Noda Pengantin

Noda Pengantin
Gaun Tunangan


__ADS_3

Tiba-tiba.


“Apa yang harus digugurkan hah?!” suara seorang lelaki begitu lantang, terdengar marah.


sarah dan Grey langsung menoleh ke arah sumber suara. Dan betapa terkejutnya mereka saat Rama sudah berjalan ke arahnya, memasang wajah sangar dan menakutkan, seolah penuh emsoi.


“Apa yang harus digugurkan hah?” tanya Rama yang kini sudah berdiri di depan istri dan keponakannya.


“Om!” pekik Grey terkejut. Begitu pun dengan Sarah yang tidak kalah terkejutnya melihat suaminya sudah ada di rumah.


“Mas, k-kamu udah pulang?” tanyanya tak mengindahkan pertanyaan Rama sebelumnya.


“Apa dan siapa yang harus digugurkan hah?” tanya Rama, tanpa mendapat jawaban dari Grey maupun Sarah.


Ia pun menatap Grey dengan serius. Keningnya berkerut, matanya sedikit menyipit, lalu ia menebak. “Apa kau hamil, Grey?” tanya Rama tidak ramah.


Grey mendongak, emnatapnay bingung. “Hah? … E-enggak, Om. Eh, maksudnya a-aku gak tahu aku hamil atau enggak,” jawabnya jujur, dengan wajahnya yang berubah sendu.


“Maksudmu?” tanya Rama tidak paham.


“Mas, lebih baik kamu duduk dulu. Sekalian, aku ambilkan dulu minum untukmu ya,” ucap Sarah mencoba menenangkan Rama. Karena ia tahu bagaimana sifat Rama. Dan jika Rama tahu kemungkinan kehamilan Grey ini, pasti dirinya akan sangat marah.


Rama pun menurut, ia terlebih dahulu melepaskan jaket yang melekat di tubuhnya, lalu menyimpannya di bahu sofa begitu saja. Dan ia pun mendaratkan pantatnya di atas sofa empuk berwarna merah yang ada di dekat Grey.


Sementara itu, Ssarah pergi ke dapur mengambil minum untuk mereka bertiga. Dan setelah itu ia pun kembali, menyajikan minuman yang di bawanya di atas meja.


“Cepat, jawab Om, Grey! Apa maksud dari perkataanmu tadi?” tanya Rama, sesaat setelah dirinya meneguk air yang diberikan oleh Sarah—istrinya.


Akhirnya Grey pun menjelsakan ulang apa yang tengah ia rasakan dan apa yang sudah terjadi antara dirinya dengan Wisnu. Sepanjang menjelaskan, ketakuan kian menyelimuti pikiran Grey, apalagi saat melihat tatapan Omnya yang semakin membuat Grey takut untuk berkata jujur, semakin tampak rasa marah dan kecewa di wajah yang sudah mulai berkerut itu.


Rama juga sangat tidak percaya atas apa yang dilakukan oleh keponakannya. Ia tidak percaya kalau Grey akan seberani itu melanggar rencana yang sebelumnya mereka rundingkan.


“Terus, apa kau sudah yakin kalau dirimu hamil?” tanya Rama semakin menginterogasi. Grey menggeleng pelan sebagai jawaban.


“Ck!” Rama berdecak kesal. Ia pun berpikir mengenai masalah yang kemungkinan akan terjadi jika Grey benar hamil.


“Baiklah, sudah tidak ada yang kita harapkan, selain berharap kalau seandainya anak yang kamu kandung itu adalah darah daging suamimu sendiri,” ucap Rama.


Lalu, Rama pun kembali bertanya. “Berapa lama jarak antara Aryo dan Wisnu?”


Kedua mata Grey langsung memebelalak, saat pertanyaan yang dilontarkan omnya itu cukup menohok dan sangat intim sekali.


“Hah?” Grey seolah kebingungan tidak mengerti.

__ADS_1


“Berapa jarak hari antara Aryo dan Wisnu? Apa kau mengingatnya atau tidak?!” seru Rama memperjelas.


“Oh … a-anu … satu minggu, Om,” jawabnya pelan, dengan wajahnya yang sedikit memerah menahan malu yang teramat sanagt.


“Ya sudah, kalau begitu besok kau antar dia untuk USG ke dokter!” titahnya pada Sarah.


“Ti-tidak perlu, Om. Besok Shasha yang akan mengantar aku untuk USG di dokter kandungan yang ada di dekat sini,” sergah Grey.


Rama terdiam, “Hm, baiklah kalau begitu. Yang pasti, setelah kau mendapat hasilnya, kau harus memberi tahu Om dan Tante ya!”


"Baik, Om."


***


Dan keesokan harinya, saat sarapan pagi bersama, lagi-lagi Grey merasakan mual yang mengaduk-aduk di perutnya. Sungguh, kali ini rasa mualnya semakin menjadi, apalagi saat ia berada di meja makan.


