Noda Pengantin

Noda Pengantin
Pesan Dari Masa Lalu


__ADS_3

Mentari pagi ini, tampak begitu indah, menampilkan cahaya terangnya yang menerangi bumi. Jalanan Jakarta di jam 07.00 pagi ini, terlihat sangatlah padat, dengan lalu lalang kendaraan yang tiada hentinya. Maklum, jadwal berangkat kerja dan sekolah, jadi pagi-pagi seperti ini, jalanan sedang berada di puncak kemacetan.


Setelah sampai di depan halaman kantor tempat Grey bekerja, ia segera turun dari taksi yang ditumpanginya, lalu memberikan beberapa lembar uang sepuluh ribuan kepada Pak Sopir tersebut, sebagai bayaran.


Grey memandang gedung tinggi yang ada di depannya. Gedung yang menjadi tempat ia mencari nafkas selama tiga bulan terakhir ini.


“Yeah, semangat kerja lagi, Anggreya,” ujarnya menyemangati diri sendiri, menatap gedung itu dengan peuh semangat.


Saat ia hendak melangkah, tiba-tiba sebuah tangan putih bersih merangkul pundaknya. “Cie, pengantin baru udah masuk kerja aja,” tegur Shasha, rekan kerja Grey yang paling nempel. Nempel bagaikan perangko.


Grey mencibir, sambil menjauhkan tangan Shasha dari pundaknya. “Emangnya kenapa kalau pengantin baru masuk kerja?” tanyanya seraya melangkah terlebih dahulu memasuki area lobby.


“Ya nggak apa-apa sih. Syukur malah, karena aku bisa ketemu lagi sama bestieku yang nyebelin ini,” ujar Shasha, kembali merangkul pundak Grey dengan erat. Mereka berdua pun segera naik ke dalam lift.


Beberapa pekerja yang lainnya juga ikut masuk, sehingga lift saat ini dalam keadaan penuh, berkisar sepuluh orang yang naik.


“Eh Grey, kamu tahu gak? Besok bakalan ada GM baru loh di sini,” ucap Shasha, antusias. Seolah ia begitu sangat menantikannya.


“Ya terus ...?” Grey tanyanya, seolah tak mau peduli, lalu ia mengeluarkan cermin kecil dari dalam tas kerjanya, mengamati wajahnya,untuk memastikan bahwa tampilannya masih bagus dan makeupnya tidak menor.


“Kata orang-orang sih, GM yang baru ini masih muda, tampan pula, trus katanya dia baru pulang dari luar negri loh. Duh, aku jadi enggak sabar pengen lihat, setampan apa sih orangnya.”


“Astagfirullah Shasa, giliran ada yang ganteng-ganteng kamu semangatnya luar biasa, ... trus kalau dia beneran ganteng, emang mau kamu pacarin?” tanya Grey terkekeh.


Shasha tersenyum malu, dengan kedua pipinya yang sudah merah merona. “Kamu bisa aja, Grey, tapi iya juga sih, kalau aku bica macarin dia, kenapa enggak, iya gak?” tanya Shasha sambil menyengir, membayangkan tampang rupawan dari GM barunya nanti.


Grey hanya menggeleng. Kalau sudah seperti ini, siap-siap Grey harus pasang telinga yang tebal, karena kemungkinan kedepannya sahabatnya itu akan terus bercerita soal GM tampannya itu.


```


Sementara itu, di perusahaan AF Group, perusahaan yang ada dalam naungan Wisnu. Sudah lima tahun ini, perusahan AF Group menduduki perusahaan industri teratas di Indonesia, mengalahkan beberapa perusahaan lainnya yang bersaing secara sehat dengan perusahannya. Semua Wisnu dapat semata-mata bukan hanya karena kegigihannya dalam bekerja, melainkan dukungan dan keterampilan serta kinerja para pekerjanya yang sangat laur biasa dalam memajukan perusahaannya itu.


Dan perusahaan Wisnu ini, adalah salah satu perusahaan paling diincar oleh para karyawan, karena kabarnya, setiap pekerja yang bekerja di AF Group mendapatkan kesejahteraan gaji dan insentif serta beberapa tunjangan lainnya yang membuat mereka semangat kerja dan betah kerja di sana.


Tepat pukul 09.00 pagi, Wisnu baru saja memasuki ruangan kerjanya. Ruangan yang cukup minimalis, bernuansa vintage yang membuat siapa pun yang ada di sini, pasti akan merasa nyaman dan betah.


Ia mendaratkan tubuhnya di atas kursi kerja berwarna hitam, dengan dudukannya yang begitu empuk. Lalu meraih laptop yang ada di mejanya dan membukanya.


Kedua matanya langsung membulat, sesaat setelah ia membuka pesan masuk lewat email pribadinya. Dilihatnya sebuah pesan dari aurellynda@.gmail.com


