
"Hohoho ternyata kedua cucu Kakek ini tidak berubah sama sekali lihatlah wajah suami-suami kalian rasanya ingin menelan kakek hidup-hidup saja."canda kakek Damian kepada kedua cucu perempuannya itu.
melia dan Mira pun langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah wajah suami suami mereka terlihat keduanya mengepalkan tangan dan mengeraskan rahang. melia dan Mira pun segera mendekat.
"tidak perlu cemburu begitu, mari aku kenalkan dengan kakek Damian.." ajak Melia kepada suami dan anak-anaknya. mereka pun jalan dan mendekati kakek Damian itu satu persatu dari mereka memperkenalkan diri.
kakek Damian mengamati putra-putri mereka itu, ia tersenyum puas karena keturunan cucu-cucunya ini memiliki jiwa yang murni dan berhati bersih.
sehingga tidak akan sulit untuk mereka menerima kekuatan surgawi. Ia juga akan memberikan atau menurunkan kekuatan surgawi itu kepada cucu laki-lakinya.
sementara untuk cucu perempuannya, ia akan menurunkan kekuatan cahaya dan kekuatan kehidupan karena kelemah lembutan serta ketegasan mereka itu sangat cocok untuk menguasai ilmu itu.
"hohoho baiklah baiklah. Mira, Melia kalian sudah melahirkan anak-anak yang hebat dan bahkan dari hari ini sampai nanti mereka adalah anak-anak yang istimewa."
"namun kakek hanya meminta anak perempuan saja. namun bukan berarti kakek tidak akan memberikan oleh-oleh untuk anak laki-laki kalian."
" kemarilah cucu laki-lakiku mendekat dan duduklah bersila sebelah kiri dan untuk cucuku yang perempuan yang cantik dan manis silakan duduk di sebelah kanan kakek." kakek Damian mengangkat kepalanya, Melihat orang tua dari cucunya itu.
" nah.. untuk kalian laki-laki posesif dan pencemburu, silakan cari tempat senyaman-nyamannya di tempat ini." ucap kakek Damian kepada kaisar Vikram dan David begitu juga dengan kedua cucu perempuannya.
"tapi kalau kakek boleh memberikan saran, sebaiknya tidak usah berjalan-jalan. di sini energi QI sangat padat. jadi sebaiknya kalian silakan menyerap energi yang ada di sini dan berkultivasi." saran kakek Damian.
setelah mengatakan hal itu mereka pun langsung melaksanakannya termasuk anak-anak mereka.
semuanya pun berada di lokasi yang sama kakek Damian pun memulai ritualnya untuk para cucu-cucunya itu. ia mulai melemparkan mantra-mantra untuk mentransfer ilmu kekuatan batin nafas surgawi dan nafas kehidupan.
saat proses mengalirkan kekuatan itu, anak-anak merasa kan sakit yang luar biasa menghantam aliran spiritual mereka. seolah rasanya dalam tubuh mereka ada air yang panas dan mendidih.
kakek Damian pun terus melakukan penyatuan kekuatan dengan perlahan kepada anak-anak. sampai akhirnya. bom... bom... terdengar ledakan kecil dari tubuh mereka semua.
setelah satu minggu berada di ruang dimensi kakek Damian. akhirnya proses itu pun selesai, Melia Mira dan keluarganya segera meninggalkan tempat itu kecuali dua anak perempuan itu.
"baiklah anabella, Gisel ayah dan ibu akan menitipkan kalian untuk berlatih pada kakek. ingatlah pesan ayah dan ibu jangan merepotkan orang yang lebih tua, saling menghargai dan jika sudah memiliki kekuatan maka manfaatkan kekuatan itu untuk melindungi orang yang lemah dan tetap berada di jalan yang lurus paham tidak.??!!" nasehat kaisar Vikram kepada keduanya.
__ADS_1
"paham ayah/paman." ujar mereka berdua.
"Baiklah kalau begitu, jika kalian sudah paham maka belajarlah dengan sungguh-sungguh kesempatan tidak akan datang untuk yang kedua kalinya maka jangan disia-siakan paham ya.." ucap kaisar Vikram lagi sambil mengelus kepala keduanya.
setelah mengatakan hal itu mereka semua pun langsung meninggalkan tempat tersebut namun sebelum mereka pergi, terlebih dahulu mereka pamit pada kakek Damian.
"kakek, kami akan pamit. kami titip anak-anak kami di bawah bimbingan dan perlindungan kakek. kalau ada yang menyimpang dengan perilaku mereka, maka Kakek jangan sungkan untuk menegur mereka." ucap kaisar Vikram dengan segala hormat nya. kakek Damian tersenyum.
"tentu saja. percayakan saja semuanya kepada ku yang mulia. aku juga, ingin mengatakan, untuk kepada para pangeran. sebaiknya mereka pergi berkelana selama satu tahun. karena, walaupun pembinaan dalam istana itu lengkap. alangkah baiknya, mereka juga dapat melihat dunia luar, biar wawasan mereka terbuka." ucapnya lagi.
