Noda Pengantin

Noda Pengantin
Grey Beneran Hamil?


__ADS_3

Siang ini, Wisnu menghubungi Aurel. Ia sudah tidak sabar untuk segera membongkar aib siapa Gabriel sebenarnya.


“Kau lihat saja, tak lama lagi, pasti Aurel akan memutuskan hubungan denganmu,” ucap Wisnu penuh keyakinan.


Dan saat Aurel membalas pesannya. Wisnu menyeringai tersenyum, ia pun membuat janji dengan Aurel untuk bertemu di coffe shop yang tak jauh dari kantornya sore ini.


Dan saat sore tiba, kini Wisnu sudah menunggu Aurel sekitar 15 menit di meja bundar yang ada di barisan coffe shop.


Ia juga sudah memesan dua cangkir coffe latte kesukaan Aurel. Dan orang yang ditunggu pun akhirnya datang. Aurel datang sendiri tanpa ditemani oleh calon tunangannya dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk Wisnu.


“Hey, udah nunggu lama ya?” tanya Aurel tersenyum manis, lalu duduk di kursi berhadapan dengan Wisnu.


“Gak kok, baru lima belas menit,” jawabnya tersenyum senang.


“Waduh, lima belas menit ya. Maaf ya, tadi aku abis fitting jas sama Gabriel dulu,” jelasnya.


Wisnu mengangguk sambil melengkungkan bibirnya ke bawah. “Okay no problem.”


“Tuh, minum dulu coffe latte kesukaan kamu,” titah Wisnu. Yang dibalas anggukkan dan senyuman oleh Aurel.


“Okay, makasih. Haus juga nih, dari tadi belum minum,” jawabnya langsung mengambil cangkir tersebut, lalu meminum coffe latte tersebut, dengan pelan.


“Ah,” ucap Aurel begtiu ia selesai meminumnya dan mengembalikan cangkir tadi di tempatnya.


“Oh ya, ngomong-ngomong ada apa nih kamu ngundang aku buat ketemuan begini?” tanya Aurel, yang kini tengah menopang dagunya dengan sebelah tangannya yang bertumpu di meja.


“Emh, sebenarnya aku pengen ngasih tahu sesuatu sih sama kamu. Tapi, janji ya, kamu jangan marah sama aku,” ucap Wisnu sebelum mengatakan semua kebenaran tentang Gabriel.


“Emangnya apa?” Aurel mengernyit heran.


Wisnu melirik ke kanan dan ke kiri untuk memastikan situasinya pas. Lalu ia pun mengeluarkan ponsel dari saku miliknya, yang di dalamnya terdapat video rekaman kelakuan bejad Gabriel.


“Sebentar,” ucap Wisnu. Ia mencari terlebih dahulu di mana file video itu ia simpan.


Akan tetapi, baru saja Wisnu berhasil menemukan videonya. Tiba-tiba Gabriel sudah muncul di belakang Aurel, tengah berjalan ke arahnya.


Wisnu terperangah dan bengong ke arah Gabriel. Handphonenya ia urungkan untuk diberikan kepada Aurel.


“Kenapa?” tanya Aurel saat melihat kedua netra Wisnu terarah ke arah lain.


Ia pun menoleh, mengikuti ke mana arah sorot mata sahabatnya itu. Dan tenyata, Wisnu tengah melihat ke arah Gabriel kekasihnya. Aurel tersenyum lebar melihat calon tunangannya datang menghampirinya.


“Sayang, udah selesai?” tanya Aurel, karena yang Aurel tahu, Gabriel tadi tengah mengobrol dulu dengan seseorang di parkiran, sehingga Aurel terlebih dahulu menemui Wisnu karena takut kalau Wisnu akan menunggunya semakin lama.


“Udah, Sayang,” jawab Gabriel kemudian duduk di atas kursi di samping Aurel.


"Sial! Kenapa dia ikut ke sini juga sih!" batin Wisnu, memandang gabriel dengan tatapan tidak suka.


Wisnu terperangah, ia harus menahan gejolak kekesalan yang ada di hatinya. Dan terpaksa ia pun harus menggagalkan rencananya untuk memebeti tahu Aurel soal rekaman itu.


“Gimana? Jadi, apa yang mau kamu tunjukan?” tanya Aurel penasaran.


Wisnu sedikit kebingungan. “Emh, jadi sebenarnya tadi aku pengen nunjukin heels buat kamu, untuk di pake di acara pertunangan kamu sama pacarmu,” jawabnya tersenyum simpul.


Aurel membinarkan kedua matanya. “Benarkah?” tanyanya tampak begitu antusias, Wisnu tersenyum, mengangguk pelan.


