
"Ini!" Wisnu menyodorkan selimut tebal serta bantal yang ada di tangannya kepada Grey.
Grey masih diam mematung, tak mengerti akan semua itu. "Apa ini? Apa selimut dan bantalnya kotor?" tanyanya, yang berfikir mungkin Wisnu ingin menggantinya.
"Bukan! Kau tidurlah di sofa sana!" ujarnya, memindahkan selimut itu ke dalam pangkuan tangan Grey. Lalu menunjuk ke arah sofa besar yang ada di dekat jendela balkon.
"Hah? Ma-maksdumu apa?"
Wisnu berdecak kesal. "Kau tak mendengar ya?! Aku bilang, kau tidur di sofa sana!" ujarnya begitu ketus.
"Aku tidak ingin berbagi ranjang bersamamu!"
"Apa?!" Grey mengerutkan dahinya, tak menyangka kalau suaminya akan setega itu padanya.
Wisnu melirik Grey yang tengah bengong padanya. "Kenapa menatapku seperti itu hah?! Kau tak terima?!" tanya Wisnu, memasang wajah garangnya.
Grey masih diam, belum berkomentar apa-apa.
"Ingat ya! Aku menikahimu hanya sebatas mengabulkan permintaan papaku! Dan ingat! Sampai kapan pun, aku tidak akan pernah menerima kehadiranmu di sisiku!" serunya begitu serius, lalu segera menjatuhnya tubuhnya di atas tempat tidur. Mengganjal lehernya dengan kedua tangannya yang ia lipatkan ke atas.
Grey terpaku di tempatnya, memeluk selimut dan bantal yang tadi diberikan Wisnu padanya. "Apa ini benar-benar siafat aslinya?" batin Grey.
__ADS_1
Wisnu membuka mata. "Apa lihat-lihat?! Sudah, tidur sana!" cetusnya lagi begitu kasar. Semakin membuat Grey merengut kesal.
Grey berdecak kesal. Dan sebelum melangkah pergi, ia menjejakkan kakinya dengan keras. Lalu pergi menuju sofa, membawa selimut serta satu bantal yang ada di pelukannya.
"Benar-benar menyebalkan! Dia pikir aku menikahinya karena cinta apa! Sama saja, aku pun terpaksa harus menjadi istrinya karena hutang omku," gerutunya dalam hati, dengan birinya yang mengerucut kesal. Lalu ia pun langsung berbaring dan menutupkan selimut ke seluruh tubuhnya, termasuk kepalanya.
Wisnu melirik ke arah kursi yang tengah ditiduri oleh Grey, Kedua maniknya, menatap wanita itu selama beberapa saat. “Dasar gadis bodoh!” cetusnya, menggelengkan kepala, melihat Grey yang tak bergerak sedikit pun.
Selagi menggerutu kesal di dalam hati, Grey terus mencoba untuk memejamkan matanya. Meski sebenarnya ia kesusahan untuk bisa tidur. Apalagi, saat ini entah kenapa udara terasa cukup gersang. Sampai saat ini, Grey masih suka tidur dengan mengenakan hijabnya. Ia tidak akan melepaskannya, kalau bukan Wisnu yang memintanya.
“Dasar! Suami macam apa dia itu, tega sekali membiarkan istrinya tidur di sofa seperti ini,” gumamnya pelan.
Namun, tiba-tiba … “Apa kau mengumpatiku?” tanya Wisnu, yang secara mengejutkan menyibakkan selimut yang menutupi tubuh Grey.
"T-tidak, a-aku tidak mengumpatimu," jawab Grey gugup, dengan kedua tangan yang menyilang di dada, takut kalau sampai Wisnu melakukan hal-hal diluar kesadarannya.
Wisnu menatapnya tajam, sebelah alisnya sedikit naik, lalu kembali berkata. “Dadamu itu, tidak perlu kau tutup seperti itu! Lagi pula aku tidak berselera menyentuhmu,” ucapnya, menatap dengan tatapan meledek.
Grey masih terpaku di tempatnya. "Saya hanya berjaga-jaga, karena saya tahu, nafsu itu datangnya karena kesempatan dan kebetulan, bukan karena selera," jawabnya sedikit gugup.
Wisnu menjauhkan tubuhnya dari Grey, lelaki itu tersenyum kecut mendengar penuturan dari gadis yang bersatus sebagai istrinya tersebut. "Pede banget, kamu!"
__ADS_1
"Saya bukan pede, tapi jika kamu mempunyai kesempatan dan kebetulan kamu menginginkannya, wanita yang bukan selera atau idamanmu pun pasti akan kamu--" Grey menghentikan ucapannya, ia harus menahan diri agar tidak berkata seenaknya kepada lelaki yang ada di depannya itu.
Hening ....
"Kenapa diam? Kok gak dilanjut ucapannya?" tanya Wisnu berkacak pinggang.
"Sudahlah, tidak baik membahasnya. Lebih baik Anda maupun saya, masing-masing istriahat saja, sudah malam juga," jawabnya, kembali menarik selimut yang ada di lantai.
"Hey listen me, jangan harap kamu akan betah tinggal di rumah ini, Anggreya. Karena cepat atau lambat, saya pasti akan membawamu keluar dari rumah ini," ucap Wisnu lalu beranjak pergi ke tempat tidurnya.
"Silakan, kalau Anda memang bisa," jawab Grey sebelum ia kembali menutupkan selimut tebal itu di tubuhnya.
Wisnu menoleh, menghentikan langkahnya, menilik wanita berhijab biru, yang kini sudah terbaring lagi di sofa sana.
Ia menyeringai sinis. "Kau lihat saja Grey, aku akan memastikan kau yang akan menggugat cerai padaku, bukan aku!" batinnya.
Karena, sesuai perjanjian Wisnu dengan papanya, mereka boleh berpisah jika Grey yang menggugat terlebih dahulu, bukan Wisnu. Jadi, tujuan Wisnu sekarang adalah, membuat Grey agar tidak betah hidup dengannya.
"Dasar! Dia kira aku ini wanita lemah apa! ... Kita lihat saja kedepannya, jika dia berusaha ingin mengeluarkan aku dari rumah ini, maka aku akan berusaha untuk membuatnya selalu ingin ikut dan dekat denganku," gumam Grey dalam hati.
Bersambung....
__ADS_1
Ramaikan kolom komentarnya yuk, biar author makin semangat upload novelnya. hehe