Noda Pengantin

Noda Pengantin
Menyukai Aurel


__ADS_3

Sejak tragedi malam pertunangan itu, Wisnu merasa bimbang, karena sampai hari ini tepatnya di hari ke tiga setelah malam pertunangan itu, Aurel masih belum bisa dihubungi. Wisnu ingin sekali untuk bisa menghiburnya, tetapi ia juga tidak enak hati jika harus datang ke rumahnya begitu saja.


“Tuan, teman Anda yang bernama tuan Langit, sudah menunggu di depan lobby,” ucap Devan yang baru datang ke ruang kerja Wisnu.


Wisnu yang sedang melamunkan Aurel, ia pun mengerjap, lalu menyahut. “Baiklah, aku akan segera ke sana.”


Wisnu beranjak dari duduknya, sebelum meninggalkan ruangan ia teringat akan meetingnya dengan seorang klien dari Jepang. “Oh ya, Dev. Nanti sebelum meeting yang jam tiga itu, kamu tolong cek kembali semua datanya ya, dan pastikan jangan sampai ada yang kurang,” ucap Wisnu. Devan mengangguk mengiyakan, lalu setelahnya Wisnu  pun pergi meninggalkan ruang kerjanya.


Langit terlihat tengah duduk di atas sofa bulat yang tersedia di lobby, memainkan ponselnya sembari menunggu kedatangan Wisnu.


“Hey, udah lama nunggu?” tanya Wisnu menepuk pundak Langit.


“Eh, enggak kok, baru aja.” Mereka berdua saling bersalaman sambil mengadukan bahu mereka dan menepuk pundak satu sama lain sejenak, setelah itu baru mereka melepaskannya.


Langit datang untuk memenuhi janjinya sebelumnya, agar bisa berbincang dengan Wisnu sambil ngopi. Dan kini, mereka berdua pergi ke coffee shop yang ada di area gedung AF Group.


Mereka duduk di atas kursi kayu yang tersedia di pojok ruang coffe shop, pojok ini lebih tepatnya, adalah ruang khusus, atau bisa disebut sebagai pojok privacy.


“Oh ya dengar-dengar, kemarin acara pernikahannya Aurel gagal ya?” tanya Langit membuka pembicaraan.


Wisnu mengangguk. “Hm, benar. Lagi pula itu karena lelakinya aja yang kurang ajar,” jawab Wisnu seolah kesal.


Langit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hm, begitu ya ....”


“Oh ya, kau dengan Aurel masih berhubungan baik ‘kan?” tanya Langit. Wisnu mengangguk pelan.


“Kenapa memangnya?” tanyanya heran.

__ADS_1


“Nggak apa-apa, hanya ingin memastikan aja. Hm, kalau dipikir-pikir wanita secantik Aurel emang sayang banget sih kalau harus bersanding dengan lelaki bejad seperti calon tunangannya yang kemarin itu.”


“Emang.”


Mereka terdiam sejenak, lalu tak lama seorang pelayan pun datang membawakan dua cangkir kopi dengan dua piring kecil cemilan garing sesuai pesanan mereka.


Langit menatap Wisnu dengan serius, lalu mendekat dan sedikit mencondongkan kepalanya ke tengah meja, mendekati Wisnu.


“Oh ya, Nu, menurutmu ... kalau aku mendekati Aurel, kira-kira ....”


“Uhuk, uhuk, uhuk.” Wisnu tersedak oleh kopi yang tengah diminumnya. Ia benar-benar terkejut saat Langit mengatakan kalau dia ingin mendekati Aurel.


Wisnu langsung mengambil kotak tisu yang ada di tengah meja, mencabut beberapa lembar tisu dari kotak tersebut lalu mengelapkannya ke bibirnya dan ke bajunyaya yang basah.


“Ka, kau tidak apa-apa, Nu?” tanya Langit panik.


Setelah beberapa saat, Wisnu kembali menyesap kopinya lebih pelan. Lalu memfokuskan pandangannya kepada Langit.


“Gimana? Kau tadi bilang apa, Lang?” tanya Wisnu sedikit serius.


Langit tersenyum malu cengengesan. “Begini, kau tahu sendiri ‘kan, sejak kita sekolah aku selalu mengagumi Aurel.”


“Nah, jadi ... kira-kira kalau aku deketin Aurel di saat seperti ini, dia bakalan ilfil gak ya sama aku?” tanyanya serius.


Wisnu cukup tercengang mendengar penuturan dari temannya itu, ia berdehem keras saat mendengar penuturan Langit. Lalu melonggarkan sedikit dasi di kerahnya, seolah melepas sesak yang tengah berkumpul di dadanya.


“Ehm, untuk masalah itu, aku kurang tahu sih, akan tetapi sebaiknya, tunggu beberapa lama dulu, jangan langsung deketin dia, apalagi di saat seperti ini, dia pasti akan trauma dengan lelaki,” ucap Wisnu, langsung melahap cemilan yang ada di piring.

__ADS_1


Langit mengangguk-anggukkan kepalanya. “Hm, kau benar juga ya. Aurel pasti sangat enggan sekali untuk mengenal lelaki saat ini.”


“Nah itu, memangnya kau tidak punya incaran wanita lain selain Aurel?” tanya Wisnu menyelidik penasaran.


“Ada sih,” jawabnya membuat Wisnu sedikit bernafas lega.


“Tapi itu dulu ... saat dia belum kecelakaan. Dan sekarang orangnya udah gak ada,” lanjutnya dengan wajah lesu seolah sedih ketika mengingatnya lagi.


Wisnu kembali mengambil nafas dalam-dalam, lalu mengembuskannya kasar. Baru saja dirinya bernafas lega, kini ia harus kembali putar otak.


“Hm, aku turut berduka ya. Tapi tenang aja kok, wanita di dunia kan gak hanya satu, kalau gak dapet yang A bisa dapetin yang B ... kalau B gak dapet, masih bisa nyari si C. Begitu pun dengan kamu saat ini, kalau gak bisa dapetin yang pertama, masih ada wanita lain yang bisa kamu dapatkan, Lang.”


“Termasuk Aurel?” tanya Langit penuh harap.


Wisnu bingung untuk menjawabnya, ia pun mengangguk dengan ragu. “Emh, i-iya, kau bisa mendapatkannya jika kau beruntung. Tapi jika tidak, kau masih bisa mendapatkan wanita yang lebih baik lagi, kok. Asal jangan patah semangat aja,” ucap Wisnu, dilanjut dengan senyuman hambar yang sekilas terlihat di wajahnya.


Langit yang tampak atusias, ia mengangguk penuh keyakinan. “Kata-katamu benar sekali, aku harus tetap semangat, aku tidak boleh menyerah begitu saja jika nanti Aurel menolakku,” ucapnya penuh keyakinan.


Membuat Wisnu menepuk jidat, karena seharusnya dia tidak menyemangati temannya itu. “Sialan! Kenapa si Langit ini meski suka sama si Aurel juga sih!” batinnya mengegerutu kesal.


.


.


.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2