“Karena gambar heelsnya hilang dari galeriku, jadi lebih baik aku tanya kamu aja langsung. Kali aja ada heels yang ingin kamu beli untuk saat ini,” tawar Wisnu.


Aurel sejenak melirik ke arah Gabriel, seolah meminta izin. Gabriel pun mengangguk sambil tersenyum simpul, mengizinkan Aurel untuk menerima tawaran dari Wisnu.


“Baiklah, kalau kau memang mau memberi hadiah untukku, kalo boleh ... aku ingin hadiah heels keluaran terbaru dari channel, boleh ‘kan? Yang lagi booming saat ini,” ucap Aurel begitu manja.

__ADS_1


Wisnu tersenyum mengangguk. “Hm, tentu saja, aku akan segera membelikannya untukmu, agar kau bisa memakainya nanti di acara tunanganmu,” jawab Wisnu.


Aurel tampak begitu senang mendengarnya. Mereka pun sejenak mengobrol kembali, hingga langit sore yang agak terang itu berubah menjadi jingga. Dan mereka pun berpisah saat Gabriel menerima sebuah panggilan telepon dari ayahnya, yang mengharuskannya untuk segera pulang.


Di rumah, Wisnu terlihat masih begitu kesal, karena rencananya yang gagal.


“Arghh! Sial! Kenapa dia bisa muncul di waktu yang tidak tepat sih!” gerutunya. Mengacak rambutnya dengan kasar.


Tiba-tiba, GREY datang menghampiri suaminya itu, berniat untuk mengajak makan malam, karena papa Cakra sudah menunggunya di ruang makan.


“Mas,” panggil Grey begitu lembut.


“Apa hah?!” sahut Wisnu dengan nada bicaranya yang terasa kasar.


Anggreya mengerung. “Kau kenapa sih! Aku panggil pelan malah dijawab kasar begitu,” gerutunya.


“Kenapa hah?! Kau tidak suka?” seru Wisnu menatap Grey dengan kesal.


Grey hanya bisa berdecak kesal, ia tidak ingin memperpanjang adu argumennya dengan suaminya itu. “Tuh, Papa udah nungguin kamu, ayo turun, kita makan dulu,” ucap Grey memberi tahu.


“Aku gak lapar, kalian makan saja, sana!” Wisnu berbalik tak memedulikan ajakan Grey.


Grey kembali mencebikkan bibirnya. “Ya sudah kalau begitu,” balas Grey tidak ingin peduli.


Grey pun kembali ke meja makan.Kini dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang rumah, apalagi Cakra. Papa mertuanya itu memandang aneh ke arah Grey.


“Loh, Wisnunya mana? Kok gak ikut?” tanya Cakra.


Grey tersenyum bingung. “Emh, mas Wisnu gak mau makan, katanya gak lapar,” ucap Grey dengan jujur.


“Gak lapar? Masa sih? Dia kan dari pulang tadi belum makan juga,” balas Shindy seolah tidak yakin.


“Iya, aku juga kurang tahu, Ma. Tapi, tadi mas Wisnu bilangnya memang gak lapar,” jawab Grey.


Cakra yang mendengarnya langsung menatap tajam putri bungsunya itu. Viona yang menadapati tatapan tajam dari papanya itu, ia hanya bisa mencebikan bibirnya, lalu tanpa menunggu yang lain makan, ia memulainya terlebih dahulu.


“Ya sudah, kalau begitu biar aku aja yang bujuk Wisnu untuk makan,” ucap Shindy meminta izin kepada Cakra. Cakra mengangguk sebagai jawaban.


Lalu Shindy pun pergi menuju kamar anak sulungnya itu. Ia mengetuk pintunya pelan, selama tiga kali. Tiba-tiba sahutan Wisnu dari dalam sana, memang benar-benar terdengar kasar.


“Apa lagi sih?! Kalau kau mau makan ya makan aja sana!” teriak Wisnu di dalam kamar sana.


Shindy cukup terkejut mendengar sentakan dari anak sulungnya itu. “Ya ampun, Wisnu! Ini Mama!" teriaknya di balik pintu kamar yang tertutup.


Wisnu yang berada di dalam kamar, ia sedikit terkejut saat tahu kalau yang mengetuk pintu kamar adalah Mamanya dan bukan Grey istrinya.


Buru-buru Wisnu menghampiri pintu, lalu membukanya.


“Kamu kenapa, Wisnu?” tanya Shindy begitu lembut, tatkala pintu kamar milik anaknya itu terbuka.


Wisnu menunduk malu. “M-maaf, Ma. Aku kira tadi bukan Mama,” ucap Wisnu merasa tidak enak hati.


“Mama sampai kaget loh denger kamu teriakin Mama kayak gitu,” balas Shindy dengan sedikit wajahnya yang terlihat sendu, membuat Wisnu merasa begitu berdosa, karena sudah berteriak kencang tidak sopan pada Mamanya.


