
~Rasa yang kumiliki, bukan hanya tentang, aku ingin hidup bersamamu, tetapi, bagaimana jika aku tak bisa hidup tanpamu.~ Aryo Moh Aronsky.
````
Malam ini, keadaan di rumah tampak cukup ramai. Karena Bu Dewi dan Aryo tidak pulang ke rumah kedua, katanya, mereka ingin menginap terlebih dahulu di rumah utama.
Jadi, tempat tinggal Dewi dan Shindy sengaja dipisah tidak satu atap, karena ditakutkan akan menimbulkan banyak masalah, jadinya Dewi dan Aryo lah yang harus mengalah untuk tinggal di rumah kedua. Akan tetapi, meski seperti itu, rumah serta fasilitasnya tetaplah sama dengan rumah utama. Hanya yang membedakan alamat tempatnya saja.
Setelah duduk di kursi masing-masing, melingkari meja makan yang sudah dipenuhi dengan berbagai macam hidangan yang menggugah selera, ada capcai yang masih panas mengepulkan uapnya, ada pula semur ayam kecap kesukaan Wisnu dan ada pula cumi bakar, udang asam manis, serta sayur sop dan sayuran mentah sebagai lalapan, tidak lupa sambal tomat yang tersedia satu cobek di meja sana.
Cakra mengajak anggota keluarganya untuk berdoa terlebih dahulu sebelum acara makan malam dimulai.
Dewi sibuk mengambilkan lauk pauk untuk Cakra, sementara Shindy sibuk menyiapkan minumannya.
Anggreya juga sibuk mengambilkan lauk pauk untuk Wisnu. Ini adalah pertama kalinya, ia menyiapkan makanan untuk lelaki yang sudah berstatus sebagai suaminya.
"Jangan pakai udang, aku alergi," ujar Wisnu, saat Grey hendak mengambil udang ke piringnya.
"Oh, baiklah." Grey pun mengambilkan satu potong ayam kecap, sayur sop, serta sambal ke atas piring yang di atasnya sudah ada nasi. Lalu memberikannya kepada Wisnu.
Viona yang baru saja selesai mengambil lauk untuk dirinya sendiri, ia sejenak melirik ke arah Aryo, yang menunggu Dewi, mengambilkan makanan untuknya. Sedangkan saat itu, Dewi tengah sibuk menyiapkan minum untuk Cakra--suaminya.
"Haha, kasian banget sih, gak ada yang ngelayanin," ledek Viona kepada Aryo sambil terkekeh. Aryo membalasnya dengan lirikan sinis.
Dewi tersenyum simpul mendengarnya. "Sabar, nanti juga kalau kamu udah punya istri, pasti bakalan ada yang ngelayanin," ucapnya.
__ADS_1
"Makanya, kalo punya pacar itu buru-buru kenalin sama kita, biar bisa langsung Papa lamar buat kamu," timpal Cakra sambil terkekeh kecil.
Aryo berdecak pelan, lalu tersenyum kecut, "Ya... mau gimana lagi, Pa, baru aja serius mau aku kenalin ke Papa, eh keburu diambil orang," tuturnya seraya melirik sinis ke arah Grey yang duduk di sebrangnya. Grey menunduk, tidak enak hati, dan berusaha untuk tidak memedulikannya.
Viona si Ratu Kepo, langsung menoleh ke arah Aryo yang duduk di sampingnya. "Emang Kak Aryo pernah gitu serius pacaran? Bukannya sukanya main-main doang!"
Mendengar hal itu Aryo langsung menoleh ke arah Viona. "Ya kamunya aja yang gak tahu!"
"Emangnya Viona gak tahu ya, 'kan waktu Kak Aryo pergi ke London itu gara-gara diputusin sama pacarnya, saking depresinya dia pergi ke London buat nenangin diri, sekaligus belajar mengurus perusahaan Papa yang ada di sana," tutur Dewi yang baru saja mendudukkan tubuhnya di atas kursi, setelah memberikan sepiring nasi serta lauk pauk lengkap untuk Aryo.
"Apa?! ... Jadi benar, kabar kalau dia pergi ke London karena putus dengan aku?" gumam Grey dalam hati. Sambil sibuk mengunyah makanan yang ada di mulutnya.
"Masa sih, seriusan emang, Kak?" tanya Viona kepada Aryo, untuk meyakinkan.
Aryo mengangguk sambil menyendokkan makanan ke mulutnya.
Grey masih terdiam fokus melahap makanannya, meski sebenarnya jantung dan hatinya sudah berdetak kencang tak karuan. Ia benar-benar takut kalau Aryo akan mengatakan bahwa wanita itu adalah dirinya.
Sekilas Aryo menatap sinis ke arah Grey. "Nanti kamu juga tahu kok siapa wanitanya. Malah, kamu bakalan sering ketemu sama dia," ucapnya penuh maksud.
Viona mengerutkan dahinya, heran. "Hah? Siapa sih, Kak?!" Viona masih begitu penasaran. Ia terus merengek kepada Aryo untuk diberi tahu siapa sosok wanita tersebut, tetapi Aryo hanya diam tak menjawab.
"Viona, udah! Cepat, habiskan makananmu!" tegur Wisnu, saat melihat adiknya sedari tadi hanya berbicara dan terus berbicara, tanpa mengindahkan makannya.
"Astagfirullah, kok bisa-bisanya dia berbicara seperti itu di depan keluarganya ini," batin Grey, yang begitu merasa semakin resah dengan keberadaaan Aryo di sekitarnya.
__ADS_1
***
Jam sudah menunjukkan pukul 22.30 malam, setelah berkumpul dan mengobrol bersama, kini mereka semua masuk ke dalam kamarnya masing-masing, termasuk Grey dan Wisnu.
Grey melangkah pelan mencoba mendekati Wisnu yang sedang sibuk menggulungkan selimut putih beserta bantal, entah untuk apa.
Tapi, tiba-tiba "Berhenti di situ!"
Langkah Grey, langsung terhenti dan mematung di tengah kamar. Wanita itu tampaknya kebingungan, kenapa suaminya sampai menyuruhnya berhenti seperti itu. Apakah di lantai kamar ini terdapat bom yang bisa diinjak oleh kaki? Atau mungkin karena alasan lain.
Demi memecahkan rasa penasarannya, Grey pun bertanya. "Kenapa?"
Namun, bukannya jawaban yang ia dapat, melainkan sebuah sodoran benda yang dibawa oleh suamminya itu, diberikan padanya.
"Ini!"
.
.
.
Bersambung
Lanjut lagi enggak nih?
__ADS_1
Hayo tebak, kira-kira apa nih yang dikasih sama Wisnu?