
“Astagfirullah, Sha! Terus aku harus gimana ini, sulit banget tahu, nentang keinginan si Aryo itu!” keluhnya pada Shasha.
Shasha mengangguk paham, setelah ia mendengarkan cerita panjang lebar dari Grey, soal Aryo yang akan mengadakan pesta untuknya.
“Gue juga bingung, Grey, tapi gue juga ngerti sih, gimana perasaan lo sekarang. Satu sisi, lo gak bisa mengabaikan kerjaan lo atau lepas tanggung jawab gitu aja, dan satu sisi lo juga pasti gak nyaman dengan posisi baru lo ini. Gue paham, Grey.”
“Iya, kamu paham, tapi solusinya gimana Sha … aku butuh solusinya! … SOLUSINYA!” ucapnya mempertegas, sambil menjejakan kaki dengan keras ke lantai.
Shasha tampak berpikir. “Hm, begini aja, lo tetap kerja aja, terus pastikan selama satu bulan kedepan semua kerjaan lo harus udah selesai, jadi dengan begitu, lo bisa resign dengan tenang,” usul Shasha.
"Ah ... tapi aku udah enggak betah, Sha!" rengeknya.
“Ya udah, mau bagaimana lagi, semuanya udah terlanjur, Grey. Kalau lo nolak juga, pasti Pak Aryo juga bakalan makin gentayangan ngehantuin elo,” ujar Shasha.
Grey mencebik kesal, ia kemudian menjatuhkan kepalanya di atas meja kerjanya. Ia menjeduk-jedukkan dahinya berulang kali di atas meja. Lalu kembali menatap Shasha yang duduk di sebrangnya.
Shasha menatap malas, melihat Grey yang tengah memasang wajah mendungnya. “Udah, jangan masang wajah melas begitu, lo mau nangis darah juga Pak Aryo bakalan tetep ngadain pestanya!”
"Lagian orang-orang kantor juga udah tahu soal pesta ini, soalnya tadi pagi Pak Anton udah wawarin soal ini sebelum lo datang," ucap Shasha, membuat Grey semakin bingung dan ingin menangis sejadi-jadinya.
“Ahhh … Shasha, aku stress, aku depresi, Sha. Apa perlu aku gantung diri di pohon toge,” rengeknya dengan wajahnya yang tampak begitu stress.
“Eits jangan! Jangan tanggung ... sekalian aja lu gantung diri di atas pohon jahe!” cerca Shasha dengan malas.
"Ya Allah ... laaillaha illallah ...."
Selagi merengek seperti itu, tiba-tiba suara seseorang mengejutkan Grey.
“Permisi Nona Grey.” Anton menginterupsi oborlan Grey dan Shasha.
Grey mendongak, menatap wajah Anton yang selalu senyum gaya pepsodent padanya.
“Apa?!” tanyanya lemas.
“Tuan Aryo memanggil, Nona, untuk segera ke ruangannya,” ucap Anton memberi tahu.
Grey kembali berdecak, sambil merengek kepada Shasha. “Ah… Shasha….”
“Udah sana gih!” titah Shasha.
Dengan rasa malas yang menyelimuti, Grey harus bergelut dengan keinginannya. Tubuhnya ingin tetap diam di situ, tetapi panggilan Aryo padanya, memaksa kakinya untuk tetap melangkah.
Kini Grey sudah sampai di ruang kerja Aryo. Tidak ada sopan santun, atau malu sedikitpun, Grey langsung mengeluarkan unek-uneknya pada Aryo soal kekesalannya mengenai pesta yang akan diadakan oleh lelaki itu secara mendadak.
“Udah keselnya?” tanya Aryo, saat wanita yang berdiri di depan mejanya itu tengah mengambil nafas, karena selama beberapa menit dia terus mengoceh tidak terima atas jabatan barunya.
