nyasar ke zaman kuno

nyasar ke zaman kuno
92. S2 berkumpul


__ADS_3

Sesampainya mereka di sana, ternyata keponakan dari keturunan kaisar Vikram berada dikediaman mereka.


mereka sampai di kerajaan purnama tanpa membawa pasukan. karena para pasukan itu sedang berjaga di perbatasan.


"Oh keponakanku. Paman sangat merindukan kalian. ternyata kalian sudah sebesar ini, maafkan Paman tidak menemani masa kecil kalian."ucap Jericho dan rayandi memeluk keponakannya itu.


di wajah mereka terukir rasa bahagia dan mata mereka mulai berkaca-kaca. mereka memeluk keponakan-keponakan mereka itu dengan penuh rasa haru dan kasih sayang. jenderal Richard yang melihat hal itu pun menjadi ikut terharu.


"Iya paman, tidak apa-apa, kami juga sangat merindukan paman rayadi dan Paman Jericho. Oh ya paman, Apakah Paman berdua tidak berniat memberikan kami adik juga.?"tanya pangeran Felix kepada kedua pamannya. sontak wajah mereka berdua jadi pias dan lucu.


"hai kau ini, masih kecil sudah bertanya tentang adik. jangankan adik, Paman saja belum punya jodoh..." ucap Jericho kepada keponakannya sambil terus mengusap-usap sayang kepala Felix.


"Oh ya ?? apakah aisel tidak ikut bersama kalian?"tanya Rayan di kepada ketiga pangeran itu.


"sebentar lagi ia akan ke sini paman. kata Kakek, kami harus tinggal selama seminggu di kediaman kakek. karena Setelah itu kami akan melanjutkan pergi berpetualang mengelilingi kekaisaran ini dan di luar kekaisaran."ucap pangeran Audrey dengan ekspresi datarnya.


"eh.. sayangku. Apakah ekspresi es batu mu itu tidak bisa meleleh?"canda pamannya Jericho.


mereka semua tersenyum simpul. walaupun wajah pangeran Audrey sangat datar namun di hatinya penuh dengan kasih sayang.


"tidak tahu Paman, mungkin tidak akan meleleh sampai kapanpun.." timpal pangeran Audrey mereka semua kembali terkekeh.


"pasti meleleh tu Paman, hanya saja belum ketemu pawang!!"seru aisel tiba-tiba. Iya berjalan mendekat ke arah keluarga kakeknya itu.


"aisel, Oh.. Paman sangat merindukanmu.. kemarilah peluk paman.."ucap kedua pamannya itu sambil merentangkan kedua tangan mereka.


aisel pun segera beranjak dan memeluk kedua pamannya itu, tak lupa juga dengan kakek nenek dan saudaranya.


"kamu ke sini sendiri nak?"tanya sang kakek.

__ADS_1


"tidak kek, aku ke sini bersama dengan ayah, Ayah aku tinggal di luar. Iya masih ada urusan yang lain setelah itu ia akan ke sini sebelum pergi ke kaisaran awan."ucap aisel kepada sang kakek.


"kalau begitu, kamu juga akan pergi berpetualang bersama dengan saudara sepupumu. jika itu niatmu datang ke kediaman kakek. maka, kalian harus menginap selama 2 minggu di sini."ucap jenderal Richard kepada cucu-cucunya itu. ketiga pangeran yang tiba terlebih dahulu pun membulatkan matanya.


"loh.. bukannya kakek tadi bilang seminggu saja, kenapa jadi bertambah dua minggu?"protes Alvin.


mereka semua terkekeh tentu saja mereka tahu niat sang ayah, semua cucunya pergi meninggalkannya, tentu untuk bertemu mereka membutuhkan waktu yang lama. karena itu terlebih dahulu ia menyita waktu para cucunya itu.


"sudahlah, tidak usah banyak protes, kalian semua kayak tidak tahu Kakek saja. Paman saja sebelum berangkat ke perbatasan harus membujuk kakek terlebih dahulu seperti anak kecil. apalagi kalian cucu-cucunya. turuti saja keinginan kakek ya..""timpal sang paman.


namun satu hal yang tidak mereka duga, bahwa keluarga Paman pramuga dan bibinya jelita akan datang berkunjung setelah mendengar kunjungan para pangeran itu kediaman sang jenderal.


"kakek, nenek.." terdengar suara teriakan dari 5 bocah yang berumur 9 dan 10 tahun.


mereka semua mengarahkan pandangannya ke arah sumber suara, jenderal Richard kembali mengukir senyum, sepertinya keluarga kecilnya sedang merindukannya hari ini. dan hari baik sedang berpihak kepadanya.


"Oh cucu-cucuku kemarilah.." ucap jenderal Richard sambil membentangkan kedua tangannya menyambut kelima cucunya yang baru datang.


sungguh tidak dapat dipungkiri, mereka sangat merindukan bibi Jelita kembaran permaisuri Melia. mereka berempat pun berhambur memeluknya.


