Noda Pengantin

Noda Pengantin
Menyelidiki Aryo


__ADS_3

Malam ini, Cakra sengaja menginap di rumah Dewi, selain karena memang sudah jadwalnya ia menginap di rumah kedua, ia juga ingin menanyai Aryo soal kedekatannya dengan Grey—menantunya. Apalagi setelah mendengar cerita dari Shindy, kalau Aryo memang memperlakukan Grey dengan berbeda.


Dewi baru saja selesai menuangkan nasi dan beberapa macam lauk pauk di atas piring lalu memberikannya kepada Cakra.


“Terima kasih,” ucap Cakra tersenyum menerimanya.


“Iya, Pa, sama-sama,” balas Dewi, lalu duduk di samping suaminya tersebut.


Cakra mengedarkan pandangannya ke arah pintu masuk yang terlihat dari ruang makan. Tapi, tidak ada tanda-tanda kepulangan anak sulung dari dirinya dengan Dewi.


“Aryo, kenapa belum pulang? Apa dia memang sering pulang malam?” tanya Cakra, begitu ia melahap sesuap nasi yang ditambahkan dengan potongan daging sapi berukuran kecil.


“Em, biasanya sore sudah pulang. Mungkin hari ini lagi ada meeting ke luar kota, atau mungkin lagi banyak hal yang harus dikerjakan makanya pulangnya telat,” jawab Dewi.


“Udah nelepon kamu?”


Dewi menggeleng pelan. “Sebentar, aku lupa belum mengecek ponselku dari sore,” ucapnya lalu berdiri dari duduknya, dan begitu ia hendak melangkah meninggalkan meja makan, tiba-tiba pintu terbuka seiring dengan masuknya Aryo ke dalam rumah.


“Assalamualaikum, Bu!” ucapnya sedikit keras.


“Wa’alaikumussalam ....” Balas Dewi dan Cakra bersamaan.


“Eh, Papa nginep di sini ya, Pa?” tanya Aryo seraya menyalami tangan Ibunya lalu beralih kepada Papanya.


“Iya, beberapa hari ini Papa nginep di sini,” jawabnya. Aryo tersenyum mengangguk, ikut senang mendengarnya.


“Ayo, kamu ikut makan bareng kami,” ajak Dewi, Aryo mengangguk siap, karena sebenarnya ia pun belum sempat makan lagi, dan sekarang perutnya sudah keroncongan.


___


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam, Cakra dan Dewi tengah asyik menikmati tontonannya di televisi. Sedangkan Aryo, lelaki itu sejak selesai makan malam tadi dia terus aja berdiam di kamarnya sendiri.


“Dew, aku mau ke kamar Aryo dulu ya,” ucap Cakra setelah ia merasa resah menantikan anaknya yang tidak kunjung kembali juga.


“Iya, Pa, masuk aja, biasanya enggak dikunci kok,” jawab Dewi mengizinkan. Cakra pun pergi menuju kamar Aryo.


Tok, tok, tok, suara ketukan pintu terdengar membuyarkan lamunan Aryo saat ia tengah memandangi sebuah foto diponselnya.


“Aryo,” panggil Cakra dari luar.

__ADS_1


“Oh, Papa ... masuk aja, Pa, pintunya enggak aku kunci kok,” sahut Aryo sedikit berteriak.


Cakra pun membukanya pelan, lalu masuk menghampiri anaknya yang tengah duduk di tepi ranjang sendirian.


“Kamu sedang apa?” tanya Cakra sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar Aryo, lalu mendaratkan tubuhnya di atas sisi ranjang.


“Enggak ngapa-ngapain kok, Pa, lagi main handphone aja,” jawabnya. “Memangnya ada apa, Pa?” tanya Aryo tanpa ada rasa curiga sedikit pun.


Kedua mata Cakra masih sibuk mengelilingi seluruh isi kamar anaknya yangs udah lama tidak ia lihat. “Enggak ada apa-apa, Papa cuma ngerasa aja, udah lama enggak ngobrol dekat sama kamu,” jawab Cakra menoleh sambil menatap kedua manik indah milik anaknya.


Aryo tersenyum mengangguk, merasa sedikit malu.


“Gimana, kerjaan kamu di kantor, lancar?” tanya Cakra. Aryo terdiam sejenak, lalu mengangguk ragu.


“Emh, lumayan lancar, Pa ... ya meski kadang aku sedikit kesulitan kalau lagi nanganin masalah projectnya,” jawabnya. Karena bagaimana pun, Aryo masih terbilang awam dalam soal mengurus perusahaan, makanya Cakra hanya menjadikan dia sebagai general manager, bukan direktur utama/CEO.


“Oh ya, bagaimana usulan Papa soal Grey, kamu sudah mempertimbangkannya?” tanya Cakra.


Aryo kembali mengingat permintaan Papanya itu agar Grey diberhentikan dari pekerjaannya, karena wanita itu tengah hamil.


“Emh, iya sudah, Pa, sampai akhir bulan ini,” jawabnya.


Cakra mengangguk. “Baguslah kalau begitu, Papa hanya ingin menantu Papa bisa fokus mengurus diri dan suaminya, lagi pula pendapatan Wisnu sudah mencukupi segalanya, Grey tidak perlu bekerja seperti sekarang ini,” ungkapnya.


Hening.


“Oh ya, Papa mau tanya sesuatu sama kamu boleh?” tanya Cakra seolah ragu, karena bagaimana pun ia harus berhati-hati jangan sampai anaknya itu merasa tersinggung dengan ucapannya.


