Noda Pengantin

Noda Pengantin
Bersikap Manis


__ADS_3

“Assalamu’alaikum.”


Aryo dan Grey langsung menoleh sambil menjawab salam dari orang yang terlihat ada di ambang pintu.


“Wa’alaikumussalam,” ucap Grey dan Aryo bersamaan.


Grey sedikit terkejut saat melihat orang yang ada adalah suaminya sendiri.


“Dari mana kamu, Nu?” tanya Aryo tanpa basa-basi.


Wisnu yang terlihat lesu itu, ia mengangkat satu kantong kresek putih yang ada di tangannya. “Beli makan,” jawabnya simple lalu menaruh belanjaannya di atas nakas.


“Tuh, aku juga udah bawa sarapan buat kamu ... dari ibu,” ucap Aryo menunjuk ke arah box makanan yang ada di atas nakas.


Wisnu tidak menjawab, lalu ia menoleh ke arah Grey yang tengah duduk sambil mengaduk-aduk bubur hendak melahapnya.


“Bubur itu kamu yang bawa?” tanya Wisnu pada Aryo.


“Hm.” Aryo mengangguk.  “Ibuku menyuruh Grey untuk memakannya. Jadi, maaf aja kalau tadi aku agak sedikit memaksa Grey untuk memakan bubur ini.”


Wisnu mengalihkan pandangannya kepada Grey. Ia jadi ingat akan pesan papanya semalam yang mengatakan untuk bisa berbuat lebih baik kepada Grey dan memperlakukan Grey layaknya seorang istri. Bahkan semalam juga Cakra mengatakan agar mengawasi Aryo dengan Grey, karena bagaimana pun meski mereka dekat sebagai mantan atasan dan bawahan, tapi Cakra juga menjelaskan kekhawatirannya karena sikap Aryo yang sedikit lebih perhatian kepada Grey.


“Benar, juga yang dikatakan papa. Terlalu berlebihan rasanya jika Aryo memperlakukan Grey seperti ini kalau hanya sebatas ipar,” gumam Wisnu dalam hati.


Tatapan Wisnu masih tidak surut dari wajah Grey. Membuat wanita itu merasa tidak enak, lalu menghentikan makannya.


“Ada apa, Mas?” tanya Grey.


Tanpa menjawab, tiba-tiba Wisnu mengambil alih box makanan tersebut dan merebut sendok itu dari tangan Grey.


“Loh, kenapa, Nu?” tanya Aryo heran.


“Enggak kenapa-napa, aku hanya ingin menyuapinya saja,” jawab Wisnu lalu mendudukkan tubuhnya di sisi brankar berdekatan dengan Grey.


Aryo dan Grey merasa sedikit terkejut mendengarnya.


Aryo bahkan merasa begitu heran, lalu ia pun berdiri dan beralih tempat sambil menyodorkan kursi yang tadi di dudukinya kepada Wisnu.


“Duduklah di sini, aku biar duduk di sofa,” ucap Aryo.


“Tidak perlu, kau bisa duduk saja di situ,” ucap Wisnu. Lalu ia pun mula menyendokkan bubur lalu menyodorkannya ke mulut Grey.

__ADS_1


Grey yang bingung dan heran dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba berubah sok perhatian padanya. Membuat dirinya malah termenung dalam pikirannya. “Apa ini mimpi? Kenapa Mas Wisnu jadi begini?” batinnya.


“Ayo, buka mulutmu,” ucap Wisnu.


Grey terhenyak, ia sadar kalau ini bukanlah mimpi. Ia pun langsung membuka mulutnya dan suapan pertama dari tangan Wisnu pun masuk.


Grey sebenarnya senang dengan apa yang dilakukan suaminya saat ini. Tapi ia juga merasa tidak enak, karena Grey merasa, Wisnu melakukannya tidak dengan kehendak hatinya.


“M-Mas, biar sama aku aja makannya,” ucap Grey menengadahkan tangannya ingin mengambil kembali box bubur tersebut.


“Tidak.” Wisnu menurunkan tangan Grey. “Kamu lagi sakit, jadi biar aku mengurusmu,” ucap Wisnu kembali menyendokkan bubur ke mulut Grey.


