Noda Pengantin

Noda Pengantin
Tragedi Di Pesta


__ADS_3

Tepat pukul 20.30 malam, Cakra dan keluarganya sudah sampai di villa milik Pak Albert, di mana sebuah pesta meriah tengah di adakan di sana.


Grey malam ini tampil dengan sangat rapi dan anggun, menggunakan gaun berwarna navy berbahan satin dengan aksen swarovsky di bagian tengah perutnya serta hiasan tile di bagian dadanya yang membuat penampilannya semakin glamour.


Begitu juga dengan Viona, gadis SMA itu malam ini tampil jauh lebih sopan dari biasanya, menggunakan dress panjang berwarna mocca, dengan rambutnya yang dicurly seindah mungkin.


Sementara Aryo dan Wisnu, mereka tampil seperti biasanya, memakai baju formal, mengenakan kemeja dan jas yang biasa mereka pakai ketika berangkat ke kantor, hanya saja, gaya rambut mereka yang sedikit membedakan. Lebih terlihat santai dan tampan.


“Wah, terima kasih Tuan Cakra, sudah hadir semuanya ke acara saya,” ucap Albert bersalaman dan sejenak memeluk Cakra.


Albert juga menyalami semua keluarga Cakra, termasuk kepada Grey. “Loh, ini ya, menantumu itu?” tanya Albert. Cakra mengangguk mengiyakan.


“Wah ... cantik, sudah ngisi ya?” tanya Albert. Grey pun mengangguk mengiyakan.


“Wah beruntung sekali, selamat ya. Semoga nanti lahirannya lancar,” ucap Albert kepada Grey.


“Aamiin, terima kasih Tuan, atas doanya,” ucap Grey begitu sopan.


Albert mengangguk tersenyum, lalu mengajak mereka semua untuk menikmati hidangan yang sudah ada di sana.


Dewi dan Shindy juga berpisah dari Aryo dan Grey, mereka berdua pergi untuk menemui beberapa ibu-ibu lainnya untuk saling mengobrol.


Sementara Viona, ia masih mengintili Aryo, lalu meminta Aryo untuk menemaninya minum.


“Kak Aryo, ambil juice yuk! Aku haus nih,” ucap Viona bergelayut manja di tangan Aryo.


“Ayo,” jawab Aryo dengan semangat.


“Oh ya, Grey kamu mau minum juga? Mau aku ambilkan?” tawar Aryo secara spontan, membuat Grey merasa tidak enak mendengarnya, lalu menoleh sekilas ke arah Wisnu.


Aryo yang paham akan kesalahannya, ia pun ikut menawari Wisnu. “Kamu juga, Nu, mau sekalian aku ambilkan minum?”


Wisnu sejenak melirik sinis ke arah Grey dan Aryo secara bergantian. Begitu pun dengan Viona yang merasa ada hal aneh yang disembunyikan antara Aryo dan kakak iparnya itu.


“Kak Aryo kok perhatiannya beda banget sih sama Kak Grey. Apa mereka sebelumnya pernah saling kenal ya?” batin Viona sedikit curiga.


“Tidak usah, aku akan mengambilnya sendiri,” jawab Wisnu.


“A-aku juga, aku akan mengambilnya nanti bareng Mas Wisnu aja,” ucap Grey.


“Kalau mau minum sekarang, kamu bisa pergi aja, enggak usah nunggu aku,” ucap Wisnu dengan nada yang terdengar dingin, membuat hati Grey sedikit tersentil merasa miris.


“Ah t-tidak kok, a-aku belum haus,” jawab Grey kepada Wisnu.


Viona berdecak. “Ah udah ah, ayo Kak Aryo kita berdua aja yang ke sana!” ucap Viona langsung menarik tubuh Aryo dan membawanya ke meja minum.


Selagi menikmati dan meneguk minumannya, pandangan Aryo tidak luput dari Grey dan Wisnu yang masih berdiri di dekat pohon pohon kamboja yang ada di taman.


“Kurang ajar! Kenapa dia harus bersikap sedingin itu kepada Grey!” batin Aryo sedikit kesal melihat sikap Wisnu yang sangat cuek kepada Grey.


Meski Aryo sangat menyayangi Grey, tapi melihat Grey diperlakukan seperti itu oleh Wisnu, ia sedikit tidak terima, karena dia melakukannya di tempat umum seperti ini.

