Noda Pengantin

Noda Pengantin
Manusia Keras Kepala


__ADS_3

Sama halnya dengan malam kemarin, malam ini, Grey juga harus tidur di atas sofa empuk di dekat jendela.


Dilihatnya, jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 23.24 malam. Grey menggeliatkan tubuhnya, membuka mata pelan sambil memejamkannya beberpa kali.


Ia termenung, lalu mencecap lidahnya, merasakan kerongkongannya yang terasa begitu kering kerontang, karena saat ini dirinya tengah kehausan. Dan dengan terpaksa, Grey harus bangun demi mengambil air minum untuk menyegarkan kerongkongannya.


"Ah, nyebelin banget sih! Haus tengah malam kayak begini," gerutunya, sambil menggaruk kepalanya yang masih berbalutkan kerudung segi empat berwarna cokelat.


Ia melirik ke arah ranjang besar yang ada di depannya. Suaminya tengah terlelap dalam tidurnya yang nyenyak. Grey mencibir melihatnya.


"Hm, pulas banget dia tidur," gumam Grey mencebikan bibirnya.


Ia pun segera bangkit dan mendekati dispenser yang ada di dekat nakas. Akan tetapi, saat ia menekan tombol power di dispenser itu, ternyata dispenser tersebut kosong, tidak ada airnya. Akhirnya, dengan terpaksa, Grey pun harus turun ke dapur untuk mengambil minum.


Keadaan rumah begitu gelap, hanya lampu dari dapur saja yang menyala. Pelan, ia meniti anak tangga. Melihat kesekeliling dan tidak ada siapa-siapa selain dirinya di ruangan yang besar itu. Detak jarum jam dinding yang berukuran besar, terdengar dari ruang tamu sana. Ia berjalan pelan, dan sedikit sempoyongan karena menahan beratnya rasa kantuk.


"Hoam ...." Grey menutup mulutnya, saat ia berulang kali menguap.


Sesampainya di dapur, ia membuka rak piring dan mengambil sebuah botol kosong dari sana. Lalu berjalan mendekati dispenser untuk mengisi botol tersebut dengan air minum.


Hawa dingin tiba-tiba menusuk pori-pori pundaknya. Ia jadi merinding, saat melihat kesekeliling, yang ternyata kalau dirasa-rasa rumah ini, sedikit menakutkan, apalagi keadaan yang begitu sunyi dan hening tanpa ada siapa-siapa seperti saat ini, membuat bulu kuduk Grey langsung berdiri.


Tiba-tiba ... kruwukkk ... kruwukkk ... perutnya berbunyi, menandakan cacing-cacing di dalam perut tengah demo, meminta makan.


“Astaghfirullah, ini perut malu-maluin banget sih, lapar tengah malem begini,” gerutunya kesal pada diri sendiri.


Ia pun membuka kulkas, kemudian berjongkok, mencari makanan yang sekiranya bisa untuk mengganjal perutnya.


“Ah, tepat sekali! Makan apel malam-malam begini, cukup kali ya nahan laper sampe besok pagi,” ujarnya seraya mengambil satu buah apel merah yang ada di rak kulkas paling bawah.


Namun, begitu ia menutupkan pintu kulkas. Tiba-tiba ... sepasang kaki sudah berdiri di dekatnya.


Ia begitu terkejut, dalam pikirannya selintas terpikir kalau itu adalah kaki hantu, Namun, saat ia mendongak, dirinya lebih diekejutkan dengan kehadiran seseorang yang ada di depannya saat ini.


Kedua mata Grey langsung membelalak, pun dengan detak jantungnya yang tidak normal.


"Kamu!" pekik Grey, langsung berdiri.

__ADS_1


Sosok lelaki yang paling dibencinya, tengah tersenyum lebar padanya. Siapa lagi, kalau bukan Aryo--mantannya.


“Hai, Sayang. Laper ya?” tanyanya sok ramah.


Grey menautkan kedua alis di wajahnya, ia enggan menjawab, seketika itu juga Grey langsung memasang wajah paling jutek bin sebelnya di hadapan Aryo. Ia mengayunkan langkahnya, hendak pergi dan mengabaikan Aryo di sana. Namun, lagi-lagi tangan Aryo berulah.


"Mau kemana? Kok buru-buru banget?" Sebbelah tangan Grey kini tengah ditahan oleh Aryo, lelaki itu menggenggam erat pergelangan tangan Grey, hingga Grey menepiskannya pun susah.


“Lepas!” ucapnya penuh penekanan, seraya memelototkan kedua matanya kepada Aryo.


Aryo menyeringai, alih-alih melepaskan dia malah semakin erat mengunci lengan Grey. “Kamu mau kemana, Anggreya? ... Kenapa harus buru-buru pergi?” tanya Aryo, begitu lembut, pun suaranya yang terdengar serak-serak basah, menggoda di telinga.


Grey masih tak menjawab, cukup sorot matanya saja yang mengartikan, bahwa ia benar-benar tidak suka kepada Aryo. Jangankan menjawab ucapan Aryo, menatap wajahnya saja, Grey begitu malas, lalu Grey pun mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Aryo menautkan kedua alisnya, ia tidak suka jika dirinya diabaikan seperti itu.


“Kenapa kau menghindar hah? Apa kau takut, hubungan di antara kita akan terbongkar?” tanyanya lagi dengan penuh percaya diri. Perlahan ia mengangkat tangan Grey, hendak mengecupnya, tapi dengan cepat dan sekuat tenaga, Grey menepiskannya dengan kasar, hingga akhirnya tangan Grey bisa lepas dari genggaman Aryo.