```


Aurellynda


Kepada saya

__ADS_1


Hai Wisnu, sudah lama tidak berkabar ya. Maaf, setelah sekian lama, aku baru menghubungimu lagi. Apa kamu masih ingat denganku? Aku harap kamu tidak lupa denganku ya.


Rindu Jakarta, rindu Seggara. Lima hari lagi, aku akan kesana, aku harap aku bisa bertemu denganmu.


```


Kedua mata Wisnu masih membelalak, tidak percaya dengan pesan masuk yang tiba-tiba muncul di gmail-nya. “Apa ... d-dia akan pulang?” gumam Wisnu, tersenyum tak menyangka. Ia buru-buru menggerakan jari-jemarinya. Menari di atas keyboard laptop, membalas pesan dari orang yang sangat dinantikannya itu.


```


To : aurellynda


Siapa yang tidak lupa, sama cewek yang hobbynya jajan batagor. Seggara, i’am comming. Aku akan datang menemuimu.


```


Raut wajah Wisnu yang awalnya ditekuk sejak pagi, kini langsung berubah drastis. Kedua matanya berbinar menampilkan cahaya keceriaan, perasaan bahagia juga kian merasuki hati dan pikirannya. Entah kenapa, tiba-tiba ia jadi begitu bersemangat untuk menjalani hari ini, terlebih saat tahu, kalau Aurel akan pulang ke Indonesia.


Senyuman manis itu masih tidak menyurut di wajah Wisnu. Ia tengah memainkan kursi kerjanya, memutarnya ke kanan dan ke kiri dengan pelan, sambil memandangi langit-langit ruangan.


Sekian detik selanjutnya ia terbangun, saat sadar akan suatu hal. “Tunggu! ... Tapi, kenapa dia bisa tahu alamat email pribadiku ya?” gumamnya, ia pun kembali mengingat-ingat. Karena, yang tahu alamat email pribadinya hanyalah ia, papanya serta Devan sekretarisnya.


“Apa mungkin Devan yang memberikannya? Tapi, kalau memang benar, bagaimana bisa dia menghubungi Devan?” Wisnu langsung berdiri, karena rasa penasarannya yang kian menggebu. Ia berniat untuk menghampiri Devan, di luar ruang kerjanya.


“Pagi, Tuan,” ucap Devan, seraya membawa tablet kesayangannya di tangan.


“Ah, baru saja aku mau menemuimu,” ujar Wisnu tersenyum lebar.


Devan memandangnya sejenak, seolah ada yang aneh dengan bosnya tersebut. Karena, jarang-jarang Wisnu bisa tersenyum selebar itu. Bahkan, sudah beberapa bulan ini Devan tidak pernah melihat senyuman di wajah Wisnu.


“Oh ada apa, Tuan?” tanya Devan, sedikit membungkukkan bahu dan menganggukkan kepalanya begitu sopan.


Wisnu melipatkan bibirnya ke dalam sejenak, sambil berpikir. “Begini, apa dalam beberapa hari terakhir ada orang yang menghubungimu, dan meminta alamat email pribadiku padamu?” tanya Wisnu penasaran.


Devan terdiam, lalu berpikir sejenak, mencoba mengingat-ingat akan yang dimaksudkan oleh Tuannya itu. Sekian detik kemudian, Devan menggelengkan kepalanya pelan sebagai tanda jawaban. “Tidak ada, Tuan.” Wisnu melebarkan kedua matanya, lalu mengusap dagunya merasa heran.


“Memangnya ada apa, Tuan? Apa email, Tuan, ada yang meretas?” tanya Devan panik.


Wisnu menggelengkan kepalanya, tanpa bersuara.


“Hm ... terus, kenapa dia bisa tahu ya?” gumamnya pelan.


“Dia siapa, Tuan?” Devan kembali bertanya karena tidak sengaja, telinganya yang jeli akan suara itu dapat mendengar gumaman pelan dari mulut Wisnu.


Wisnu mengerjap. “Oh tidak, bukan siapa-siapa.”

