Noda Pengantin

Noda Pengantin
Menunggu Kepulangan Wisnu


__ADS_3

"I-ya betul, Nona. Tuan Aryo menyuruh Anda untuk menemui client. Soalnya Tuan Aryo lagi berhalangan tidak bisa keluar, jadi Anda sebagai asisten dan Saya sebagai sekretaris yang akan mewakilkannya," jawab Anton.


"T-tapi, Tuan Anton, saya tidak pernah mau menjadi asisten Tuan Aryo, apalagi sampai harus mengurus client seperti ini. Sudahlah, lebih baik Anda saja, saya tidak mau ikut."


Anton kebingungan. "Tapi, Nona, client ini sangat penting, saya mohon Nona, bantu saya, saya juga bingung kalau saya yang menemuinya sendirian. Kemampuan bicara saya kalau bertemu sama client suka gugup, Nona."


"Tapi saya tidak mau, Tuan Anton!"


"Please, Nona Grey, bantu saya, kalau tidak, nanti saya dihukum sama Pak Aryo." Anton memelaskan wajahnya sambil mengatupkan kedua tangannya di dada, memohon penuh harap kepada Grey.


Grey mendengus pelan. Pikirannya ingin tetap menolak, tapi melihat wajah melas Anton, rasanya ia tidak tega. Apalagi Anton juga masih baru bekerja di sini.


Grey membuang nafas pelan, sambil mencebik. "Baiklah, hanya untuk pertemuan kali ini saja," jawab Grey lemas.


Seketika wajah Anton langsung berubah senang. Binar matanya menampilkan semangat empat lima yang menggelora di dada. "Terima kasih, Nona Grey, terima kasih," ucapnya kembali mempersilakan Grey untuk masuk ke dalam mobil.


Setelah 30 menit berkendara, kini Anton menghentikan laju mobilnya di area basement sebuah gedung. Dan sepanjang perjalanan pula, Grey dibuat heran, karena Anton tidak menjelaskan alamat lengkapnya. Grey sebenarnya sedikit takut dan khawatir kalau hal tidak terduga, akan menimpanya.


“Ayo Nona, saya antar Nona untuk menemui clientnya,” ucap Anton, membuat Grey semakin terheran-heran. Ingin rasanya ia bertanya, kenapa dia membawanya ke sebuah apartemen, bukan di caffe atau tempat terbuka lainnya, akan tetapi Grey juga tahu, pasti Anton hanya akan menjawab bahwa semua ini adalah perintah dari Aryo.


Mereka berdua pun memasuki lift yang ada di basement itu, Anton menekan tombol 12 dan setelah itu lift pun tertutup dan melaju ke lantai 12.


Setelah sampai di depan pintu unit, Grey ditakjubkan dengan pemandangan yang cukup indah, membuat dirinya terperangah menatap pemandangan yang ia lihat di depan matanya, untuk pertama kalinya saat pintu unit itu dibuka.


Ruangan besar yang penuh dengan hiasan dan dekoran bernuansa laut. Serba biru dan sungguh indah dipandang.


“Mari Nona, kita duduk di sana,” ucap Anton, Grey pun menurut.


Mereka berdua duduk di atas sofa berwarna biru, yang empuk dan lembut. Grey masih mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, membuat dirinya bertanya-tanya akan maksud dan tujuan Anton membawanya ke sini.


Tidak lama kemudian seorang lelaki bertubuh besar, berkemeja over size bercorak bunga-bunga, dengan tampilan pakaiannya yang sangat mencolok pun kulitnya yang berwarna hitam exotic seperti orang Timur, datang menghampiri mereka berdua. Dia bernama Samuel pemilik gedung ini, salah satu client dari Aryo.


Mereka berdua langsung berdiri dari duduknya saat Samuel semakin mendekat.


“Oh, jadi Anda wanita yang dikirim oleh Tuan Aryo?” tanya Samuel kepada Grey.

__ADS_1


Grey mengangguk sambil tersenyum dengan ramah. “I-iya, Tuan,” jawabnya gugup seraya melirik terlebih dahulu kepada Anton dengan wajah bingung.


“Hm, oke juga,” gumanya menilik penampilan Grey dari atas hingga bawah.


“Ya sudah, ayo masuk ke sana,” ucap Samuel.


Grey mengangguk, ia menarik lengan jas yang Anton pakai, berharap lelaki itu ikut dengannya, tetapi lelaki bertubuh besar itu terlebih dahulu bilang kepada Grey, kalau hanya Grey saja yang boleh masuk, tidak dengan Anton.


“T-tapi ….”


“Sudah, Nona ikut saja, dia hanya client kita bukan orang jahat,” bisik Anton saat melihat Grey yang sedikit takut dan bingung.


Dengan berat hati akhirnya Grey pun mengangguk setuju, lalu ikut masuk ke sebuah ruangan yang ada di sana. Ruangan itu cukup kecil, berukuran 3x3 meter.


Lelaki bernama Samuel itu menutup pintu ruangan rapat-rapat, lalu tiba-tiba ia membuka bajunya, membuat Grey langsung berbalik membelakangi cliennya tersebut sambil menutup matanya rapat-rapat dengan kedua tangannya yang di dekap di dada.