“I-iya, Ma. Maaf ya,” sesal Wisnu.


“Mau itu Mama, atau istri kamu, kamu enggak boleh bicara kasar atau nyentak kayak tadi ya." Wisnu hanya bisa mengangguk tanpa bersuara.


"Ya sudah, kalau begitu kamu turun ya, ikut kami makan,” pinta Shindy.


Wisnu tampak bingung. “Emh, aku gak lapar, Ma. Mama sama yang lain aja yang makan ya, gak usah nunggu aku.”

__ADS_1


“Ya udah, kalau kamu gak makan, mama gak mau maafin teriakan kamu yang tadi, sekaligus mama juga gak akan ikut makan,” ancam Shindy. Membuat Wisnu semakin merasa tidak enak.


"T-tapi, Ma."


"Gak apa-apa, kalau kamu enggak mau makan, mama juga enggak akan makan kok. Masa, Mamanya makan, anaknya enggak."


Wisnu mendesah pelan. “Oke, oke, aku ikut makan ya, Ma. Tapi Mama juga harus makan,” ucap Wisnumengalah.


Shindy yang mendengarnya langsung tersenyum senang. Lalu mereka berdua pun beranjak pergi ke ruang makan kembali.


Kini anggota keluarga sudah lengkap. Makanan sudah ada di atas piring mereka masing-masing. Dan seperti biasanya, Grey harus menahan rasa mual yang semakin hari semakin terasa menjadi baginya.


Yura memperlambat makannya, karena ia tahu jika ia terlalu memakasakan eiri untuk makan, maka, makanan yang sudah ditelannya itu bisa keluar kembali. Dan itu pastinya akan membuat anggota keluarga lain yang masih makan akan kehilangan seleranya jika Grey kembali mengeluarkan suara mualnya.


Dan benar saja, tepat saat mereka semua selesai menghabiskan makannya. Grey yang sudah berkeringat dingin menahan rasa yang menganduk-aduk di dalam perutnya sejak tadi. Ia pun langsung berlari ke belakang menuju kamar mandi.


“Hoek ... hoek ... ooo.” Suara itu kembali terdengar dari dalam kamar mandi.


Shindy yang mengikuti Grey, ia pun akhirnya bsia meyakinkan dugaannya, kalau menantunya itu benar-benar hamil.


Shindy lalu pergi menemui Cakra yang masih ada di ruang makan. “Pa, kayaknya Grey beneran hamil deh, Pa,” bisik Shindy di samping telinga kanan suaminya.


Cakra langsung membeliakan kedua matanya. “Benarkah?” tanyanya, yang dibalas anggukan pelan oleh Shindy.


“Ada apa, Pa?” tanya Viona penasaran.


Cakra tersenyum mesem, lalu melirik ke arah Wisnu yang tengah asik memakan buah apel.


“Kayaknya akan ada papa baru nih di keluarga kita,” ucap Cakra membuat alis Viona berkerut.


“Maksud Papa gimana? Mama mau nikah lagi?” tanyanya begitu polos.


“Heh! Sembarangan kamu, bukan mamamu yang mau nikah lagi, tapi Kakakmu yang bakalan jadi ayah,” ucap Cakra menjelaskan.


“Hah? Kak Wisnu mau jadi ayah?” tanya Viona.


“Iya, kayaknya istrinya kakakmu itu lagi hamil deh,” seloroh Shindy yang langsung membuat Wisnu terbatuk-batuk mendengarnya.


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Ia langsung meraih segelas air yang ada di atas meja dan meneguknya untuk melarutkan sisa-sisa makanan yang menyangkut di kerongkongannya.


“Apa?! Grey hamil?” tanya Wisnu dengan ekspresi wajahnya yang penuh keterkejutan.


Shindy mengangguk sambil tersenyum membenarkan. “Iya, kayaknya istrimu itu hamil deh. Dia muntah-muntah terus, tapi itu juga belum pasti sih, soalnya istrimu kalau di tanya, jawabnya cuma masuk angin,” imbuh Shindy, membuat Wisnu yang terkejut itu langsung melongo tidak ingin percaya.


“Sialan! Kenapa jadi ribet begini. Kok bisa sih dia hamil secepat ini,” gumamnya dalam hati, merasa tidak terima dan belum siap.


“Kalau begitu, kita harus memanggil dokter kandungan sekarang juga,” ucap Cakra memerintah kepada Shindy.


"Dokter kandungan? Secepat ini?" batin Wisnu.


Tiba-tiba ....


"Tidak!" teriak Wisnu.


“Jangan! Jangan memanggil dokter kandungan kemari!” seru Wisnu dengan mimik wajah yang sulit dijelaskan.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2