Aryo yang melihat perubahan sikap dari Wisnu, sedikitnya ia agak kesal, karena bagaimana pun, melihat wanita yang disayang diperlakukan manis oleh lelaki lain tentu membuat hatinya bergemuruh.


Bahkan, sampai bubur itu habis pun Grey tidak menolak setiap suapan yang diberikan oleh suaminya itu.


“Ini, minumlah,” ucap Wisnu, membantu Grey untuk minum dengan memegangi gelas tersebut dan menyodorkannya ke mulut Grey. Bahkan, setelahnya Wisnu juga membantu mengelap bibir Grey menggunakan tisue.


“Hm, udah kayak sinetron aja, elap-elap bibir segala,” batin Aryo yang sejak tadi tengah dibakar api cemburu.


“Tuh, kamu sarapan dulu, Nu,” ucap Aryo kepada Wisnu.


“Kamu enggak kerja?” tanya Wisnu kepada Aryo.


Aryo kebingungan, karena kalau ia bilang tidak pasti Wisnu akan semakin curiga dengannya.


“Nanti siang.”


“General Manager masa masuknya siang. Kasih contoh yang bagus dong buat karyawannya.”


“Ya, niat aku ‘kan baik, Nu. Aku ke sini mau jagain Grey, kali aja kamu mau pulang dulu,” ucap Aryo.


“Kenapa aku harus pulang? Istriku masih di rawat di sini, ya aku juga akan tetap di sini,” ucap Wisnu lalu mengambil box makanan yang berisi nasi goreng buatan ibunya Aryo.


“Ya sebenarnya aku kemari karena enggak enak aja, semalam Grey tercebur kan gara-gara aku juga.” Aryo masih mencari alasan agar ia tetap bisa di sini menemani Grey.


“Bukan karena kamu, itu mah karena istriku aja yang ceroboh. Tapi, lebih tepatnya aku yang salah, karena enggak merhatiin Grey,” ucap Wisnu menjawab telak ucapan Aryo.


Aryo semakin dibuat bingung harus menjawab apa lagi.


“Maafin aku ya, Grey,” ucap Wisnu tiba-tiba sambil mengelus sebelah pipi Grey dengan singkat.

__ADS_1


Membuat Grey langsung membulatkan kedua matanya, terkejut dengan apa yang dilakukan oleh suaminya saat ini.


“Ada apa dengan suamiku ini? Apa dia berbuat baik seperti ini karena aku sedang sakit?” gumam Grey di dalam hati.


“Ah, i-iya, Mas, enggak apa-apa, lagi pula aku yang ceroboh.”


Aryo yang semakin kesal melihat sikap Wisnu kepada Grey, ia mengalihkan pandangannya sambil tersenyum sinis, mengulum lidah.


“Gerah banget!” gumamnya sangat pelan.


“Hah? Kenapa, Yo?” tanya Wisnu.


Aryo membusungkan dadanya sejenak menarik nafas panjang. “Hah ... enggak,” ucapnya menggelengkan kepala.


“Ya sudah, kalau begitu aku pamit ya.”


“Ke kantor?” tanya Wisnu.


“Ya memangnya kemana lagi? Bukankah katamu aku harus bisa menjadi GM yang baik untuk karyawanku?”


Wisnu menyunggingkan bibirnya. “Hm, baguslah kalau begitu. Kau juga tidak perlu khawatir soal, Grey. Aku di sini yang akan menjaganya dan memastikan kalau dia akan segera sembuh.” Wisnu berdiri lalu menepuk sejenak pundak Aryo.


“Hm, baiklah, kalau begitu aku pamit ya, Grey, semoga kamu lekas sembuh,” ucap Aryo kepada Grey.


“I-iya, makasih,” jawabnya.


“Oh ya, thanks ya, bilangin sama Ibu ... nasi gorengnya enak,” ucap Wisnu. Aryo mengangguk sambil tersenyum paksa, lalu ia pun pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan berat hati.


Setelah Aryo pergi, Wisnu beralih posisi, ia duduk di atas kursi yang ada di dekat brankar. Lalu melahap kembali nasi goreng yang ada di tangannya.


“Sedekat apa kamu sama Aryo?” tanya Wisnu secara tiba-tiba, membuat Grey yang mendengarnya terkejut dan sedikit takut.


"Hah? Apa, Mas?"


.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2