"Astagfirullah, Tuan, apa yang Anda lakukan?" Kenapa bajunya dibuka?”


“Hey! Seharusnya aku yang bertanya padamu kenapa kau malah bersikap tidak sopan padaku!”


"A-apa? Design logo pakai tubuh?" tanya Grey gugup dan takut.


“Bagaimana Tuan Aryo ini, mengirimkan pekerja yang tidak kompeten sepertimu!” Mimik wajah lelaki itu berubah kesal gara-gara sikap Grey yang seperti itu.


“M-maaf, Tuan. Saya tidak tahu kalau tujuan Anda membuka baju untuk itu,” ucap Grey penuh sesal.


“Kau ini, membuat moodku hancur saja!” cercanya membuat Grey semakin merasa bersalah.


Akhirnya, Grey pun meminta maaf meski harus berulang kali, dan mereka berdua pun kembali melanjutkan obrolan mereka mengenai rencana dan tujuan mereka. Setelah berdiskusi di ruangan tersebut selama 1 jam, Grey pun mengambil beberapa mode foto dari tubuh lelaki yang ada di depannya ini, sebagai referensi untuk dirinya dalam membuatkan logo yang diinginkan oleh client. Dan kini mereka berdua pun keluar dari ruangan tersebut. Lalu menghampiri Anton yang masih setia duduk di sofa bulat yang penjuru ruang.


***


Grey menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, seharian ini selain dibuat emosi ia juga dibuat terkejut atas tingkah laku cliennya tadi siang. Ia merasa cliennya yang satu ini terlalu unik, meminta dibuatkan logo perusahaan pakai tubuhnya yang kekar. Tetapi, demi keprofesionalan kerja, Grey harus menyanggupinya.


Awan senja, kini sudah berganti gelap, matahari telah tenggelam di ufuk barat. Grey terdiam di kamarnya sendirian, melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukan pukul 20.45 malam.

__ADS_1


Sebuah bayangan memalukan antara dirinya dengan Wisnu, tiba-tiba kembali terlintas di benaknya. Ia memejamkan matanya lalu menjenggut rambutnya pelan dengan kedua tangannya.


Mengembuskan nafasnya pelan, demi mengingat sesuatu yang masih terasa menjanggal di hatinya.


“Kenapa Mas Wisnu belum pulang juga ya? Apa dia benar-benar ingin menghindariku setelah apa yang dilakukannya malam kemarin?” gumamnya mencebikan bibirnya merasa sedih.


Tok, tok, tok.


Suara ketukan pintu kamar membuyarkan lamunan Grey, ia tersadar lalu bergegas membukakan pintu kamar, dan ternyata ada Bi Iyam sudah berdiri di depannya.


“Non, ini udah malam, Non Grey belum makan juga, apa mau bibi ambilkan makanannya ke sini?” tanya Bi Iyam.


Grey tampak kebingungan. “Nggak usah, Bi. Nanti biar saya aja yang turun ke bawah. Bibi kalau mau tidur, tidur aja, udah malem juga, udah waktunya istirahat,” ucap Grey, tersenyum hambar.


“T-tapi, Non Grey kan belum makan. Bibi khawatir kalau, Nona belum makan,” ucapnya jelas menampakan kekhawatiran di kedua binar matanya yang tulus.


Grey menarik nafas pelan. “Ya sudah, kalau begitu sekarang saya makan ke bawah ya. Bibi langsung istirahat ke kamar ya, gak usah nyiapain makanan buat saya, nanti biar saya yang angetin semua masakannya,” ucap Grey. Yang dibalas tatapan dalam oleh Bi Iyam.


Setelah selesai makan malam, Grey melangkahkan kakinya ke ruang depan, menyibakan gorden yang menutupi jendela ke arah teras, lalu mengintip dari dalam, berharap ada kendaraan yang datang terparkir di halaman.


Tetapi sayang, sudah 15 menit ia menunggu dan berdiri mematung di sana, tetapi tanda-tanda kedatangan Wisnu tak juga muncul. Akhirnya dengan berat hati Grey harus melangkah pergi dari sana. Mematikan lampu ruangan lalu beranjak menaiki anak tangga.


Akan tetapi, baru saja ia menginjakan kaki di anak tangga paling bawah, deru suara mesin mobil di luar sana, menghentikan langkah kakinya dan buru-buru ia kembali menyalakan lampu ruangan dan membukakan pintu.


Dan benar saja, orang yang ditunggunya sejak tadi sudah tiba. Wisnu baru saja keluar dari dalam mobilnya begitu Grey membukakan pintu rumah.


Lelaki itu sejenak menoleh ke arah Grey dengan mimik wajah yang tiba-tiba berubah, seolah malas.


“Kenapa juga dia nunggu aku di situ!” gerutu Wisnu dengan kesal di dalam hati.


“Mas, kamu udah pulang?” tanya Grey menebarkan senyuman manisnya, saat Wisnu berjalan menghampirinya.


“Hm,” jawabnya dingin, langsung melewati Grey begitu saja. Grey mematut di tempatnya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2