
Setelah berbincang dengan om dan tantenya, Grey pun bergegas pulang, karena waktu sudah menunjukkan pukul 18.00 magrib, sebelum pulang ia juga menyempatkan waktu untuk solat magrib terlebih dahulu di rumah tantenya.
"Mas antarkan Grey dulu. Kalau, Mas enggak nganterin dia, yang ada nanti suaminya marah karena dia tadi ke sini gak bilang-bilang. Terus ini juga sudah malam," imbuh Sarah.
“Iya, iya," jawab Rama, yang baru selesai solat.
“Ayo Grey, om akan mengantarmu,” ajak Rama berjalan keluar rumah, yang diikuti oleh Grey dan juga Sarah dari belakang.
Diperjalanan, Rama membelokkan terlebih dahulu motornya ke sebuah toko handphone yang cukup terkenal di wilayahnya. Gerai handphone Iphone, yang paling banyak diminati oleh orang-orang kalangan atas. Karena, orang zaman sekarang beli Iphone kebanyakan hanya untuk bergaya dan gengsi saja.
“Loh, Om, kenapa kita ke sini?” tanya Grey begitu Rama memarkirkan motornya.
“Kita beli handphone dulu buat kamu. Ayo, cepat turun!” Rama membuka helm hitam yang terpasang di kepalanya. Begitu juga dengan Grey, ia segera turun dari motor, lalu melepas helm putih milik bibinya yang ia pinjam.
Grey dan Rama mengayunkan kakinya, memasuki gerai Iphone tersebut. Keduanya di sambut begitu ramah oleh para pegawai di sana. Mulai dari sapaan hangat hingga tawaran bantuan. Tak lupa, para pelayan di sini sangatlah murah senyum.
“Selamat malam Pak, ada yang bisa dibantu?” tanya salah seorang sales promotion girl begitu ramah, seraya melebarkan senyuman manisnya.
“Saya mau beli Iphone untuk keponakan saya,” jawab Rama.
“Silakan, Pak, mau Iphone tipe apa?” tanyanya.
“Mau yang paling bagus, yang terbaru saat ini Iphone apa ya?”
“Oh ada Pak, sebentar saya ambilkan terlebih dahulu contohnya.” Pelayan itu pun pergi terlebih dahulu untuk mengambil contoh sekaligus handphone terbarunya. Lalu kembali dan menerangkan kualitas serta keunggulan dari handphone Iphone 12 Pro Max yang berkapasitas 512 GB.
“Berapa yang ini?” tanya Rama begitu entengnya.
“Oh yang ini harganya Rp. 26.999.000 Pak.”
“Waduh! Mahal banget,” ucap Grey membeliakkan kedua matanya, karena handphone yang ia punya sebelumnya hanya berkisar harga 4 jutaan saja. Sang pelayan yang mendengar ucapan Grey, dia hanya tersenyum mengiyakan.
“Ya sudah, bungkus yang ini saja, sekalian tolong aktifkan biar bisa langsung dipakai,” ucap Rama, seolah ia tidak memedulikan soal harga.
Grey seketika bengong, lalu menatap omnya dengan penuh tanda tanya. Seolah ingin berkata, "Kerasukan apa Omku ini? Sampai bisa beliin aku barang mewah seperti ini?"
“Om, bukankah ini terlalu mahal? Bagaimana kalau kita beli yang lebih murahnya saja, Om?” usul Grey merasa tidak enak hati.
__ADS_1
“Tidak apa-apa, kamu sekarang adalah bagian dari keluarga Aronsky, gengsi kalau kamu hanya memakai handphone murahan,” ucap Rama, lalu mengeluarkan dompet dari dalam saku celananya.
“T-tapi Om, bukankah uang segini bisa Om gunakan untuk usaha, Om? Sayang banget kalau cuma dibelikan handphone,” bujuk Grey, berharap omnya akan berubah pikiran. Karena Grey tahu betul ekonomi Omnya tersebut, dan ia tak ingin menghabiskan harta Om-nya dengan membeli barang-barang yang terlampau mewah menurutnya.
“Tenang saja, Om membelikan ini, karena kamu sudah bersedia menikah dengan Wisnu. Hitung-hitung balasan karena kamu sudah menyelamatkan perusahaan Om,” ucapnya lagi.
Tentu, Rama bukanlah orang yang dengan mudah memberikan hartanya begitu saja secara cuma-cuma, ia akan memberi jika hanya ada sebab-akibat yang menguntungkan baginya.
Termasuk pada saat ini. Karena, setelah Grey menikah dengan Wisnu, kemarin sore, tuan Cakra mengirimkan sejumlah uang kepada Rama yang sangatlah besar, bahkan bisa digunakan untuk memodali kembali perusahaannya yang hampir bangkrut itu. Jika dihitung dalam jumlah mata uang Indonesia, mungkin uang yang diberikan oleh keluarga Aronsky mencapai jumlah 700 juta rupiah. Jadi, uang 26 juta untuk membeli ponsel Grey, bagi Rama sekarang tidak ada apa-apanya.
```
Jam sudah menunjukkan pukul 18.40 malam. Rama dan Grey baru saja sampai di depan halaman rumah utama keluarga Aronsky. Dilihatnya sang satpam yang berjaga, menyambut kedatangan Nona muda mereka.
“Om, mau masuk dulu?” tawar Grey. Namun, dengan cepat Rama menolaknya, karena ia juga tidak bermaksud untuk bertamu malam-malam seperti ini.
