Noda Pengantin

Noda Pengantin
Anaknya?


__ADS_3

“Grey!” tegur Sarah, dari belakang.


Grey langsung membalikkan badannya, ketika mendengar suara tantenya. “Eh, Tante, Assalamu'alaikum, Tan.”


“Wa'alaikumussalam." Sarah mendekati Grey, lalu Grey pun mencium terlebih dahulu punggung tangan Tantenya,


"Ada apa kamu kemari,, Grey?” tanya Sarah mengerutkan kedua dahinya,merasa penasaran dan heran. Lalu ia menengok ke kanan dan ke kiri, seperti mencari keberadaan seseorang.


“Kamu ke sini sendiri atau sama suamimu?” tanyanya.


Grey tersenyum kaku. “Emh, sendirian, Tan. Pulang kerja langsung mampir dulu ke sini.”


“Loh, terus? Suami kamu tahu, kalau kamu datang ke mari?” tanya Sarah. Grey menyengir, sebelum ia menggeleng pelan.


"Hehe enggak, Tan." Grey tidak izin kepada Wisnu, karena ia tidak mempunyai ponsel, jadi ia tidak bisa untuk menghubungi suami atau keluarga dari suaminya itu, lagi pula Grey lupa tadi pagi ia tidak izin kepada Wisnu.


“Terus? Kamu mau ngapain ke sini?” Sarah langsung membuka pintu rumahnya dan mengajak Grey untuk masuk.


Mereka berdua mendaratkan tubuhnya masing-masing di atas sofa panjang yang ada di ruang tengah.


“Emh, begini, Tante. Dua hari yang lalu, saat om dan Tante pulang dari acara pernikahan aku, apa Tante dan om  langsung pulang ke rumah, atau mampir dulu ke suatu tempat?” tanya Grey, memberanikan diri meski ia sedikit takut dan ragu, karena ia hanya  ingin mengkonfirmasi soal Aryo yang babak belur karena dipukuli oleh seseorang.


Sarah langsung mengerti, arah pertanyaan yang diucapkan oleh keponakannya tersebut. “Oh, kamu pasti ingin menanyakan perihal ommu dan Aryo, ‘kan?” tanya Sarah, menatapnya sinis.


Grey langsung bengong, karena terkejut kalau Tantenya bisa paham akan maksud pembicaraannya. “I-iya, Tan, sebenarnya aku kemari ingin mengkonfirmasi soal itu.”


“Emh... jadi ... benar ya, kalau om yang mukulin Aryo sampai babak belur begitu?” tanya Grey sedikit takut.


Sarah kembali membenarkan duduknya dengan tegap, menatap Grey dengan tatapan tidak suka. “Kenapa memangnya? Kau kasihan dengan pria brengsek itu hah?!” tanya Tante Sarah menatap tajam kedua manik Grey.


Grey jadi gugup. “Ti-tidak, Tante, aku tidak kasihan padanya. Hanya saja ....” Perkataan Grey menggantung. Dan sebelum ia hendak melanjutkan ucapannya, tiba-tiba dari luar terdengar suara kenalpot motor moge, yang diketahui itu adalah suara motor milik omnya.


Dan ternyata benar saja, tak lama kemudian, Rama datang membawa dua kotak pizza di tangannya. Grey menoleh ke arah Rama yang tengah berjalan menghampirinya.


“Loh, Grey! Kok kamu ada di sini?” tanya Rama langsung menyimpan kotak pizza tersebut di atas meja bulat yang ada di dekatnya.

__ADS_1


“Ini, ponakanmu, Mas, masih saja dia mengkhawatirkan mantannya yang kurang ajar itu!” cetus Sarah sambil mendelik sebal, lalu berlalu menuju dapur untuk mengambil minum.


Rama membuka jaket hitam yang melekat di tubuhnya, menyimpannya begitu saja di lengan sofa, lalu ikut mendaratkan tubuhnya di sofa yang sama dengan Grey.


“Apa benar kau mengkhawatirkan dia, Grey?” tanya Rama dengan heran.


Grey langsung menggeleng. “Tidak, Om! A-aku tidak mengkawatirkan dia, lagi pula apa pedulinya aku tentang dia. Aku hanya mengkhawatirkan Om. Soalnya, papa Cakra pasti tidak akan diam saat tahu kalau anaknya dipukuli sampai babak belur seperti itu.”