Benci rasanya mencium bau makanan yang baru selesai di masak oleh Bi Iyam. Ingin rasanya Grey langsung pergi meninggalkan rumah itu sekarang juga, akan tetapi tidak enak rasanya jika ia tidak ikut bergabung sarapan pagi bersama keluarganya tersebut.


“Kau kenapa?” tanya Wisnu begitu heran melihat istrinya yang hanya diam memotong-motong sandwich yang ada di atas piring, tanpa memakannya.


“Hah?” Grey menoleh. “Oh nggak apa-apa,” jawabnya, lalu dengan cepat ia segera memasukan satu potong sandwich ke dalam mulutnya. Dan dengan terpaksa ia mengunyah sekaligus menelannya, meski pun sebenarnya ia benar-benar tidak menginginkannya.


“Grey, apa kau baik-baik saja? Wajahmu kok pucat kayak begitu? Kamu sakit ya?” tanya Cakra yang ikut menilik wajah Grey sedari tadi.


“Serius, kamu cuma masuk angin? Pergi ke dokter aja, biar ketahuan apa masalahnya,” timpal Shindy yang sepertinya ia mengerti dengan gejala yang timbul dari menantunya tersebut.


“Emh, i-iya, Ma. Nanti pulang kerja aku ke dokter kok,” jawabnya.


“Apa sebaiknya kamu istirahat aja?” usul Cakra yang tampak khawatir.


“Hah? … Enggak usah, Pa. Aku masih kuat bekerja kok. Gak apa-apa, aku udah biasa masuk angin kayak begini,” ucapnya lagi menjelaskan.


Dan di kantor, hari ini Aryo memberi sedikit pekerjaan kepada Grey. Seharian ini, dari pagi hingga siang, Grey hanya diberikan tugas untuk membuat ceklis di beberapa data yang terbilang sangat sedikit.


Sedangkan di perusahaan AF Group yang ada dalam naungan Wisnu. Saat siang hari, tidak ada hujan tidak ada angin. Aurel tiba-tiba datang ke kantornya untuk menemui Wisnu.


“Wisnu,” ucap Aurel begitu masuk ke dalam ruangan kerjanya.


“Aurel?” pekik Wisnu sedikit senang saat wanita dambaannya datang menghampirinya.


“Apa kau sedang sibuk?” tanya Aurel mendekati meja kerja Wisnu.


“Hah? Enggak kok, santai aja,” jawab Wisnu "Kenapa memangnya?"

__ADS_1


“Oh ya, Nu. Aku punya sesuatu nih buat kamu,” ucap Aurel dengan senyuman yang terkembang di wajahnya. Gadis itu tampak sangat bahagia.


Aurel pun mengeluarkan selembar kartu undangan dari dalam tas-nya, kartu undangan berwarna merah yang dibalut dengan hiasan pita mewah di bagian depannya.


“Apa ini?” tanya Wisnu penasaran seraya mengkerutkan kedua alisnya hingga bertautan.


“Undangan,” jawabnya.


“Undangan apa?”


“Kamu buka aja!” Aurel pun mengedarkan pandangan ke arah lain, sementara Wisnu kini ia tengah fokus akan isi dari kartu undangan tersebut.


Kedua netra Wisnu langsung membulat dengan sempurna, ia begitu terkejut saat tahu kalau Aurel, wanita yang selama ini menjadi dambaannya akan bertunangan dengan lelaki lain.


“Aurel ….” Wisnu berucap sedikit bergetar memanggil nama sahabatnya tersebut.


“Gimana? Kau terkejut? … Kau pasti tidak menyangka bukan. Dan kau adalah orang pertama yang aku beri undangan khsus ini,” ucapnya begitu semangat.


"Oh ya, nanti jangan lupa untuk hadir di pesta pertunanganku ya," lanjut Aurel masih dengan senyuman yang tidak menyurut sedikit pun dari wajahnya.


Wisnu masih diam terpaku, jantungnya seolah berhenti berdetak demi mendapat kabar mengejutkan ini. Ia tidak menyangka, kalau wanita yang selama ini sudah mengisi relung hatinya, tak lama lagi akan menjadi milik orang lain.


"Tidak! Ini pasti mimpi 'kan?" gumam Wisnu tidak ingin mempercayainya.


Aurel yang mendengar gumaman dari mulut Wisnu, ia terbahak, lalu dengan keras menepuk bahu Wisnu, hingga lelaki itu mengaduh merasakan rasa kebas di bahunya.


"Gimana? Yakin kan kalau ini bukan mimpi?" tanya Aurel menyadarkan.


Kini Wisnu memandangnya begitu serius. "Jadi ... gaun yang kamu beli waktu itu ...."


Aurel mengangguk melebarkan sneyumannya. "Iya, itu gaun untuk acara pertuanganku," tukasnya memperjelas.


"Gaun untuk tunangan?"


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa dukungan komentarnya di kolom bawah ya. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2