Noda Pengantin

Noda Pengantin
Membuatmu Jatuh Cinta Padaku


__ADS_3

Malam harinya Grey mengajak Wisnu untuk mencari makan ke luar, meski awalnya pria itu menolak, akan tetapi pada akhirnya Wisnu pun mengiyakan ajakan Grey, karena Grey yang terus menerus memohon dan minta makan di luar dan tidak mau take away.


Kini mereka berdua masuk ke sebuah restoran yang tidak jauh dari hotel. Mereka mendudukan tubuhnya di atas kursi yang tersedia di sana.


Seorang pelayan pun datang menghampiri mereka menawarkan menu makanan. Wisnu memesan spageti Bolognese extra sozis kesukaannya dan minumannya ice lemon tea. Sementara Grey, ia memesan macaroni cheese dan minumnya ice lechye tea.


Setelah selesai menuliskan pesanan Grey dan Wisnu, pelayan itu pun pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Suasana restoran tersebut cukup ramai, an nuansanya yang cukup indah berada di atas rooftop, menyajikan keindahan malam dan gemerlap lampu yang membuat suasana semakin terasa romantis.


romantis untuk pasangan yang lagi akur, kalau enggak akur kayak Grey dan Wisnu, semuanya dirasa biasa saja.


Selagi menikmati pemandangan, Grey dan Wisnu secara tidak sengaja saling beradu pandang. Grey langsung tersenyum simpul saat tatapan mereka bertemu. Membuat Wisnu yang melihatnya langsung mengerutkan kedua alisnya merasa heran.


“Ngapain senyum kayak begitu?” tanya Wisnu dengan sinis.


“Enggak,” ucapnya lalu diakhiri dengan gelak tawa kecil yang ditahan.


“Enggak! Tapi malah ketawa,” balas Wisnu.


“Haha … sebenarnya aku lucu aja sih kalau inget soal tadi pagi.”


Wisnu mengerutkan keningnya, ia ingat akan masalah masakan Grey tadi pagi.


“Bukannya kamu gak suka spageti bolognese ya? Tapi barusan, kenapa kamu pesan makanan yang gak kamu suka?” tanya Grey tiba-tiba.


“Aku gak suka kalau kamu yang bikin!” tegasnya sedikit kasar dan menusuk di hati.


Grey hanya terkekeh, mendengar jawaban pedas dari mulut lelaki yang ada di depannya. Kali ini ia sedikit bisa memahami, orang seperti apa suaminya tersebut. Ia tidak lagi merasa sakit hati atas ucapan yang dilontarkan suaminya. Ia hanya perlu untuk percaya diri, maka sakit hati tak akan ia rasakan.


“Benarkah? Tapi, tadi pagi aku lihat kamu makan spageti itu lahap banget loh, Mas. Masa sih, enggak suka sama masakan aku,” ucap Grey memancing.


“Emang gak suka! Lagi pula aku tahu tujuan kamu memasak untuk aku. Kamu masak buat narik perhatianku ‘kan?” tanya Wisnu sambil menatap sinis.


Grey terdiam sejenak, sambil mengangguk-anggukkan kepalanya pelan. Lalu tatapannya kini tampak serius ke arah Wisnu. “Emangnya kenapa kalau aku mau ngambil perhatian kamu?” tanya Grey semakin memancing.


Wisnu semakin tercengang, ternyata sekarang, istrinya bisa seberani itu berkata padanya. Ia menggeleng kepalanya pelan.


"Aneh! Dia benar-benar aneh hari ini," batin Wisnu.


"Kenapa diam aja? Emangnya enggak boleh ya aku ngambil perhatian suamiku sendiri?" tanya Grey semakin berani.

__ADS_1


Wisnu membuang pandanagnnya ke arah lain, sambil tersenyum kecut mendengar ucapan Grey. “Haha, jangan harap! Memangnya kau siapa, bisa mengambil perhatianku!”


“Aku? … Istrimu lah, memang siapa lagi.”


“Istri sih … tapi ….”


“Tapi apa? Tapi kamu gak suka sama aku? Gak sayang sama aku, gitu ‘kan?" ungkap Grey, membuat Wisnu semakin membelalakan matanya, shock mendengar ucapan istrinya.


"Tenang aja, Mas, Allah itu maha membolak-balikkan hati hambanya. Kalau aku minta, pasti lambat laun, Allah bakalan bikin kamu sayang sama aku, jatuh cinta sama aku,” ucap Grey dengan penuh percaya diri. Membuat Wisnu langsung tergelak mendengar ucapan dari istrinya tersebut.


"Haha! Pede banget kamu! ... Jangan harap! Aku yang menentukan perasaanku!" serunya kembali tertawa, merasa istrinya terlalu percaya diri berkata seperti itu padanya.


“Hm, sepertinya, langkah awal untuk membuat Mas Wisnu tertawa akhirnya berhasil. Langkah selanjutnya aku harus berhasil juga,” gumam Grey penuh tekad di dalam hati.


“Anggreya, Anggreya, kau ini terlalu pede atau bodoh sih? Ingat ya, jangan harap usahamu akan berhasil, karena sampai kapan pun, aku tidak akan pernah membuka hatiku untukmu! Kau paham!” tegas Wisnu menatapnya serius.


Grey mencibir pelan. “Hm, baiklah, terserah kamu saja, tapi kita lihat saja nanti. Jangan salahkan aku kalau nanti kamu jatuh cinta sama aku, Mas,” jawabnya diiringi senyuman manis pun kekehan pelan.