"baiklah kakek.."
Melia dan Mira pun kembali mendekat dan memeluk kembali kakek Damian itu.
"Kakek, sekali-sekali datang lah ke istana. kami akan menunggu kedatangan mu." ucap Melia.
kakek Damian tersenyum.
*kalian ini ya, ngak sama anak, mertua, ayah, dan juga kakek.. kalian pasti cemburu.*
*bukan begitu Thor. kami hanya..*
*sudahlah... cerita mau di lanjutkan**
setelah itu, kakek Damian beralih kepada ke empat cucu laki-lakinya. dan menatap mereka satu persatu.
"kekuatan yang ada dalam diri kalian, tidak akan ada gunanya jika kalian melakukan kejahatan. namun kekuatan itu akan terasa berarti, jika kalian berarti di dalam hati rakyat. maka, kakek hanya berpesan, jauhkan sikap angkuh dan tamak, dekatkan sikap penyayang dan dermawan... paham.. ya..." ucap Kakek Damian menasehati cucunya yang tinggi mereka hampir sama.
"baik kek. kami akan senantiasa mengingat pesan kakek.." ucap mereka serempak. setelah itu, mereka semua langsung di kirim keluar oleh kakek Damian. dan langsung berada di depan istana.
***
di istana saat ini sedang mengadakan rapat mengenai penyerangan beberapa kelompok penyamun yang terjadi 3 hari yang lalu di kawasan istana. terlihat kaisar Roland dan para menteri-menterinya sedang serius membahas mengenai hal ini. tiba-tiba kaisar Vikram dan keluarganya datang.
__ADS_1
"kaisar Vikram dan keluarga serta pengawal bayangan dan keluarganya memasuki ruangan" teriak salah seorang Kasim yang menjaga di depan istana. semua yang hadir di sana pun kemudian membungkuk kecuali kaisar Roland.
"salam kepada yang mulia kaisar Vikram dan permaisuri Melia serta para pangeran"sambut para petinggi istana kala itu.
kaisar Vikram beserta rombongannya terus berjalan melewati para menteri dan tibalah di hadapan kaisar Roland.
"salam kepada yang mulia kaisar Rolan/ayahanda" ucap mereka serentak sambil membungkuk kecuali kaisar Vikram dan istrinya.
"salam kalian Ayah terima bangkitlah. untuk sementara bergabunglah dulu karena saat ini Kami sedang membicarakan tentang penyerangan beberapa kelompok penyamun atau perampok yang menyerang tiga hari yang lalu dan masih berlanjut sampai sekarang."ucap kaisar Roland.
kaisar Vikram pun naik ke singgasana berdampingan dengan ayahnya. sementara permaisuri melia dan yang lainnya duduk bergabung di antara para menteri.
mereka mulai membicarakan motif penyerangan tersebut serta kapan para penyamun ini keluar dari sarang mereka.
mereka juga membicarakan strategi untuk mengatasi para penyamun tersebut hingga salah satu putra kaisar Vikram yang dijuluki atau yang memiliki ahli strategi dan juga bijaksana memberikan usulnya.
"mohon maaf yang mulia, bisakah anak seperti Ananda ini memberikan usul?" tanya pangeran Alvin.
mereka semua pun langsung mengarahkan pandangan mereka kepada pangeran Alvin, tak terkecuali dua kaisar yang berada di atas singgasana itu.
"katakanlah putraku apa yang menjadi usulmu.." ucap kaisar Vikram tanpa menyebut embel-embel pangeran.
pangeran Alvin pun mulai memberikan idenya di hadapan para menteri dan kaisar, Ia menceritakan strategi yang akan digunakan yang terdapat di dalam kotaknya setelah membaca keterangan-keterangan yang tadi disampaikan oleh para pelopor.
setelah menyampaikan idenya, kedua kaisar itu pun hanya mengganggu anggukan kepalanya tanda mengerti. begitu juga para menteri dan yang hadir dalam rapat tersebut, intinya yaitu untuk mengurangi resiko terjadinya pertumpahan darah.
pangeran Alvin beserta pangeran yang lainnya bekerja sama untuk menangkap para penyamun tersebut, tentunya yang bergerak hanyalah mereka berempat. sementara para pengawal dan ksatria lainnya ditempatkan di sudut-sudut ke pemerintahan kota untuk mengawal atau mengawasi peristiwa yang kemungkinan saja terjadi.
sebelum malam menjelang mereka sudah berada di posisi masing-masing, setiap sudut kota diletakkan beberapa pengawal dan juga ksatria. tidak diizinkan bagi mereka untuk melakukan tindakan selain mengawasi. sementara di masing-masing titik itu, sudah ada para pangeran yang akan menyerang nanti.
ketika waktu yang telah ditentukan tiba, para penyamun itu pun mulai keluar dari persembunyian atau dari arah yang tidak disangka-sangka memasuki kota. para pangeran pun saling bertelepati agar tidak terjadi kecolongan.
***bersambung***
__ADS_1