Grey tidak ingin berbicara panjang lebar dengan Aryo. Meski sebenarnya Grey sedikit kasihan pada Aryo karena usahanya yang berulang kali untuk mendekati dan memperlakukannya dengan baik, tapi sebagai istri yang solehah, ia harus menghargai suaminya, ia harus menjaga jarak dengan iparnya itu, karena Grey tahu, ipar itu ibarat ular beracun dalam rumah tangga.
Grey dan Aryo pun berjalan menuju mejaka makan, dan saat itu pula Wisnu baru turun dari tangga.
Wisnu melirik ke arah bingkisan yang ada di tangan Grey. Menatapnya tajam lalu bertanya.
“Bingkisan apa itu?” tanya Wisnu sinis.
“Oh, ini surabi dari Aryo,” jawab Grey pelan.
Aryo dengan santainya berjalan ke arah Wisnu. “Makanya Nu, kalau istri kamu lagi ngidam itu ya dibeliin dong, jangan sampai nanti anaknya ngeces loh,” ucap Aryo sembari merangkul bahu Wisnu, berjalan menuju meja makan.
“Ya lagian ada-ada aja, pengen surabi jam dua malem. Orang jam segitu istirahat! Enggak ada yang jualan. Ngidam kok aneh-aneh!” gerutunya membalas ucapan Aryo.
“Haduh... Wisnu ... Wisnu ... Makanya jangan kepikiran si Au—” Aryo langsung menghentikan ucapannya, lalu menyengir ke arah Wisnu.
Wisnu langsung memandangnya kesal, karena hampir saja Aryo keceplosan mengatakan nama Aurel, dan hal itu bisa berakibat fatal kalau sampai Cakra, Shindy, Grey dan Viona yang ada di dapur mendengarnya.
Bahkan sebenarnya, Cakra sudah melarang Wisnu dan Aryo untuk berhubungan dengan keluarga Aurel, karena Ckara mempunyai pengalaman buru bersama keluarganya Aurel itu. Makanya, mereka tidak pernah suka mendengar ada yang menyebutkan nama Aurel di rumah ini.
“Sorry,” bisiknya pada Wisnu lalu mencari tempat untuk duduk.
"Dasar! Hampir saja dia menghabisiku! Kalau papa dan mama tahu, bisa-bisa aku kena marah," gumam Wisnu dalma hati, lalu segera duduk di samping Grey untuk ikut sarapan pagi bersama.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....