__ADS_1


Wisnu hendak memutar badan untuk kembali ke kursi kerjanya, tapi ia ingat, ia belum bertanya kepada Devan akan tujuan dia masuk keruangannya.


“Oh ya, aku lupa. Apa ada meeting hari ini?” tanya Wisnu.


“Iya, Tuan, ada. Jadwalnya jam sembilan. Jadi sepuluh menit lagi kita harus sudah bersiap-siap, Tuan,” tutur Devan.


“Oh baiklah. Oh ya, apa berkas dan power point yang kita rencanakan waktu itu sudah kamu persiapkan semuanya?”


Devan mengangguk. “Sudah siap semuanya, Tuan.”


“Bagus! Kau memang selalu bisa diandalkan, Dev. Baiklah kalau begitu, lima menit lagi aku akan keluar,” tutur Wisnu, kembali mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.


***


Setelah jam kerja selesai, Grey segera merapikan meja kerjanya, membereskan beberapa berkas dan kertas notes yang berserakan di atas mejanya.


“Grey, kamu pulang dijemput suamimu gak?” tanya Shasha, yang sudah berdiri di dekat meja kerja Grey.


Grey yang tengah sibuk merapikan alat tulisnya, ia menoleh ke arah Shasha. “Emh, enggak. Sore ini, aku mau mampir dulu ke rumah omku.”


“Serius, kamu enggak dijemput?” tanya Shasha meyakinkan. Grey mengangguk sebagai jawaban.


Shasha menggelengkan kepalanya pelan. “Wah, parah sih, tadi pagi lo ke sini naek taksi, sekarang giliran pulang kok gak dijemput. Emang sebegitu terpaksanya ya dia nikahin lo?” tanyanya.


Karena, Shasha juga tahu, kalau Grey menikah dijodohkan dan hanya dijadikan sebagai alat pembayar hutang omnya. Tetapi, Shasha tidak tahu sosok lelaki seperti apa yang menikah dengan Grey, karena Grey yang menyembunyikannya, bahkan tidak banyak orang yang tahu, kalau Grey sudah menikah. Orang-orang di kantornya pun tahu Grey kemarin tidak masuk kerja karena  alasan cuti sakit, bukan karena cuti menikah.


“Hm, tak tahu lah, udah biarin aja. Ayo, kita pulang bareng aja,” ajak Grey setelah ia membereskan semuanya, lalu langsung merangkul pundak Shasha, menenangkannya sekaligus menawarinya untuk jajan es buble kesukaannya.


Setelah selesai membeli jajanan, kini mereka berdua harus berpisah di jalan raya, karena arah jalan pulang mereka yang berbeda arah. Grey, segera menaiki taksi yang baru saja dicegatnya. Lalu taksi tersebut membawanya pergi menuju alamat rumah omnya.


“Ini, Pak, makasih ya,” ucap Grey, saat ia hendak keluar dari dalam mobil, karena taksi yang ditumpanginya sudah sampai, tepat di depan halaman rumah om Rama.


Keadaan rumah, sore itu terlihat cukup sepi. Grey terus mengetuk pintu sambil mengucapkan salam. Akan tetapi tidak ada sahutan dari dalam. "Om, tante! Assalamu'alaikum ...."


Masih sepi tidak ada yang menjawab. Grey pun mengintip leway jendela. Tapi dilihat lewat jendela pun di dalam rumah tidak ada siapa-siapa.


“Om dan tante kemana ya? Kok rumah sepi banget?” gumam Grey, saat ia mencoba mengetuk pintu lagi.


Tiba-tiba ....


Bersambung....


Hai semuanya, untuk sementara novel ini belum ada visualnya ya, soalnya Dela masih bingung nyari visual yang cocok untuk karakter di novel ini.


Eh iya, udah hari selasa, yang punya kupon vote, bantu vote ya mentemen, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2