
Kumandang Adzan subuh, memanbungkan Grey dari tidur nyenyaknya. Ia menggeliat, meregangkan tulang-tulang punggungnya yang terasa kaku.
Ia membuka matanya pelan, masih dengan kesadarannya yang belum terkumpul sepenuhnya. Lalu, ia pun tersadar, akan sesuatu hal yang salah. Kenapa bisaa, dirinya tidur di atas ranjang yang tak seharusnya ditempatinya.
“Astagfirullahaladzim!” Grey terduduk, begitu terkejut saat mendapati tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi, hanya selimut tebal yang terbalut di setengah badannya. Buru-buru ia balutkan selimut itu hingga ke lehernya.
Kini sepintas bayangan dirinya dengan Wisnu tergambar jelas dalam ingatannya. Tentang semalam yang terjadi antara dirinya dengan Wisnu. Ia memegangi selimut itu semakin erat, memejamkan matanya merasa bersalah atas apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan suaminya.
Ia masih termenung dengan berbagai macam bayangan dan pikiran aneh di benaknya. “Ya Allah, bagaimana ini? Aku benar-benar bodoh, kenapa semalam aku tetap membiarkan Mas Wisnu menyentuhku," gumamnya menyesal.
Kini air mata memupuk di matanya. Ia benar-benar bingung, kalau kejadiannya sudah begini, bagaimana nasib dirinya ke depannya. Terlebih ia benar-benar menyesal karena hingga saat ini Grey masih diluput ketakutan akan ancaman dari om dan tantenya.
Ia pun kembali mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh isi ruangan, mencari keberadaan seseorang. Namun, netranya itu tak dapat mendapati siapa-siapa di sana, selain dirinya sendiri.
“Kemana Mas Wisnu?” gumamnya pelan. Tiba-tiba, jantungnya berdetak tak normal, seiring dengan hatinya yang terasa kalut. Ia mendesah pelan, kembali membayangkan bagaimana dirinya semalam merespon baik tiap sentuhan yang diberikan oleh Wisnu.
"Apa Mas Wisnu tahu kalau aku sudah tidak perawan lagi? Kenapa dia meninggalkanku setelah melewati malam panjang tadi?" gumamnya merasa tidak enak hati.
Ia mengingat kembali, bagaimana sikap Wisnu semalam. Sikap yang benar-benar jauh dari bayangan Grey. Semalam Wisnu tampak seperti orang lain, tidak seperti Wisnu yang biasanya dingin dan cuek.
"T-tapi, semalam Mas Wisnu bilang dia sadar. Lalu, kalau dia memang sadar, kenapa dia mau menyentuhku dan melanggar ucapannya?" batin Grey melamun.
Tidak ingin ambil pusing, Grey pun bergegas ke kamar mandi untuk mandi junub dan membersihkan tubuhnya terlebih dahulu. Di dalam kamar mandi, sambil membilas tubuh dengan sabun, Grey melamunkan sentuhan-sentuhan Wisnu semalam.
Ia tersenyum getir membayangkan adegan semalam. Lalu Grey memandangi tubuhnya yang masih menyisakan busa sabun, di depan cermin westafel. Matanya fokus melihat pada area lehernya yang dipenuhi oleh tanda kiss mark merah yang bertebaran begitu banyak.
Entah harus senang atau sedih, Grey begitu bingung dengan semua ini.
Ia pun berbalik, lalu kembali memasuki bathub untuk berendam membersihkan dirinya. Dan saat ia duduk, ia merasakan nyeri yang cukup dahsyat di bagian kepemilikannya di bawah sana. Ia meringis kesakitan, menahan rasa perih.
“Ya ampun Grey, jangan terus membayangkannya!” ia memejam malu.