Aryo menutup laptopnya, lalu berdiri dari duduknya, menatap dalam ke arah Grey sambil tersenyum miring. “Oh iya, biasanya kalau marah-marah begini bawaan lapar ‘kan,” ucapnya sambil mengingat kebiasaan Grey dulu, saat mereka masih berpacaran.
__ADS_1
"Anton!"
"Anton!" Aryo berteriak memanggil sekretaris andalannya.
Anton yang tengah sibuk mengecek data di ipadnya di ruangannya, ia pun bergegas pergi menemui Aryo.
“Iya, Tuan ada apa?” tanya Anton dengan sigap.
“Antar aku ke Le Quartier,” ucap Aryo.
Anton mengangguk sigap. “Siap, Tuan. Kapan, Tuan, sekarang atau nanti?” tanya Anton.
“Besok! … Ya sekarang lah, Anton.”
“Oh oke siap, Tuanku,” balas Anton dengan senyumannya yang menyilaukan pandangan.
Aryo dan Anton berjalan hendak ke luar, tapi sebelum sampai di pintu, Aryo menoleh ke belakang, menatap Grey yang masih berdiri mematung di depan meja, dan masih dengan wajahnya yang mesem, kesal padanya.
“Kenapa masih diam di situ? Ayo,” ucap Aryo pada Grey.
Grey masih terdiam mencebikan bibirnya. “Siapa juga yang mau ikut sama kamu,” balas Grey begitu ketus.
Aryo menghela pasrah. “Mau jalan sendiri, apa aku gendong nih?” tawarnya.
“Ck.” Grey berdecak kesal, berjalan sambil menghentakan kakinya ke lantai dengan keras.
"Udah ah, kalau enggak penting-penting amat, aku mau keruangan kerjaku aja!" protes Grey.
"Ikut, atau aku temani di ruang kerjamu?" tawar Aryo, yang sebenarnya tawarannya tidak ada yang benar.
Grey membuang nafas, lalu akhirnya ia pun keluar dari ruangan tersebut dengan kesal.
Dan kini, mereka bertiga sudah berada di dalam mobil. Anton sibuk mengemudi di depan, sedangkan Grey dan Aryo duduk di kursi belakang. Awalnya Grey ingin duduk di depan dengan Anton, akan tetapi Anton merasa tidak nyaman, dan malah menyimpan beberapa kardus di kursi depan agar Grey tidak jadi duduk di sana.
“Sepi banget ya, kayak di kuburan,” celetuk Aryo membuka keheningan.
“Gak sepi kok, Tuan. Ini ramai begini jalanannya,” balas Anton yang tidak paham arah pembiaraan bosnya itu.
Aryo menghela kasar. “Objeknya bukan jalanan, tapi di dalam mobil ini!” seru Aryo menjelaskan. Membuat Anton ber-oh panjang.
“Oh, kirain jalanannya yang sepi, hehe.”
“Ya jalanan mah, dua puluh empat jam juga ramai, gak bakalan sepi, kecuali jalanan hutan!” balasnya dengan emosi.
“Hehe, betul sekali, Tuan.”
Kini Aryo melirik ke arah Grey yang sedari tadi, fokus memandang jalanan lewat jendela mobil, bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya.
__ADS_1
“Grey, kamu ini kenapa sih, dari tadi diam mulu? Sariawan?” tanya Aryo pada Grey.
Grey pura-pura tidak mendengar, ia sangat enggan menjawab pertanyaan Aryo, ia hanya melirik sekilas lalu kembali mengalihkan padangannya ke arah kaca jendela mobil. Ia lebih memilih melihat jalanan dari pada melihat wajah Aryo yang membuatnya darah tinggi.
“Apa kamu lagi PMS?” tanya lagi, membuat Grey, langsung mengkosongkan pandangannya, ia ingat kalau haidnya sampai sekarang belum kunjung datang juga.
