
“Aku lihat-lihat, hubungan kalian begitu akrab. Apa kau sudah mengenal Aryo di masa lalu?” tanya Wisnu, mendongak menatap wajah Grey.
Grey tampak gugup, entah kenapa, bisa-bisanya Wisnu menanyai hubungan antara dirinya dengan Aryo di masa lalu.
“Apa Mas Wisnu curiga ya dengan kedekatan aku sama Aryo?” batin Grey menduga-duga.
Grey masih bungkam, pikirannya kini tengah mencari-cari jawaban apa yang cocok untuk ia utarakan kepada suaminya itu.
“I-iya, aku kenal Aryo karena dulu satu kampus dengannya,” jawab Grey dengan jujur.
“Hm, begitu.” Wisnu masih sibuk melahap sarapannya. Grey mengangguk, lalu karena kegugupannya, ia pun meraih gelas berisi air minum yang ada di atas nakas.
Dan saat ia hendak meneguk air minum tersebut, Wisnu kembali melontarkan pertanyaan padanya.
“Kalian pernah pacaran?” tanya Wisnu yang membuat Grey langsung tersedak begitu ia meneguk minuman tersebut.
“Uhuk, uhuk, uhuk!” Air yang ada di mulutnya, sebagian keluar karena terbatuk-batuk.
Wisnu langsung bangkit, lalu menepuk-nepuk tengkuk kepala Grey dengan pelan. Sedikitnya ia refleks dan khawatir akan keadaan istrinya itu.
“Sudah, sudah, Mas, aku sudah tidak apa-apa,” ucap Grey sambil mengelap bibir menggunakan punggung tangannya.
“Lain kali pelan-pelan minumnya, jangan ceroboh!” ucap Wisnu lalu kembali duduk di kursinya menyantap nasi goreng yang tinggal setengahnya lagi.
Namun, saat ia tengah melahap sarapannya itu, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Wisnu dengan cepat melihatnya dan ternyata panggilan itu datang dari Aurel.
“Aurel? Ada apa dia meneleponku sepagi ini?” gumam Wisnu dalam hati. Lalu ia pun sejenak melirik ke arah Grey.
“Aku keluar dulu sebentar,” ucap Wisnu kepada Grey. Grey mengangguk mengizinkan. Lalu setelahnya Wisnu pun pergi meninggalkan ruangan tersebut, ia duduk di atas kursi tunggu yang tidak jauh dari ruangan Grey.
___
“Hallo, Aurel?”
“Wisnu ....” Suara Aurel terdengar begitu lirih dan pelan, seolah tengah ada dalam kesedihan.
__ADS_1
“Aurel, are you okay?”
“Wisnu, da-daddyku.” Suara Aurel terdengar tengah terisak-isak.
“Aurel ada apa? Kenapa dengan daddymu?” Wisnu ikut panik mendengar suara Aurel yang tengah terisak.
“Wisnu ... da-daddyku masuk rumah sakit.”
“Rumah sakit? Kenapa, sakit apa?”
“Da-daddyku terkena serangan jantung, dan pa-pagi ini ....”
“Aurel, kamu sekarang ada di mana? Di rumah sakit mana?”
Aurel masih terdengar tengah terisak.
“Aurel, kamu ada di mana sekarang?”
“Aku di Yudistara.”
Karena kepanikannya, Wisnu langsung pergi meninggalkan rumah sakit tersebut tanpa memberi tahu kepada Grey. Bahkan, yang ada di pikirannya saat ini hanyalah soal kondisi Aurel. Karena bagaimana pun Wisnu sangat tahu, Aurel mengidap penyakit kecemasan berlebih, yang tentunya kalau dia tengah dalam keadaan seperti itu, kerap kali dia berbuat hal buruk pada tubuhnya. Dan saat ini, Wisnu harus segera menemuinya dan menenangkannya.
Ia pun masuk ke dalam mobilnya, menancapkan pedal gasnya dengan kecepatan di atas rata-rata, lalu mobilnya segera melaju menuju rumah sakit Yudistara di mana Aurel berada.
***
Sesampainya di rumah sakit, Wisnu kembali menelepon Aurel lalu menanyakan keberadaannya.
“Di ruang operasi?” tanya Wisnu.
“Iya.”
Lalu secepatnya Wisnu pun pergi menuju ruang operasi yang ada di lantai tiga. Ia berjalan sambil berlari kecil mencari ruangan tersebut, dan saat ia menemukannya ia pun segera masuk menuju koridor tempat tunggu. Dan terlihat di sana ada Aurel yang tengah menangis sesenggukkan di kursi tunggu sendirian, tanpa ada yang menemaninya.
Wajah Wisnu sedikit lega, karena ia akhirnya bisa menemukan keberadaan Aurel. Lalu saat ia tengah berjalan, Aurel menengok ke arahnya, wanita itu semakin tidak kuat membendung air matanya. Dan semakin tumpah saat Wisnu berdiri di depannya.
__ADS_1
“Aurel,” ucap Wisnu.
Dan seketika itu pula Aurel langsung memeluk tubuh Wisnu seerat mungkin menumpahkan segala kesedihannya sambil menangis dan terisak sepuasnya. Bahkan air matanya itu sudah membasahi dada bidang milik Wisnu. Kemeja yang digunakan oleh lelaki itu sudah basah terkena tumpahan air mata dari wanita yang disayanginya.
Wisnu membalas pelukan itu, ia mengusap-usap pelan punggung dan kepala Aurel dengan penuh kelembutan.
“Tenanglah Aurel ... daddymu pasti akan baik-baik saja,” lirih Wisnu mencoba menenangkan.
“Tidak, Wisnu ... daddyku tidak baik-baik saja, da-daddyku—”
“Jangan berbicara seperti itu Aurel, daddymu pasti akan baik-baik saja, operasi daddymu pasti akan lancar, kamu har—”
“Daddyku sudah tiada, Wisnu ....” lirih Aurel memotong ucapan Wisnu.
Wisnu yang mendengarnya ia langsung terdiam seribu bahasa. Hatinya begitu terkejut. Ia langsung menjauhkan tubuh Aurel dari dekapannya. Lalu memandang wajah Aurel yang sudah sembab dengan mata yang merah membengkak itu dengan penuh tanda tanya.
“Apa?! Da-daddymu—”
Sebelum Wisnu kembali menanyakan kebenarannya, Aurel terlebih dahulu menganggukkan kepalanya.
Melihat air mata yang semakin deras membanjiri wajah Aurel. Wisnu semakin tidak tega melihatnya. Ia pun ikut merasakan sedih dan sesak mendengar kenyataan ini. Lalu ia pun langsung mendekap kembali tubuh Aurel ke dalam pelukannya, memelukkan dengan begitu erat.
“Kamu kuat, Aurel,” ucap Wisnu menarik nafasnya begitu panjang, merasakan sesak di dada yang tiba-tiba muncul menggetarkan jiwanya.
“Kamu kuat.”
Dan tangisan Aurel pun samakin pecah menjadi-jadi.
.
.
.
Bersambung....
__ADS_1