nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
bagian 81


__ADS_3

"eh… inikan, bolam, kulkas, mesin cuci, dan alat-alat elektronik lainnya. Kenapa bisa ada disini…?” Tanya melia dengan tampang bodohnya. Alio pin menepuk pelan jidatnya.


“aduh… kambuh lagi deh oonnya…” ujarnya pelan. “ ya tentu saja memel. Kan ini ruang dimensi yang bisa mengangkut barang-barang yang ada di zaman moder..!!” seru alio lagi. Siputih ikut menggeleng melihat ke absrutan tuannya.


“oh… iya ya… hehe, aku lupa…” ujar melia sambil menggarut kepalanya yang tidak gatal. Melia pun mendekti benda-benda itu.


“mmm… alio dan kamu putih. Bisa tidak mengerjakan apa yang aku suruh mala mini dengan cepat. Biar besok semuanya sudah selesai.” Ujar melia. Alio dan si putih pun menyaut.


“bisa nona… kami bisa bekerja dengan cepat.” Ujar mereka secara bersamaan.


“kalian ternyata kompak ya..hehehe…” ucap melia. Melia pun menyuruh alio dan si Putih untuk memasang bolam di setia kediaman. Ia menunjukan cara untuk memasangnya dan juga langsung menghubungkannya dengan tenaga listrik.


Mereka pun belajar dengan cepat dan segera mengerjakannya dengan cepat tanpa ada yang tau. Tak menunggu selama 30 menit, pekerjaan mereka pun selesai. Termasuk membuat dapur dan but thaup di kamar mandi melia seperti di dunia modern. Setelah itu, melia keluar ddari ruang dimensinya dan sangat puas denga hasil kerja keduanya.


“bagus.. ternyata kalian tidak hanya pandai bertarung. Tapi juga bisa diandalkan..” ucap melia dengan senyum mengambang di bibirnya.


[bertarung..? kita bahkan tidak pernah diajak bertarung sekali pun. Bahkan otot-otoku sudah sangat kaku. Kami jadi merasa tidak berguna untuk nona.] batin alio pasrah. Melia mendengarkan isi hatinya.


“karena belum saatnya untuk kalian. Dan aku juga tidak ingin terjadi apa-apa dengan kalian. Jadi bersabar saja alio.” Ujar melia lembut. Alio membulatkan matanya, ia lupa kalau melia bisa mendengar isi hati orng lain.


“hehehe… maaf kalau aku mengeluh memel.” Ujar alio.


“mmm tidak apa, dan sebaiknya kalian kembali sekarang kedalam ruang dimensi dan beristirahatlah.” Ucap melia. Mereka berdua pun langsung mengilang di hadapan melia, dan melia sendiri, sebelum ia tidur, ia menghidupkan semua lampu yang sudah terpasang itu. dan chass… semuanya menjadi terang menderang. Para pengawal yang berjaga pun sangat terkejut di buatnya mereka pun mulai bertaya-tanya.


“apa yang terjadi, kenapa sangat terang seperti di siang hari..” ujar mereka dengan terkejut. Bahkan penerangan ini dapat membantu mereka untuk bejaga-jaga.


“iya, ini sangat luar biasa, seperti sihir..” ucap yang lainnya.


“tapi sejak kapan, benda itu terpasang dan bagaimana cara melakukannya.” Heboh yang lain. Sejenak mereka menatap bola lampu yang mengeluarkan cahaya itu dengan ekpresi bodoh.


“hais,,, sudahlah. Ayo kita berjaga lagi, jangan sampai kebodohan kita ini menyebabkan petaka..” ujar yang lain menyadarkan.

__ADS_1


“ya.. baiklah…” mereka pun mulai kembali ke tempat masing-masing, namun mereka sesekali melirik lampu yang menyala itu.


***


Sementara di kediaman jendral Richard ia sangat terkejut tiba-tiba ruangan tempat ia melepas rasa lelahnya, tiba-tiba sangat terang. begitu juga di luar kediamannya.


“apa ini, kenapa sangat terang sekali…” ujarnya, ia bangun dan duduk mengamati lampu yang bercahaya itu. dalam hatinya ia mulai merasa khawatir. Tiba-tiba, diluar ia mendengar keributan yang di ciptakan oleh kedua istri dan putra-putrinya serta para pelayan yang mulai ketakutan. Barang kali mereka pikir ini adalah bencana. Jendral Richard pun keluar menemui mereka.


“ada apa ini, kenapa ribut-ribut..?” Tanya jendral Richard sambil berjalan menghampiri mereka. Mereka semua beralih  menatap jendral Richard yang datang menghampiri mereka.


“apa ini tuan, kenapa ini sangat terang sekali…?” Tanya nyonya catrine dengan cemas.


“tenang lah dulu istriku..” ujarnya menenagkan mereka.


“ayah… ini buakan bencana kan yah..?” Tanya jelita tak kalah cemas juga. Pramuga melihat wajah panic ayahnya pun merasa ikut panic. Karena mendengar keributan, melia dan mira pun keluar dan melihat apa yang sedang terjadi. Mereka langsung bergabung dengan mereka yang sedang berkumpul itu.


“ada apa ini yah, kenapa pada berkumpul diluar malam-malam seperti ini.?.” Tanya melia santai. Sementara mira mulai mengedarkan pandangannya, melihat kesana-kemari, takut terjadi sesuatu.


“bencana apa yah,? Kenapa seperti itu..?” Timpal mira. Jendral Richard menghela nafas berat.


