
“Mas,” panggil Grey memberanikan diri.
“Hm,” balas Wisnu dengan malas, ia masih fokus dengan ponsel yang ada di tangannya.
“Emh, a-aku mau tanya sesuatu boleh?” ucapnya begitu pelan, dan hati-hati.
Wisnu langsung menoleh, dan menatapnay sinis.
“Tumben, biasanya kau bertanya langsung-langsung saja, tanpa meminta izin dariku dulu,” balas Wisnu sedikit kasar.
Grey tampak semakin gugup. “Emh, k-kalau boleh tahu, cewek yang bareng kamu tadi siang itu siapa?” tanya Grey yang kini duduk di tepi ranjang.
Taka meliriknya sinis, lalu menyimpan ponselnya di atas kasur begitu saja. “Dia? … Apa tadi siang kau tidak mendengarnya? Dia Aurel,” jawabnya tidak santai.
Grey mencebikkan bibirnya. “Ya kalau namanya aku juga tahu, em-maksud aku itu tuh ….”
“Apa?! Hubungan antara aku dan dia gitu?” sela Wisnu to the point.
Grey mengangguk pelan, sambil melebarkan senyumannya, menampilkan deretan giginya yang rapi.
“Dia sahabatku, kenapa memangnya hah? Kau cemburu lihat aku sama dia?” tanya Wisnu penuh percaya diri.
Langsung dibalas kerungan hebat di kening Grey. “Cemburu apaan coba! Aku ‘kan cuma tanya dia siapanya kamu, kali aja klien kamu ‘kan,” sergah Grey.
Wisnu mendengus sambil sekilas tersenyum sinis. “Halah, berkilah saja! Kalau cemburu ya bilang aja cemburu!” ucapnya meremehkan.
Grey semakin memonyongkan bibirnya seperti keong India. Ia berdecak, ia tahu meski ia mengaku kebenaran kalau ia hanya penasran dan bukan cemburu, Wisnu tidak akan semudah itu percaya padanya, terlebih kini Grey mulai mengerti kalau Wisnu termasuk orang yang keras kepala.
“Terus, memangnya kenapa kalau aku beneran cemburu?! Kamu senang ya dicemburui olehku?” tanya Grey memancing.
Kedua mata Wisnu langsung memebelalak. “Idih! Geer banget sih, siapa juga yang senang dicemburui sama kamu!” sangkal Wisnu mentah-mentah.
“Ya udah, kalau kamu enggak suka aku cemburu, kapan-kapan biar aku saja yang bikin kamu cemburu,” ucap Grey tersenyum meledek.
Wisnu semakin terperangah, ia menggeleng pelan baru sadar ternyata tingkat kepercayaan diri dari istrinya itu jauh di atas rata-rata.
“Terserah kau saja! Lakukan saja jika kau bisa!”
“Siapa takut! Aku pasti bisa kok. Jangankan bikin kamu cemburu, bikin kamu teringat sama aku terus pun, aku bisa,” ucapnya lagi sambil melebarkans senyuman manisnya.
Kepala Wisnu dibuat pusing dengan kenyataan kalau istrinya itu bisa ngasal dalam berbicara. Ia pun bangun dari duduknya, lalu mendekat, pelan dan semakin mendekat kepada Grey. Membuat Grey perlahan berdiri dari duduknya untuk menghindari Wisnu.
“Mas, kau ke-kenapa?” tanyanya, takut melihat ekspresi wajah Wisnu yang lagi-lagi sangat berbeda dari biasanya.
“Jawab aku sejujur-jujurnya, Grey!” tegas Wisnu, meniliknya tajam.
__ADS_1
Grey mendekap kedua tangan di dadanya, merasa takut. “Me-memangnya apa yang harus aku jawab jujur?” tanya Grey sangat gugup.
Pelan dan sangat pelan, Wisnu semakin mendekat padanya. Membuat jantung Grey dag-dig-dug tidak karuan.
"Apa Mas Wisnu sudah tahu soal aku dan Aryo ya?" gumamnya dalam hati, jadi over thingking.
Lelaki itu masih menatapnya dengan sangat serius.
"Kau ..."
Grey menatapnya gugup, menyiapkan diri untuk menerima pertanyaan dari Wisnu.
“Kau …
pasti bermain dukun ya?!”
Seketika ketakutan Grey menghilang. Kedua alisnya langsung bertautan, menatap bingung wajah Wisnu.
“Hah dukun apaan?”