***


Setelah selesai menghabiskan makan malam, kini Grey mengajak Wisnu untuk pergi terlebih dahulu ke pameran malam. Jelas Wisnu langsung menolak mentah-mentah permintaan istrinya itu, ia tidak ingin menginjakan kakinya ke pasar malam yang ia anggap itu adalah tempat jelek dan tidak nyaman, bahkan rawan pencopetan.


“Ayo, sekali ini aja … abis ini janji deh kita langsung pulang,” pinta Grey.


“Ya udah, kalau gitu aku pergi sendiri aja. Kamu pulang aja sana ke hotel. Tapi, kalau aku ilang jangan salahin aku, biarin aja biar, papa nanti marahin kamu!” imbuh Grey, lalu berjalan terlebih dahulu meninggalkan Wisnu.


Wisnu mengacak rambutnya merasa kesal. “Dasar, nih cewek rese banget sih!” gerutunya. Dan dengan terpaksa ia pun berlari mengejar langkah kaki istrinya yang sudah pergi jauh dari pandangannya.


Grey tertawa penuh kemenangan, saat tahu kalau Wisnu berada di belakang tengah mengikuti langkahnya. Ia tersenyum mesem lalu mempercepat langkahnya memasuki area pameran malam.


Kini Grey menghentikan langkah kakinya di depan bianglala yang cukup besar. Benda bulat yang dikelilingi dengan ruang seperti kandang burung itu tengah berputar lambat. Ia tersenyum lalu menoleh ke arah Wisnu yang kini tengah berdiri satu meter di belakangnya.


“Naik ini yuk,” ajaknya. Langsung dibalas kerungan kening dan gelengan kepala oleh Wisnu.


“Udah, ayo naik.” Tanpa menunggu persetujuan Wisnu, Grey secara tidak sadar langsung menarik lengan suaminya itu dan membawanya ke tempat karcis yang tak jauh dari sana. Setelah itu ia pun langsung menaiki wahana permainan bianglala tersebut.


“Ngapain sih naik beginian, kayak anak kecil tau!” gerutu Wisnu yang sedari tadi merasa begitu kesal dengan tingkah Grey.


“Ya abisnya, mainan anak kecil itu seru-seru. Lagian bianglala kayak begini ‘kan bisa dinaikin sama orang dewasa juga,” sergah Grey, tampak begitu senang saat ia duduk di dalamnya.


“Tapi aku gak suka!”

__ADS_1


“Tapi aku suka,” balasnya sambil tersenyum sumringah saat bianglala yang dinaikinya mulai melaju berputar ke atas.


Wisnu menggeleng pelan semakin merasa sebal kepada istrinya tersebut. Ia pun mengalihkan pandangannya ke arah samping, melihat ke bawah begitu banyak orang yang tengah berada di pameran malam ini.


"Orang-orang kampung memang suka menghabiskan waktu di tempat seperti ini," batin Wisnu.


Selagi diam menikmati bianglala yang tengah melaju, tiba-tiba bianglala yang ditumpanginya itu terhenti saat mereka tepat berada di atas ketinggian yang paling puncak.


Wisnu sedikit gugup saat tahu benda yang ditumpanginya itu terhenti.


“Loh, kenapa berhenti?” tanya Wisnu panik langsung berpegangan pada besi yang ada di sampingnya.


“Mungkin mesin di bawahnya macet,” jawab Grey dengan santai.


“Apa … macet?!” Wisnu mengerutkan kedua alisnya merasa terkejut.


Grey membenarkan duduknya lebih tegak. Ia menatap heran ke arah Wisnu . “Kenapa? Takut ya?” tanyanya.


Wisnu menggeleng pelan. “E-enggak, siapa yang takut,” kilahnya membuang pandangan. Padahal terlihat jelas dari mimik wajahnya, bahwa lelaki itu tengah gugup ketakutan.


Grey terkekeh ringan melihat ekspresi panik dari suaminya tersebut. “Maklum lah ya, orang kaya gak pernah naik wahana macet kayak begini,” ujar Grey meledek.


Grey pun membenarkan duduknya sedikit menjorok ke kiri, membuat bianglala yang ditumpangi langsung bergerak bergelantung tidak stabil.


“Jangan banyak gerak bisa gak sih! Kalau kincirnya jatuh gimana? Kau mau mati bareng-bareng hah?!” teriak Wisnu semakin panik.


Bukannya sadar diri, Grey malah terbahak melihat ketakutan dari suaminya. “Ya ampun, Mas. Ternyata kamu orangnya takut ketinggian ya, haha.”


“Diam! Jangan banyak bicara. Kalau sesuatu terjadi dengan bianglala ini, lihat saja kau, aku akan menghukummu!” ancamnya dengan serius.


“Haha, Ya Allah ... astagfirullah," ucapnya mencoba menghentikan tawanya yang masih terasa menggelitik di perutnya.


"Diam! jangan ketawa!" teriak Wisnu tidak suka diketawai oleh Grey.


Grey langsung melipat kedua bibirya ke dalam, menahan tawanya sekuat mungkin.


Setelahh sedikit tenang ia kembai menatap wajah panik dari suaminya. "O-okay, okay, baiklah, aku akan diam,” ucapnya menahan kekehan kecilnya.


Bersambung....


Jangan lupa untuk berikan komentar terbaik kalian ya gaes.

__ADS_1


Follow ig aku @dela.delia25 untuk mendapat info seputar novel-novel yang aku buat. Terima kasih.


__ADS_2