Aryo memandang wajah Papanya dengan heran, lalu mengangguk pelan mengiyakan. “Boleh ... kan dari tadi juga Papa lagi tanya-tanya sama aku,” ucapnya sambil terkekeh kecil.


“Haha, iya juga ya ... emh, tapi ini pertanyaannya agak sedikit berbeda, Papa harap kamu tidak akan tersinggung mendengar pertanyaan Papa ini,” ucap Cakra hati-hati.


Aryo membeliakkan kedua matanya. “Hm, memangnya Papa mau tanya apa gitu?”


Cakra terlihat menarik nafas, lalu membuangnya pelan. “Begini ... apa kamu dan Grey dulunya saling mengenal?” tanya Cakra.


Aryo terdiam. “Kenapa Papa bertanya seperti itu padaku? Apa Papa tahu ya kalau aku pernah pacaran sama Grey? Atau mungkin Papa hanya curiga karena aku terlalu dekat dengannya?” batinnya.


Setelah seperkian detik terdiam, akhirnya Aryo pun menjawab. “Iya, aku kenal dia karena dia juniorku saat kuliah. Memangnya kenapa gitu, Pa?”

__ADS_1


“Hm, begitu ya. Apa kamu pernah menjalin hubungan dengannya?” tanya Cakra semakin curiga.


“Hubungan? Hubungan apa yang Papa maksud, aku tidak mengerti?”


“Apa kau pernah berpacaran dengannya?” Ingin rasanya Cakra melayangkan pertanyaan itu kepada Aryo, tapi jika terlalu lancang seperti itu, rasanya ia juga tidak nyaman, dan pastinya akan menyinggung perasaan Aryo.


“Ya hubungan misalnya teman satu organisasi atau apa gitu. Papa lihat, kamu cenderung lebih dekat dengannya,” ucap Cakra.


“Oh, jadi Papa memang benar-benar curiga padaku karena aku terlalu dengan dengan Grey. Haha, apa perlu ya aku jawab semuanya dengan jujur dan mengatakan kalau aku adalah mantan kekasih dari menantu kesayanganya itu,” batin Aryo, sekilas mendapat bisikan syaiton agar dirinya mengatakan semua kebenaran antara hubungan dirinya dengan Grey di depan Papanya.


Namun sepertinya, bisikan lain terasa di hatinya, agar bibirnya itu mampu menahan ucapannya. “Pernah, tapi hubungan aku dengan Grey tidak sedekat itu, mungkin Grey juga tidak tahu kalau aku pernah satu organisasi dengannya, ya ... Papa juga tahu ‘kan kelakuan aku saat kuliah di sini bagaimana,” ucap Aryo.


Cakra mengangguk sambil berpikir membenarkan, ucapan anaknya itu.


“Iya benar apa katamu, Nak. Tapi sebenarnya Papa hanya ingin berpesan saja, agar kamu lebih bisa menjaga jarak dengan kakak iparmu itu, meski hubungan kalian baik dan akrab, tapi setidaknya itu bisa sedikit memberi ruang kepada Wisnu agar dia lebih berprilaku baik pada istrinya.”


“Haha dasar, bisa-bisanya Papaku ini melarang aku untuk dekat dengan Grey. Apa Papaku ini lupa ya, kalau sifat aku ini bagaimana, bagiku larangan adalah perintah, jadi ... jika aku dilarang untuk menjauhi Grey, maka aku akan melakukan sebaliknya, aku akan tetap mendekatinya,” batinnya bergumam sendiri.


“Hm, iya Pak. Aku sebenarnya melakukan hal ini karena ingin tahu saja, jika aku dekat dengan kakak iparku itu, apakah Wisnu akan sedikit cemburu dengan istrinya, karena yang aku lihat, sepertinya Wisnu masih begitu cuek kepada Grey,” ungkap Aryo menjelaskan.


Cakra pun kembali terdiam memikirkannya. Dan setelah dipikir-pikir, ada benarnya juga apa yang dikatakan oleh anak keduanya itu, kalau sesekali Wisnu memang harus ditest kecemburuannya untuk bisa mengetahui apakah dia peduli kepada istrinya atau tidak.


“Kamu benar!” pekiknya.


Aryo menautkan kedua alisnya menatap heran kepada Papanya.


“Kamu benar, Aryo. Sesekali dia harus dibuat cemburu agar dia tahu bagiamana rasanya diabaikan,”


Aryo terkekeh ringat mendengarnya. “Jadi, maksud Papa gimana?”


“Ya, sesekali kau boleh dekat dengan Grey, tapi jika hanya dihadapan Wisnu saja, Papa ingin lihat reaksinya bagaimana jika ada yang lebih perhatian kepada istrinya di depannya langsung. Papa ingin tahu apa Wisnu akan cemburu atau tidak,” ucapnya tersenyum singkat.


“Haha, dasar, Papaku ini memang terlalu polos. Padahal dia sudah beristri dua, tapi hal semacam ini pun dia tidak mengerti. Baiklah, sepertinya bermain seperti ini cukup menyenangkan bagiku. Lagi pula, jika suatu saat nanti mereka tahu hubungan aku dengan Grey dahulunya seperti apa, aku juga siap kok untuk menggantikan Wisnu sebagai suaminya Grey,” batinnya berhalu ria.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Maaf ya setelah sekian purnama baru update lagi haha. Selamat weekend mentemen, jangan lupa ramaikan kolom komentarnya ya hehe


__ADS_2