__ADS_1


___


“Mas, kamu kenapa sih, kok kayaknya enggak mau deket-deket sama aku?” tanya Grey meminta kejelasan, karena jujur saja ia pun sedikit kesal dengan sikap Wisnu yang sangat dingin dan cuek padanya.


“Masih tanya kenapa!” ucap Wisnu, berdecak sinis.


“Aku heran aja, kok setelah tahu aku hamil sikap kamu sama aku jadi makin dingin. Ya meski aku tahu, sebelumnya sikap kamu sama aku emang dingin, tapi entah kenapa setelah aku hamil kamu jadi kayak mau ngejauhin aku,” lirih Grey pelan, mengutarakan seluruh isi hatinya.


Wisnu seolah tidak ingin peduli. Ia malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. “Aku lagi males ngomong,” ucap Wisnu tanpa melihat ke arah Grey.


Grey menarik nafasnya pelan, mencoba tidak terbawa emosi dengan sikap suaminya itu.


Sungguh hatinya saat ini begitu terasa sesak, bahkan sekedar menelan saliva saja ia kesulitan, seolah ada yang mencekat di tenggorokannya.


Tidak ingin terbawa dalam emosi dan rasa sakit di hatinya, Grey pun melangkah pergi meninggalkan Wisnu di sana, dan memilih untuk mencicipi makanan dan minuman yang tersedia di beberapa meja sana.


Wisnu menoleh melihat kepergian istrinya itu, lalu ia hanya tersenyum sinis. Tidak ingin menghiraukannya.


Sementara Viona dan Aryo yang sejak tadi memerhatikan mereka, keduanya jadi terheran-heran.


“Kak Grey pasti lagi berantem sama Kak Wisnu,” gumam Viona melihat Grey yang menjauh dari Wisnu.


Jadi acara yang mereka hadiri waktu itu adalah acara pesta ulang tahun pernikahan Tuan Albert dengan istrinya. Acara tiup lilin dan membagikan kue anniversarry pun sudah dilakukan dengan sangat meriah.


Alunan musik jazz serta biola mengiri di sepanjang acara. Membuat acara ini semakin terasa mewah dan meriah.


Grey berdiam di tepi kolam, Aryo pun mendekatinya.


Grey menoleh. “Enggak, biasa aja,” jawabnya jutek.


Aryo tersenyum kecut mendengarnya. “Oh ... biasa aja ya!”


“Ya udah, nih!” Aryo memeberikan satu gelas minuman di tangannya kepada Grey.


“Minum, nanti dehidrasi lagi, apalagi diem di pinggir kolam kayak begini, nanti kalau oleng bahaya,” ucapnya bercanda.


Grey pun menerimanya, lalu meminumnya. Namun baru saja ia sekali meneguknya, Grey langsung membekap mulutnya dengan sebelah tangannya. Entah kenapa, ia begitu mual merasa wangi strawberry dari minuman tersebut.


“Emh!” Grey menggeram tidak jelas sambil memberikan kembali gelas tersebut ke tangan Aryo.


Dan saat ini, yang ingin Grey lakukan adalah berlari untuk pergi ke kamar mandi. Ia benar-benar tidak tahan dengan minuman yang ada di mulutnya saat ini.


Namun, begitu ia membalikkan badan dan ingin melangkah pergi, entah kenapa, tiba-tiba tubuhnya oleng dan ia pun langsung tercebur begitu saja ke dalam kolam renang yang kemungkinan cukup dalam.


Byur!!!


Semua mata langsung memandang ke arah suara ceburan air tersebut, termasuk Shindy dan Dewi yang tengah asyik menikmati kue bersama teman-temannya di meja sana.


Bahkan, Wisnu yang tengah asyik memainkan ponselnya di dekat pohon kamboja, ia pun langsung mengalihkan pandangannya ke arah kerumunan orang.


“Grey!” Aryo berteriak begitu terkejut saat melihat gadis tersebut tercebur ke dalam kolam.

__ADS_1


Wisnu yang mendengarnya, ia langsung bergegas berlari mendekati kolam. Namun, baru saja beberapa langkah ia berlari, ternyata Aryo lebih dulu terjun ke dalam air untuk menyelamatkan Grey.