Jujur saja, Grey merasakan ada kesenangan tersendiri saat tubuhnya disentuh oleh Wisnu, tetapi ia juga sadar bahwa Wisnu melakukannya hanya karena nafsu belaka, bukan karena rasa suka. Tetapi, saat ingat kejadian semalam, Grey tak bisa berbohong bahwa milik Wisnu, benar-benar bisa memanjakannya, memuaskan birahinya, dan membuatnya dirinya merasakan kenikmatan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan.
“Tidak, tidak, tidak. Aku tidak boleh memikirkannya terus. Cukup Grey, cukup kali ini saja, jangan sampai kamu melakukannya lagi,” batinnya.
Setelah berkutat di dalam kamar mandi kurang lebih setengah jam, kini Grey keluar. Setelah selesai solat subuh, Grey buru-buru bersiap untuk pergi ke kantor, karena jam yang sudah menunjukkan pukul enam pagi.
Setelah selesai berdandan, ia berdiri sejenak di depan cermin rias yang cukup besar. Memandangi pantulan dirinya di cermin tersebut.
__ADS_1
Kerudung berwarna putih bergaris salur hitam itu, ia balutkan di kepalanya. Terkadang Grey masih merasa, bahwa ia belum bisa menjadi muslimah yang benar. Meski dirinya terus mencoba memperbaiki diri dan akhlaknya, tapi mengingat dirinya pernah dikotori oleh Aryo, membuat Grey merasa kalau di dalam dirinya ada noda yang tidak bisa ia hilangkan.
"Ya Allah, apa di dunia ini hanya aku musimah yang begitu munafik bahkan tega membiarkan suamiku tidak mengetahui siapa aku sebenarnya? Apakah aku berdosa karena telah menutupi aibku ini?" lirih Grey, begitu berat.
Ia menarik nafas panjang lalu mengembuskannya pelan. Segala macam pikrian kini berkutat di kepalanya.
Setelah berdiam selama beberapa menit di depan meja rias, kini Grey menyelesaikan balutan kerudung di kepalanya, lalu ia segera turun ke bawah menghampiri Bi Iyam yang ada di dapur.
Bi Iyam yang tengah membereskan dapur, dengan ramah menyapa Grey.
“Eh, Non Anggreya, mau sarapan dulu, Non,” ucap Bi Iyam.
Grey mengangguk, sambil tersenyum ramah. “Oh ya, Bi. Bibi lihat mas Wisnu enggak?” tanyanya.
“Oh, tuan Wisnu tadi pagi-pagi banget udah berangkat kerja, katanya hari ini lagi ada proyek besar mau ke luar kota. Tuan Wisnu juga bilang, kemungkinan dia pulangnya tengah malam,” ucap Bi Iyam menjelaskan.
Grey yang baru saja mendudukan tubuhnya di atas kursi meja makan, ia hanya bisa tersenyum getir mendengarnya. Kepergian Wisnu yang mendadak tanpa memberi tahunya, seolah membuat Grey merasa sedang dihindari.
"Sadarlah Grey, kamu siapa? Kamu ini hanya waniat penebus hutang, bukankah Mas Wisnu sudah meenjelasakannya semalam? Kenapa kamu masih berharap kalau Mas Wisnu akan memberitahukan kegiatannya padamu," batin Grey, melamun sendirian. Entah kenapa tetapi seolah ada rasa kecewa yang menyeruak di hatinya, saat tahu kalau Wisnu mau pergi ke luar kota.
“Apa dia memang menghindariku ya?” gumamnya dalam hati menatap kosong meja makan.
“Non Greya,” panggil Bi Iyam lagi, membuat Grey langsung terperanjat, tersadar dali lamunan kosongnya.
Ia menoleh sambil mendongak menatap Bi Iyam. “I-iya, Bi ada apa?” tanyanya.
Bi Iyam tersenyum lebar. “Non mau sarapan apa? … Nasi goreng atau mau roti panggang?” tanya Bi Iyam.
