
"baiklah yah, terimakasih ayah....!!" Seru jelita dengan riang gembira, seperti mendapat mainan baru.
Mereka pun menaiki kereta menuju pasar. tak lama mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di pusat kota. Mereka pun turun dari kereta.
"Wah.... Ini rame sekali,.."ucap Jelita dengan penuh ke kaguman.
"Iya nona, ini sangat rame..."ujar yuyu. Dan di ikuti anggukan kepala oleh yang lainnya. Mereka pun berjalan mengelilingi pasar. Ditengah jalan mereka melihat sebuah toko baju yang sepi pelanggan. Sementara di sebelahnya sangat rame di kunjungi pelanggan. Terlihat gadis-gadis kaum bangsawan mengerumuni toko itu.
Tanpa pikir panjang, jelita berjalan kearah toko yang sepi pelanggan itu. Xixi dan yang lainnya bingung, kenapa nona mereka tertarik mengunjungi tokoh yang sepi pengunjung. Sesampainya di sana, jelita dan ketiga pelayan itu langsung masuk kedalam. Dan disambut ramah oleh pemilik tokoh.
"Selamat datang di toko kami nona...!!" Ucap pemilik tokoh itu dengan ramah. Pelayan itu tidak memandangi mereka, walaupun pakaian mereka terlihat lusuh, ia tidak membedakan pelayanannya. Itulah yang membuat tokoh nya sepi pengunjung. Dikarenakan kaum bangsawan tidak mau disamakan dengan kalangan bawah.
"Boleh kami lihat-lihat dulu bibi...?" Tanya Jelita dengan sopan.
"Boleh nona, Silahkan.." ucapnya. Mereka pun melihat-lihat. Namun tidak ada satupun baju yang membuat jelita tertarik. Ia berjalan menemui pemilik tokoh itu.
__ADS_1
"Maaf bibi, boleh saya bertanya..? Apakah semua baju disini adalah hasil rancangan bibi...??" Tanya Jelita.
"Iya, nona. Semuanya adalah hasil rancangan saya, namun tidak ada yang tertarik nona." Ujarnya dengan lesu.
"Baiklah bibi, jangan lesu begitu. Aku kesini ingin bibi membuat kan baju untuk ku dan para pelayan ku." Ujar Jelita sambil menyerahkan buku rancanga baju yang sangat fenomenal di mata bibi itu.
" Ini.... Rancangan ini sangat indah..." Kagum ibu pemilik tokoh.
" Baiklah bibi, apakah bibi bisa menyelesaikan nya ?. aku membutuhkan baju itu, untuk ku gunakan tiga bulan lagi." jelita menjelaskan nya pada ibu pemilik tokoh itu." kalau boleh tau, nama bibi siapa ya..??" Tanya jelita lagi.
"Kau sudah pulang suamiku..." Ucap bibi Rosa menyambut kedatangan suaminya. Dari raut wajahnya, bibi Rosa tidak menanyakan apapun, karena ia tau, dagangan mereka tidak pernah laku, kalaupun laku, harganya tidak membuat modal kembali.
"Tenanglah suamiku, rezeki tidak kemana. Lihatlah, ada yang memesan baju pada kita." Ucap ibu Rosa, menunjuk kearah jelita dan para pelayannya. Ibu rosapun mengenalkan suaminya.
"Perkenalkan nona, ia adalah suami saya, namanya pak berto." Ujar ibu Rosa.
__ADS_1
" Salam kenal pak berto. Saya jelita." Ujarnya membuat sepasang suami istri itu terkejut.
"Jelita.... Maksud nya Jelita putri jendral Richard..?" Ucap ibu Rosa dengan penuh keterkejutan.
" Ya betul sekali bibi..." Ujar Jelita. Bibi Rosa tersenyum masam. Ia mendengar Rumor mengenai putri jendral Ricard jelita., Bahwasanya ia berwajah buruk rupa, sombong dan penuh dengan kedengkian. Namun yang ia lihat saat ini adalah, Jelita yang cantik bagaikan Dewi yang turun dari khayangan, baik hati dan penuh dengan sopan santun.
"Maafkan ketidak tauan kami nona,," ucap mereka seraya berlutut. Jelita langsung memapah mereka untuk berdiri.
"Kenapa kalian bersujud, aku bukan tuhan. Dan juga walaupun kalian melakukan kesalahan, aku tidak akan sampai hati juga untuk membunuh. Bangunlah" ujar Jelita. Suami istri itu bangun dari sujud mereka.
"Baiklah, sepertinya kami harus pergi. Kalau Bajunya sudah selesai,Antar kan saja ke kediaman jenderal Richard. Dan ini untuk bayaran awalnya." Ucap Jelita sambil memberikan sekantor koin emas. mereka pun pergi dari sana. Sebelum mereka keluar, jelita kembali bersuara.
"Bibi Rosa, aku sangat percaya dengan kemampuan mu. Jadi semangat lah. Dan juga, kau boleh menggunakan rancanganku untuk membuat baju-baju yang baru." Ucapnya berlalu pergi dan di ikuti oleh para pelayan nya.
***
__ADS_1