Rama sedikit bingung, mendengar sebuah kalimat yang sedikit terdengar ambigu di telinganya. “Apa?! Anak?” tanya Rama, mengerutkan kedua alisnya.


“Iya Om, jadi ... sebenarnya Aryo itu anaknya papa Cakra dengan tante Dewi,” jawab Grey.


Kedua mata Rama langsung membulat sempurna, ia begitu shock mendengar perkataan Grey. “Apa?! ... Anaknya?” tanya Rama, merasa masih tidak percaya.


Bahkan, saat ini, mendengar kenyataan itu, bagaikan mendengar gledek di siang bolong.


"Iya, Om."


“Kau tidak berbohong ‘kan, Grey?” Kedua mata Rama masih membeliak.


“Tidak Om, aku tidak berbohong. Suamiku sendiri yang bilang, kalau Aryo itu adik tirinya.”


Grey mengembuskan nafasnya begitu berat, lalu menggeleng lemah. “Entahlah, aku pun sangat terkejut saat mengetahui kebenarannya.”


"Aku juga tahu kalau Aryo anak papa Cakra, pas di hari pernikahanku," jawabnya lemas.


Tiba-tiba Sarah datang, membawakan tiga gelas minuman dingin untuk ia, Grey dan Rama. Lalu ikut mendudukkan tubuhnya di samping suaminya.


“Tahu apa?” tanya Sarah, seraya mengambil minum miliknya.


“Tahu kalau Aryo adalah anaknya papa Cakra,” ulang Grey dengan polosnya.


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Sarah langsung tersedak oleh minumannya sendiri. Mulutnya kini basah dan belepotan oleh minuman yang baru saja diteguknya. Ia langsung menarik secarik tisu yang ada di depannya, lalu mengusapkannya ke area bibirnya.


“Apa?! ... A-Aryo anaknya tuan Cakra?” tanya Sarah, yang tak kalah terkejut mendengarnya. Lagi-lagi, Grey  menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


“Bagaimana bisa? Bukankah kamu dulu pernah bilang, kalau dia hanya anak dari seorang pemilik boutique?” tanya Sarah masih dengan perasaannya yang dag dig dug tak karuan.


“Iya, benar, dia memang anak dari seorang pemilik boutique, dan yang menjalankan boutique itu adalah mamanya, tante Dewi. Sedangkan papanya, adalah papa Cakra,” lanjut Grey menjelaskan.


Mereka semua termenung, diam tak berkutik sedikit pun. Keadaan dalam beberapa menit cukup hening, sebelum akhirnya Rama kembali membuka suara.


“Lalu, apa Aryo tinggal bersama kamu juga?”


“Tidak. Aryo dan tante Dewi tinggal di rumah kedua, tapi aku tidak tahu di mana tempatnya. Karena dulu, saat aku masih pacaran dengan Aryo, dia bilang kalau dia hanya tinggal di kostan kecil.”


Rama dan Sarah terlihat gelisah. “Gawat! Kalau dia memang adik tiri dari suamimu. Lalu bagaimana hubunganmu dengan Wisnu?” tanya Rama.


“Hah? A-aku dan Mas Wisnu, hubungan kita masih—” Sebelum Grey menyelesaikan ucapannya, Sarah terlebih dahulu memotongnya.


“Apa malam pengantin kalian berjalan lancar?” tanya Sarah begitu penasaran.


“Hah?” Grey kebingungan, antara ia harus jujur atau berbohong, kepada om dan tantenya perihal apa yang dikatakan Wisnu padanya, saat malam itu.


“Kau berhubungan dengannya atau tidak?!” tanya Sarah tidak sabar, dengan suaranya yang sedikit meninggi.


"Ya Allah, apa yang harus aku katakan pada om dan tanteku? Aku tidak ingin berbohong, tapi aku terlalu malu untuk mengungkapkaan semuanya, terlebih Mas Wisnu tidak menginginkan kehadiranku di sisinya, bahkan dia saja sampai bilang kalau dia akan membuat aku tidak betah tinggal dengannya. Bagaimana ini, ya Allah?" batin Grey, kebingungan.


"Kenapa diam saja?! Cepat jawab! Bagaimana hubunganmu dengan Wisnu? Kami perlu mengetahuinya, Grey!" imbuh Sarah sedikit memaksa.


Grey menarik nafas panjang.


Baiklah.


"Begini, Tante ... Om." Grey memandang keduanya secara bergantian.


"Sebenarnya, a-aku dan Mas Wisnu ...."


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2