
Tidak ada tanggapan, mereka semua masih fokus akan makannya.
"Oh ya Kak Wisnu, kak Grey sama kak Aryo itu udah saling kenal ya?" tanya Viona tiba-tiba, lalu melahap makanannya.
"Mana Kakak tahu, tanya saja sama Papa! Papa 'kan lebih tahu soal dia," jawab Wisnu seolah tidak ingin mendengar pembahasan mengenai Grey. Bahkan hanya sekedar ingin tahu seluk beluk istrinya saja, ia sangat enggan.
Cakra berdecak pelan saat mendengar jawaban dari anak sulungnya itu. Lalu ia pun menoleh ke arah Viona. "Memangnya kenapa? Apa kak Aryo bilang sesuatu soal Grey sama kamu?" tanya Cakra.
Viona sejenak terdiam, mengingat percakapannya dengan Aryo semalam.
"Kamu harus baik sama dia, jangan jutek! Dia itu orangnya baik dan asik, coba deh kamu deketin."
"Loh, Kak Aryo tahu kak Grey asik dan baik, emang kalian akrab?"
"Emh, enggak akrab sih, cuma tahu aja."
"Tahu gimana?"
"Ya gitu lah. Udah, pokoknya kamu kedepannya coba baikin dia, deketin juga, apalagi dia orangnya penurut."
Viona menelan makanan yang tengah dikunyahnya itu, terlebih dahulu. Lalu menjawab pertanyaan Cakra yang selama beberapa detik ia abaikan. "Emh, kak Aryo bilang, kak Grey itu baik dan asik, dia nyuruh aku buat deketin kak Grey, tapi sebenarnya aku agak kurang suka sih sama kak Grey," imbuhnya.
Wisnu masih mencoba tidak peduli dengan ucapan adiknya, meski sebenarnya ia sedikit ada rasa penasaran soal Grey.
"Loh, enggak suka kenapa?" tanya Cakra.
"Enggak suka, soalnya dia keliatan mata duitan. Masa mau aja sih jadi gadis penebus hutang," ucap Viona tanpa pikir panjang.
Cakra yang hendak menyendokkan makanan ke mulutnya, langsung ia urungkan, ia menatap lekat ke arah anak bungsunya itu.
__ADS_1
"Viona! Dengarkan Papa!" seru Cakra, membuat Viona dan Wisnu yang tengah asik mengunyah makanan, langsung berhenti seketika dan menoleh takut ke arah Cakra.
"Kamu sudah dewasa, Viona. Sudah sepatutnya kamu bisa menjaga ucapanmu itu, jangan sembarangan dalam berbicara! Kamu tidak pernah tahu, hal apa saja yang sudah Grey lewati untuk berusaha membantu omnya dalam melunasi hutang. Kita juga tidak pernah tahu, derita sebesar apa yang sudah ditanggung oleh dia di usiannya yang masih muda. Meski sedikitnya Papa juga tahu, kalau kehidupan Grey sangat jauh dibanding dengan anak-anak seusianya. Dan dengan kamu mengatakan kalau dia mata duitan karena dia mau menjadi wanita penebus hutang omnya, jelas, perkiraanmu itu salah, Viona!"
Viona tercenung mendengar ucapan dari Papanya. "Ya ampun, aku salah bicara ya tadi?" gumamnya dalam hati.
"Papa tidak ingin, kamu berpikiran sedangkal itu, apalagi menyangkut orang lain!" seru Cakra masih begitu emosi.
"Papa harap, kedepannya, kamu bisa menjaga omonganmu itu, Viona! Kau paham?!" sentak Cakra, membuat Viona langsung menunduk ketakutan.
Shindy yang melihat anaknya diteriaki seperti itu oleh suaminya, ia sedikit merasa sedih dan kesal. Ia selalu megira, kalau ini hanyalah masalah kecil yang terlalu dibesar-besarkan oleh suaminya.
"Sudah, Pa. Jangan terlalu kasar sama Viona. Dia itu masih anak-anak."
"Anak-anak apanya! Dia sudah besar, sudah SMA, masih dibilaang anak-anak! Aku mengatakan seperti ini juga untuk kebaikan dia kedepannya agar anak bungsu kita ini tidak gegabah dalam ucapannya," jawab Cakra pada Shindy cukup emosi.
Shindy hanya bisa mendengus pelan, membiarkan cercaan dari suaminya itu masuk ke telinganya.