Rasa kesal kini bergemuruh di dada Grey. Wanita ini, begitu geram mendengar kata-kata menjijikan dari mantan kekasih yang kini berstatus sebagai adik iparnya tersebut.


Aryo mengulum lidahnya, sambil menyunggingkan sudut birbinya, terkesan sinis. “Haha Anggreya ... Anggreya ....” Ia tertawa meledek, lalu bekacak pinggang, dan merubah tatapannya yang semula sayu, kini menjadi tajam dan dalam. Lalu ia berpindah posisi, satu langkah di depan Grey.


“Apa kau melupakan perkataanku waktu itu Grey?!” tanyanya sambil mendekatkan wajahnya dengan wajah Grey, sedikit berkeliling mengitari tubuh Grey.


“Apa perlu aku tegaskan lagi? Kalau aku, akan tetap dan selalu menganggapmu sebagai wanitaku! Bukan iparku!” tegasnya menilik tajam kedua manik Grey.


Langkah Aryo perlahan terhenti di samping Grey, lalu ia pun berbisik. "Apa perlu, aku mengadukan soal kejadian di hotel waktu itu? ... Bahwa, kau pernah tidur dan memadu kasih denganku, Grey?" bisiknya pelan.


Grey membeliakkan kedua matanya, mengepalkan sebelah tangannya yang tengah menggenggam apel, merasakan emosi yang semakin memuncak di dadanya. Ia tidak habis pikir, kalau Aryo akan membahas soal itu lagi.


"Astagfirullah Aryo! Apa sih yang kamu mau dari aku!" seru Grey masih dengan nada suaranya yang pelan, karena takut ada orang rumah yang bangun karena suaranya.


Hening, keduanya diam dengan sulutan emosi dalam masing-masing pikiran mereka. Grey, dengan berbagai macam pikiran gundahnya, dan Aryo dengan obsesinya yang selalu ingin memiliki Grey.


Grey mengembuskan nafasnya pelan, meski masih tersulut emosi, tetapi ia harus bisa menegaskannya kembali kepada Aryo, bahwa dirinya sudah menjadi milik orang lain, miliknya.


"Baiklah, dengarkan aku, Aryo!" Grey mengambil nafas, mengaturnya agar dia tidak lepas emosi. "Aku sudah tidak ingin berurusan denganmu lagi. Hidup kita sekarang sudah berbeda, Aryo. Aku sudah memiliki suami, dan suamiku adalah saudaramu sendiri. Seharusnya kamu berpikir, Aryo! Tak sepantasnya kamu melakukan semua ini padaku atau pun kepada suamiku. Jalan kita udah berbeda! Dan aku tegaskan sekali lagi ... aku, bukan wanitamu! Aku ... Anggreya Mikayla, istri sah dari Mas Wisnu! ... Ingat itu!" serunya penuh penekanan.

__ADS_1


Lagi, Aryo hanya tersenyum kecut mendengarnya, kepalanya ibaratkan batu, sekalinya ia berpikir kalau Grey adalah wanitanya, kenyataan sebenar apapun akan tetap ia anggap bahwa Grey adalah wanitanya dan selamanya akan menjadi wanitanya.


"Dan aku tegaskan kembali, Anggreya! Aku ... Aryo, tidak peduli kenyataan apapun mengenai kamu, tapi akan kupastikan, kalau dirimu akan tetap menjadi wanitaku!" tegasnya penuh emosi.


"Dan itu, berlaku selamanya, Grey! Selamanya!"


Keduanya saling menatap tajam, dengan gemuruh emosi yang menguasai jiwa mereka.


"Dasar batu!" cerca Grey, karena sudah tidak bisa berkara-kata lagi.


Ternyata memang benar, berdebat dengan orang keras kepala itu sungguh melelahkan. Ibarat tong kosong nyaring bunyinya. Sebanyak apapun Grey beragument, entah itu benar atau pun salah, Aryo akan tetap berdiri pada pendiriannya dan pada pemikirannya sendiri.


Grey membuang nafas, begitu kesal. "Astaghfirullah ya Allah, cobaan apa ini? Kenapa orang seperti Aryo harus hadir di hidupku sih?!" batinnya, merasa begitu lelah.


Kini, kedua mata Grey tampak berkaca-kaca, gadis itu sepertinya benar-benar capek berada di posisi yang menurutnya sangat melelahkan. Hidup sebagai istri yang tidak dicintai, satu lingkup bersama orang yang mengambil kesuciannya, dan selalu berada di bawah tekanan dan ancaman dari om dan tantenya.


Jikalau, bunuh diri itu tidak dosa, mungkin Grey sudah melakukannya.


"Sudahlah, aku mau pergi," ucap Grey ingin mengakhiri semuanya.


Namun, dalam keheningan keheningan di antara keduanya, dan saat Grey hendak melangkah meninggalkan dapur, tiba-tiba. Lampu ruang tengah menyala, membuat keduanya begitu terkejut dengan kehadiran seseorang yang sudah berdiri di depan sana.


"Kalian?!"


.


.


.


Bersambung....


Waduh, siap-siap nih, pasang kuda-kuda buat kabuuurrr haha.


Maaf ya, author baru bisa update lagi, pekan ini benar-benar lagi sibuk banget ngurusin pindahan. Insyallah kalau semuanya udah beres, author update rutin lagi. Makasih juga buat para pembaca yang udah aktif komen di setiap babnya, author sayang kalian pokoknya.


Semoga kita semua selalu ada dalam kesehatan dan lindungan-Nya. Aamiin.

__ADS_1


__ADS_2