“Oh, sa-saya mau nasi goreng aja, Bi,” jawabnya, langsung dibalas anggukkan oleh Bi Iyam, lalu Bi Iyam pun bergegas pergi mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Grey.
“Jangan melamun pagi-pagi, Non. Ini dimakan dulu sarapannya,” ucap Bi Iyam menyodorkan sepiring nasi goreng, lengkap dengan minumnya, lalu Bi Iyam pun pergi begitu saja meninggalkan Grey sendirian di meja makan.
***
Di kantor Aline Grup.
Pagi ini suasana kantor terlihat sedikit ricuh, beda dari biasanya. Grey baru saja menjejakan kakinya di gedung besar itu, dan saat ia berjalan menuju lift, semua orang melirik sinis ke arahnya. Membuat Grey merasa heran dan bingung.
“Kenapa dengan orang-orang ini? Kok mereka natap aku kayak begitu sih,” gumam Grey heran.
__ADS_1
Dan saat ia berdiri di depan lift, tiba-tiba dari belakang seorang pegawai perempuan menggunjingkan dirinya.
“Hm, mungkin … asisten baru GM kita ini pake sesuatu buat narik perhatian Pak GM,” ucap wanita yang ada di belakang Grey.
Grey terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. “Asisten baru?” gumam Grey dalam hati.
“Iya, biasanya sih kalau yang begitu, ya kalo gak pake tubuh, ya pake mantra,” balas salah satu temannya itu.
Grey tak ingin memedulikan ucapan yang terdengar sedikit menyakitkan di telinganya itu. Setelah lift terbuka ia pun masuk ke dalam lift, bersamaan dengan para pegawai lainnya, termasuk dua pegawai wanita yang baru saja menggunjingkannya.
Di dalam lift, sebagian dari mereka terdengar berbisik-bisik masih membahas persoalan asisten. Grey semakin dibuat tidak nyaman, ingin rasanya ia segera menemui Aryo untuk membatalkan pengangkatan jabatannya itu.
“Emang siapa sih yang diangkat jadi asistennya Pak Aryo?”
“Katanya dari divisi dua, gak tahu sih siapanya, tapi denger-denger calon asisten itu sering keluar masuk ke ruang Pak Aryo, dan denger-denger asisten baru itu punya hubungan spesial sama pak Aryo.”
“Iya, aku juga denger dari sekretaris Pak Aryo, kalau asisten baru itu suka keluar masuk ruangannya pa Aryo.”
Begitulah samar-samar obrolan dari para pegawai lain yang berdiri di belakang Grey. Grey seolah tak tahan mendengarnya, ia mencengkeram erat tali sling bagnya. Pikirannya semakin dibuat tidak tenang, ingin rasanya ia cepat-cepat menemui Aryo dan membatalkan pengangkatan jabatannya itu.
Dan saat lift terbuka, buru-buru Grey melangkah keluar dari lift yang menyesakannya itu. Ia masuk ke dalam ruang kerjanya, dan disambut dengan tatapan sinis dari temannya yang bernama Shasha.
“Grey, gue pengen ngomong sesuatu sama, lo,” ucap Shasha dengan mimik wajahnya yang tampak kesal, sambil berkacak pinggang berdiri di depan meja Grey.
“Ngomong apa? Serius banget kayaknya.” Grey menjawab seraya terkekeh garing.
“Udah, ikut gue ke ruang minum,” ucap Shasha berjalan terlebih dahulu meninggalkan Grey.
Grey yang baru saja meletakan tasnya di atas meja kerjanya, ia menautkan kedua alisnya, menggeleng pelan, merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya itu.
“Kenapa dia?” gumamnya dalam hati.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa kasih komentar terbaik kalian, dan author ucapkan terima kasih untuk kalian yang udah ngasih vote, hadiah, like maupun komentarnya buat author. Author sayang sama kalian. Semoga rezeki kalian makin lancar ya. sehat-sehat pembaca kesayanganku.