"Lain kali saja, Om bertamunya. Tidak enak juga sudah malam," jawab Rama. "Kamu cepatlah masuk, Grey, keluarga suamimu pasti sudah menunggu."
Grey mengangguk pelan. “Ya sudah, Om hati-hati ya dijalannya. Makasih juga buat handphonenya,” tutur Grey tersenyum cerah, seraya memberikan helm yang baru saja dilepasnya kepada Rama.
Baru saja berbalik badan, tiba-tiba, kilatan mata elang yang diberikan oleh Wisnu pada Grey, seolah membuat dirinya terpaku tak bisa bergerak. Ia terkejut, karena mendapati sang suami yang sudah berdiri di ambang pintu masuk.
Keduanya terdiam dalam keheningan. Hanya mata mereka yang saling bertautan memandang manik satu sama lain. Hanya saja, yang membedakan, pandangan Grey terlihat seperti ketakutan, ia takut kalau suaminya tersebut akan memarahinya.
“Dari mana saja kau? Jam segini baru pulang!” cetus Wisnu begitu sangar.
“Ma-maaf, sepulang bekerja, aku mampir terlebih dahulu ke rumah om Rama,” jawabnya sambil menunduk.
Tiba-tiba, dari belakang Wisnu muncul seorang gadis berkuncir kuda, memakai dres overall selutur bercorak kotak-kotak, gadis tersebut tak lain ialah Viona.
“Kak Wisnu ay—” Viona menggantungkan ucapannya begitu mendapati Grey yang mematung di depannya.
Viona kemudian melipat kedua tangannya di atas dada, menatap Grey dari atas kepala hingga ujung kaki, sambil memutar kedua bola matanya, merasa sebal. Ada gemuruh kesal di dada Viona. Bagaimana tidak kesal, ia harus menahan lapar hanya karena ulah menantu baru yang ada di depannya.
“Oh ... jadi ini, menantu yang tidak tahu aturan!” cetus Viona, membuat Grey begitu terhenyak mendengarnya, ia tak menyangka kalau adik iparnya akan berkata kasar seperti itu padanya.
“Gara-gara kamu, kami semua di rumah harus menahan lapar tau gak?! Lagian, jadi cewek kok gak tahu aturan banget sih, pulang malam-malam begini!” lanjutnya menggerutu kesal.
__ADS_1
Grey mengernyitkan kedua alisnya, ada debar menakutkan di dalam dadanya. “Apa? Menahan lapar?” tanya Grey sedikit gugup dan tercengang. Sedikit ia merasa tidak enak hati saat mendengar ucapan dari mulut Viona barusan.
“Iya! Dan kami kelaparan hanya karena menunggu kamu pulang!” sungutnya semakin merasa kesal.
“Udah ah Kak Wisnu, ayo masuk! Orang yang ditunggu juga udah datang juga!” ajak Viona kepada Wisnu.
Wisnu masih mematung memandang tajam ke arah Grey, tatapannya benar-benar sangat menyeramkan, seolah-olah, tatapannya itu mengartikan kalau dia ingin menusuk kedua mata Grey.
Grey semakin menunduk ketakutan, pandangannya ia alihkan ke arah lantai yang dipijaknya.
“Kau duluan saja,” jawab Wisnu pada adiknya, dengan suaranya yang terdengar begitu dingin.
Viona pun menurut, lalu membalikkan badannya sambil mencibir ke Grey.
Dug deg, dug deg, perasaan Grey saat ini benar-benar sangat tidak karuan, jantungnya seolah sedang berdisko karena rasa takut dan gugup yang semakin menyerangnya. Dan yang lebih mencekam lagi, keadaan yang terasa semakin sunyi dan hening. Tak ada yang bersuara di antara keduanya. Selain suara deru kendaraan yang terdengar samar dari jauh jalan sana.
“Masuklah! Dan jangan pernah mengulangi kesalahan yang sama!” tegas Wisnu setelah mereka saling berdiam diri selama beberapa menit tanpa suara.
Grey mengangguk pelan, ia memandang betis milik Wisnu, yang berada 2 meter dari pandangannya. Kaki yang sedikit berbulu itu terlihat mengayun, pergi menjauh meninggalkannya.
Setelah hilang dari pandangannya, akhirnya Grey pun bisa menghela nafasnya dengan lega. Setidaknya, jantungnya kini sudah tidak berdisko seperti tadi lagi. Lalu, ia pun dengan cepat melangkah masuk ke dalam rumah, menemui dan meminta maaf kepada anggota keluarga yang sudah menunggunya sejak tadi sore di meja makan.
Meski semua orang tengah kesal padanya, di keluarga ini, akan selalu ada satu orang yang begitu baik padanya, yaitu Papa Cakra.
“Sudah, tidak apa-apa, lain kali beri tahu dulu orang rumah ya, biar kami tidak cemas. Ayo, sekarang duduklah, kita makan bersama,” ajak Cakra, dengan raut wajahnya yang selalu terlihat ramah pun tampan dermawan.
"Huh, dasar ipar benalu!" umpat Viona sangat pelan.
.
.
.
Bersambung...
Hallo pembaca tersayang, gimana ceritanya seru gak? Kasih komentarnya di bawah dong atau masukan kritik saran buat author, author akan senang sekali menerimanya.
__ADS_1