Aryo begitu panik dan takut, karena dibanding keluarganya yang lain, dirinya lah yang lebih paham dengan sosok Grey. Apalagi Aryo sangat tahu, kalau Grey tidak bisa berenang.


Grey yang tengah kelabakan karena tidak bisa menapakkan kaki di alas kolam renang, ia hanya bisa melambai-lambaikan tangannya berusaha untuk tetap memunculkan kepalanya di atas air, tapi gerakannya malah membuatnya semakin tidak bisa mengendalikan diri dan ia pun secara tidak sengaja menghirup air kolam dengan hidungnya, yang membuat pernafasannya langsung terganggu.


Grey terbatuk dan tersedak, ia tidak bisa untuk berteriak meminta tolong. Namun untungnya dengan cepat, Aryo berenang ke tengah menarik tubuhnya, membuat Grey langsung memelukkan kedua tangannya di leher Aryo.


Wanita itu benar-benar ketakutan, seluruh tubuhnya menggigil dengan air mata yang deras membasahi kedua pipinya, namun tidak terlihat karena bercampur dengan tetesan air kolam.


“Tenanglah, Grey,” ucap Aryo menepikan Grey ke sisi kolam, tepat tangga kolam ada di sana.


Grey yang masih ketakutan karena baru saja ia hampir kehilangan nyawanya, ia pun memegang tangga besi itu dengan kuat.


Wisnu segera berlari mendekati mereka, lalu mengulurkan tangannya kepada Grey yang masih ada di dalam kolam.


Grey memegang uluran tangan Wisnu, lalu Wisnu pun segera menariknya.


Grey terduduk di tepi kolam dengan keadaan seluruh tubuh yang sudah basah kuyup dan kedinginan, bahkan seluruh badan yang gemetar dan air mata pun semakin deras membasahi kedua pipinya.


Wisnu langsung melepas jas yang melekat di tubuhnya lalu menerapkannya di punggung Grey, menutup setiap lekukan yang tercetak di tubuh istrinya itu.


Wisnu yang kebingungan ia tidak tahu harus apa. “Grey, ayo, kita pulang saja,” ucap Wisnu memegang kedua bahu Grey mencoba membantu istrinya itu untuk berdiri.


Grey hanya mengangguk sambil terbatuk-batuk karena kini hidungnya sangat sakit dan perih, juga ia merasakan hal tidak nyaman di dadanya.


“Ya Allah, Grey!” pekik Dewi dan Shindy yang baru saja mendekat di hadapan Grey. Kedua wanita itu begitu panik melihat menantunya yang sudah basah kuyup seperti itu.


Viona dan Cakra juga mendekat. Aryo pun baru naik ke atas permukaan.


“Nu, cepat bawa Grey ke rumah sakit, pernafasnnya pasti terganggu,” ucap Aryo dengan panik.


“Ya Allah ... menantuku! Wisnu, apa yang kamu lakukan sampai Grey bisa tercebur begini?!” Cakra tampaknya begitu emosi.


“Wisnu tidak salah, Pa. Grey tercebur karena aku,” ucap Aryo menyela. “Aku akan menjelaskannya nanti. Kita harus secepatnya membawa Grey ke rumah sakit sekarang juga.”


“Cepat, gendong istrimu ke mobil,” ucap Cakra kesal karena Wisnu malah ingin memapah Grey.


Wisnu pun menuruti perkataan papanya, dan ia pun segera memangku Grey dengan kedua tangannya membawanya pergi ke dalam mobil. Viona dan Aryo juga ikut.


Sementara Cakra, ia terlebih dahulu izin dan meminta maaf kepada Tuan Albert, karena keluarganya sudah membuat kekacauan di acara pestanya itu.


“Tidak apa-apa, pesta saya tidak kacau. Maaf saya juga tidak bisa ikut ke rumah sakit untuk memastikan keadaan menantumu. Saya hanya bisa mendoakan semoga saja menantu dan calon cucumu tidak kenapa-napa,” ucap Albert.


“Terima kasih, Tuan. Baiklah kalau begitu saya dan istri saya pamit dulu,” ucapnya. “Sekali lagi saya minta maaf atas semua kejadian ini.” Cakra, Shindy dan Dewi pun segera pergi dari sana untuk menyusul Wisnu dan Grey yang mungkin sekarang sudah ada di perjalanan menuju rumah sakit.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2