“Kau mengguna-gunakan aku ‘kan?” tanya Wisnu sangat serius.
"Guna-guna? Untuk apa?" tanya Grey masih begitu bingung.
Tiba-tiba, Grey terbahak keras saat mendengar pernyataan dari suaminya itu.
"Astagfirullah, Mas ... Mas!"
"Mana mungkin aku main dukun apalagi guna-guna kamu biarkepikiran sama aku! Ya enggak lah! Kamu ini ngaco ih!" ucapnya sambil terkekeh geli.
Akan tetapi, tawanya langsung berhenti saat ia baru sadar, kalau ia merasa ada yang aneh dengan perkataan suaminya tersebut.
“Eh tunggu … kamu bilang kayak begitu, berarti ….” Grey menatapnya penuh maksud.
Wisnu yang tahu maksud dari tatapan Grey, ia langsung memundurkan tubuhnya menjauhi Grey.
"Kamu kepikiran aku terus ya?" tebak Grey sambil melebarkan senyumannya begitu bahagia.
"Enggak!" bantah Wisnu, langsung meringsutkan wajahnya, semakin menunjukkan kegugupannya.
Wisnu yang salah tingkah, ia menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal.
“Dah lah, aku mau istirahat! Udah sana, kamu tidur di sofa lagi!” titahnya begitu kejam.
Akan tetapi, Grey yang sekarang bukanlah Grey yang dulu. Ia sekarang memilih membantah dan tidak mau menuruti perkataan Wisnu.
__ADS_1
“Gak ah enggak mau, aku mau tidur di kasur ini!” tegas Grey langsung mengambil bantal hendak memposisikan dirinya tidur. Akan tetapi Wisnu yang tidak terima, ia malah menarik bantal itu saat Grey hendak membaringkan kepalanya di atas bantal.
“Mas Wisnu!” Grey kembali terbangun dan meringsutkan wajahnya dengan kesal.
Lalu, dengan kencang WIsnu melemparkan bantal tersebut ke atas sofa sana yang ada di dekat jendela. Membuat Grey semakin mencebik kesal.
“Mas, kamu tega ya!” keluhnya.
“Ambil sana! Sekalian jangan kembali lagi! Aku tidak suka wilayahku diambil alih oleh orang lain, terutama kamu!” seru Wisnu semakin menjadi.
Merasakan ada gejolak kekesalan di dada. Kini kedua netra milik Grey mengarah ke arah bantal yang ada di belakang Wisnu. Grey yang memang punya sifat jahill, ia pun mengambilnya, lalu melemparnya dengan kencang ke arah pintu kamar.
Wisnu yang melihatnya, ia pun kesal atas tingkah laku yang diperbuat oleh istrinya itu.
“Ih, rese banget ya kamu!” seru Wisnu begitu kesal. Ingin rasanya ia mencekik longgar leher istrinya itu. Selain songong, ternyata kini Grey lebih berani padanya.
Dan dengan langkah kesal mereka berdua masing-masing mengambil bantalnya. Lalu Wisnu kembali ke tempat tidurnya, sedangkan Grey ia lebih memilih untuk tidur di sofa sana sendirian, dari pada harus bergelut, dan aduk cekcok dengan suaminya tersebut.
“Umur aja yang tua, kelakuan kayak bocah!” seru Grey pada suaminya tersebut, sambil menjulurkan lidahnya meledek Wisnu.
“Halah! Kau juga! Wajah aja kalem, tapi kelakuan mirip syaiton!”
"Astagfirullah, istri secantik ini kamu bilang mirip syaiton, istighfar kamu, Mas!" balas Grey, seperti orang marah, padahal ia sangat-sangat menikmati candaannya dengan Wisnu.
"Bawel! Udah sana tidur! Jangan ganggu aku!" seru Wisnu.
"Ya udah, semoga mimpiin aku ya!" teriaknya.
"Gak, gak mau! Yang ada mimpi buruk kalau kau sampai muncul di mimpiku!"
"Alah ... nanti juga nagih pengen ketemu aku di mimpi," jawab Grey, membuat Wisnu semakin geleng-geleng kepala, shock menegtahui sikap asli istrinya itu.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa dukungan komentarnya ya gaes... Terima kasih.
Makin penasaran gak nih sama alurnya gimana? Haha
Hari ini aku mau kasih bonus ke kalian, aku mau crazy up, doakan ya biar lancar hehe. Happy weekend and happy reading readers tercinta :)
__ADS_1