“apa kalian tidak memperhatikan hal ini putriku. Lihatlah, dimalam hari ini, kediaman kita sangat terang karena benda itu. ayah takut, ini adalah sebuah jebakan untuk kita dan mereka akan menyakiti kalian. Ayah hanya menghawatirkan kalian saja..” ujarnya dengan menghiba. “jadi ayah mohon kalian semua tenanglah, biarkan ayah berpikir dulu..” ujarnya lagi. Melia dan mira ingin sekali tertawa terbahak-bahak melihat hal ini, tapi tidak mungkin mereka lakukan di depan ayah dan keluarga mereka.


“ayah… ini namanya lampu, lampu ini akan membantu penerangan di malam hari agar kita bisa beraktivitas. Dan lampu ini bukan bencana yah..” ujar melia memberi pengertian pada ayahnya. Jendral Richard menjadi bingung. Bagaimana caranya melia mengetahui benda itu.


“maksud kamu nak..? ayah tidak mengerti..?” ujar jendral Richard lagi. Melia pun maju selangkah lagi.


“kemarilah yah, biar melia tunjukan..” melia pun mengajak mereka semua kesebuah ruang control listrik. Kemudian melia menunjukan sesuatu sambil mendekat kearah saklar lampu. “ayah perhatikan baik-baik. Ini namanya saklar lampu, atau juga stop kontak. Jadi jika ayah menekan saklar kebawah, lampunya akan mati. Dan jika ayah menekan keatas, lampunya akan hidup lagi.” Ujar melia sambil menekan saklar lampu itu. “ kemudain, dimasing-masing kediaman kita juga ada yang seperti ini, jadi, kalau sudah pagi, kita bisa mematikannya dan bisa di hidupkan di malam hari. nah, ayah ibu dan semuanya, ini bukan bencana, tapi ini adalah lampu yang dapat memberikan penerangan di malam hari.” ujaar melia menjelaskan.


“iya yah, jadi ayah dan semuanya tidak perlu khawatir..” timpal mira lagi. “ini kami yang membuat, tapi sepertinya ini di lanjutkan oleh melia.” Sambungnya lagi. Jendral Richard dan semuanya pun bernafas lega.


“oh… ayah kira ini adalah bencana, ternyata ini adalah anugrah..” ujar jendral Richard tersenyum. Semuanya pun ikut merasa legah.

__ADS_1


“nah, sekarangkan sudah tidak apa-apa, sebaiknya kita semua kembali kekediaman kita. Dan untuk lampu yang tidak di perlukan, di matikan saja kalau sudah mau tidur, tapi kalau yang takut gelap, juga tidak apa kalau lampunya nyala.” Terang meliia lagi.


“baiklah… sebaiknya kita kembali kekediaman masing-masing. Ayo bubar..” ujar jendral Richard. Semuanya pun bubar kecuali putra-putri jendral. Jendral Richard mendekat kearah mereka.


“nak. Apakah ini akan jadi masalah nantinya, atau menimbulkan efek untuk penggunaanya ?” Tanya jendral Richard. Melia tersenyum pada ayahnya.


“ayah, mungkin efeknya hanya bolamnya yang rusak, kabelnya yang putus. Dan juga, mungkin bisa menyentrum jika tidak hati-hati. Dan sebaiknya, jangan terhubung langsung dengan kabelnya ya yah..” ucap melia lagi.


“oh.. begitu, baiklah. Ayah cukup bangga, dengan adanya penerangan ini di malam hari, lebih memudahkan kita nanti untuk melakukan aktivitas. Kalau begitu, kalian kembalilah kekediaman kalian.” Ujar jendral Richard. Setelah itu semuanya pun bubar dan kembali kekediaman masing-masing.


***


Di luar kediaman jendrdal, ada prajurit istana yang sedang berkeliling di malam hari untuk melakukan patroli demi menjaga kenyamanan para rakyatnya. Dari kejauhan, para prajuit itu heran, melihat salah satu tempan yang penuh dengan terang menderang. Biasanya saat mereka melakukan patroli, tidak ada tempat yang seterang ini.


“hey.. lihatlah, tempat itu sangat bercahaya. Apa yang terjadi sebenarnya ya.?.” ucap salah satu dari mereka.


“ia, sangat indah. Tapi, kalau di perhatikan sepertinya itu adalah kediaman jendral Richard.” Ujar yang lain. Mereka pun mulai memfokuskan penglihatan mereka.


“benar, itu adalah kediaman jenderal Richard. Apa yang ia lakukan  sampai kediamannya sangat terang seperti itu..?” ujar yang lain.


“sudah, nanti di bahas. Sebaiknya kita lanjutkan berpatroli..” ujar yang lain menengahi. Mereka pun berjalan menjauh.


“coba, setiap rumah warga ada cahaya seperti itu, kita tidak perlu repot-repot menggunakan obor.” Ujar pengawal itu lagi. Namun tidak ada yang menanggapi, mereka focus melakukan patrol sampai pagi.


***


Ke esok paginya, kabar mengenai kediaman jendral yang bercahaya dimalam hari jadi perbincangan para warga setempat sampai akhirnya terdengar di telinga raja Ronal. Raja ronal pun mengundang jendral Richard unutk datang ke istana secara kusus untuk membicarakan mengenai hal ini.


***bersambung***


satu bab lagi akan sudah berakhir.

__ADS_1


__ADS_2