"bibi kami sangat merindukan bibi, Kenapa bibi tidak datang di hari penyambutan kami?"tanya pangeran Audrey yang lebih dulu memeluk sang bibi disusul dengan saudara-saudaranya yang lain.


Jelita pun tersenyum melihat keempat keponakannya yang sudah menjadi remaja.


"Oh ternyata kalian sangat merindukan bibi ya. bibi minta maaf, karena pas kepulangan kalian kembali ke kaisaran, bibi mendapat musibah kecil. mertua bibi jatuh sakit, alhasil bibi dan paman tidak dapat berkunjung. namun ketika Paman menyampaikan bahwa kalian berkunjung ke rumah kakek, makanya keluarga bibi juga datang berkunjung untuk bertemu dengan kalian." ucap Jelita sambil mengusap kepala keempat keponakannya itu satu persatu mereka memeluk jelita.


"hmm.... "suara de heman seseorang.


"Jadi kalian cuma kangen bibi Jelita saja?, sama paman pramuga tidak kangen?" ucap pramuga tiba-tiba kepada keempat keponakannya itu.

__ADS_1


mereka semua melepas pelukan dari bibi mereka beralih menatap ke arah sang paman yang menatap mereka penuh kerinduan.


"tentu saja kami juga merindukan paman. Paman juga, Kenapa saat penyambutan kami tidak datang saat itu?"tanya mereka lagi. pramuga membalas pelukan keponakan-keponakannya itu satu persatu.


"maafkan Paman, mungkin saat itu Paman sedang ada urusan yang genting. jadi tidak sempat hadir untuk menyambut kepulangan kalian. tapi Paman cukup senang melihat kalian hari ini, ternyata kalian sudah sebesar ini."ucap pramuga sambil mengagumi para keponakannya itu.


setelah berpelukan dan haru-haruan bersama keponakan-keponakan mereka, kini mereka beralih kepada sang ayah dan kedua Ibu mereka.


"Ayah Ibu apakah kalian sehat dan baik?" tanya pramuga dan Jelita sambil memeluk ketiga orang terkasih itu.


"tentu saja nak, kami sangat baik bahkan sekarang kami sangat senang anak-anak dan cucu-cucuku datang mengunjungi kami." ucap selir Liora kepada Pramuga.


Begitu juga dengan nyonya Catherine dan jenderal Richard. walaupun mereka sudah berumur wajah dan perawakan mereka tetap cantik ganteng dan anggun.


semenjak kehadiran melia dan Mira yang jiwanya ditukar oleh melati dari zaman modern itu, ketiga orang tua mereka itu jarang sakit karena selalu diperhatikan oleh Mira dan melia dan anak-anaknya yang lain.


orang tua itu sangat bersyukur, karena Tuhan sudah menitipkan anak-anak yang baik dan berbudi luhur kepada mereka.


"kalau begitu, ayo kita masuk ke dalam.."ucap sang jenderal.


semuanya pun pada masuk ke dalam dan saling berbincang-bincang. tak lama karena anak-anak merasa bosan mereka pamit kembali ke kediaman masing-masing yang sudah disediakan oleh kakek nenek mereka. alhasil kediaman jenderal itu bertambah luas dan ramai.


selepas kepergian para anak-anak kembali ke kediaman masing-masing, tinggallah mereka yang tua-tua di ruang kumpul keluarga atau biasa kita sebut ruang tamu.


"ketahuilah anak-anakku. aku sebagai ayah kalian sangat senang melihat kalian kembali berada di sampingku saat ini. tidak ada kebahagiaan seorang ayah yang paling berharga dalam hidupnya, melainkan melihat anak-anaknya berkumpul kembali seperti sekarang ini. Ayah sangat berterima kasih kepada kalian semua, karena kalian tidak menaruh rasa iri dan dengki kepada saudara kalian. kalian mau hidup berdampingan dan saling bahu-membahu satu sama lain, jujur saja kalian adalah harta terbesar ayah."ucap jenderal Richard dengan sepenuh hati sambil matanya sudah mulai berkaca-kaca.


"Ayah. sampai kapanpun Ayah adalah Ayah yang terbaik. saat kami berada di bawah, dicemooh, dikucilkan dan dihina, ayahlah yang paling terdepan menjaga dan melindungi kami. sekarang ini, kami sudah berada di tahap sebaliknya, di mana Kami sudah memiliki kekuatan, sudah memiliki kedudukan dan sudah memiliki keluarga masing-masing. namun, sedikitpun di dalam hati kami tidak akan pernah meninggalkan Ayah Ibu dan saudara-saudara kami. walau begitu kami tetaplah anak kecil Ayah yang selalu mendapatkan perlindungan dan mengharapkan kasih sayang ayah."ucap pramuga bijaksana sebagai anak pertama di kediaman itu.


entah kenapa suasana bahagia menjadi suasana saling haru mengharukan. namun tiba-tiba di saat saling mengharukan itu Jericho membuka suaranya bertanya kepada sang ayah.

__ADS_1


***bersambung***


__ADS_2