Tiba-tiba perasaan Grey jadi tidak karuan. "Ya Allah, aku lupa, kenapa sampai sekarang haidku belum datang juga ya?" batinnya merasa was-was.
___
Dan kini, mereka semua sudah sampai di restoran yang dituju. Mereka pun keluar dari dalam mobil, dengan dibukakan terlebih dahulu pintu mobilnya oleh Anton.
Setelah itu, mereka pun masuk ke restoran tersebut. Duduk di meja yang sebelumnya sudah Anton booking.
Sedangkan itu, di restoran yang sama, Wisnu dan Aurel tengah sibuk menikmati makanan yang mereka pesan. Wisnu memakannya begitu lahap, akan tetapi di sela-sela aktivitas makannya itu, entah kenapa ia jadi ingat akan masalah percakapan kemarin di restoran bersama Grey.
Ia ingat, kalau Grey berkata akan merebut perhatiannya, dan akan berusaha membuatnya jatuh cinta. Tiba-tiba Wisnu merasa begitu kesal, ia menyimpan sendok dan garpunya begitu saja. Membuat Aurel yang duduk di sebrangnya bertanya-tanya.
“Loh, Nu, kenapa gak dihabisin makannya?” tanya Aurel.
Wisnu yang tengah menggerutu di dalam hati, ia mengerjap lalu mengalihkan fokusnya pada Aurel. “Hah? … Oh, ini udah kenyang,” jawabnya sambil tersenyum hambar.
“Serius? Itu kamu baru makan setengahnya loh,” lanjut Aurel menatap heran.
Wisnu mengangguk dengan pikirannya yang tengah melanglang buana mengingat perkataan Grey. Lalu karena merasa tidak nyaman, ia pun izin untuk pergi ke toilet. Aurel menatapnya heran, karena sebenarnya sejak tadi Aurel memerhatikan tingkah Wisnu yang sedikit berbeda dari biasanya.
“Tumben dia kayak begitu,” gumam Aurel lalu kembali melahap makanannya.
“Sialan! Kenapa sih terus kepikiran dia!” gerutu Wisnu mengacak rambutnya. Ia mencuci tangannya dengan kasar di bawah kucuran air di westafel.
Setelah itu, ia pun membasuh wajahnya dan mengeringkannya menggunakan tisu yang tersedia di dinding dekat westafel.
Dan saat ia keluar, secara tidak sengaja, ia melihat Grey sedang duduk bersama seorang pria. Wisnu tidak bisa melihat siapa lelaki itu, hanya bisa melihat punggung serta pundak dari belakangnya saja.
“Gak! Gak mungkin itu dia,” gumam Wisnu ingin menepis bayangan Grey di dalam pikirannya, lalu membuang pandangannya. Hanya saja, karena penasaran, ia pun kembali melihat ke arah meja yang jauhnya 15 meter darinya. Dan lagi-lagi matanya masih dapat melihat dengan jelas, bahwa wanita itu benar-benar Grey, istrinya.
“Ini aku yang salah lihat, atau dia emang beneran ada di sini sih?” tanya Wisnu pada dirinya sendiri.
Karena tidak ingin terus menerus bergelut dengan pikirannya. Akhirnya ia pun memberanikan diri untuk melangkah pergi menghampiri seseorang yang mirip dengan istrinya itu di meja sana.
Dan saat ia hampir dekat, Wisnu langsung memebliakkan kedua matanya begitu terkejut, bahwa ap ayan dilihatnya itu memang benar, wanita itu adalah istrinya bukan sekedar bayangan di benaknay saja.
“Anggreya?!” pekik Wisnu saat ia benar-benar hampir sampai di dekat mejanya Grey.
“Mas Wisnu.”
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa berikan komentar terbaiknya di kolom komentar di bawah ya. Terima kasih pembaca setiaku. Love love sekebon pisang buat kalian semua.
Follow ig author @dela.delia25 untuk mendapat info seputar novel yang aku update ya. Terima kasih.