Cakra menyatukan kedua tangannya, mengepal, dengan kedua sikut yang bertumpu di atas meja makan, melayangkan tatapan serius kepada Wisnu.
“Winsu,” panggil Cakra pelan, menatapnya serius.
Wisnu yang nyaris melahap makanannya, langsung ia urungkan, dan beralih menatap serius ke arah papanya. Kedua mata antara Cakra dan Wisnu saling bertautan. Sebelum akhirnya Cakra kembali membuka suara untuk memberikan nasihat kepada anak sulungnya itu.
“Wisnu, jawab Papa dengan jujur.”
Keadaan tiba-tiba jadi hening, Shindy dan Viona ikut mengalihkan fokusnya ke arah Cakra.
“Apa kamu sebegitu terpaksanya menikah dengan Grey?” tanya Cakra tiba-tiba yang membahas menantunya secara mendadak.
__ADS_1
Wisnu menegrnyitkan kedua alisnya, ia benar-benar tidak suka, jika Papanya sudah membahas soal Grey dengannya. Ia terdiam tak berkutik sedikit pun, seolah enggan untuk melanjutkan obrolan seperti ini, karena ia tahu, ujung-ujungnya pasti akan berdebat.
“Iya, aku terpakasa. Aku terpaksa menikahinya hanya karena menuruti perintah, Papa!” Andai saja ucapan itu bisa ia lontarkan pada papanya, tentu, hal itu sedikit akan membuat hatinya merasa lega. Akan tetapi sayang, semua itu hanya mampu ia pendam di dalam hati dan pikirannya.
“Kenapa papa bertanya seperti itu? Bukankah aku sudah melakukan apa yang papa inginkan?” celetuk Wisnu, yang kemudian langsung melahap makanan yang ada di tangannya.
“Iya, tapi kenapa sikap kamu kepada Grey terlihat begitu cuek?”
Wisnu masih sibuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya, sambil membuang wajah, lalu setelah menelannya, ia mengambil segelas air putih dan meneguknya sekali. Setelahnya, ia pun kembali menatap serius kedua netra milik Papanya.
“Terus? Papa ingin aku bagaimana … bukankah wajar jika aku masih cuek kepadanya? Lagi pula diantara kami juga belum ada perasaan apa-apa. Menikah ya hanya sebatas menikah saja. Aku menikah karena menuruti perintah Papa, dan dia setuju menikah denganku karena omnya yang menjualnya kepada keluarga kita. Begitu bukan?” ucap Wisnu begitu berani.
Cakra terlihat sedikit emosi mendengar penuturan dari anaknya tersebut. Ada gemuruh kesal yang bertumpu di dadanya. Tapi, sebisa mungkin ia menahannya.
“Beraninya kau berbicara seperti itu pada Papamu ini, Wisnu!” seru Cakra, dengan raut wajah yang sudah berubah menjadi garang.
"Stop, Pa! Tidak perlu Papa berteriak seperti itu! ... Kenapa Papa bertanya soal ini kalau ujung-ujungnya Papa emosi dengan jawabanku!" ucap Wisnu masih dengan nada suaranya yang direndahkan, agar ia tidak begitu durhaka dalam berbicara pada Papanya. Ia pun bangkit dari duduknya dan bergegas pergi meninggalkan meja makan.
Cakra semakin emosi melihat tingkah laku dari anaknya itu. "Wisnu!" teriaknya berharap Wisnu akan menghentikan langkahnya. Namun sepertinya anak sulungnya itu benar-benar tengah muak. Wisnu terus berjalan keluar rumah dan masuk buru-buru ke dalam mobilnya, lalu pergi meninggalkan rumah begitu saja.
Raut wajah Wisnu tampak ditekuk. Lelaki ini benar-benar begitu emosi dengan papa dan juga istrinya.
"Argh! Sialan! ... Kenapa sih, harus wanita itu yang jadi istriku! Kalau saja dia tidak hadir dalam hidupku, sudah kupastikan, hubunganku dengan papa tidak akan seperti ini! Semua ini gara-gara dia! Dia memang biang masalah di keluargaku!" sungutnya, begitu kesal sambil memukuk-mukul setir mobil yang tengah dipegangnya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung....
Makasih yang masih setia baca cerita ini. Jangan lupa tabur like, komen dan votenya ya, terima kasih.