Noda Pengantin

Noda Pengantin
Aku Selalu di Sisimu


__ADS_3

Malam harinya, setelah selesai makan bersama di meja makan, Shindy mengajak Cakra untuk mengobrol di kamar.


“Jadi gimana?” tanya Cakra saat ia mendudukan tubuhnya di atas sofa panjang yang ada di dekat ranjang.


“Sepertinya, apa yang Papa pikirkan tentang mereka itu benar, Pa.” Shindy berucap dengan pelan.


“Tadi pagi, aku lihat Aryo gendong Grey. Karena Grey kakinya tadi terluka kena pecahan gelas. Aku juga bisa ngelihat kepanikan di wajah si Aryo. Dia benar-benar kayak yang posesif gitu sama menantu kita. Dan Mama rasa, perhatian Wisnu dan Aryo ke Grey itu jauh berbeda. Kalau dilihat-lihat, malah anak kita cuek sama istirnya, sedangkan Aryo ... dia perhatian banget sama, Grey,” ungkap Shindy menjelaskan dengan detail.


Cakra mengangguk pelan. “Terus, kamu udah tanyain belum sama si Aryo dia ada hubungan apa sama Grey?”


Shindy mengangguk lemah. “Udah ... tapi sayang ... pas aku nanya gitu, Aryo keburu lari nyamperin Grey di dapur karna gelas pecah itu.”


“Hm, begitu ya ....” Cakra tampak berpikir.


“Kalau begitu, besok malam aku mau nginap di rumah Dewi, biar langsung aku yang selidikin dan tanya sama si Aryo semuanya.”


Shindy mengangguk. “Baiklah, begitu lebih baik. Tapi ... jangan terlalu spontan, jangan sampai Aryo curiga dengan maksud dan tujuan kita,” ucap Shindy mewanti-wanti. Cakra mengangguk paham.


***


Keadaan kantor AF Group, sore ini terlihat tampak sibuk. Ada proyek besar yang tengah dikerjakan oleh perusahaan milik Wisnu tersebut.


“Baik, terima kasih, semoga proyek kita bisa berjalan lancar,” ucap Wisnu menjabat tangan Tuan Charlotte.


Ini adalah meeting ke sekian kalinya untuk meluncurkan prodak terbaru dari perusahaannya. Dan setelah selesai meeting. Wisnu kembali duduk dan bersantai di kursinya. Lalu, ia membuka ponselnya yang sejak dua jam lalu tidak ia aktifkan.


Tring, tring, tring ....

__ADS_1


Nada notif terus terdengar, pertanda ada beberapa pesan yang masuk lewat aplikasi hijau miliknya. Ia pun membuka pesan-pesan tersebut, dan ternyata ada satu pesan dari seseorang yang paling berharga baginya.


“Aurel,” ucapnya pelan. Lalu ibu jarinya langsung buru-buru mengklik pesan tersebut di layar ponsel.


(Wisnu, bisakah kita bertemu sore ini di Akira Restourant? ~ Aurel)


Dengan cepat, ibu jarinya bernari lincah di atas papan keyboard yang ada di layar ponselnya, demi membalas pesan dari gadis yang diidamkannya yaitu Aurel.


(Bisa, jam lima sore aku akan menunggu di sana ~ Wisnu)


***


Dan tepat pukul lima sore, Wisnu sudah berada di Akira Restourant, ia duduk di kursi memesan minuman dan makanan pembuka untuk dirinya dengan Aurel.


Ia menilik jam yang terpasang di pergelangan tangannya, di sana sudah menunjukkan pukul 17.12 sore, dan Aurel belum juga datang.


Aurel yang tengah celingukan akhirnya dapat dengan mudah mencari keberadaan Wisnu, dan ia pun segera menghampirinya.


Ia duduk di sebrang kursi yang berhadapan dengan Wisnu. Melebarkan senyumannya, meski raut kesedihan masih terpancar dari kedua sorot matanya.


“Lama ya nunggu aku?” tanya Aurel, meletakan tas kecilnya di atas meja.


“Enggak, aku juga baru sampai,” jawab Wisnu dengan ramah. “Tuh, minum dulu.” Tunjuknya pada minuman lechye juice yang ada di meja.


Aurel mengangguk senyum, lalu meraih minuman tersebut dan meminumnya menggunakan sedotan yang tersedia di dalam gelasnya.


Setelah berdiam dan menikmati minuman dalam beberapa saat, akhirnya Aurel pun membuka suara. Awalnya wanita itu tampak ragu, tetapi Wisnu yang memberi masukan, akhirnya membuat Aurel tak segan menjelasakn keresahan hatinya.

__ADS_1


“Aku turut bersedih dengan semuanya. Aku tahu, lelaki seperti dia memang tidak cocok mendapatkan gadis sebaik dan secantik kamu. Kamu terlalu berharga untuknya, Aurel. Dan air mata kesedihanmu, tidak pantas jatuh hanya karena menangisi lelaki bejad itu,” ucap Wisnu begitu serius dengan tatapannya yang begitu dalam.


Aurel menarik nafas, sedikit merasa lega mendengar penuturan Wisnu yang memang ada benarnya baginya. “Iya, kau memang benar, Nu. Aku tidak perlu menyesali semuanya, hanya saja, mungkin aku terlalu shock dengan keadaan kemarin itu, tapi meski hal itu sangat menyakitkan bagiku, aku tetap bersyukur karena Tuhan masih sayang kepadaku,” Aurel menunduk, kini satu bulir air keluar dari sudut matanya secara tiba-tiba.


Wisnu yang melihat, ia langsung berpindah tempat, duduk di kursi yang bersampingan dengan Aurel. Wisnu mengusap pelan kedua pipi Aurel yang kini kian basah oleh air matanya.


“Aurel ... kau jangan menangis seperti ini. Tenanglah, kamu pasti akan mendapatkan lelaki yang jauh...  lebih baik segalanya dari dia,” ucap Wisnu menoba menenangkan Aurel.


Aurel mengangguk, ia pun tidak segan menyenderkan kepalanya di dada Wisnu. Dan Wisnu pun dengan senang hati menenangkan sekaligus mendekap dan memberi usapan lembut di kepala Aurel.


Wisnu menarik nafas pelan. "Menangislah, lepaskaan semuanya, aku akan selalu di sisimu menemanimu, Aurel,” lirihnya pelan, dengan getaran hati yang ikut merasakan kesedihan Aurel.


"Makasih ya, Nu," balas Aurel dalam dekap hangat dada Wisnu.


Sementara itu, di sudut lain ada seseorang yang tengah mengamati mereka sejak tadi. Bahkan mata-mata ini, tidak segan untuk mengambil beberapa potret foto mereka.


“Haha, kena juga kau, Wisnu. Akan kugunakan ini untuk melemahkanmu!” Seringai senyuman jahat terlihat di wajah lelaki berhoodie hitam itu. Dia pun pergi meninggalkan restoran setelah mendapatkan potret foto mereka.


.


.


.


Bersambung....


Waduh siapa ya itu kira-kira?

__ADS_1


Jangan lupa ramaikan kolom komentarnya ya.


__ADS_2